
Darah segar terus mengucur dari hidung Leon. Adegan Aster dan Nathan masih belum berakhir. Bahkan lebih panas dari adegan mereka yang sebelumnya.
Leon bingung harus pergi atau tidak. Jika dia pergi, lalu bagaimana dengan dokumen dan informasi penting yang harus dia sampaikan pada Nathan. Lalu jika dia tidak pergi, apakah Leon harus menyaksikan adegan yang membuatnya iri? Dia benar-benar dilemah.
"Eungghhh..."
Leon merinding sendiri mendengar ******* dan erangan yang keluar dari sela-sela bibir Aster. Leon menengok ke dalam dan di dalam sana Nathan tengah mencumbu Aster dengan keras.
Menyaksikan adegan itu membuat tubuh Leon memanas. Berkali-kali Leon menelan ludah, ia merasa iri dan ingin memiliki pasangan juga. Leon menggigit ujung kukunya, dia benar-benar ingin melakukan apa yang mereka berdua lakukan.
"Paman Leon, kenapa kau tidak masuk ke dalam? Bukankah kau datang untuk menemui Paman Nathan!"
Leon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia bingung bagaimana harus menjelaskannya pada Gavin dan Rio. Mereka masih di bawah umur dan tidak seharusnya mengetahui hal-hal yang berbau dewasa.
"Paman, apa kau tidak berani masuk? Kalau begitu biar aku saja yang mengetukkan pintunya untukmu." Ucap Rio.
Rio hendak membuka pintu kamar Nathan yang sedikit terbuka namun segera dihentikan oleh Leon. "Tidak perlu, biar aku saja. Aku tidak ingin mengganggu Boss dan nona kecil, jadi aku akan menunggu sampai mereka menyelesaikannya." Tutur Leon.
Gavin dan Rio memicingkan matanya. "Memangnya apa yang harus mereka selesaikan?" Tanya Gavin kebingungan.
"Bu-Bukan apa-apa. Bukan hal yang penting juga. Sebaiknya kita pergi saja dari sini. Aku akan menunggu di bawah saja." Ucapnya lalu menarik Rio dan Gavin untuk pergi dari sana.
Leon tidak ingin membuat mata kedua pemuda itu ternodai. Akan sangat berbahaya jika mereka sampai melihat adegan semacam itu.
-
Nathan mengakhiri ciumannya saat melihat wajah Aster memerah seperti kepiting rebus, gadis itu mulai kehabisan napas karena ciuman Nathan.
Nathan beranjak dari atas tubuh Aster. "Aku mandi dulu." Nathan mengacak rambut coklat Aster dan pergi begitu saja.
Aster bangkit dari berbaringnya lalu pergi keruangan tempat Nathan menyimpan semua barang-barang miliknya. Aster berjalan menyusuri ruangan yang luas itu untuk memilih baju mana yang akan Nathan pakai saat ini.
"Ini dia." Aster mengambil sebuah Vest hitam, celana jeans dan singlet putih yang kemudian dia bawa keluar dari dalam ruangan tersebut.
Tak lama berselang pintu kamar mandi di buka dari dalam, sosok Nathan terlihat keluar dari sana. Aroma maskulin yang begitu khas langsung berkaur di dalam hidung Aster.
"Paman, aku sudah menyiapkan pakaian ganti untukmu."
"Yang itu?" Nathan menunjuk pakaian yang telah Aster siapkan untuknya. Gadis itu mengangguk. "Apa tidak ada yang lain? Biar aku mengambil sendiri saja."
"Paman tunggu," seru Aster menghentikan langkah Nathan. Aster memegang lengan pria itu dan menatapnya dengan tatapan memohon. "Ayolah, Paman, em."
__ADS_1
Nathan mendesah berat, melihat tatapan memohon Aster membuatnya tidak memiliki pilihan lain selain mengiyakannya. "Baiklah." Aster tersenyum lebar. Ia tau jika Nathan tidak mungkin bisa menolak permintaannya.
Entah kenapa Aster begitu menyukai ketika Nathan memakai pakaian lengan terbuka dari pada harus pakaian lengan panjang. Menurutnya Nathan lebih cool dan sexy dengan pakaian lengan terbuka.
Karena dengan begitu dia bisa lebih bebas dan leluasa menikmati ukiran indah di lengan kanan Nathan 'Tatto'.
"Huaaa ... Apa aku kata. Lihatlah dirimu, Paman. Kau begitu tampan dan cool dengan pakaian itu. Bagaimana jika kau menyetujui usul ku yang sebelumnya? Kau memakai pakaian lengan terbuka ketika di rumah? Bagaimana?"
"Hn, aku tidak janji."
Aster mencerutkan bibirnya. Bukan jawaban semacam itu yang ingin dia dengar dari Nathan. "Dasar menyebalkan!! Tinggal bilang iya saja apa susahnya. Sudahlah, memohon pada orang keras kepala seperti Paman memang tidak ada gunanya." Aster beranjak dari hadapan Nathan dan pergi begitu saja.
Nathan hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah gadis yang kini telah resmi menjadi istri kecilnya.
