"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Sangat Keterlaluan!!


__ADS_3

"Huwaa... Paman, ampuni kami."


Rio dan Gavin menangis sejadi-jadinya setelah mengetahui hukuman apa yang Nathan berikan padanya. Nathan meminta mereka membersihkan seluruh mansion dan tidur di kamar mandi.


Bagaimana Nathan tidak geram, mereka berdua sudah mengajarkan hal tidak baik pada Kakek Billy. Bukan hanya mengajak Kakek Billy pergi ke club' malam, tapi juga mengajar si Kakek mengintip para wanita di toilet.


"Kalian terima saja hukuman dari Nathan Oppa, lagipula Nathan Oppa sudah menunda hukuman kalian lebih dari lima bulan." Ujar Aster menatap mereka bergantian.


"Noona, kenapa kau malah kompak dengan Paman? Hiks, seharusnya kau membela kami bukannya malah kompak dengan Paman."


"Huhuhu...Kalian jahat. Terlebih kau, Paman. Bagaimana kau bisa Setega itu pada kami? Huhuhu,"


"Oh, jadi kalian ingin aku melipat gandakan hukumannya?! Baiklah, aku akan~"


"Paman, tidak!! Oke, kami akan melaksanakannya sekarang." Jawab keduanya dan melesat pergi.


Berhadapan dengan Nathan yang sedang marah memang lebih menyeramkan dari pada harus ikut acara uji nyali. Lalu pandangan Nathan bergulir pada Kakek Billy. Pria tua itu merinding sendiri melihat sorot mata tajam Nathan yang penuh intimidasi.


"Dan untuk kau, Pak Tua, aku tidak akan memberikan toleransi lagi jika masih mengikuti jejak mereka berdua!!" Ucap Nathan bersungguh-sungguh. Dan Kakek Billy hanya bisa mengangguk pasrah.


Marta tiba-tiba menghampiri Nathan sambil membawa orange jus untuknya. "Kakak sepupu, sebaiknya minum dulu. Tenggorokanmu bisa kering." Ucapnya tersenyum.


"Terimakasih atas perhatianmu, Bibi. Tapi sayangnya suamiku tidak menyukai orange jus, dia tidak menyukai makanan ataupun minuman manis dan asam. Daripada terbuang sia-sia, sebaiknya aku minum sendiri saja." Ujarnya.


Aster mengambil orange jus itu dari tangan Marta lalu meneguknya hingga tandas tak tersisa. "Ah, segarnya. Bibi, terimakasih untuk minumannya." Aster tersenyum manis.


"Kau.." Geram Marta kesal. "Menyebalkan!!"


Dengan perasaan dongkol. Marta meninggalkan mereka berdua dan pergi ke kamar tamu yang sudah dia tempati sejak semalam. Sedangkan Aster menatap kepergian Marta dengan senyum penuh kemenangan.


Nathan hanya bisa mendengus berat. "Sepertinya kau cukup bersenang-senang, Nyonya Xiao." Ucap Nathan sambil menarik gemas ujung hidung mancung Aster.


Wanita itu terkekeh. "Tentu saja, karena wanita seperti dia sekali-kali memang perlu diberikan pelajaran." Jawabnya. "Aku lelah, Paman bisakah kita kembali ke kamar. Aku ingin tidur." Nathan tidak menjawab, sebagai gantinya pria itu menganggukkan kepala.


Nathan tidak mempermasalahkannya bagaimana Aster memanggil dirinya. Selama itu membuat Aster nyaman itu tidak masalah bagi Nathan.


Aster akan memanggilnya dengan sebutan Oppa, Sayang bahkan suamiku di depan semua orang. Tapi jika berdua, Aster akan kembali memanggilnya dengan sebutan Paman.


Sepertinya Aster masih belum nyaman dan terbiasa memanggil Nathan dengan panggilan yang lain. Dan Nathan mencoba memakluminya.


