
"Paman, cepat tangkap aku!!"
Kedua mata Gavin dan Rio membelalak saat mereka mengangkat wajahnya dan mendapati Laurent sudah berada di atas pohon. "YAKK!! PRINCESS, APA YANG KAU LAKUKAN DI SANA?!" pekik keduanya terkejut.
Bagaimana tidak. Mereka bertiga tadi sedang bermain petak umpet, dan tiba-tiba Laurent sudah ada di atas pohon saja. Padahal lima menit yang lalu mereka melihat gadis kecil itu berlarian di sekitar pohon sakura tersebut.
"Hiyyaaaa...."
Gavin dan Rio membelalakkan matanya untuk kedua kalinya ketika mereka melihat Laurent melompat dari atas pohon tersebut. Dengan siaga mereka berjaga di bawah, supaya ketika mendarat, Laurent bisa mereka tangkap dengan tepat.
"Aaahhhh!!"
Brugg...
"Pinggangku!!"
Bukannya tertangkap. Laurent malah menimpa mereka berdua karena Gavin dan Rio yang tidak tepat sasaran. Parahnya lagi Gavin yang berada dibawah tertindih Rio dan Laurent.
"Ya Tuhan, apa-apaan kalian ini?" Aster yang baru saja tiba di halaman belakang langsung memekik keras melihat mereka bertiga yang bertumpang tindih. "Laurent, apa yang terjadi? Kenapa kau bisa menindih tubuh Paman Rio dan Paman Gavin?" Tanya Aster penasaran.
Laurent menunjuk pohon dengan jari telunjuknya lalu gadis kecil itu mulai mejelaskan pada sang ibu. "Aku melompat dan Paman Gavin serta Paman Rio gagal menangkap ku. Mereka malah berbaring sehingga aku menindih tubuh mereka." Jelasnya.
Aster mendengus berat. Bagaimana bisa putri kecilnya ini malah menurun sifat bar-barnya. Wanita itu menghampiri Rio dan Gavin lalu membantu mereka berdiri. "Aduh pinggangku." Rintih Gavin sambil memegangi pinggangnya.
"Nunna, pinggangku sakit." Rengek Gavin sambil terus memegangi pinggangnya.
"Aku akan memanggilkan Paman Kim, dia yang paling mengerti tentang bagaimana caranya mengatasi pinggangmu itu. Rio, kau tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa, cuma burungku saja sedikit tertindih dan sedikit sakit." Jawabnya.
Laurent membelalakkan matanya ketika melihat Maminya menatapnya dengan tatapan horor. Dan gadis kecil itu berani bersumpah jika dia akan mendapatkan hukuman lagi setelah ini.
Aster menghampiri Laurent. Dengan gemas dia memukul pantat gadis kecilnya itu."Kenapa kau semakin nakal saja, hm? Bagaimana jika kau sampai jatuh dan cidera? Kali ini Mami akan mengampunimu, tapi tidak ada yang kedua kalinya lagi. Mengerti?" Laurent mengangguk patuh.
"Baiklah Mami, Laurent mengerti."
"Sekarang kita masuk, Laurent mandi setelah itu makan siang kemudian bobok. Mami tidak mau mendengar alasan apapun, oke." Dan lagi-lagi gadis kecil itu hanya mengangguk pasrah. Laurent tidak ingin membuat Maminya marah kemudian memukul pantatnya lagi dan lagi.
__ADS_1
Menurut Laurent, maminya itu sangat mengerikan ketika sedang marah. Bagaimana tidak, Aster selalu memukul pantatnya, parahnya lagi tidak hanya satu kali saja, tapi sampai berkali-kali.
-
"Tuan, ini adalah beberapa informasi yang Anda butuhkan."
Dio menyerahkan sebuah map pada Nathan yang di dalamnya berisi beberapa informasi yang dia butuhkan. Nathan mengambil dokumen itu dari tangan Dio lalu membacanya.
Seringai dibibir Nathan mengembang semakin lebar. "Bagus sekali, memang ini yang aku harapkan. Terus awasi mereka, dan laporkan padaku jika mereka melakukan hal mencurigakan."
Dio mengangguk. "Baik, Tuan. Saya mengerti, kalau begitu saya permisi dulu." Dio membungkuk kemudian meninggalkan ruangan Nathan.
Tak berselang lama setelah kepergian Dio, pintu ruangan Nathan kembali dibuka, kali ini yang datang adalah seorang wanita bertubuh sexy dan berpakaian minim. Wanita itu mengukir sebuah senyum di bibirnya yang terpolesi lipstick merah.
Nathan mengangkat wajahnya dan menatap tajam wanita itu. "Mau apa kau datang kemari?" Suara dingin Nathan yang terlewat datar langsung menyabut kedatangannya.
"Beginilah caramu menyambut kawan lama, Nathan Xiao?"
"Bahkan aku tidak ingat pernah berteman denganmu," jawabnya dingin.
"Begitulah? Apa aku perlu mengingatkannya padamu jika kita pernah berteman?" Ucap wanita itu lagi.
