"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Penghianat


__ADS_3

Bulan telah bersiap-siap untuk meninggalkan peraduannya dan sang mentari telah bersiap menggantikan tempatnya. Nathan melihat jam yang menggantung di dinding dan waktu sudah menunjukkan jam 06.00 pagi.


Nathan menggulirkan pandangannya dan mendapati gadis kecilnya masih terlelap dalam tidurnya. Nathan mengecup singkat kening Aster. Diusapnya kepala coklat Aster dengan penuh sayang.


Gerakan tangan Nathan terhenti ketika melihat kelopak mata Aster perlahan terbuka, memperlihatkan sepasang mutiara hazel yang indah.


"Morning, Suamiku yang tampan." Sapa Aster dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.


"Morning, Baby." Nathan mengecup singkat bibir Aster. "Jika masih mengantuk tidurlah lagi, aku akan mandi dulu." Ucap Nathan.


Aster tidak menjawab, sebagai gantinya gadis itu menganggukkan kepala. Hari ini adalah akhir pekan, jadi wajar jika Nathan masih bermalas-malasan di rumah.


Baru saja Aster hendak menutup kembali matanya. Tapi tiba-tiba saja ponselnya berdering. Gadis itu beranjak dari berbaringnya. Dengan enggan Aster menerima panggilan tersebut.


"Kenapa tidak diangkat?" Tanya Nathan. Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi.


Aster menoleh. Kemudian ia menunjukkan nomor asing yang menghubunginya pada Nathan. "Nomor asing, Paman. Dan aku ragu untuk mengangkatnya."


"Berikan ponselnya padaku. Biar aku saja yang mengangkatnya." Aster mengangguk, kemudian dia memberikan ponselnya pada Nathan.


Nathan menerima panggilan itu, dan suara asing seorang pria langsung berkaur di dalam telinganya. Nathan tidak bersuara sedikit pun, dia ingin tau siapa pria itu dan apa tujuannya menghubungi Aster.


"Aster, aku kakekmu. Dan kakek ingin bertemu denganmu, banyak hal yang ingin kakek bicarakan denganmu."


Aster mengambil ponselnya dari tangan Nathan dan membalas ucapan pria yang mengaku sebagai kakeknya. "Maaf, tapi aku tidak memiliki waktu untuk bertemu dan mengobrol dengan orang asing!!" Kemudian Aster mematikan ponselnya begitu saja.


Kemudian Aster mengangkat wajahnya dan menatap Nathan dengan serius. "Paman, bagaimana ini? Apa aku harus menemuinya? Lalu, apakah dia benar-benar kakekku?" Tanya Aster sambil mengunci manik coklat milik Nathan.


Nathan menggeleng. "Jangan gegabah dulu. Kita masih belum tau siapa dia sebenarnya dan apa tujuannya mengajakmu bertemu, juga alasan dia mengaku sebagai kakek-mu."


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Aku akan menyelidikinya terlebih dulu, entah kenapa aku memiliki firasat yang tidak baik tentang pria ini."


"Baiklah, aku akan mengikuti saran dari Paman. Apa yang menurut Paman baik, pasti itu yang terbaik."


Nathan menepuk kepala coklat Aster."Mandilah dulu, setelah ini kita turun untuk sarapan." Ucapnya yang kemudian dibalas anggukan oleh Aster.


"Baiklah." Selepas kepergian Nathan. Di dalam kamar itu hanya menyisahkan Aster sendiri. Aster berjalan menuju kamar mandi. Tubuhnya terasa lengket semua karena keringat.


.

__ADS_1


.


.


"Baiklah, segera berikan informasinya padaku."


Nathan memutuskan sambungan telfonnya lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Dia meminta Leon untuk melacak nomor orang yang menghubungi Aster, dan juga mencari tau mengenai orang itu.


Terus terang saja Nathan sangat penasaran pada orang yang menghubungi Aster. Apa maksudnya pria itu tiba-tiba menghubungi putri angkatnya dan mengaku sebagai kakeknya.


"Paman, apa yang sedang kau pikirkan?" Gavin dan Rio menghampiri Nathan yang sedang duduk sendiri di ruang keluarga.


Nathan mengangkat wajahnya, menatap kedua pemuda itu bergantian. "Tidak ada, bukan hal yang penting juga."


"Oya, Paman. Semalam kami melihat dua orang pria terus mondar-mandir didepan pagar rumah ini, mereka sangat mencurigakan. Orang-orang itu terus melihat kearah kamar Aster Nunna." Ujar Gavin menyampaikan apa yang ia lihat semalam.


"Apa? Dua orang mencurigakan?" Gavin dan Rio mengangguk membenarkan.


"Kami sempat merekam dan mengabadikannya. Ini kalau Paman ingin melihatnya." Rio mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan rekaman Video yang dia ambil semalam.


