"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Dimakan Lubang Buaya


__ADS_3

Mata berbeda warna itu masih tetap terbuka lebar. Baik Nathan maupun Aster tak sedikit pun menutup matanya. Aster merasa takut, jika dia sampai terlelap, maka Nathan akan menghilang lagi darinya.


Aster mengangkat wajahnya dan menatap pada Nathan yang juga menatap padanya. Aster menarik tangannya yang semula dia letakkan di atas dada bidang suaminya.


Jari-jari lentiknya menyusuri setiap inci wajah Nathan, menyentuh satu persatu bekas luka yang mulai memudar itu. Dan terakhir pada mata kanan Nathan yang harus tertutup kembali oleh benda hitam bertali.


"Boleh aku membukanya?" Nathan mengangguk. Aster ingin melihat seberapa parah cidera yang harus Nathan alami saat ini, sampai dia harus menutupnya kembali.


Di bagian kelopaknya tampak sedikit membengkak dengan bekas jahitan, sedangkan bagian putihnya merah nyaris seperti warna darah dengan guratan-guratan halus yang terlihat samar.


"Kenapa bisa sampai separah ini, Paman? Bagaimana kau bisa terluka? Jika kau masih hidup, lalu kenapa kau tidak pernah datang menemuiku dan memberikan kabar padaku? Kau tau bagaimana hancur dan terpuruknya diriku?" Kedua mata Aster kembali berkaca-kaca.


"Maafkan Paman, Aster. Bukannya Paman tidak mau memberimu kabar. Paman mengalami koma selama berminggu-minggu, kedua kaki Paman juga sempat mengalami kelumpuhan pasca bangun dari koma."


"Keadaan Paman pada saat itu benar-benar tidak memungkinkan untuk kembali. Dan Paman sengaja tidak memberitahumu karena Paman tidak ingin menjadi beban untuk kalian."


"Tapi tetap saja, Paman sangat jahat."


"Stt, jangan menangis lagi. Toh sekarang Paman sudah kembali, dan Paman tidak akan meninggalkanmu lagi. Paman berjanji."


Aster kembali membenamkan dirinya kedalam pelukan Nathan. Sungguh betapa dia sangat merindukan prianya ini.


Tiga bulan Nathan menghilang sungguh membuat Aster menggila. Dia pikir dia sudah kehilangan cintanya untuk selamanya. Tapi sungguh Tuhan masih menyayanginya, karena akhirnya Tuhan mengembalikan Nathan padanya.


"Tapi Paman harus bertanggung jawab!!"


Nathan memicingkan matanya. "Tanggung jawab?" Aster mengangguk.


"Selama tiga bulan aku dianggurkan, rumputku kering seperti Padang pasir karena tidak pernah bercocok tanam. Malam ini Paman harus membuatku basah, titik tidak ada koma!!"


Nathan mendengus. Dengan gemas Nathan menjitak kepala coklat Aster. "Dasar kau ini, kenapa kau malah memikirkan soal bercocok tanam?!"


"Memangnya salah? Aku yakin Paman juga menginginkannya bukan? Sudah lama Paman tidak dimakan lubang buaya,"


"Hahaha!!" Nathan tertawa mendengar ucapan Aster. Begitu banyak hal yang Nathan rindukan dari wanitanya ini, salah satunya adalah tingkah konyolnya. "Kita akan melakukannya, tapi tidak malam ini!!"


"Kenapa?"


"Ini sudah larut malam. Seharusnya kau segera tidur, kita masih memiliki banyak waktu untuk melakukannya. Bukankah begitu?" Aster mengangguk.

__ADS_1


Aster kembali tenggelam dalam pelukan Nathan. Wanita itu begitu merindukan segala hal yang ada dalam diri Nathan, dan kali ini Aster tidak akan membiarkan Nathan menghilang lagi. Bahkan itu hanya satu detik sekalipun.


Nathan adalah hidupnya. Dia separuh dari nafasnya. Dan Aster bisa gila jika Nathan sampai menghilang dan meninggalkannya.


-


Matanya mengerjap lemah, sepasang retinanya mencoba menyesuaikan sinar mentari yang masuk dan mengusik tidur nyenyaknya.


Cahaya matahari yang mengintip dari celah gorden begitu mengusik hazel sayunya. Kulitnya merasakan sesuatu yang hangat dan bertekstur garis-garis kecil. Ia membuka matanya lagi, kali ini jelaslah pandangannya.


Nathan yang masih terlelap tengah memeluknya tanpa dosa seperti guling. Mereka tidur dengan posisi saling berhadapan.


Sudut bibir Aster tertarik ke atas. Dia pikir yang semalam itu hanyalah mimpi saja. Tapi ternyata itu nyata. Nathan benar-benar telah kembali ke pelukannya.


Aster mengangkat sedikit kepalanya dan memperhatikan detail lekuk wajah sempurna di depannya. Tidurnya begitu tenang tanpa dengkuran dan gerakan berarti. Nathan sedang memikat wanita di hadapannya bahkan dengan matanya yang terpejam.


Tanpa ragu Aster mendekatkan wajahnya dan memberikannya sebuah Morning Kiss pada Nathan. Namun tidak ada tanggapan, Nathan benar-benar sedang tertidur pulas.