.


.


.

__ADS_1


"Ahhh, nyamannya." Aster merebahkan tubuhnya pada kasur super nyaman miliknya dan Nathan.


Nathan menghampiri Aster setelah menutup dan mengunci pintu. "Aaahh, Paman apa yang kau lakukan?!" Kaget Aster saat tiba-tiba Nathan memasukkan tangannya ke dalam dress yang dia pakai.


"Kenapa harus terkejut, Sayang? Bukankah kau selalu menyukainya?" Pria itu menyeringai.


"Iya, tapi...aaahhh, yang kau lakukan terlalu tiba-ti, emmpphhh."


Nathan langsung menyergap bibir Aster sebelum wanita itu menyelesaikan kalimatnya. Bibir Nathan terus mel*mat bibir Aster secara brutal dan menuntut. Tidak ada penolakan, meskipun sempat terkejut namun Aster bisa mengimbangi ciuman Nathan.


Tak ingin dianggurkan, sebelah tangan Nathan meremas salah satu pay*dara Aster sambil memainkan ujung put*ngnya, membuat wanita itu semakin mend*sah liar. Lagi-lagi Nathan tau bagaimana cara untuk memanjakannya.


"Keluarkan semuanya, Sayang. Jangan ada yang ditahan." Nathan semakin menggiring Aster menuju lembah kenikmatan.


Nathan kembali mel*mat bibir merah Aster dengan lembut, melanjutkan aksi ciuman mereka tadi.


Tangan Nathan yang berada di dalam dress Aster, membuat wanita itu semakin mengeliat. Nathan kembali meremas dengan lembut pay*dara Aster, mempelintir putt*ng wanitanya yang mulai mengeras.


"Aaahh… Paman…ohmmmhmm!"


Nathan kembali melanjutkan aksinya dengan menjelajahi leher jenjang nan putih milik Aster. Membuat Aster semakin terbang karena kenikmatan. Nathan benar-benar membuatnya basah malam ini, dan Aster menyukainya.


Nathan menarik dirinya sesaat untuk menatap wajah Aster, wajahnya semakin merah, pertanda jika lib*do mereka semakin di puncak. Mereka sama-sama menginginkan lebih dari hanya sekedar berciuman.


Nathan menuruni ciumannya dan mejelajahi setiap inci leher jenjang Aster dengan sapuan lidahnya. Sementara miliknya telah berpusat pada diri Aster.


Nathan pun semakin gencar menghujamkan sosis beruratnya pada Miss Aster sambil terus mend*sah menyebut nama Aster berkali-kali. Nathan terus melanjutkan kegiatannya, dia benar-benar memanjakan Aster.


"Aahh... terruss... Oppa..! Terus..! Yang dalaamm.., aahh... oohh... nikmat... oh... shsshh... aahhh..!" Rancau Aster tidak karuan.


Gerakan mereka semakin lama semakin er*tis dan tak terkendali. Membuat mereka semakin menggebu-gebu untuk melampiaskan seluruh hasrat mereka yang sudah memuncak.


Mereka terus berpacu untuk mencapai puncak kenikmatan sampai keringat membasahi kedua tubuh polos mereka.


"Aku mau keluar lagi... Oppa... sudah tak tahann.., aahhh..!" Aster melenguh panjang sambil mendongak ke atas, tubuhnya mengeras saat lagi-lagi merasakan org*smenya.


"Sayang, milikku juga hampir keluar. Aaahhh..." Nathan pun sudah mencapai puncaknya.


Dia dan Aster sama-sama baru saja melakukan pelepasan. Tubuh Nathan ambruk diatas tubub Aster sekana beberapa saat setelah melakukan permaianan lebib dari satu ronde.


Kemudian Nathan beranjak dari atas tubuh Aster seraya memunguti semua kain miliknya yang berserakan dan membawanya ke kamar mandi.