"Hn, sepertinya ada dua ekor tikus kecil yang mencoba masuk ke dalam kandang singa?! Baiklah, kita lihat saja, sampai dimana mereka bisa bermain-main denganku."


Nathan menepuk bahu keduanya, dan berkata."Baiklah, Paman mengandalkan kalian berdua."


Perbincangan mereka bertiga diintrupsi oleh kedatangan Aster. Gadis itu menatap ketiganya penuh tanya. Ekspresi dan raut wajah mereka bertiga begitu serius.


Aster menatap kepergian Gavin dan Rio dengan tatapan bertanya-tanya. Kemudian dia menghampiri Nathan untuk bertanya. "Paman, apa yang baru saja kalian bicarakan? Kenapa kalian bertiga terlihat serius sekali?" Tanya Aster penasaran.


"Bukan apa-apa. Ayo, sebaiknya kita sarapan." Ajak Nathan sambil merangkul bahu Aster. Keduanya berjalan beriringan menuju meja makan.


.


.


.


Usai sarapan Aster pergi ke kebun belakang untuk mengurus bunga-bunganya. Ada puluhan jenis mawar yang tumbuh di sana. Dengan dibantu dua pelayan, Aster mulai memetik bunga-bunga cantik itu.


Sesekali Aster mengulirkan pandangannya pada sosok pelayan yang belum genap satu bulan bekerja di kediaman Nathan. Pelayan itu selalu memberikan tatapan sinis padanya, tapi Aster tak mau peduli dan ambil pusing.


Dia tidak tau apa alasan Nathan terus menunda mengeksekusi pelayan tersebut. Bahkan Aster juga tidak tau apa yang sedang Nathan rencanakan. Nathan memang sangat sulit ditebak dan dipahami.

__ADS_1


"Bibi, kau masuklah lebih dulu. Ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan, Betty."


Pelayan itu mengangguk. "Baik, Nona."


Selepas kepergian pelayan tersebut. Di taman itu hanya menyisahkan Aster dan pelayan bernama Betty. Betty mengeluarkan sebuah belati dari balik pakaiannya ketika melihat Aster berjalan mendekatinya.


Pisau dalam genggaman Betty terlepas begitu saja setelah Aster menendang tangannya. Kemudian Aster menghimpit tubuh wanita itu disebuah pohon, lengannya mengunci leher Betty hingga dia tidak bisa bergerak satu inci pun.


"Katakan, siapa yang mengirim mu kemari? Dan masalah apa yang sebenarnya kau miliki denganku?"


Aster menahan tangan Betty ketika wanita itu hendak memukulnya. Betty meringis kesakitan karena cengkraman dan kuncian lengan Aster pada lehernya.


"Selagi aku masih memiliki kesabaran. Sebaiknya kau katakan dengan jujur. Siapa yang telah mengirim mu kemari?"


"Jika aku tidak mau mengatakannya bagaimana?"


"Itu artinya kau memilih kematian!!" Sahut seseorang dari arah belakang. Aster menoleh, terlihat Nathan berjalan menghampiri mereka berdua.


Nathan mengeluarkan sebuah pistol dari balik kemeja yang dia pakai. "Katakan, siapa yang menyuruhmu dan apa tujuanmu ingin menghabisi Aster?"


"Ma-Maaf, Tuan. Ja-jangan bunuh saya. Saya hanya orang suruhan saja. Baiklah, saya akan mengatakan siapa yang menyuruh saya, tapi biarkan saya tetap hidup. Yang membunuh saya adalah-"


JLEBB...


"TIDAK!!"


Aster berteriak histeris melihat Betty meregang nyawa setelah sebuah pisau komando menancap pada jantungnya. Dan Betty meregang nyawa sebelum dia mengatakan siapa yang telah menyuruhnya.


Aster menoleh kebelakang dan dia melihat siluet seseorang berlari dari arah samping. Tak ingin kehilangan jejak, Aster berlari mengejar orang tersebut, tapi sayangnya dia telah menghilang.


"Sial!!" Gadis itu menggeram marah.


Nathan menghampiri Aster dan mencoba menenangkannya. "Tidak apa-apa. Kita masih bisa menangkapnya lain kali. Sebaiknya sekarang kita masuk. Aku akan menemukan orang itu secepatnya. Ayo," Aster mengangguk patuh.


Diam-diam Nathan menggepal-kan tangannya. Bukan hanya Aster, ia juga melihat siluet orang yang berlari tadi.


Dia tau ada penghianat dirumahnya, dan Nathan tentu tau siapa orangnya. Dan akan lebih baik bila Aster tidak mengetahuinya, karena itu bisa melukai hati dan perasaannya.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2