
Aster menghampiri Nathan di kamar. Pria itu sedang sibuk dengan beberapa pekerjaannya. Meskipun saat ini mereka sedang berada di Busan untuk berlibur, tapi dia tetap tidak bisa lepas tanggung jawab pada semua pekerjaannya.
Aster mendesah berat. Wanita itu menghampiri Nathan kemudian mengambil alih beberapa dokumen yang ada ditangannya.
"Sudah malam, sebaiknya Oppa segera tidur!!"
"Aster, apa yang kau lakukan? Kembalikan dokumen itu padaku, aku masih belum selesai membaca dan memeriksanya."
Wanita itu menggeleng. "Tidak mau, kota di sini untuk berlibur, Oppa!! Dan bisakah untuk sejenak saja, kau tinggalkan pekerjaanmu? Bukankah masih ada Dio yang bisa menghandle semuanya?" Ujarnya.
Nathan mendesah berat. "Aster, jangan berlebihan. Ini adalah pekerjaanku dan aku tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja. Memang ada Dio yang bisa mengatasi semuanya, tapi sebagai pemimpin aku harus tetap bersikap profesional." Tuturnya panjang lebar.
Dan akhirnya Aster pun mengalah. Tidak ada gunanya dia berdebat dengan Nathan, karena pada akhirnya tetap ia sendiri yang kalah.
"Huft, baiklah terserah Oppa saja." Kemudian ia beranjak dan pergi begitu saja. Meninggalkan Nathan sendiri di dalam kamar. Aster menghampiri Laurent yang masih asik bermain bersama Sammy.
Nathan mendesah berat. Mengabaikan Aster. Pria itu kembali pada pekerjaannya, karena lebih cepat selesai maka lebih baik. Dengan begitu dia bisa istirahat lebih awal.
-
"Mami, are you oke?" Tegur Laurent melihat wajah kesal Ibunya.
Aster menoleh lalu menatap putri kecilnya tersebut. Wanita itu mengangguk. "Mami baik-baik saja, hanya sedikit kesal pada Daddy mu. Penyakit workaholic Daddy mu sedang kambuh." Ujarnya.
"Nyonya, ini teh untuk Anda, sebaiknya diminum dulu." Bibi Nam menghampiri Aster lalu memberikan secangkir teh hangat padanya.
Aster tersenyum seraya mengambil cangkir teh tersebut dari tangan Bibi Nam. "Terimakasih, Bibi." Ucapnya ramah. Wanita itu meletakkan cangkir tehnya di atas meja setelah meneguk sedikit isinya.
Bibi Nam kemudian mengambil tempat di samping Aster. Mereka berdua sama-sama memperhatikan anak-anak yang sedang bermain.
"Jujur saja, Laurent bukanlah tipe anak yang mudah untuk dekat dengan anak sebayanya. Tapi dia bisa langsung akrab dengan Sammy. Sepertinya Sammy benar-benar bisa memahaminya."
"Saya sedikit khawatir, Nyonya. Mungkin saja mereka akan sama-sama sedih ketika berpisah. Nona kecil dan Sammy sudah sangat dekat dan berteman baik, mungkin saja salah satu dari mereka akan rewel nantinya."
Aster mengangguk, dia setuju dengan pemikiran Bibi Nam. Karena itu juga yang dia pikirkan. Tapi mau bagaimana lagi, mereka tidak mungkin selamanya tinggal di sana, masih banyak pekerjaan dan hal-hal lainnya yang harus diselesaikan di Seoul.
"Asal kita bisa saling memberi pengertian, aku rasa tidak akan ada masalah. Mereka berdua adalah anak-anak yang cerdas, pasti bisa mengerti dan menerima masukan dari kita." Ujar Aster memaparkan.
__ADS_1
"Anda benar, Nyonya."
"Bibi, ini sudah larut malam. Sebaiknya Bibi pergi tidur. Pasti Bibi lelah. Laurent, besok lagi ya mainannya. Sebaiknya sekarang kita tidur. Daddy bisa marah jika Laurent tidak segera tidur."
Laurent menatap Ibunya dan kemudian mengangguk. "Oke, Mami. Kakak tampan, Laurent bobo dulu ya. Selamat malam." Gadis kecil itu beranjak dari duduknya. Dia dan Aster kemudian sama-sama melenggang menuju kamarnya yang ada di lantai dua.
.
.
.
Cklekk...
Perhatian Nathan sedikit teralihkan, pria itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya saat Laurent dan Aster tiba di kamar. Setelah menyimpan laptopnya, kemudian ia menghampiri mereka berdua.
"Daddy, sebaiknya jangan terlalu sibuk bekerja. Mami bisa marah lagi loh." Ucap Laurent memberi nasehat.
Nathan naik ke atas tempat tidur kemudian berbaring di samping gadis kecil itu."Memang apa yang Mami mu katakan?" Tanya Nathan penasaran.
