"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Merindukan Si Utun


__ADS_3

Memiliki wajah tampan nan rupawan merupakan sebuah anugerah dari Tuhan.


Lagipula memangnya siapa juga yang tidak ingin memiliki wajah tampan seperti sang Adonis? Di puja banyak wanita cantik dan selalu menjari pusat perhatian dimana pun dia berada.


Karena memiliki wajah tampan nan rupawan adalah impian seluruh pria di Dunia ini. Tapi sayangnya tak semua pria memiliki wajah tampan seperti yang mereka harapkan.


Namun hal itu tidak berlaku bagi Nathan, disaat semua pria ingin memiliki wajah tampan sepertinya, Nathan justru merasa jika ketampanan yang dia miliki adalah sebuah musibah.


Bukan tanpa alasan. Nathan paling benci saat dia dikerubungi oleh beberapa makhluk 'agak liar' berpoles lipstick dengan meneriakkan namanya dimana-mana, tapi itu dulu ketika dia masih seolah dan kuliah.


Mereka selalu menjerit senang saat dia melenggang santai dihadapan mereka, mengganggu ketenangannya di hari yang menurut Nathan spesial, dan mengirim banyak kertas tak berguna yang hampir setiap hari selalu memenuhi loker sekolahnya.


Oke, menurut sebagian orang itu adalah hal yang luar biasa, memiliki wajah tampan merupakan suatu anugerah, bukan? Tapi sepertinya merupakan bencana juga bagi Nathan, dan apa kalian tau? Ia sangat membenci hal ini,


Sama seperti dia membenci makanan manis. Banyak hal yang Nathan benci dalam hidupnya, sama halnya juga dengan sedikit, dan hampir mustahil adanya hal yang dia suka.


Bahkan setelah dia menjelma menjadi pria dewasa yang telah sukses di dunia perbisnisan seperti saat ini. Dari sekian banyak hal yang dia benci, tentu ada beberapa hal yang dia sukai.


"Sobat, tidakkah kau itu cukup keterlaluan pada wanita-wanita cantik itu? Mereka berusaha mendekatimu, tapi dengan tak sopanya kau malah menolak mereka semua," ujar seorang pria yang sebelumnya tengah asik menonton video laknat di ponselnya.


"Hn. Mereka bukan tipeku, dan aku tidak Sudi menjalin hubungan special dengan sembarang orang. Apalagi dengan wanita murahan seperti mereka." Tuturnya.


"Kau ini, diantara kita berempat. Hanya kau saja yang belum pernah merasakan nikmatnya lubang buaya dari mahluk manis seperti mereka. Bahkan mereka rela membuka lebar-lebar kedua kakinya secara cuma-cuma padamu. Tapi kau selalu menolak mereka!!"


Byurrr...!!


Cris menyemburkan semua minuman yang baru saja masuk ke dalam mulutnya, setelah mendengar apa yang baru saja Suho katakan.


Diantara mereka bertiga, memang hanya Cris satu-satunya orang yang mengetahui jika Nathan sudah menikah. Nathan memang belum mengumumkan perihal pernikahannya dengan Aster pada semua orang.


"Uhuk...Uhukk..."


"Dasar ceroboh, minum saja bisa tersedak." Lucky memberikan segelas air putih pada Cris.


"Jangan salahkan aku. Tapi salahkan maniak dolar itu, bagaimana bisa lidahnya begitu licin dan mengatakan kalimat mengerikan seperti itu?!!" Tutur Cris.


Dan Nathan hanya mendengus berat. Menggelengkan kepala melihat tingkah teman-temannya. "Merepotkan," dia mendumal pelan.


"Hei, lama-lama sifatmu bisa sama seperti Lucky juga, kau itu memang merepotkan!" teriaknya kesal. Suho sangat heboh hingga menarik banyak perhatian, bodoh sekali.

__ADS_1


"Yakk!! Maniak dolar, kenapa kau malah melibatkan ku?! Dasar menyebalkan."


"Kenapa kau harus tersinggung? Aku hanya mengatakan fakta dan kau langsung kebakaran jenggot? Kau itu menyebalkan, sangat-sangat menyebalkan malah!!"


Lucky memutar jengah matanya. "Terserah," dan menjawab dengan sedikit tidak berminat. Malas mendengar perdebatan mereka lagi. Nathan pun memilih untuk memisahkan diri. Mereka hanya membuatnya pusing.


.


.


.


Nathan mengurangi kecepatan pada laju mobilnya, ketika sepasang mata coklatnya melihat dua orang, satu perempuan dan satu laki-laki tengah terkapar di jalan dengan darah menggenangi tubuh mereka, sedangkan beberapa orang terlihat berusaha mencari bantuan.