Aster mendrcih sebal. Kemudian tangannya mencari sumber suara, ia meraba area sekitarnya tidur dan benda kecil bernyanyi itu bersembunyi di balik bantalnya.


Dengan cepat ia mematikan lagu indah nan mengganggu itu. Aster melanjutkan kegiatannya yang sempat terganggu oleh Alarm sialan yang mengusik tidurnya tersebut.


Perlahan bibir ranumnya menyentuh halus permukaan bibir Nathan beberapa detik, hingga satu pagutan kecil tercipta. Ciuman sepihak, karena sang pemilik bibir masih tetap terlelap.


"Mmh...", Aster terkekeh mendengar Nathan yang melenguh pelan.


Dirasakannya lengan besar yang memeluknya tadi kian menyusup dalam gaun tidurnya. Bukannya merasa keberatan, Aster justru menyukainya. Karena sentuhan Nathan begitu sangat dia rindukan. Sentuhan Nathan adalah kebutuhannya pagi ini selain sarapan.


Senyum simpul muncul di wajah cantiknya, sungguh indah anugerah Tuhan yang satu ini. Nathan adalah wujud sempurna dari ciptaan Tuhan.


Andaikan saja semalam mereka melakukannya, pasti dunia Aster akan lebih indah pagi ini. Tapi penolakan Nathan membuatnya merasa kesal juga sebal. Tapi Aster tak ingin terlalu ambil pusing.


Aster merasakan sesuatu yang aneh pada celananya. Celananya terasa basah, dan pikiran celana basah itu berani menyusup di otak nakalnya? Sungguh merusak suasana.


Tiba-tiba Aster teringat sesuatu. Lalu pandangannya bergulir pada kalender. Matanya sontak membelalak, Aster merunduk dan menyibak selimutnya, menggesekkan kedua kakinya dan terasa sesuatu yang kental tengah berada di daerah int*mnya. Ia semakin mengernyit heran menyadari hal itu.


"GAWAT!" jeritnya seraya bangun dari pose mesra dengan si Tuan Muda. Aeter melihat darahnya, banyak sekali yang merembes keluar dari celananya ke sprei putih itu. "SIAL!! TAMU SIALAN,KENAPA HARUS DATANG SEKARANG!!"


Dan teriakan frustasi Aster berhasil mengusik tidur nyenyak Nathan. "Kenapa kau berteriak? Kau baik-baik saja bukan?" Tanya Nathan memastikan.

__ADS_1


"Paman," rengek Aster dengan wajah melasnya. Wanita itu terisak. "Huaaa!! Aku kedatangan tamu bulanan!!"


Nathan mendengus. Dia pikir Aster berteriak karena apa. Ternyata karena tamu bulanan. Pria itu bangkit dari berbaringnya lalu menarik seprei yang sudah terkena noda merah tersebut dan membuangnya ke dalam tong sampah.


"Segera bersihkan tubuhmu, kau pasti merasa tidak nyaman." Aster hanya mengangguk pasrah. Wanita itu berjalan lunglai menuju kamar mandi. Sekali lagi Nathan mendengus, ia menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya.


.


.


.


"Pagi," sapa Cris yang sedang duduk santai sambil menikmati secangkir kopi panas.


Nathan menghampiri Cris kemudian duduk berhadapan dengannya. Pria itu mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya lalu menyulutnya.


"Kapan kau akan menghentikan kebiasaan burukmu itu, Nathan Xiao?! Kau tau sendiri bukan jika merokok tidak bagus untuk kesehatanmu. Ubah kebiasaan burukmu dan mulailah hidup sehat."


Nathan mendecih dan menatap Cris sebal."Perbaiki dulu hidupmu yang berantakan itu, Cris!! Sebelum kau menasehati orang lain!!" Cris menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sepertinya dia sudah salah bicara pagi ini.


"Dasar manusia kutub. Apa tidak bisa kau bicara lebih manis sedikit padaku? Ingat bocah, bagaimana pun juga aku beberapa tahun lebih tua darimu!!"


"Aku tau dan aku tidak amnesia!!"


Cris pun akhirnya angkat tangan. Dia menyerah, bicara dengan Nathan terkadang memang membutuhkan kesabaran yang besar. Selain bersikap dingin, dia juga bermulut tajam.


"Bicara denganmu lama-lama membuatku terkena tekanan darah tinggi. Lebih baik aku pergi jalan-jalan saja menikmati keindahan kota ini. Setelah tiba bulan, akhirnya aku bisa merasakan hidup kembali. Jaga Aster baik-baik, aku pergi dulu."


"Tanpa kau minta pun, pasti aku menjaganya!!" jawabnya sinis.


Cris mendengus. "Ya, ya, ya, terserah kau saja. Aku pergi dulu, bye." Cris melambaikan tangannya pada Nathan.


Nathan mendengus berat. Terkadang Cris memang sangat menyebalkan, dan dia akui itu.


Tapi bagaimana pun juga dia banyak berhutang Budi padanya. Karena Cris sudah menjaga Aster selama dia tidak ada. Menghiburnya ketika Aster sedang hancur dan terpuruk. Layaknya seorang ayah yang melindungi dan menyayangi putrinya.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2