"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Ceroboh


__ADS_3

"Sakittt!!!! Gavin, pelan-pelan bodoh!"


Aster menjerit keras saat Gavin membersihkan darah yang ada lututnya. Dia baru saja mendapat musibah, wanita itu terjatuh saat hendak kembali ke rumah sakit setelah pulang untuk mengganti pakaiannya dan mengambil pakaian ganti.


Entah sengaja atau tidak, tiba-tiba ada sebuah mobil yang menyerempet dirinya. Bukannya berhenti dan bertanggung jawab, mobil itu malah pergi begitu saja.


Untung saja ada Gavin dan Rio yang kebetulan melewati jalan itu dan akan ke rumah sakit juga. Tidak ada luka berarti yang Aster alami, selain luka ringan pada lutut karena berciuman dengan aspal dan pergelangan kaki kirinya yang terkilir.


"Nunna, jangan manja! Ini juga sudah pelan-pelan kok!" ujar Gavin yang gemas dengan tingkah Aster.


"Aaahhh! Gavin, sakit!" sekali lagi Aster menjerit saat kapas yang ada ditangan Gavin menyentuh lukanya.


Dan sepertinya dia memang sengaja melakukannya. Gavin ingin sedikit mengerjai wanita itu. Gavin terkekeh melihat ekspresi kesakitan Aster yang membuatnya terlihat begitu menggemaskan.


Brukkk!!


Gavin terjengkang kebelakang karena tendangan Aster pada dadanya. Wanita itu terkejut saat Gavin kembali menarik kakinya dan menekan sedikit keras dibagian pergelangan kakinya yang terkilir.


Semua yang ada diruangan menghela nafas melihat tingkah mereka termasuk Nathan. Nathan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka berdua.


"Yaaakkk! Nunna sakit!" jerit Gavin karena pukulan Aster yang sedikit brutal.


Aster memukul Gavin dengan bunga yang dikirimkan oleh salah satu rekan bisnis Nathan. Akibatnya mawar berbeda warna itu pub hancur berguguran. Seketika sebuah ide cemerlang muncul di otak cerdas Gavin, Gavin menyeringai.


"Nenek buyut, kau sudah datang!" Dan seruan keras Gavin tiba-tiba membuat Aster mendongak seketika.


Dan hal itu segera di manfaatkan oleh Gavin, pemuda itu menarik kembali kaki Aster dan menempatkan di atas pahanya. Gavin mengurut kaki Aster yang terkilir sambil sesekali menekannya.


"Kkkyyyaaaa!!! sakitttt boroh!"


Aster kembali histeris untuk yang kesekian kalinya karena ulah Gavin.! Lagi, Aster memukul pemuda itu dan kali ini menggunakan tas miliknya.


Nathan mendengus, ia sadar jika Gavin memang sengaja mengerjai Aster. Lalu pandangan Nathan bergulir pada Cris yang sibuk melihat video laknat diponselnya.


"Hyung! Dibandingkan Gavin, kau lebih berpengalaman soal kaki terkilir, sebaiknya kau saja yang membantu Aster!" Ucap Nathan seperti biasa, datar.


Cria mengangguk. Cris meletakkan ponselnya. Tanpa berkata apa pun, laki-laki itu bangkit dari duduknya dan menghampiri Gavin serta Aster.


"Minggir!" seru Cris yang kemudian mengambil alih tempat Gavin, pemuda itu terdorong kesamping karena ulah Cria.


"KYYYYAAA!!!" Alhasil, Gavin pun jatuh dari sofa yang ada diruangan itu dengan posisi yang sangat tidak elit. Pantatnya mendarat dengan mulus pada lantai yang dingin dan keras


"SAKITTT! Yak, Paman! Apa kau ingin membuat pantat sexy-ku ini menjadi kempes eo?" amuk Gavin seraya mengusap pantatnya yang terasa ngilu.


Tidak ada respon dari Cria, Gavin memasang wajah murung. Dengan kesal ia menghampiri Rio yang sedari tadi hanya diam dan menjadi penonton saja.


"Aster tahan, ini akan sedikit mentakitkan!" ucap Cris mengingatkan.


Aster menutup rapat-rapat matanya, jari-jarinya mencengkram kuat bantal sofa saat Cris memegang kaki kirinya yang terkilir sampai akhirnya....


"SAKITTT!!" Aster menjerit histeris ketika Cris memutar-mutar kakinya sebelum akhirnya menarik kakinya dengan keras.


