"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Kuda-Kudaan


__ADS_3

Nathan membuka pintu kamar Aster dan mendapati wanita itu sudah tertidur pulas. Pria itu tersenyum tipis, menutup kembali pintu kamarnya dan menghampiri Aster. Wajahnya terlihat damai seperti tidak ada beban sama sekali.


Nathan mengangkat salah satu tangannya, jari-jarinya membelai lembut pipi Aster dan apa yang dua lakukan malah mengusik tidur wanita itu.


Sepasang mutiara hazel itu terbuka perlahan, senyum hangat Nathan langsung menyambutnya. "Paman, kau sudah pulang?" Ucapnya serak khas orang baru bangun tidur.


"Maaf, aku jadi membangunkanmu." Sesal Nathan. Aster menggeleng.


"Tidk apa-apa, lagi pula aku sudah tidur cukup lama." Ujarnya "Bagaimana Paman bisa tau jika aku ada tidur di kamar ini?"


"Insting." Nathan menjawab sambil menarik pelan ujung hidung mancung istri kecilnya.


Dan tebakannya benar bila istri cantiknya itu tidak berada kamarnya melainkan kamar lamanya. Kamar sebelum mereka menikah."Ini masih malam, kau kembalilah tidur dan aku akan kembali setelah mandi." Nathan mencium kening Aster dan melenggang pergi.


Lima belas menit kemudian Nathan keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap, celana baham selutut dan kaos oblong hitam tanpa lengan, tangan kanannya sibuk mengeringkan rambutnya yang basah.


"Kenapa tidak tidur?" Nathan meletakkan handuknya dan menghampiri sang Istri.


"Jika sudah terbangun , aku sulit untuk tidur lagi."


Nathan duduk di samping Aster dan membelai pipi wanita itu penuh sayang, kemudian Nathan mendekatkan bibirnya pada bibir Aster.


"Kau milikku." Bisiknya kemudian mengecupnya lembut. "Dan akan selalu menjadi milikku."


Nathan mencium bibir Aster lebih dalam dari ciuman sebelumnya. Kedua tangannya mengusap punggung Aster saat merasakan hisapan pada lidahnya.


Kedua tangan wanita itu berpindah dan mengalung pada leher Nathan. Mereka saling merotoasikan kepalanya, bibir mereka saling melum** dan sesekali bertukar saliva di dalam mulut hangat Aster.


"Eeeungghh!!" Aster mendes*" panjang saat lidah Nathan menelusup masuk ke dalam mulutnya dan mengobrak-abriknya.


Lidah Nathan bergerak liar di dalam mulut Aster, mengabsen deretan gigi putihnya dan membawa lidah wanita itu untuk menari bersama.


Seolah-olah tak ingin di anggurkan, tangan kiri Nathan menelusup ke dalam gaun tidur yang Aster pakai dan meraup payuda** nya yang terasa begitu pas dalam genggamannya.


"Aaahhhhhh!" Aster mendesah di dalam ciuman mereka saat jari-jari Nathan memainkan ujung puti** nya, tangan Nathan yang lain menekan tengkuk Aster agar ciuman mereka tidak mudah terlepas.


"Aaahhhhh... Ougghhh... Paman.... hentikan, aaahhhh.. kau membuatku basah di sini." Rancau wanita itu di tengah de**hannya.


"Keluarkan semuanya, Sayang. Dan jangan ada yang di tahan." Bisik Nathan lalu mencium kembali bibir Aster namun kali ini lebih singkat. "Ingin melakukannya lagi?" Nathan memberikan penawaran.


Bluss!!


Pipi Aster langsung bersemu merah, wanita itu tersipu malu. "Kenapa masih harus bertanya lagi, Paman. Lakukan saja, kau bisa melakukannya bahkan tanpa ijin dariku!!"

__ADS_1


Nathan menyeringai. "Baiklah, karena kau sendiri yang menginginkannya maka aku tidak akan berhenti."


Nathan merebahkan tubuh Aster di atas tempat tidur dengan tubuhnya yang menindih tubuh wanita itu. Bibirnya kembali melum** bibir Aster, sementara tangannya sibuk menanggalkan semua kain yang melekat pada tubuh wanita itu.


Seluruh kain itu berhasil Nathan tanggalkan meninggalkan pengaman melon kembarnya dan kain tipis yang menutupi bagian Miss-nya. Nathan menghentikan lu**tan-nya dan memandang lembut tubuh Aster yang begitu sempurna di manatanya.


Nathan telah berhasil melepaskan kaitan b*anya , tatapannya semakin liar saat kedua payuda** Aster telah terlepas dari pelindungnya.


"Indah." Nathan berbisik di atas salah satu payuda** Aster, hingga nafasnya yang hangat menyapu permukaan bukit kembar itu. "Aku sangat menyukainya, Sayang."


"Aaahhh!! Paman....!" Nathan menggeram saat Nathan mengul** salah satu punti**-nya di dalam mulutnya .


Aster sedikit menekan tengkuk Nathan agar ku**mannya itu semakin dalam. Lidahnya bergerak-gerak di atas punti** Aster sedangkan salah satu tangannya berada pada punti** yang satu lag


Setelah puas, Nathan kembali pada bibir Aster dan mencumbunya seperti tadi. Tangannya menelusuri setiap inci tubu* Aster, mulai dari wajah kemudian turun hingga tulang selang**-nya.


