
Nathan sedang membawa putrinya yang berusia 5 tahun ke sebuah taman bermain. Laurent merengek supaya dia membawanya ke sana, dan pria itu menyetujuinya.
Saat ini Laurent sedang asik bermain di komedi putar bersama anak-anak yang lainnya. Gadis kecil itu terlihat begitu bahagia, senyum di bibirnya mengembang lebar.
Tak ingin kehilangan momen berharga ini. Nathan pun mengabaikannya dalam sebuah video dan beberapa jepretan foto. Pria yang selalu terlihat dingin itu bahkan mengurai senyum di bibirnya.
"Daddy..." Laurent melambaikan tangan pada Nathan. Pria itu tersenyum dan ikut melambai juga.
Nathan melirik kebelakang saat dia menangkap siluet seorang pria yang terlihat mencurigakan.
Dua pria terlihat mondar-mandir di belakangnya sambil terus mengawasi putri kecilnya. Tau jika kedua pria itu memiliki niat yang tidak baik, dia pun segera mengambil tindakan.
Nathan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. "Tao, aku ingin kau mengurus seseorang untukku. Aku tidak bisa meninggalkan Laurent sendiri tanpa pengawasan, mungkin mereka berdua hanya sebuah jebakan!!"
Tidak hanya berdua bersama putrinya. Nathan juga membawa Tao dan beberapa anak buahnya untuk ikut bersamanya. Dan agar tidak terlalu mencolok, dia membiarkan mereka menaiki wahana apapun yang diinginkan.
"Daddy, Laurent ingin bermain wahana yang lain lagi." Ucap gadis kecil itu setelah dia turun dari wahana komedi putar.
"Memangnya Laurent ingin naik apa lagi?" Tanya Nathan setelah menggendong putri kecilnya itu.
"Kincir angin, dari dulu Laurent ingin sekali naik kincir angin, tapi Mami selalu menolak ketika aku mengajaknya."
"Itu karena Mami-mu takut ketinggian. Ya sudah, ayo kita naik." Gadis kecil itu mengangguk dengan antusias.
"Oke, Daddy." Jawabnya bersemangat.
Nathan tetap waspada, dan memastikan apakah ada yang mengikutinya lagi atau tidak. Dua orang mencurigakan tadi sudah berhasil diatasi. Tapi pria itu yakin jika jumlah mereka lebih dari dua orang saja.
Dan benar dugaan Nathan. Ada lebih dari dua orang, dan tiga diantaranya tampak memperhatikannya, mencari celah untuk bisa memuluskan rencananya. Tapi sayangnya pria itu bukanlah orang bodoh yang mudah untuk diperdaya.
"Daddy, seperti mereka bertiga yang pakai jas itu adalah orang jahat. Apakah mereka memiliki rencana buruk pada kita?" Tanya Laurent yang peka dengan situasi yang terjadi.
"Daddy rasa begitu. Tapi princess, tenang saja, Daddy pasti akan melindungi-mu."
"Daddy, bagaimana kalau kita beri pelajaran pada mereka. Kita bikin mereka kelabakan dan kerepotan. Laurent punya ide."
Nathan memicingkan mata kirinya. "Memang rencana apa yang kau miliki?" Tanya Nathan penasaran.
__ADS_1
"Turunkan Laurent." Pinta gadis kecil itu. Dan Nathan menurutinya. Ia sangat penasaran dengan rencana putrinya tersebut. "Daddy, kau percaya padaku bukan?" Pria itu mengangguk.
Nathan sungguh sangat penasaran dengan rencana yang dimiliki oleh putri kecilnya itu. Semoga Laurent tidak melakukan tindakan yang bisa membahayakan dirinya sendiri.
Tapi setelah Nathan melihat ketiga pria mencurigakan itu bereaksi, setelah melihat putrinya berjalan sendirian. Kini ia mengerti dan paham, Laurent berusaha untuk memancing mereka.
Dan Nathan pun tentu tidak menyia-nyiakannya. Pria itu segera mengambil tindakan sebelum mereka membahayakan putri kecilnya.
Laurent menggiring mereka ke sebuah tempat yang cukup sepi dan tak banyak orang. Nyaris tak ada, hanya dua orang sejoli, dan merekapun sudah pergi.
"Paman, kalian ingin menangkap ku bukan? Kalau begitu kejar aku." Seru Laurent menantang.
Laurent berlari menuju sebuah bangunan tua yang telah terbengkalai. Gadis kecil itu berlari diantara dinding-dinding berbentuk labirin dan membuat mereka bertiga kesulitan menemukannya.
"Paman, aku di sini.." seru Laurent sambil melambaikan tangannya. "Kemarilah dan tangkap aku." Serunya.
"Gadis kecil kurang ajar, berhenti mempermainkan kami. Keluar sekarang juga!!"
