"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Ekstra Bab (Bag 31)


__ADS_3

Aster menghampiri Laurent yang sedang bersiap di kamarnya. Rencananya hari ini mereka akan pergi piknik seperti usul Laurent tempo hari. Gadis kecil berusia 10 tahun itu terlihat cantik dan anggun dalam balutan gaun selutut bermotif bunga.


Aster menarik sudut bibirnya. Kemudian dia berdiri di belakang sang putri untuk menyisir rambut panjangnya yang terurai.


"Lihatlah, Princess. Rambutmu sudah sangat panjang. Bagaimana kalau pekan depan kita ke salon, rambutmu perlu di potong bagian ujungnya agar tidak bercabang." Ujar Aster yang kemudian di balas anggukan oleh Laurent.


"Kebetulan sekali, Mi. Aku memang ingin sekali pergi ke salon dengan Mami. Sudah lama juga kita tidak pergi ke salon sama-sama." Tutur Laurent.


"Ya sudah, sebaiknya sekarang kita bergegas. Semua orang mungkin sudah menunggu untuk berangkat. Kau tau sendiri bukan jika Daddy mu sangat benci dengan yang namanya menunggu?!"


"Oya, Mi. Ngomong-ngomong soal, Daddy. Hari ini Daddy memakai pakaian seperti apa? Apa yang seperti aku bayangkan atau tidak? Aku sangat penasaran."


Aster menarik hidung Laurent dengan gemas sambil tersenyum lebar. "Kau akan mengetahui setelah melihatnya. Dan percayalah pada Mami, jika Style Daddy mu hari ini tidak mengecewakan. Kau, justru akan sangat menyukainya." Tutur Aster yang langsung membuat mata Laurent berbinar-binar.


"Benarkah? Aku jadi tidak sabar untuk melihatnya. Mi, ayo kita turun sekarang." Ajak Laurent yang kemudian di balas anggukan oleh Aster.


Laurent menghentikan langkahnya di ujung tangga. Mata bulatnya tampak terpanah melihat bagaimana tampan dan kerennya sang ayah hari ini. Nathan terlihat begitu tampan dan cool dengan balutan jeans hitam, Leather Vest berwarna hitam pula serta singlet putih yang menjadi dal*man Vest nya.


Ternyata Ibunya benar, penampilan ayahnya tidak mengecewakan sama sekali. Sang ayah sangat-sangat tampan dalam balutan pakaian casual nya.


"Wow, Daddy sangat tampan dan cool dengan style ini. Laurent, menyukainya." Ujar Laurent dengan wajah malu-malu.


Nathan pun hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala. Ternyata benar kata orang, jika buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ia sungguh tak menyangka bila Aster akan menurunkan sifat anehnya itu pada sang putri.


"Bukankah pilihan Mami sangat luar biasa, Princess?!" Aster menggerlingkan matanya pada Laurent. Dan bocah perempuan itu malah mengacungkan jempolnya pada sang Ibu.

__ADS_1


"Mami memang sangat luar biasa," jawabnya.


"Sudah semakin siang, sebaiknya kita berangkat sekarang." Ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh semua orang.


Aster, Laurent dan Rey satu mobil dengan Nathan. Sedangkan Zhoumi, Gavin dan Rio satu mobil dengan Cris. Tak ketinggalan trio hantu ajaib juga turut serta. Karena cream khusus hantu, mereka tak lagi takut keluar di siang hari.


"Kkkyyyaaa!!! Akhirnya Suketi cuci mata lagi!!!"


-


Setelah berkendara kurang dari 1 jam. Mereka akhirnya tiba di bukit angin. Dengan di bantu Nathan dan Laurent, Aster mengelar tikar yang mereka bawa lalu menata semua perbekalan mereka di atas tikar tersebut.


Tidak hanya membawa makanan saja. Tapi Aster juga membawa mainan untuk Baby Rey supaya dia tidak rewel. Gavin dan Rio pun tak mau ketinggalan, dia juga membawa bola yang nantinya akan dia pakai bermain bersama Cris, Zhoumi dan Leon.


"Rey, ayo jagoan kita main bersama Uncle tampan." Seru Rio lalu membawa baby Rey untuk main bersamanya.