Namun kali ini Aster bisa bernafas lega karena pergelangan kakinya tidak sesakit sebelumnya.

__ADS_1


Dan Cris pun melanjutkan pekerjaannya dengan membalut luka dilutut wanita itu dengan kasa dan membebat pergelangan kaki Aster menggunakan perban elastis yang diberikan oleh Rio.


"Nah selesai!" katanya seraya bangkit dari duduknya.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau bisa sampai terluka seperti ini?" tanya Nathan penasaran, sesaat setelah Aster duduk di sampingnya.


Wanita itu mengangkat wajahnya, mata hazelnya bersirobok dengan manik kiri milik Nathan. "Aku---??"


"---Aster Nunna, baru saja menjadi korban tabrak lari Paman!" sahut Rio menyela ucapan Aster.


Nathan memicingkan mata kirinya menatap Rio penuh selidik, dan Nathan membutuhkan penjelasan lebih kali ini.


"Tabrak lari?" Rio mengangguk.


"Bukan seperti itu!" sahut Aster menengahi perbincangan Nathan dan Rio. "Mungkin karena aku yang kurang berhati-hati makanya bisa sampai keserempet mobil. Tidak usah diperpanjang, Paman. Lagi pula aku tidak apa-apa!"


"Bukan itu masalahnya Nunna-ya. Mobil itu seperti sengaja ingin menabrakmu, jika tidak? Lalu kenapa mobil itu seperti mengincarmu. Aku rasa pengemudinya memang sengaja ingin mencelakai'mu!" tutur Gavin menyahuti.


Aster terdiam. Jika difikir-fikir memang benar apa yang Rio dan Gavin katakan, sepertinya pengemudi mobil itu memang sengaja ingin membuatnya celaka ditambah lagi setelah ia melihat siapa orang yang duduk dibalik kemudi.


Aster ingin sekali mengatakan pada Nathan siapa orang yang membuatnya celaka, tapi hal itu tidak Aster sampaikan karena dia takut masalahnya akan berbuntut panjang. Terlebih orang itu sangat membenci dirinya.


Dan kediaman Aster membuat Nathan semakin penasaran. Pria itu memicingkan mata kirinya, ia melihat wanitanya itu seperti sedang memikirkan sesuatu, sampai tepukan pada bahunya segera menyadarkan Aster dari lamunan panjangnya.


"Kenapa melamun?" Aster mengangkat wajahnya, wanita itu menarik sudut bibirnya lalu menggeleng.


"Aku tidak melamun kok, hanya sedikit kepikiran insiden itu. Karena kecerobohanku sendiri, sekarang aku malah mengalami cidera!"


Ketika masih tinggal di London, Aster pernah hampir kehilangan nyawanya karena sikap cerobohnya itu, dan hal semacam itu tidak hanya terjadi satu kali saja namun berulang-ulang.


Nathan semakin dibuat bingung oleh sikap Aster yang tidak seperti biasanya. Wanita itu lebih banyak melamun sejak kedatangannya 2 jam yang lalu, dan Nathan semakin yakin jika memang ada sesuatu yang mengganggu fikiran Aster.


Mungkin Aster memang bisa membohongi semua orang, tapi Astwr tidak mungkin bisa membohongi dirinya.


"Sebenarnya apa yang sedangkau fikirkan?"


Aster tersentak, wanita itu menggeleng. "Tidak ada!" katanya meyakinkan


"BOHONG!" sergah Nathan cepat, suaranya sedikit meninggi membuat Aster terlonjak kaget.


"Kau fikir, kau bisa membohongiku? Sebaik apa pun kau menyembunyikan masalah dariku, aku pasti bisa mengetahuinya. Lidahmu mungkin mengatakan tidak ada, tapi tidak dengan matamu. Katakan padaku, apa yang sebenarnya kau sembunyian dariku!"


Aster tidak langsung menjawab. Wanita itu memilih menundukkan wajahnya dan menghindari tatapan dingin Nathan yang begitu menusuk.


Aster bingung harus menjawab apa, jika ia jujur, pasti Nathan akan langsung menghabisinya.


Tapi bila Ia tidak mengatakan yang sebenarnya, mungkin hal itu akan membuat Nathan semakin kesal yang ujung-ujungnya akan marah padanya.


Astsr tidak ingin bila hal itu sampai terjadi. Ia benar-benar dilemah hingga Aster merasa frustasi.


"Sampai kapan kau akan tetap diam dan melamun seperti orang bodoh?" tegur Nathan mencoba mengendalikan kekesalannya.