Tak lama setelah kepergian Aster. Leon kembali ke kamar Nathan sambil membawa sebuah dokumen yang kemudian dia berikan pada pria itu.
"Ini dokumen yang Anda minta, Boss. Dan semua informasi yang Anda butuhkan ada di dalam kartu memori ini."
"Apa yang terjadi pada hidungmu? Kenapa sampai kau sumpal dengan daun sirih?"
Leon tertawa garing. "Ah, ini. Tidak apa-apa, Boss. Hal alami saat melihat sepasang kekasih yang sedang bermesraan. Efek jones ya begini."
Karena sudah tidak memiliki hal penting lagi yang disampaikan. Leon pun pamit pergi. Dia harus pergi ke club malam untuk mencari gadis cantik yang bisa dia ajak bermesraan. Jika Boss-nya bisa, lalu kenapa dia tidak? Begitulah yang Leon pikirkan.
.
.
.
"NATHAN XIAO, BUKA PAGARNYA. KAU TIDAK BISA MENGUSIR KAMI SEPERTI INI, BRENGSEK!!"
Aster menghentikan langkahnya setelah mendengar teriakan dan keributan di luar. Tanpa melihatnya pun tentu Aster tau siapa yang membuat keributan itu.
Gadis itu mendengus berat. Aster pergi ke dapur dan mengeluarkan beberapa kotak es batu lalu memasukkannya ke dalam ember yang telah berisi air. Aster berjalan keluar dan...
Byurr...
Menyiram keduanya dengan seember air dingin. Dan apa yang Aster lakukan membuat Ella dan Maya naik pitam. "Yakk!! Gadis kurang ajar, apa yang kau lakukan eo?!!" Bentak Ella penuh emosi.
"Upss!! Maaf, Nenek. Aku pikir kalian berdua adalah orang gila yang minta makanan."
__ADS_1
"Kemari kau!!" Teriak Maya dan menghampiri Aster. Tubuh Maya terjungkal ke depan karena tersandung kakinya sendiri. "Aahhh, Mama sakit!!"
"Maya." Seru Ella menghampiri Maya. Ella mengangkat wajahnya dan menatap Aster dengan marah. "Yakk!! Kenapa hanya melihat saja. Kemarilah dan bantu Maya berdiri."
Aster melipat kedua tangannya di dada."Untuk apa aku harus membantunya? Toh dia jatuh saat berusaha menyakitiku. Jadi biarkan saja, dan aku tidak mau peduli padanya."
"Kau benar-benar keterlaluan!!" Teriak Ella penuh emosi.
"Ada apa ini?" Tiba-tiba Nathan datang dan mengalihkan perhatian ketiganya.
Aster pura-pura terjatuh setelah membuat Ella yang seolah-olah mendorongnya. Mimik wajah Aster berubah seketika setelah melihat kedatangan suaminya. Dia mulai memainkan dramanya, lagi.
"Paman, mereka mencoba menindas ku lagi." Aster mengadukan mereka berdua pada Nathan.
"Jangan asal percaya padanya, Paman." Teriak Maya.
"Tuh kan, dia malah berteriak padaku. Padahal niatku baik ingin membantu mereka. Tapi mereka malah berteriak dan membentaku."
"Lihatlah Nenek Ella dan Maya yang basah kuyup seperti tikus kecebur got, aku cuma menawarkan handuk tapi dia malah mendorongku sampai terjatuh. Paman melihatnya sendiri bukan? Dan seksrang pinggangku sakit,"
Nathan membantu Aster berdiri. "Apa yang kalian lakukan di sini? Bukankah aku sudah meminta kalian untuk pergi. Pergilah, kedatangan kalian tidak di terima di rumah ini!!"
"Kau tidak bisa mengusir kami, Nathan Xiao!! Aku juga bagian dari keluarga Xiao. Aku adalah istri dari mendiang pamanmu, suka tidak suka kau harus menerima kami berdua!!"
"Aku tidak amnesia sehingga aku lupa siapa kau dan apa statusmu. Tapi kau melupakan satu hal. Jika Maya bukanlah putrimu dengan Pamanku, lagipula rumah dan seluruh isinya adalah milikku, dan kalian tidak memiliki hak sedikit pun di sini!!"
"Paman!! Kau sangat keterlaluan. Jika rubah licik ini bisa, lalu kenapa kami tidak?!"
"Karena kau dan Ibumu bukan bagian dari keluarga Xiao. Tutup kembali gerbangnya dan jangan pernah ijinkan mereka untuk masuk ke dalam."
Satpam itu mengangguk. "Baik, Tuan."
Nathan mengangkat tubuh Aster bridal style dan membawanya masuk ke dalam. Kedua tangan Aster mengalung pada leher Nathan. Gadis itu menoleh kebelakang dan menjulurkan lidahnya pada Ella dan Maya.
Kemudian Aster menyandarkan kepalanya pada dada bidang Nathan yang tersembunyi di balik singlet dan vestnya.
Melihat Nathan yang begitu panas membuat jantungnya berdegup kencang. Wajahnya memerah dan sedikit memanas. Nathan memang selalu sukses membuat Aster merasakan kegugupan.
-
Bersambung.
__ADS_1