Sedangkan Aster memilih tetap bertahan dalam posisinya. Dan menyelimuti sekujur tubuh pol*snya dengan selimut tebal. Aster sangat lelah dan ingin segera tidur.


-

__ADS_1


Marta tersenyum lebar saat melihat Nathan sedang duduk sendiri di ruang keluarga sambil menikmati sebotol anggur dengan kadar alkohol sedang. Tau ada kesempatan yang bagus. Marta pun segera menghampiri Nathan.


"Kakak sepupu," panggilnya manja.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Nathan tanpa menatap lawan bicaranya.


Marta mengambil gelas anggur di tangan Nathan lalu meneguk semua isinya. "Ciuman tidak langsung." Marta tersenyum sambil mengangkat gelas itu yang telah kosong.


Marta menghampiri Nathan kemudian menggerakkan jari-jari lentiknya di atas lengan terbuka Nathan yang kemudian bergerak naik menuju pundaknya yang hanya tertutup kain Vest-nya.


"Kakak sepupu, bagaimana kalau kita bermain sebentar? Istri kecilmu sedang tidak ada di sini." Ucapnya berbisik.


Nathan menyentak tangan Marta lalu menodongkan sebuah pistol tepat di-keningnya setelah melukai lengan Marta dengan sebuah pisau lipat.


"Bukankah aku sudah pernah mengingatkanmu sebelumnya untuk menjaga tangan dan mulutmu. Tapi sepertinya peringatan-ku tidak berlaku sama sekali padamu!!" Sorot matanya tajam dan berbahaya.


"Ka..kakak sepupu, kenapa kau melukaiku? A..apa yang salah dengan sikapku padamu? Sejak kecil kita sudah tumbuh bersama, dan dulu kau sering melindungi ku. Tapi kenapa sekarang kau malah menolak ku?!"


"Itu karena suamiku tidak pernah mencintaimu!!" Sahut seseorang sambil menodongkan senjata pada kepala Marta."Bibi, bukankah kau adalah seorang putri dari keluarga terpandang, tapi kenapa sikap dan perilakumu sangat murahan?!"


"Aster Xiao, kau?!"


"Aku tidak akan segan padamu jika kau berani mendekati suamiku lagi, apalagi mencoba untuk menggodanya."


"Dan jangan anggap peringatan-ku ini hanyalah sebuah ancaman saja. Karena aku benar-benar akan melakukannya jika kau berani menggodanya sekali lagi!!"


Marta menatap Aster dengan marah. Wanita itu mendorong Aster hingga terhuyung lalu pergi begitu saja. Di sana menyisahkan Nathan dan Aster. "Dari mana kau mendapatkan senjata itu? Dan siapa yang mengijinkanmu untuk bermain-main dengan senjata api semacam itu?"


Aster menodongkan senjata itu pada Nathan. Tatapannya dingin dan datar. "Aku tidak hanya akan membunuhnya saja, tapi aku juga akan membunuh Paman!!" Ucap Aster dengan serius. Aster menarik pelatuknya dan...


Crooottt....


Air menyembur keluar dari ujung senjata itu dan mengenai wajah Nathan. Membuat wajah Nathan basah karena semburan air dari pistol mainan tersebut.


Wajah serius Aster seketika berubah melihat bagaimana ekspresi kesal Nathan saat ini. Aster hanya bercanda, lagipula mana mungkin dia sanggup membunuh Nathan.


"Hahaha...Paman wajahmu basah kuyup..."


"Aster Xiao, aku akan menghukumu!!" Geram Nathan.


"Aaahh...Paman, lepaskan aku, apa kau ingin membuatku tidak bisa berjalan besok pagi?!"


"Bukan hanya besok pagi, aku akan membuatmu tidak bisa berjalan selama 7 hari 7 malam."


"Apa?!" Kedua Mata Aster sontak membelalak karena ucapan Nathan. "Huaa.. Paman, kau sangat keterlaluan!!"

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2