Nathan menatap Aster yang membuang muka ke arah lain. Kenapa Laurent harus memberitahu ayahnya segala. Pasti dirinya akan kena mental setelah ini. Dia hanya berdoa, semoga suaminya itu tidak menghiraukan ucapan putri kecil mereka.
"Dasar tukang ngadu. Sebaiknya sekarang Laurent bobo, atau Mami akan memukul pantat mu lagi?!" Mendengar ancaman Ibunya membuat gadis kecil itu terkesiap. Buru-buru ia berbaring sambil menyelimuti sekujur tubuhnya dengan selimut.
"Oke, aku akan bobo sekarang juga."
Aster terkekeh geli. Jika sudah mendengar kalimat 'Pukul Pantat' pasti Laurent akan langsung menurut. Padahal dia hanya sekedar memberikan Ancaman saja dan tidak sungguh-sungguh melakukannya.
Dan tidak sampai sepuluh menit. Laurent pun telah terlelap dalam mimpinya. Gadis kecil itu tidak ingin mendapatkan masalah dari sang ibu, itulah kenapa dia langsung menurut ketika Aster memintanya untuk tidur.
Aster memicingkan matanya dan menatap Nathan sedikit heran ketika pria itu tiba-tiba bangkit dari duduknya dan melenggang pergi menuju kamar mandi. Bukankah dia sudah mandi? Apa mungkin suaminya itu hendak buang air kecil? Tapi rasanya tidak mungkin.
Penasaran. Aster pun memutuskan untuk menyusul Nathan ke kamar mandi. "Aaahh," wanita itu memekik kaget saat seseorang tiba-tiba menarik lengannya dan menghimpitnya di tembok.
"Oppa, kau mengejutkanku!!" Seru Aster sebelum bibirnya di bekap oleh Nathan.
Pria itu menekan tengkuk Aster dengan sebelah tangannya, sedangkan tangan satu lagi memeluk pinggang rampingnya. Bibir Nathan terus mel*mat bibir Aster secara bergantian.
__ADS_1
Dan Aster pun tak mau kalah. Wanita itu mengangkat kedua tangannya dan mengalungkan pada leher Nathan. Ciuman mereka pun semakin panas dan kian menuntut.
Guna menyamarkan des*han yang keluar dari bibir mereka berdua. Nathan menyalahkan air shower. Tak cukup hanya sekedar mel*mat saja, lidah Nathan mulai menuntut permainan lebih.
Pria itu mencoba mendapatkan akses untuk masuk ke dalam mulut Aster dengan menekan belahan bibirnya yang sedikit terbuka. Tau apa yang diinginkan suaminya, wanita itu langsung membuka bibirnya, dan menyambut bibir Nathan di dalam mulutnya.
Kedua tangan Nathan meremas bukit kembar milik Aster sambil terus memainkan biji anggunnya. Sedangkan lidah dan bibirnya terus mengklaim bibir ranum milik wanita itu.
Tidak kuat. Kedua kaki Aster rasanya bertransformasi menjadi Jelly. Sadar kekuatan kaki istrinya yang hanya tinggal beberapa persen saja. Nathan pun mengangkat tubuh Aster dan membawanya masuk ke dalam bathub yang kosong dan kering tanpa terisi air.
Mereka kembali berciuman, jari-jari Nathan mulai melepas satu persatu kain di tubuh Aster dan membuangnya begitu saja. Beberapa tanda kepemilikan Nathan tinggalkan di sana.
"Apa kita akan melakukannya di sini? Di kamar mandi?" Aster menatap Nathan tidak percaya.
Pria itu mengangkat bahunya. "Kenapa tidak," ucapnya. Dan sekali lagi Nathan membawa bibir Aster dalam ciuman panjang yang memabukkan.
Selanjutnya bukan hanya bibir mereka saja yang menyatu. Namun juga jiwa dan raga. Menjadikan malam yang dingin ini sebagai malam panas yang mengairahkan.
Dan mereka harus bercinta di kamar mandi, karena memang tidak memiliki pilihan lain. Sangat besar resikonya jika mereka melakukannya di dalam kamar dengan Laurent yang satu ruangan.
.
.
.
Usai percintaan mereka. Aster memutuskan untuk langsung tidur. Dia benar-benar lelah. Wanita itu berbaring di samping Laurent yang sudah terlelap sejak 1 jam yang lalu. Sedangkan Nathan masih tetap terjaga.
Di sini Nathan saat ini. Pria itu memandang bulan tanpa bintang dari teras balkon kamarnya, merasakan deru angin malam menerpa helai rambutnya. Sendiri, tanpa ada yang menantinya.
Langit malam ini terlihat agak pekat karena tertutup oleh awan hitam. Bulan dan bintang bersembunyi di balik kelamnya malam. Mendung menggantung di langit, menandakan jika hujan akan segera turun.
Membuang rokoknya yang tinggal setengah. Kemudian Nathan beranjak dari sana dan kembali ke kamarnya. Mungkin tidur lebih awal tidak ada salahnya, begitulah yang dia pikirkan.
-
Bersambung.
__ADS_1