
"Huuaaa ... Jadi di istana ini selama ini kau tinggal?"
Tiffany dan dua pemuda itu tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya, ketika mereka melihat sebuah bangunan tiga lantai yang terlihat begitu mewah dan elegan.
Atas ijin dari Nathan, Aster mengundang Tiffany dan kedua pemuda itu untuk datang ke rumah mereka. Meskipun sudah bertahun-tahun mengenal Aster, tapi ini pertama kalinya Aster mengundang mereka datang kerumahnya.
"Tidak usah norak, ayo masuk. Pelayan sudah menyiapkan banyak makanan lezat di dalam." Aster memeluk lengan Tiffany dan menyeret gadis itu untuk masuk ke dalam. Diikuti si kembar Benno dan Benni.
Setibanya di dalam rumah. Tiffany, Benny dan Benno memandang sekelilingnya yang mewah dengan takjub.
Tidak pernah mereka melihat rumah sebagus dan semewah milik Nathan. Dan bangunan itu lebih pantas di sebut istana daripada rumah.
"Nona, Tuan Muda, silahkan di minum tehnya." Seorang pelayan datang membawakan teh untuk mereka berempat.
Mendengar dirinya dipanggil 'Tuan Muda' Benno langsung heboh. Bagaimana tidak, sepanjang dia hidup di dunia ini, ini pertama kalinya ada yang memanggilnya tuan muda.
"Aster, sungguh aku tidak menyangka jika rumahmu sebagus dan semewah ini. Kau sangat beruntung memiliki ayah angkat yang kaya raya, dan paling penting dia sangat tampan juga menawan." Tutur Tiffany.
Aster mengangguk. "Untuk itu aku harus berterimakasih pada Tuhan. Pokoknya Paman Nathan itu paket lengkap." Jawabnya.
"Ngomong-ngomong di mana Paman tampan itu? Apa dia sedang tidak ada di rumah?"
"Paman Nathan sedang keluar, dan malam hari mungkin baru kembali. Sudah, jangan pikirkan dia. Sebaiknya nikmati saja waktu yang kalian miliki disini, dan anggap ini sebagai liburan gratis." Tuturnya panjang lebar.
Tiffany langsung memeluk Aster dari samping."Kau memang sahabat terbaikku, Aster Xiao. Terimakasih karena sudah mengijinkan kami datang kemari." Ucapnya berkaca-kaca. Tiffany sangat terharu.
Aster tersenyum. "Sama-sama." Gadis itu kemudian mengangkat tangannya dan membalas pelukan Tiffany. Benny dan Benno menghampiri keduanya dan ikut berpelukan bersama mereka.
-
DUARRR...
Jung Hilman dan orang-orangnya terkejut setelah mendengar suara ledakan yang begitu memekat-kan telinga.
Hilma berlari keluar dan mendapati beberapa anak buahnya terkapar ditanah dalam keadaan terluka parah, bahkan beberapa diantaranya ada yang sampai kehilangan nyawa dengan kondisi tubuh tidak utuh lagi.
"Tuan," seru seorang pria ketika melihat kedatangan Boss-nya.
"Apa yang terjadi di sini? Dan siapa yang mengirimkan terror ini?" Tanya Hilman meminta penjelasan.
"Saya juga tidak tau, Tuan. Karena saat tiba di sini keadaan sudah se-kacau ini. Kita bisa memeriksanya langsung dari rekanan CCTV."
"Itu tidak mungkin. CCTV telah dirusak, sehingga kita tidak bisa mengetahui siapa pelakunya." Sahut pria lain yang baru saja bergabung.
"Benarkah?" Pria itu mengangguk.
Tiba-tiba seorang pria datang sambil membawa selembar kertas yang kemudian dia berikan pada Hilman. Hilman membaca tulisan dalam kertas tersebut sambil menggepal-kan tangannya.
__ADS_1
"Nathan Xiao, aku tidak akan pernah memaafkanmu!!"
-
Nathan tengah duduk di kursinya sambil menikmati segelas wine. Kepuasaan terlihat jelas pada raut wajahnya. Semua berjalan seperti yang dia harapkan. Dan yang dia lakukan hanyalah baru permulaan saja. Belum pada intinya.
Berani mengusik ketenangan seorang Nathan Xiao bukanlah sesuatu yang patut dibenarkan.
Karena Nathan bukanlah tipe orang yang akan menggunakan hati nuraninya, dia akan membantai semua orang yang berani mengusik ketentraman keluarganya sampai keakar-akarnya.
Jika dilihat dari luarnya, Nathan terlihat seperti seorang malaikat. Wajah yang sangat tampan, namun dilain sisi juga terlihat cantik.
Namun siapa yang menduga, dibalik ketampana-nya itu, bersemayam sosok iblis yang begitu mengerikan. Yang bisa muncul kapan saja ketika orang lain berani mengusik ketenangannya.
Karena Nathan tidak akan segan dan ragu untuk menyingkirkan mereka semua. Dan harga mahal yang harus mereka bayar adalah dengan kematian.
"Boss, semua berjalan seperti yang kau inginkan. Apa kau tidak ingin merayakannya? Lagipula sudah lama juga kau tidak membawa kami bersenang-senang di bar milik, Alex."
Untuk yang kesekian kalinya Nathan menikmati wine-nya dengan tenang. Pria itu mengangkat wajahnya dan menatap datar pada Leon.
"Ini masih terlalu awal untuk merayakan sebuah kemenangan. Tapi jika kau ingin pergi, pergilah dan ajak teman-temanmu." Nathan melemparkan segepok uang yang tak sedikit jumlahnya ke atas meja.