Semua sibuk bermain dan asik dengan dunia mereka sendiri. Di sana hanya menyisakan Aster dan Nathan yang sepertinya tak berminat untuk ikut bermain bersama yang lain. Beruntung cuaca hari ini sangat bersahabat, meskipun langit biru membentang, tapi tidak terlalu terik.


"Paman, kau ingin makan atau minum sesuatu?" Tanya Aster memberi penawaran.


"Soda saja." Aster mengangguk. Kemudian dia memberikan soda yang Nathan minta. "Aster, rasanya aku masih tidak percaya jika sekarang kita telah memiliki dua anak. Bahkan tidak pernah terpikir olehku jika aku akan menikahi mu, padahal kita adalah ayah dan putri angkat."


Aster menggeleng. "Dibandingkan ayah dan anak angkat. Kita lebih cocok disebut kakak dan adik angkat. Karena usia kita hanya terpaut 10 tahun saja." Ujar Aster menimpali.


Nathan mengangguk. "Ya, kau benar. Tapi dalam dokumen tercatat jika kau adalah putri angkat ku. Meskipun pada kenyataannya kau tidak pernah mau memanggilku dengan sebutan Daddy,"

__ADS_1


"Itu terdengar menggelikan, Paman. Bagaimana mungkin pria berusia 20 tahun tiba-tiba memiliki seorang putri berusia 10 tahun. Bukankah itu tak masuk akal?"


Nathan mengangguk. "Memang benar, dan aku rasa kau memutuskan untuk memanggilku demikian setelah mempertimbangkannya. Bukankah begitu?" Aster menjawab ucapan Nathan dengan anggukan.


Aster menyandarkan kepalanya pada bahu kanan Nathan. "Paman, bagaimana perasaanmu hari itu. Saat aku meninggalkanmu? Pasti kau berpikir jika aku adalah wanita yang sangat jahat ya?" Aster mengangkat wajahnya dan mengunci langsung manik kiri Nathan.


"Bukan, aku justru menganggap aku sebagai wanita paling bodoh di dunia!!!"


"Mau bagaimana lagi, karena pada saat itu aku tidak memiliki pilihan. Kau berada di ujung maut, dan wanita itu tak mau mendonorkan darahnya jika aku tidak pergi dari sisimu. Aku lebih baik kau benci dari pada harus kehilanganmu!!" Tutur Aster dengan mimik sendu.


Wanita itu menutup matanya. Setitik kristal bening mengalir dari pelupuk mata Aster. Yang kemudian jatuh dan membasahi wajah cantiknya. "Bukankah semua sudah berlalu. Untuk apa mengingat masa lalu yang menyakitkan. Toh sekarang kita hidup dengan bahagia bersama anak-anak." Tutur Nathan sambil menghapus air mata di pipi Aster.


"Ya, dan kali ini tak ada lagi yang bisa memisahkan kita." Aster tersenyum.


Nathan mengusap pipi Aster lalu mencium singkat bibirnya. Tapi ciuman itu teramat sangat singkat dan kurang dari 30 detik. Mereka tidak ingin jika anak-anak sampai melihat adegan yang tak seharusnya mereka lihat.


"Mami, Daddy, kemari lah, ayo kita main bersama." Seru Laurent sambil melambaikan tangannya.


"Kau main saja bersama kedua uncle mu. Mami dan Daddy melihat dari sini saja." Jawab Nathan menimpali.


"Ah, kalian tidak asik." Laurent mempoutkan bibirnya. "Uh, baiklah. Kalau begitu aku main lagi ya." Nathan dan Aster mengangguk.


Laurent kembali pada Gavin dan Rio. Melihat putra dan putrinya tertawa begitu lebar membuat hati Nathan menghangat. Meskipun dia tidak bisa melihat pertumbuhan Laurent, tapi setidaknya dia telah menebusnya.


Dan dia amat sangat bersyukur, bisa menyaksikan pertumbuhan Rey hingga dia berusia 2 tahun. Mereka adalah harta paling berharga yang pernah Nathan miliki dalam hidupnya. Yang akan selalu dia jaga dan lindungi dengan nyawanya.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2