"Tidak mau!! Tangkap sendiri saja jika kalian bisa." Jawabnya.
Nathan tiba di lokasi setelah beberapa saat berlari. Dia melihat ketiga pria itu seperti orang kebingungan karena tidak berhasil menemukan putrinya. Tanpa membuang banyak waktu, ia pun segera mengambil tindakan.
Tiga tembakan Nathan lepaskan. Peredam suara yang dia pasang pada senjata apinya membuat apa yang dia lakukan tidak menarik perhatian orang lain.
Tiga pria itu tumbang setelah terkena terjangan timah panas yang dia lepaskan. Dan Nathan tidak perlu membuang banyak tenaga hanya untuk menghadapi mereka bertiga.
"Laurent, keluarlah. Semua sudah teratasi." Seru Nathan. Sosok Laurent pun muncul dari tempat persembunyiannya.
"Daddy," seru gadis kecil itu.
"Mami-mu pasti sangat cemas, ayo kita pulang. Dan apa yang terjadi hari ini. Sebaiknya menjadi rahasia kita berdua saja, oke." Laurent mengangguk.
"Oke."
Bukan maksud Nathan ingin merahasiakan insiden itu dari Aster. Hanya saja dia tidak ingin wanita itu sampai berpikir terlalu keras, apalagi dengan keadaannya saat ini. Stres bisa membuat Aster dalam masalah.
-
__ADS_1
Waktu terus bergulir, begitupun tiap-tiap peristiwa yang mereka lewati tak henti-hentinya bagaikan air yang mengalir. Entah berapa ribu lembar kertas yang telah mereka habiskan untuk menuangkan kisah kedalamnya.
Bagai kisah drama romantis yang rumit, begitupun kehidupan muda mereka dulu, usia yang terpaut 10 tahun. Tak menjadi dinding penghalang untuk cinta tumbuh didalamnya.
Tak sedikit rintangan datang menerjang. Serta tak terhitung berapa banyak air mata yang jatuh demi bersatunya perasaan yang mereka rasakan. Namun hal itu bukan berarti menghentikan kisah mereka saat perasaan itu berhasil disatukan.
Salah, jika ada yang bilang ini selesai, karena sejujurnya jauh disana masih banyak ujian yang akan datang silih berganti. Karena begitulah hidup. Masalah demi masalah seolah menjadi bagian cerita yang tertuang dalam sebuah lembaran kertas kosong.
Aster menatap puas hasil karyanya. Dia baru saja menyelesaikan dua baju, untuk suami dan putri kecilnya. Wanita itu menjahit sebuah gaun cantik untuk Laurent, serta long best untuk Nathan.
"Mami, kami pulang!!" Seruan keras dari arah luar mengalihkan perhatian wanita yang sedang hamil muda tersebut. Sosok cantik berambut coklat panjang terlihat berlari menghampirinya.
"Kau dari mana saja? Kenapa Jam segini baru pulang? Apakah kau dan Daddy bersenang-senang?" Tanya Aster sambil berlutut di depan Laurent.
Gadis kecil itu mengangguk. "Ya, bahkan hari ini kami melakukan sesuatu yang sangat seru. Aku bermain petak umpet dan Daddy datang sebagai pahlawan." Ujarnya.
"Baiklah. Oya, Mami membuatkan gaun cantik untukmu. Kau ingin melihatnya?" Gadis kecil itu mengangguk antusias.
Aster beranjak dari hadapan Laurent untuk mengambil gaun itu, dan tak lama dia kembali dengan sebuah gaun cantik milik putri tercintanya.
"Bagaimana? Bagus tidak?" Tanya wanita itu memastikan.
"Huwaa, ini sangat cantik dan indah. Terimakasih Mami," Laurent langsung berhambur ke dalam pelukan sang ibu. .
Aster tersenyum lebar. Dengan senang hati dia membalas pelukan sang putri."Sama-sama, Sayang." Ucapnya dan mendekap tubuh Laurent dengan sangat erat.
Di ambang pintu. Nathan menatap pemandangan itu dengan senyum mengembang lebar. Dua bidadarinya membuat hatinya semakin menghangat.
Dengan langkah tanpa suara Nathan menghampiri mereka berdua. "Apa Daddy melewatkan sesuatu?" tanya Nathan membuat perhatian keduanya kini tertuju padanya. Aster dan Laurent sama-sama tersenyum lebar. Dan dengan kompak mereka menggeleng.
Nathan membawa putri dan istrinya ke dalam pelukannya. Mendekap keduanya dengan sangat erat, sambil sesekali mencium kepala Laurent dan Aster bergantian.
Sepanjang hidupnya. Tidak pernah Nathan merasakan hatinya sedamai dan sehangat saat ini. Mereka berdua adalah sumber kebahagiaannya, harta paling berharga yang Tuhan berikan pada dirinya.
-
Bersambung.
__ADS_1