"Kau memang yang terbaik, Boss. Oke, kalau begitu aku pergi dulu ya." Leon mengambil uang itu dan pergi begitu saja.
Nathan bangkit dari kursinya seraya menyambar kunci mobilnya yang ada di atas meja. Dengan tenang pria itu melenggang pergi meninggalkan ruangannya.
.
.
.
Matanya memicing. "Kau siapa? Apa aku pernah mengenalmu sebelumnya?" Tanya Nathan dengan aksen dingin yang selalu menjadi ciri khasnya.
"Kau melupakanmu? Aku Anna Jung, seniormu saat kuliah dulu. Dulu kau pernah membantuku ketika beberapa anak nakal mencoba menggangguku." Anna menyelipkan anak rambut kebelakang telinganya, wajahnya bersemu merah.
"Aku tidak mengingatnya! Minggir-lah, kau menghalangi jalanku!!"
Anna membelalakkan mata. Buru-buru dia menyingkir dan memberikan jalan pada Nathan. Anna berbalik dan ikut berjalan di-samping Nathan. "Kenapa kau mengikuti-ku?"
"Kita sudah saling mengenal dan akan lebih baik jika kita saling berbincang sambil minum kopi. Bagaimana?"
"Aku sibuk."
"Baiklah, kalau begitu beri aku tumpangan sampai di perempatan jalan. Kebetulan mobilku ada di sana, di bengkel."
"Sayangnya mobilku tidak menerima orang asing untuk masuk dan duduk di dalam!!"
__ADS_1
"Tapi aku bukan orang asing, Senior!! Kita adalah senior dan junior ketika kuliah dulu."
"Itu dari sudut pandanga-mu, bukan sudut pandang ku!!"
Berbicara dengan Nathan membuat Anna terkena mental. Selain dingin, ternyata Nathan masih tetap pria yang sama, sulit untuk didekati.
Anna hanya bisa menatap nanar mobil Nathan yang semakin menjauh. Gadis itu menggeram marah. Dia menghentikan sebuah taxi yang melintas, dan pergi ke club malam mungkin bisa jadi pilihan yang tepat untuk saat ini. Nathan adalah tipe pria yang sulit ditaklukan dan didekati.
-
Benno, Benny dan Tiffany sudah pulang sejak satu jam yang lalu. Dan hal itu membuat rumah terasa sepi. Memang banyak orang di mansion mewah milik Nathan, tapi semua pada sibuk dengan kegiatan dan pekerjaan masing-masing.
Aster membuka jendela kamarnya. Semilir angin malam yang terasa dingin namun juga sejuk menyentuh kulitnya yang terbuka.
Langit malam ini terlihat lebih cerah dan bintang-bintang bertaburan menemani sang penguasa malam.
"Omo!!" Aster terlonjak kaget ketika sepasang tangan yang terasa dingin memeluknya dari belakang. Disusul seseorang yang meletakkan dagu di atas pundaknya.
Tanpa melihat pun. Tentu saja Aster sudah tau siapa yang memeluknya ini. Karena aroma maskulinnya yang begitu khas.
"Aku merindukanmu, Baby." Bisik orang itu sambil mengecupi leher jenjang Aster dan meninggalkan jejak merah tanda kepemilikan di sana.
Aster melepaskan pelukannya. Wanita itu kemudian berbalik, posisinya dan Nathan saling berhadapan. Aster mengalungkan kedua tangannya pada leher pria bermarga Xiao tersebut. Dan sebuah kecupan langsung menyambutnya.
"Katakan sekali lagi, Paman." Pinta Aster sambil menggerakkan jari-jarinya di atas dada bidang Nathan yang tersembunyi dibalik kemeja hitamnya.
"Aku merindukanmu, Baby."
Aster melompat dalam gendongan Nathan. Kedua tangan pria itu menahan paha Aster yang melingkari pinggulnya. Bibir mereka bersatu dan saling melum** dengan keras.
Tak suka didominasi, Nathan mengambil alih ciuman tersebut. Posisi mereka kini tak lagi berdiri. Nathan memangku Aster di atas pahanya.
Kedua telapak tangan Nathan membingkai wajah Aster, bibirnya mengecupi bibir merah muda miliknya perlahan-lahan, kemudian dilum** nya dan dikecupi lagi.
Tanganya mulai berpindah kepunggung dan pinggang istri kecilnya, lalu meremasnya lembut. Aster mulai merasakan panas yang menjalar keseluruh wajah dan tubuhnya.
Dia sangat menyukai remasan tangan Nathan. Tangan Aster bergerak dari pangkuannya menuju kebelakang kepalanya dan mengaitkan jemari lentiknya ditengkuk Nathan. Dia mendengar suara geraman yang berasal dari kerongkongan prianya ini.
Kemudian Nathan melepas ciumannya tanpa melepaskan tangannya dari tubuh Aster dan menatapnya dengan mata yang menyala, hasrat telah membakar dirinya.
Dan tanpa ragu Aster balas menatapnya sesaat dan ia alihkan pandangannya ke lengan kirinya, perlahan Aster menurunkan jemarinta dari tengkuk Nathan dan beralih ke lengan kirinya.
Aster berlama-lama menyentuhkan jemarinya di sana untuk mengikuti pola tribal yang menempel di kulit pria yang telah resmi menjadi suaminya ini.
Dan sentuhan jari Aster semakin membakar hasrat dalam diri Nathan untuk mendapatkan lebih.
Selanjutnya bukan hanya bibir mereka saja yang menyatu, namun jiwa dan raganya. Menjadikan malam yang dingin ini sebagai malam panas yang penuh gairah.
__ADS_1
-
Bersambung.