Wanita itu mendekati Nathan kemudian merangkul bahunya sambil berbisik di telinganya. "Bahkan ketika kita masih muda aku pernah menjadi teman ranjang-mu, apa kau tidak ingin melewatkan malam panjang lagi seperti saat itu?" Bisik wanita itu sambil meniup daun telinga Nathan.
"Aaahhh.." rintih kesakitan keluar dari bibir merah itu ketika Nathan menarik rambutnya dan mencekik lehernya. "Na..Nathan Xiao. A..apa yang kau lakukan? A..Apa kau ingin membunuhku?!" Tanya wanita itu dengan napas sedikit tersengal.
"Jangan pernah menguji kesabaranku!! Aku tidak akan segan-segan meledakkan kepalamu jika kau berani muncul kembali di hadapanku. Sebaiknya kau pergi sekarang sebelum aku hilang kesabaran!!"
Nathan mendorong wanita itu hingga tersungkur di lantai. Matanya membelalak melihat Nathan mengeluarkan senjata api dari dalam laci lalu mengarahkan padanya.
"Aku tidak pernah main-main, pergi sekarang juga jika kau masih ingin selamat!!" Tak ingin mati konyol di tangan psycho seperti Nathan. Wanita itu pun segara angkat kaki dari sana.
Nathan memijit kepalanya yang terasa pening. Ada saja masalah yang datang silih berganti dalam hidupnya. Entah itu hanya masalah ringan atau berat, terkadang dia merasa lelah, sekali saja Nathan ingin merasakan ketenangan dalam hidup. Tapi rasanya begitu sulit.
Telfon di meja Nathan berbunyi dan menandakan ada panggilan masuk. Nathan menerima panggilan tersebut dengan segera."Ada apa, Regina?" Tanya Nathan to the poin.
"Ada telfon untuk Anda, Tuan."
__ADS_1
"Hn, sambungkan."
"Daddy!!" Setelah panggilan itu tersambung. Suara ceria seorang bocah langsung berkaur di dalam telinganya. "Kenapa ponsel Daddy tidak aktif? Apakah Daddy sibuk?" Pertanyaan itu meluncur dari bibir mungil seseorang di seberang sana.
"Maaf, Sayang. Ponsel Daddy ketinggalan di mobil, dan kebetulan batrenya lowbet." Jawab Nathan penuh sesal.
"Tidak apa-apa. Daddy, apakah malam ini kau lembur? Aku merindukan Daddy, Daddy cepat pulang ya."
Nathan tersenyum lebar. "Tentu, Nak. Daddy akan pulang lebih awal. Kebetulan Daddy tidak lembur malam ini."
"Hore, kalau begitu Laurent bobok dulu ya. Love you Daddy."
"Love you to, Princess." Jawab Nathan sebelum menutup sambungan telfonnya.
Mendengar suara putrinya membuat hati Nathan menghangat. Memang hanya Laurent dan Aster yang bisa membuatnya tenang, bahkan emosi yang sempat memenuhi dirinya hilang begitu saja.
-
Aster baru saja menidurkan putri kecilnya ketika seorang wanita datang mencari dirinya. Pemilik mata Hazel itu memicingkan matanya, dia merasa asing dengan tamunya tersebut.
"Kau pasti bingung dan bertanya-tanya siapa aku ini? Aku adalah Aleta Song, mantan teman ranjang suamimu."
"Lalu~" Aster menyela cepat.
"Aku hanya ingin memberitahumu jika Nathan Xiao bukanlah pria baik-baik seperti yang kau pikirkan selama ini. Sejak muda dia sudah hobi bergonta-ganti wanita. Tidak hanya satu atau dua, tapi puluhan wanita. Jadi kau jangan merasa beruntung karena dia menikahi mu!!"
Aster mendengus berat. "Selama puluhan tahun aku hidup bersamanya, dan aku mengenal betul seperti apa pria yang aku nikahi itu."
"Aku tidak peduli seburuk apa dia dimasa lalu, karena yang aku tau,pria yang tidak baik itu sekarang sudah menjadi suamiku dan selama hidup bersamaku dia selalu bersikap baik dan tidak pernah melakukan kesalahan!!"
"Itu karena kau terlalu munafik dan bodoh sehingga bisa dikibuli oleh pria seperti Nathan Xiao, asal kau tau saja, dia adalah bajingan paling buruk yang pernah aku kenal dan aku temui selama ini!!"
"Jika kau datang hanya untuk menyebar fitnah dan membuat hancur rumah tangga orang lain. Sebaiknya kau pergi saja. Lagi pula aku bukanlah wanita bodoh yang mudah untuk di profokasi. Aku mengenal suamiku lebih dari siapapun. Jadi sebaiknya kau pergi sebelum kesabaranku benar-benar habis. Pergi sekarang juga atau aku sendiri yang akan melemparkan-mu keluar secara tidak baik!!"
Wanita itu mengepalkan tangannya dan menatap Aster dengan emosi. Niatnya untuk memberikan pelajaran pada Nathan karena berani menolaknya. Tapi semua berjalan tidak seperti yang dia harapkan. Ternyata Aster bukanlah wanita yang mudah untuk diprofokasi.
-
__ADS_1
Bersambung.