"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Kesialan Cris Dan Leon


__ADS_3

Tak ada keberhasilan tanpa adanya usaha, kerja keras, dan keberuntungan. Selama satu tahun Nathan telah berusaha semaksimal mungkin dan percaya pada kemampuannya.


Ia yang selama ini tak pernah bersentuhan dengan dunia bisnis, harus memulai segalanya dari nol. Bukan membangun usaha baru, tapi memperbaiki sistem yang telah berada di ambang kehancuran.


Memperbaiki segalanya dari awal tidak semudah membalik telapak telapak tangan. Ia menerapkan sistem membangun sebuah gedung dalam bisnis yang dikelolanya.


Memulai kembali segalanya dari dasar adalah langkah utama yang ia lakukan. Tak mudah memang, namun Nathan tidak pernah mengenal kata menyerah.


Dan berkat kegigihan serta keuletannya dalam bekerja dan berusaha, akhirnya Nathan berhasil mengembalikan kembali kejayaan perusahaan milik mendiang ayah angkatnya yang nyaris bangkrut karena ulah Jung Hilman.


Kini perusahaan itu menjadi salah satu perusahaan terbesar dunia yang sukses hanya dalam kurun waktu beberapa tahun saja. Memang sebuah pencapaian yang luar biasa.


Nathan baru saja selesai menandatangani dokumen terakhirnya ketika pintu ruang kerjanya dibuka dari luar dan memperlihatkan sosok Aster yang berjalan menghampirinya. Wajahnya terlihat begitu sumringah. Entah apa yang membuatnya begitu bahagia.


"Paman..."


Nathan menutup dokumen yang baru saja selesai ia tandatangani lalu bangkit dari duduknya dan menghampiri Aster.


"Aku pikir kau tidak jadi datang." Nathan memegang kedua pipi Aster lalu mengecup singkat bibirnya. Tiruan wajib yang selalu mereka lakukan ketika bertemu.


"Mana mungkin aku tidak datang setelah aku berjanji akan datang. Apalagi Paman ingin mengajakku makan siang di luar. Aku kan jadi lebih semangat lagi." Nathan tersenyum sambil mengusap kepala Aster penuh sayang.


"Kalau begitu tunggulah di ruang istirahat. Ada tamu dari Jepang setelah ini." Ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Aster.


Aster melompat ke dalam pelukan Nathan. Kedua tangannya mengalung pada lehernya. Sedangkan kedua kakinya melingkari pinggangnya. "Tapi sebelum pergi, aku harus mendapatkan jatahku terlebih dulu."


Nathan mendesah berat. Pria itu mendekatkan wajahnya lalu meraup bibir Aster dan membawanya dalam sebuah ciuman panjang yang memabukkan. Nathan terus mel*mat bibir Aster, atas dan bawah bergantian.


Sesekali mereka sama-sama merotasikan kepalanya. Aster pun tak mau kalah dari Nathan, wanita itu selalu bisa mengimbangi ciuman suaminya, bahkan Aster membalas semua lumayan bibir Nathan.


Dan sementara itu...


Lagi-lagi kesialan harus menimpa Cris dan Leon. Mereka yang datang membawa dokumen untuk Nathan harus menelan pil pahit yang sungguh menyakitkan, dimana mereka harus menyaksikan sebuah adegan dewasa yang sangat tidak baik bagi jomblo seperti mereka.

__ADS_1


"Lama-lama mereka membuatku gila!!" Ucap Cris dengan nada frustasi.


"Huhuhu~Aku mimisan lagi. Mereka sungguh sangat keterlaluan. Berciuman tidak tau tempat. Aw, kenapa antena-ku pakai acara berdiri segala lagi?! Mana celana yang aku pakai terlalu sempit begini." Leon sama frustasinya seperti Cris.


"Sepertinya ini memang bukan waktu yang tepat untuk menemui Boss~mu yang gila itu. Ayo pergi, nanti saja kita kembali lagi." Leon menatap Cris dan mengangguk patuh.


Di dalam sana...


Nathan dan Aster akhirnya mengakhiri kegiatan panasnya. Aster juga sudah turun dari gendongan Nathan. Wanita itu pergi ke toilet yang berada di sudut ruangan untuk merapikan penampilannya yang berantakan.


"Wow, Paman Nathan sempat-sempatnya meninggalkan beberapa ****** di leher dan dadaku. Kekeke~Benar-benar pria perk*sa." Wanita itu terkekeh bangga.


Setelah dipastikan penampilannya telah rapi. Aster keluar dan pergi ke ruang istirahat. Aster tidak ingin mengganggu pertemuan Nathan dengan tamunya yang dari Jepang. Membaca novel di ruang istirahat mungkin adalah pilihan paling tepat sekarang.