Tubuh Aster sedikit menegang saat tangan kirinya menelusup masuk ke dalam kain tipis yang menjadi pelindungnya. "Ohhh... Fu*k, Paman kenapa kau selalu membuatku... uuugghhhhh... gila."


"Kau benar-benar sudah basah Sayang, di sini rasanya sangat hangat." Bisik Nathan , pria itu menggeram dalam kalimatnya. Itu terdengar liar namun Aster menyukainya.


"Sampai kapan kau akan menundanya, Paman?"


"Apa kau sudah tidak sabar, eh?" Nathan menyeringai mendengar ucapan Aster. "Kau akan segera menikmatinya."


Pinggul Nathan bergerak tak terkendali, de**han dan er*ngan liar meluncur dari mulut keduanya secara bertubi-tubi. Nafasnya mulai tidak beraturan saat Aster merasakan seperti ada sengatan listrik dalam organ se*snya.


"Hhhmmmppp!" Aster menggeram saat Nathan kembali menanamkan bibirnya.


Yang terjadi selanjutnya adalah sensasi luar biasa saat Nathan menumpahkan semua cairannya di dalam rahimnya. "Kau begitu luar biasa, Sayang." Bisik Nathan sambil membelai pipi Aster.


"Kau juga, Paman." Aster menakup wajah Nathan dan menciumnya singkat.


Nathan menarik perlahan sosis beruratnya dan itu membuat Aster kembali meringis kemudian membaringkan tubuhnya disamping sang wanita. "Sudah hampir pagi, ayo tidur." Aster tersenyum lalu mengangguk.


"Baiklah."


-


PLAKKK...


Tamparan keras Hilman layangkan pada wajah Riyana. Tidak hanya satu kali, tapi berkali-kali. Hilman merasa malu atas tindakan tercela putrinya itu.


Hilman mendapatkan kiriman foto dari beberapa orang kenalannya di club malam ketika Riyana bergulat panas dengan beberapa pria hidung belang di sana.

__ADS_1


"Anjing saja masih mengerti mana yang baik dan mana yang buruk. Dan kau malah lebih rendah dari pada Anjing."


Riyana memegang wajahnya yang baru saja ditampar oleh Hilman. Wanita itu menatap marah sang ayah. "Ayah pikir, Ayah lebih baik dariku. Tindakan Ayah selama ini lebih tercela dari seekor bintang!!"


PLAKK!!!


Sekali lagi Hilman menampar pipi Riyana dengan keras. Sudut bibirnya robek dan mengeluarkan banyak darah. Wanita itu menyeringai sinis.


Riyana mengambil belati dari dalam tasnya dan dengan geram dia menusuk dada ayahnya. "Mati saja kau bajingan tua!!"


"Riyana kau...."


Hilman jatuh tersungkur dan tak sadarkan diri. Sedangkan Riyana pergi meninggalkannya dengan membawa amarah di dadanya. Bahkan dia tidak peduli jika nantinya Hilman akan mati. Karena memang itu yang dia harapkan.


-


Rasanya Aster ingin mengutuk Nathan yang sudah membuatnya sulit berjalan pagi ini. Permainannya semalam benar-benar gila. Nathan memiliki tenaga seperti kuda, tidak salah jika dia kuat sampai dua-tiga ronde sekalipun.


Gavin dan Rio yang sedang duduk di meja makan memicingkan matanya melihat cara jalan Aster yang sedikit aneh.


"Nunna, kau baik-baik saja? Kenapa cara jalanmu aneh begitu?"


"Ahhh, pasti habis main kuda-kudaan dengan Paman Nathan kan semalam?" Tebak Rio 100% benar. Alhasil sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala Rio.


"Bocah kemarin sore sepertimu memangnya tau apa. Diamlah dan jangan asal bicara!!"


Tanpa Aster menjelaskan lebih pun, tentu saja mereka berdua tau apa yang terjadi pada wanita itu. Gavin dan Rio buka lagi pemuda polos yang tidak tau apa-apa.


Nathan terlihat menuruni tangga lengkap dengan setelan kerjanya. Pria itu terlihat menghela napas panjang melihat perdebatan di meja makan.


Dan hal semacam itu bukan lagi sesuatu yang baru baginya. Karena hampir setiap hari Nathan menyaksikan pertengkaran mereka bertiga.


"Apa tidak bisa, sekali saja kalian berhenti bertengkar. Kalian bukan lagi bocah TK. Kau juga, Aster!! Kenapa kau harus menanggapi mereka? Dan kalian berdua, berhentilah mengganggu Nunna kalian."


"Dan aku harap ini terakhir kalinya aku melihat kalian ribut di meja makan!! Kalian paham?!" Nathan menatap ketiganya bergantian, dan mereka hanya bisa mengangguk mengiyakan.


Aster, Gavin dan Rio benar-benar tidak memiliki keberanian untuk menentang apalagi membalas ucapan Nathan.


Jangankan untuk membalas ucapannya, untuk menatap matanya saja mereka tidak berani. Di mata mereka Nathan memang sangat mengerikan ketika sedang marah.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2