Aster mendesah panjang. "Baiklah, aku akan mengatakan padamu tapi dengan satu syarat! Setelah aku memberi taumu, aku harap jangan ada yang memperpanjang masalah ini apalagi mencoba mengadili orang itu. Aku benar-benar tidak setuju!"

__ADS_1


Aster menarik nafasnya setelah berbicara cukup panjang, ia berharap semua akan tetap baik-baik saja seperti yang dia harapkan. Tapi...


"Aku tidak berjanji!" Nathan menyahut cepat. Persis seperti dugaannya, Nathan akan mengatakan kalimat itu. "Aku tidak bisa berjanji apa pun padamu, karena...."


"Aku mohon, Paman! Atau aku tidak akan pernah mengatakannya!" ancam Aster dengan mata terkunci pada Nathan.


"Jadi kau mencoba menantangku?" Aster menggeleng cepat, ia merinding melihat sorot mata Nathan yang tajam. Meskipun hanya mata kirinya saja namun hal itu cukup untuk membuatnya ketakutan setengah mati.


"Lupakan, sebaiknya sekarang kau pulang dan beristirahatlah dirumah. Biar Gavin dan Rio yang menemanimu, untuk selanjutnya, sebaiknya kau tidak usah datang. Perhatikan kakimu yang membutuhkan perawatan!"


Mata Aster langsung berkaca-kaca mendengar Nathan berbicara sedingin itu padanya.


Ia tau jika saat ini Nathan sedang kesal padanya, dan Aster akui itu memang kesalahannya, tapi dia fikir-fikir lagi mungkin memang ini yang terbaik.


Sebaiknya Nathan memang tidak perlu tau tentang siapa orang yang mencoba untuk mencelakainya.


"Kau tidak memiliki hak untuk mengusirku dan aku berhak ada disini. Lagi pula jika aku berada di rumah, itu artinya aku akan berjauhan dengan dokter, lalu bagaimana jika cidera yang aku alami ini justru semakin parah!" tutur Aster.


"Terserah!" kata Nathan lalu memalingkan wajahnya dari Aster.


Gavin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Melihat Aster dan Nathan seperti itu membuat dia merasa risih. Ia lebih suka melihat mereka yang bersikap romantis dibandingkan dengan melihat mereka perang dingin seperti itu.


Saat ini Gavin sedang memutar otaknya untuk membuat mereka akur lagi, dan merubah sikap dingin Nathan pada Aster menjadi normal lagi.


Tiba-tiba sebuah ide muncul diotak cerdasnya. Melihat Aster yang beranjak dari samping Nathan dan berjalan tertatih menuju sofa tak lantas membuat Gavin diam begitu saja. Pemuda itu bangkit dari posisi duduknya dan...


'Brukk'


"Ahhhh! Kakiku,"


Gavin menyenggol lengan Aster hingga membuat wanita itu berakhir dilantai dalam posisi terduduk. Dan pekikan itu mengalihkan perhatian semua orang termasuk Nathan.


Wanita itu memegangi pergelangan kakinya sambil menundukkan wajahnya, sebagian rambut-nya jatuh menutupi wajah cantiknya.


Bahunya tampak bergetar, dan isakan terdengar disela-sela bibir tipisnya. "Sialan, kenapa hari ini aku begitu sial!" geram Aster ditengah isakannya membuat Nathan tersentak.


Buru-buru Gavin merundukkan tubuhnya mensejajarkan tingginya dengan Aster. Gavin menatap wanita itu cemas. "Nunna, kau tidak apa-apa...??"


"Apa aku terlihat baik-baik saja...!" Aster menyahut cepat. Wanita itu mengangkat wajahnya yang penuh air mata. "Hiks!"


Aster menarik kedua kakinya, kedua tangannya memeluk lututnya sambil menyembunyikan wajahnya. Isakan itu terdengar semakin keras


"Kenapa semua orang hari ini begitu menyebalkan!" lirih Aster ditengah-tengah isakannya. Wanita itu mengangkat wajahnya dan berteriak keras... "SUKETI!! SEBAIKNYA BAWA SAJA AKU BERSAMAMU!!" Sepertinya Aster benar-benar frustasi.


Membuat mata Gavin dan Rio membelalak saking kagetnya. Keduanya menggelengkan kepala dan berseru keras. "NUNNA JANGAN!!!"


"Cantik, kau memanggilku?!"


"HUAAA~KYYYAAA....SETAN!!!"


-


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2