"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Tidak Suka


__ADS_3

Glekkk...


Gavin menelan salivanya dengan susah payah melihat gadis pujaannya berjalan di hadapannya. Pemuda itu menekan dada kirinya yang berdegup kencang, seakan-akan ada ribuan kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya. Seperti orang bodoh, Gavin tersenyum sendiri.


"Rio, kenapa dia semakin cantik saja." ucap Gavin tanpa melepaskan tatapannya dari sosok jelita yang sudah semakin menjauh itu.


"Astaga, lihatlah, liurmu hampir saja menetes. Jika kau memang suka padanya, kenapa tidak mencoba untuk mendekatinya?" Ucap Rio memberi saran.


"Aku tidak tau caranya." Gavin menghela nafas panjang dan menggeleng pelan.


"Tentu saja dengan masuk ke dalam Asramanya." Jawab Gavin cepat.


"Caranya?" tanya Gavin begitu antusias.


Rio melebarkan smriknya dan mendekat pada Gavin. Lalu Eio meletakkan tangan kanannya pada telinga pemuda itu dan mulai membisikkan sesuatu di telinganya.


Sontak kedua mata Gavin membelalak. Sementara Rio manggut-manggut membenarkan. Dan dengan keras Gavin memekik.


"APA?! BERDANDAN SEPERTI WANITA?!"


-


Gavin menelan salivanya dengan susah payah saat menatap dirinya dari pantulan cermin di didepannya. Ia nyaris saja tidak bisa mengenali dirinya setelah melihat penampilan barunya.


Bukan lagi sosok pemuda tampan seperti biasanya, Gavin menjelama menjadi sosok wanita yang sangat cantik dan menggemaskan. Bahkan dadanya terlihat sedikit membesar layaknya wanita yang sesungguhnya.


Tapi tentu saja bukan pay*dara yang sebenarnya, melankan dua potong gabus yang telah di atur sedemikian rupa sehingga menyerupai pay*darah yang sesungguhnya.


"Huaaaa, Gavin Hyung, kenapa kau sangat cantik. Hampir saja aku tidak mengenalimu." Rio membelalakkan matanya melihat penampilan baru Gavin yang berubah 180°.


Tak ingin melewatkan kesempatan yang ada, Rio pun segera menggeluarkan ponselnya. Ia meraih tubuh Gavin dan selca bersamanya.


"Yak, bocah apa yang kau lakukan?" pekik Gavin kesal dengan apa yang baru saja Rio lakukan.


"Kenapa Hyung? Bukankah ini moment yang sangat langkah?" Ucapnya.


"Kau sudah bosan hidup ya?!" Teriaknya kesal.


"Hahahaha." Rio tersenyum lepas seraya berlari meninggalkan Gavin yang telah berancang-ancang untuk melarikan diri.


Merasa tidak terima karena diolok-olok oleh Rio, Gavin pun bergegas mengejar pemuda itu. Meskipun dalam penampilan barunya, namun kemampuan Gavin masih tidak bisa di ragukan.


"YAK!! BOCAH, JANGAN LARI KAU!!" teriak Gavin keras.


Bukannya menuruti perintah Gavin, Rio justru semakin mempercepat langkahnya. Ia menoleh ke arah Gavin sembari menjulurkan lidahnya, hingga tanpa sengaja


Ia bertabrakan dengan seseorang, keduanya sama-sama jatuh dengan posisi terduduk.

__ADS_1


Sontak Rio mendongakkan kepalanya dan mendapati sosok jelita terduduk di hadapannya


"Ya Tuhan, cantik sekali gadis ini. Gavin Hyung, sepertinya aku akan segera mengikuti jejakmu!!"


-


"Daddy, Ini pasti sakit ya?" Tanya Laurent sambil menujuk benda hitam bertali yang menutup mata kanan sang ayah.


Nathan menggeleng. "Tidak Sayang, ini sudah tidak sakit lagi. Memangnya kenapa Laurent bertanya seperti itu?" Nathan balik bertanya.


"Kalau tidak, kenapa Daddy harus menutupnya dengan benda ini?!" Laurent menunjuk benda bertali itu sekali lagi.


"Karena orang lain bisa ketakutan jika Daddy tidak menutupnya, Nak. Mata kanan Daddy sudah tidak sempurna lagi." Jelas Nathan panjang lebar.


"Memangnya apa yang terjadi pada mata kanan, Daddy sebenarnya? Laurent sangat penasaran."


"Suatu insiden, Nak. Dan insiden itu sudah lama sekali." Ujar Nathan menjawab.


"Begitu ya, Dad. Oya, di mana Mami? Bukankah kita mau pergi jalan-jalan ke Kota Busan, kenapa Mami lama sekali."


"Mungkin Mami-mu masih bersiap-siap. Bagaimana kalau kita keluar dan tunggu Mamimu di mobil?" Laurent mengangguk.


Nathan mengangkat tubuh mungil Laurent dan menggendongnya, pria tampan itu membawa gadis kecil itu berjalan menuju mobilnya yang telah terparkir di halaman rumah.


Laurent memperhatikan pakaian yang di pakai Nathan dan mendesah berat. "Daddy. Laurent, benar-benar tidak suka jika Daddy berpakaian seperti ini. Daddy jadi mirip paman-paman yang sudah tua."