Bukan Nathan namanya jika bodoh dan mudah tertipu. Dia sangat hapal betul dengan trik murahan seperti itu. Dan Nathan tidak akan terkecoh.


"Tuan, tolong bantuannya. Dua orang itu membutuhkan pertolongan, bisakah kau membawanya ke rumah sakit terdekat?" Mobil Nathan dihadang dan dihentikan oleh tiga orang.


"Minggir kalian bertiga, dan jangan menghalangi jalanku, jika kalian tidak ingin aku lindas sampai mati!!!" Ucap Nathan setengah geram.


"Sialan kau, kami meminta baik-baik dan kau malah mengajak ribut!! Keluar kau bajingan!!" Teriak salah satu dari ketiga pria itu.


"Sombong!! Siapa kau? Apa kau belum tau siapa kami?"


"Nathan Xiao, Leader dari Black Phoenix!!"


Mendengar jawaban Nathan seketika membuat wajah mereka pucat. Nyali mereka menciut setelah mengetahui siapa orang yang ada di hadapannya ini.


Tanpa mengatakan apapun. Mereka langsung lari tunggang-langgang. Bahkan dua orang yang tadi terkapar pun ikut lari bersama ketiga pria itu. Mereka tidak ingin berakhir mengenaskan di tangan Iblis seperti Nathan.


Nathan mendengus berat. "Dasar orang-orang bodoh!! Benar-benar merepotkan." Desisnya tajam. Nathan menyalakan kembali mesin mobilnya, dan melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.


~


Aster menatap jam yang menggantung di dinding kamarnya dengan gelisah. Sudah pukul 11 malam. Namun Nathan belum juga pulang. Aster sudah mencoba menghubungi ponsel Nathan, tapi ponselnya malah tidak aktif.


Mendengar deru suara yang memasuki halaman, membuat perhatiannya teralihkan. Aster berlari keluar untuk memastikan yang pulang itu Nathan atau bukan.


"Paman~"

__ADS_1


Dan kini Aster bisa bernapas lega setelah mengetahui yang pulang memang Nathan. Pria itu baik-baik saja meskipun terlihat lelah.


"Kenapa belum tidur?" Tanya Nathan setelah ia dan Aster berdiri saling berhadapan.


"Aku menunggu Paman, aku sangat cemas, ponsel Paman tidak bisa dihubungi. Aku takut Paman mengalami hal buruk." Jelasnya.


Nathan membawa Aster ke dalam pelukannya. Sesal terlihat jelas dari sorot matanya.


"Maaf, Sayang. Karena Paman sudah membuatmu cemas. Ponsel Paman kehabisan baterai, pekerjaan di kantor lumayan menumpuk. Makanya Paman harus lembur." Tuturnya.


Aster mengangkat wajahnya dari pelukan Nathan."Aku akan menyiapkan air hangat untuk Paman mandi. Paman pasti sangat lelah." Ucapnya dan pergi begitu saja. Meninggalkan Nathan sendiri ditempatnya.


.


.


.


Usai mandi dan berpakaian lengkap. Nathan tidak langsung tidur. Ia dan Aster tengah duduk di tempat tidur, punggung mereka bersandar pada sandaran tempat tidur.


"Paman," panggil Aster dan memecah keheningan di mantara mereka.


Nathan menurunkan pandangannya. Matanya bersirobok dengan Aster yang sedikit mendongakkan kepalanya. "Apakah Utun akan kembali pada kita? Jujur saja aku sangat merindukan si Utun." Ucapnya berkaca-kaca.


Nathan menarik Aster ke dalam pelukannya. Dan memeluk wanita itu dengan erat.


"Pasti, Sayang. Cepat atau lambat pasti Utun akan kembali pada kita, dan jika saat itu tiba. Aku akan menjaga kalian dengan baik. Dan aku tidak akan membiarkan dia pergi lagi."


Sungguh betapa Nathan sangat menyesali apa yang telah terjadi. Jika saja ia bisa lebih menjaga Aster. Pasti hal semacam ini tidak akan terjadi, dan mereka dan tidak akan kehilangan si Utun.


Tapi nasi sudah menjadi bubur. Percuma saja disesali juga. Karena apa yang telah terjadi tidak mungkin bisa kembali. Hanya merelakan yang bisa mereka lakukan saat ini.


Nathan melepaskan pelukannya, sepasang binernya mengunci manik hazel milik Aster. Nathan tersenyum lembut. "Kau sangat jelek jika cemberut begitu. Tersenyumlah, Sayang." Pinta Nathan.


Aster tersenyum dan kembali berhambur ke dalam pelukan Nathan. Betapa hangat pelukan pria yang tengah memeluknya ini. Dan Aster berharap semoga dia bisa selamanya memeluk Nathan seperti ini.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2