-


Nathan menyambut tamu-tamunya yang dari Jepang. Ada tiga pria dan seorang wanita. Mewakili Nathan, Cris mempersilahkan mereka berempat untuk duduk.


"Sangat menyenangkan. Dan saya sangat menyukai Korea, negara ini sangat bagus dan ramah."


Sementara itu...


Satu-satunya wanita yang tergabung dalam rombongan tamu Nathan. Sesekali terlihat mencuri-curi pandang pada Nathan. Sejak pertama kalinya menginjakkan kakinya di ruangan bernuansa putih tersebut, tak sedikit pun dia meloloskan pandangannya dari Nathan.


Diam saja bukan berarti Nathan tak menyadarinya. Nathan tau dan sadar betul jika wanita itu terus memperhatikan dirinya. Namun Nathan tidak ingin ambil pusing. Toh wanita itu memiliki mata untuk melihatnya.


"Langsung ke intinya saja. Saya setuju untuk bekerjasama dengan perusahaan Anda, Tuan Yamamoto." Nathan bukanlah pria yang suka berbasa-basi. Yang suka mengulur waktu dengan perbincangan yang tidak penting.


Nathan memberi kode pada Leon. Leon maju ke depan dan memberikan sebuah dokumen pada Yamamoto. Itu adalah dokumen yang harus dia tandatangani.


"Tuan Xiao, Putri saya sangat tertarik pada Anda. Dan dia ingin supaya bisa mengenal Anda lebih dalam. Jika Anda tidak keberatan. Dia ingin mengajak Anda makan malam bersama."


Nathan mendesah berat. "Saya mengerti maksud dan tujuan Anda, Tuan Yamamoto. Tapi sayangnya saya tidak tertarik pada Putri Anda."

__ADS_1


"Dia memang sangat cantik, tapi sayangnya dia bukan selera saya. Dan akan saya pertegas, saya adalah pria dengan satu wanita!!"


Pria berkebangsaan Jepang itu tiba-tiba tertawa keras. "Anda tidak usah menganggapnya dengan serius, Tuan Xiao. Lagipula saya tidak akan memaksa." Ucapnya


"Dan karena urusan saya di sini sudah selesai. Kalau begitu saya permisi dulu." Keduanya kembali berjabat tangan. Kemudian Yamamoto dan putri dan asistennya pergi meninggalkan ruangan Nathan.


"Bagus Aster tidak mendengarnya. Bisa-bisa terjadi perang dunia kelima jika dia sampai ada di sini dan mendengar apa yang pria itu katakan." Ucap Cris seraya mendaratkan pantatnya di sofa.


Nathan mematikan mematikan AC di dalam ruangan besar itu. Pria itu terlihat mengeluarkan sebungkus rokok dan penarik dari dalam saku celananya.


"Aku mengerti betul dengan segala macam taktik yang pria itu gunakan. Saat ini memakai wanita cantik dalam sebuah perbisnisan memang sedang booming."


"Dan sepertinya pria itu berusaha menggunakan cara itu untuk mempererat kerjasama perusahaannya dan perusahaan ini." Ucap Nathan lalu menghisap rokoknya dalam-dalam.


"Tapi wanita itu lumayan juga. Jika aku yang ditawarkan. Aku pasti akan menerimanya dan menjadikan dia sebagai salah satu dari Lolita cantik koleksiku."


"Maniak Lolita!!" Cris dan Nathan menjawab kompak. Sedangkan Leon langsung tertawa terbahak. Mereka berdua memang paling mengerti dan memahami dirinya.


Leon bangkit dari duduknya. "Boss, Senior, aku duluan." Leon bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Tak lama setelahnya Cris pun mengikuti jejak Leon. Dan hanya menyisahkan Nathan sendiri di sana.


Nathan melihat jam yang melingkar dengan manis dipergelangan tangannya. Waktu makan siang sudah hampir tiba.


Nathan pergi ke ruang istirahat untuk memanggil Aster. Namun setibanya di sana Nathan malah mendapati Aster yang sedang tertidur pulas. Nathan mendengus berat. Pantas saja dia tidak bersuara.


Ditutupnya kembali pintu ruangan itu. Nathan menghampiri Aster kemudian duduk disamping dia berbaring. Diamati wajah cantik itu dengan seksama. Sudut bibir Nathan tertarik ke atas.


"Rasanya baru kemarin Paman membawamu masuk dan menjadi bagian dari keluarga Xiao. Dan sekarang kau tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik dan mempesona." Nathan mengusap rambut Aster dengan penuh kelembutan.


Tak tega membangunkan Aster yang sedang tertidur pulas. Sepertinya Nathan tidak memiliki pilihan selain menunggunya bangun.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2