"Tidak bisa Princess, Daddy tidak mungkin pergi dengan pakaian seperti itu. Jadi nanti saja kalau kita di rumah ya." Bujuk Nathan memberi pengertian.


Laurent menggeleng. "Tidak mau, pokoknya Laurent mau Daddy ganti pakaian sekarang juga!!"


"Laurent, berhentilah menjadi gadis nakal. Lebih baik sekarang Laurent duduk manis, karena kita akan pergi sekarang." Seru Aster yang kemudian masuk kedalam mobil Nathan.


Bukannya menuruti ucapan ibunya. Gadis kecil itu justru melipat kedua tangannya dan meletakkannya di depan dada sambil memanyunkan bibirnya.


"Laurent!!"


"Daddy, Mami jahat. Lihatlah Mami memarahi Laurent dan melotot begitu. Sedangkan Daddy tidak mau menuruti permintaan kecil Laurent."


"Laurent!!"


"Laurent tidak mau bicara dengan kalian berdua." Ucap Laurent seraya membuang muka.


Sedangkan Nathan dan Aster hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah putri kecil mereka.


Aster menatap Nathan sejenak dan memberikan israyat pada suaminya itu. Sontak Ia menolehkan kepalanya dan mendati Laurent yang tengat melipat kedua tangannya dengan ekspreari wajah yang sama.


Nathan mendengus geli, dengan terpaksa dan demi menuruti permintaan putrinya. Nathan akhirnya menghentikan mobilnya di depan sebuah boutique yang cukup terkenal di kota Seoul. Apa yang Nathan lakukan menimbulkan sebuah tanda tenya besar di benak Aster.

__ADS_1


"Oppa, untuk apa kita kemari?" Tanya Aster heran.


"Tetaplah di sini bersama, Laurent. Aku akan segera kembali." Balas Nathan dan berlalu begitu saja.


.


.


.


Selang beberapa menit berlalu. Terlihat Nathan keluar dari boutoque itu, ada yang berbeda dengan penampilan Nathan saat ini.


Terlihat singlet hitam melekat di tubuhnya yang di padukan dengan kemeja putih tanpa lengan serta Leather Vest hitam. Sementara celananya, Nathan sengaja tidak menggantinya. Karena Ia berencana akan berpenampilan seperti itu hanya sementara saja, sampai mereka tiba di Busan.


"Daddy." Wajah murung Laurent seketika menjadi cerah saat melihat penampilan sang ayah yang seperti keinginannya. Gadis kecil itu menjadi sangat kegirangan karena ayahnya mau mengabulkan permintaannya.


"Sekarang apakah Laurent masih marah sama Mami dan Daddy?" Tanya Nathan dan di balas gelengan oleh gadis kecil itu.


"Tidak lagi, Laurent tidak marah lagi." Balas gadis itu cepat.


"Oppa, kenapa harus mengganti pakaianmu dan berpenampilan seperti ini?" heran Aster melihat penampilan suaminya yang terlihat serampangan namun tetap cool.


"Tidak apa-apa Sayang, membahagiakan putri kita tidak ada salahnya bukan," balas Nathan seraya mengusap wajah Aster penuh sayang.


Sikap dan sentuhan Nathan seketika membuat wajah Aster memerah, dan entah kenapa melihat penampilan Nathan pagi itu membuat hasrat Aster untuk bisa bercocok tanam menjadi semakin bergairah.


Tidak bisa Aster pungkiri juga jika Nathan memang lebih menggairahkan dengan pakaian lengan terbuka seperti ini dari pada harus memakai pakaian berlengan panjang. Dan dia akui jika putri kecilnya memiliki pandangan yang jelih akan penampilan sang ayah.


"Malam ini kau akan mendapatkannya." Bisik Natnan seolah mengerti apa yang Aster pikirkan, suaranya berbisik dan sedikit menggoda


"Oppa, kau nakal!!" Aster memukul pelan lengan terbuka Nathan


Nathan mengecup singkat bibir Aster tanpa sepengetahuan Laurent tentunya. Gadis kecil itu sedang asik bermain dengan bonekanya.


"Oppa, kenapa kau melakukannya di depan putri kita? Bagaimana jika dia sampai melihatnya?" kaget Aster setelah Nathan mengakhiri ciumannya.


Nathan menatap putri kecilnya itu melalui ekor matanya dan menggeleng. "Dia sedang asik bermain." Jawabnya.


Jika saja memungkinkan. Pasti Nathan sudah menerjang dan menakan Aster detik ini juga. Tapi keadaan yang tidak memungkinkan untuk Nathan melakukannya. Ada Putri kecil mereka.


Nathan menatap istri dan putrinya itu bergantian. Senyum hangat tersungging menghiasi wajah tampannya. Kebahagiaannya sempurna. Aster telah kembali ke dalam pelukannya bersama seorang malaikat kecil yang kini menyempurnakan hidupnya. Cinta mereka akhirnya sempurna.


"Oke girls, kita pergi sekarang?" Aster mengangguk, begitu pula dengan Laurent yang begitu antusias.


"Oke Daddy!!"


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2