
Leon menarik kain hitam yang menutupi bagian kepala wanita itu. Kepalanya sedikit menunduk kebawah dan kedua matanya terpejam rapat. Wanita itu dalam keadaan tak sadarkan diri setelah Leon memukul bagian tengkuknya.
Nathan mengambil gelas berisi air putih yang ada di atas meja, yang kemudian dia lemparkan ke wajah wanita itu. Membuat matanya langsung terbuka dan sedikit gelagapan karena air yang menghantam wajahnya.
"Tuan!!" Wanita itu memekik kaget. "Apa yang Anda lakukan pada saya? Kenapa tubuh saya diikat seperti ini? Apa salah saya?"
"Sudah cukup dramanya, Ahn Sora!! Sekarang katakan padaku, kenapa kau mengirim orang untuk menghabisi Aster?" Tanya Nathan menuntut penjelasan.
"Ma-maksud Anda apa, Tuan? Memangnya siapa yang mengirim seseorang untuk membunuh, Nona muda? Lagipula bagaimana mungkin saya bisa melakukannya? Bukankah Anda tau sendiri, jika saya telah menganggap Nona seperti putri kandung saya sendiri!!"
Nathan menyeringai sinis. "Begitulah? Jika kau memang menyayanginya, lalu kenapa kau meletakkan ular berbisa dan kalajengking di atas tempat tidurnya ketika dia masih anak-anak?"
"Kau mencoba meracuninya dengan memberikan susu basi padanya, dia nyaris saja terjatuh dari ketinggian karena kau merusak tangga yang dia naiki secara diam-diam. Kau pikir aku tidak tau semua perbuatan busukmu itu?!"
"Selama ini aku diam bukan berarti aku tidak mengawasi-mu, dan hari ini aku sudah sampai dibatas kesabaran ku. Tindakanmu kali ini sudah sangat keterlaluan dan aku tidak bisa memaafkannya!!"
Ahn Sora melemparkan pandangan tajam pada Nathan. "Ya, memang aku yang melakukan semua itu. Aku memang ingin gadis itu mati. Karena ibunya aku kehilangan pria yang aku cintai, dia meninggalkanku dan kemudian menikahi wanita itu!!" Teriak Sora penuh emosi.
Wanita itu menyeringai sinis. "Tapi aku sudah membuat mereka berdua membayar lunas atas apa yang telah mereka lakukan padaku!! Aku sudah berhasil membunuh mereka berdua, dan kali ini giliran putrinya. Jika saja kau tidak terus melindunginya, pasti GADIS SIALAN ITU SUDAH LAMA MATI!!"
Buaagghh..
Nathan menghantam wajah Sora dengan gagang pistolnya. Membuat darah segar seketika keluar dari sudut bibirnya. Kepala Sora tertarik ke atad karena tarikan Nathan.
Amarah terlihat jelas pada sorot mata Nathan yang tajam. Emosi tengah mengambil alih kesadarannya.
Auranya begitu suram dan mengerikan. Bahkan Sora sampai menelan ludah melihat Nathan yang terlihat seperti iblis di dalam kegelapan.
"Aster tidak ada hubungannya dengan perbuatan orang tuanya, tidak seharusnya kau melibatkan gadis tidak bersalah itu untuk memuaskan dendammu."
"Tapi darah di dalam tubuhnya adalah darah wanita ****** dan bajingan itu. Dan aku tidak akan membiarkan keturunan mereka bahagia di atas penderitaan ku!!"
"Kau benar-benar sudah mengambil jalan yang salah, Ahn Sora. Dan kau harus membayar mahal atas apa yang telah kau lakukan pada Aster dan kedua orang tuanya. Kau membuat seorang anak menjadi yatim piatu, dan kau juga menginginkan nyawa anak itu!!"
"Manusia sepertimu tidak layak untuk dibiarkan tetap hidup. Dan harga mahal yang harus kau bayar adalah dengan kematian!"
"Kau tidak bisa membunuhku! Gadis bodoh itu pasti akan membencimu jika dia sampai tau apa yang telah kau lakukan pada ibu asuhnya!!"
"Kau terlalu banyak bicara!!"
Kepala Sora terlepas dari tubuhnya setelah mata pedang menebas bagian lehernya. Darahnya menyembur kemana-mana dan mengotori wajah serta pakaian Nathan.
__ADS_1
Siapa yang menduga jika wanita itu akan berkahir dengan begitu tragis. Bahkan tanpa sempat berteriak ketika mata pedang Nathan menebas lehernya hingga kepala dan tubuhnya terpisah.
Nathan melakukannya tanpa ada keraguan sedikit pun. Kejam memang, memang begitulah Nathan, jika kemarahan telah mengambil alih kewarasannya, maka kematian yang akan orang itu dapatkan.
"Urus mayat wanita ini, cincang tubuhnya dan berikan pada ikan-ikan di laut."
"Baik, Tuan."
-
"Paman?!" Aster segera bangkit dari duduknya setelah melihat kedatangan Nathan. "Omo!! Apa yang terjadi pada Paman? Kenapa sekujur tubuh Pama penuh dengan darah? Apa Paman terluka lagi?" Tanya Aster penuh kecemasan.
Nathan menggeleng. Pria itu menepuk kepala Aster dengan lembut. "Paman baik-baik saja, ini darah orang lain. Paman mandi dulu." Nathan beranjak dari hadapan Aster dan pergi begitu saja.
Aster menatap punggung Nathan yang semakin menjauh dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Aster mengangkat bahunya acuh, dia tidak ingin terlalu ambil pusing.
"ASTER SAYANG!! NENEK BUYUT PULANG!!"
Byurrr...
"Uhuk.. Uhuk..."
Nenek berusia 70 tahun itu dalam balutan mini skirt berwana hitam, jaket kulit hitam dengan dalaman kaos berwarna putih.
Rambut berubannya ditutup dengan wig warna pink nyentrik. Tak ketinggalan aksesoris serba pink seperti warna rambutnya. Juga sepatu boot tinggi hitam.
"My Sweet Heart, Nenek buyut sangat merindukanmu." Ucap Nenek Xiao sambil memeluk Aster dengan erat.
"Nenek buyut, kau membuatku tidak bisa bernapas!! Dan apa-apaan ini? Kenapa Nenek buyut makin gila dari hari ke hari, bahkan penampilan Nenek buyut semakin mengerikan saja!!"
"Sayang, kau terlalu kejam. Ini namanya fashion. Bukankah Nenek buyut sangat cetar membahana?" Nenek Xiao memperlihatkan penampilannya sendiri.
Aster meringis ngilu. Bukannya cetar, Nenek Xiao malah terlihat mengerikan. Begitulah yang Aster pikirkan. "Oh iya, dimana Pamanmu? Kenapa Nenek buyut tidak melihatnya? Dan juga dua benalu itu?"
"Paman ada di kamarnya, mereka berdua sudah Paman usir keluar dari rumah ini satu Minggu yang lalu."
"Benarkah?" Aster mengangguk. "Baguslah, memang lebih baik jika mereka pergi. Sayang, ini oleh-oleh untukmu. Nenek harus pergi sekarang, Nenek buyut ada janji kencan dengan calon kakek buyut mu. Nenek buyut pergi dulu, bye, bye."
Aster memijit pelipisnya yang terasa pening. Sikap dan tingkah Nenek Xiao membuatnya sakit kepala. Nenek Xiao benar-benar berbeda dengan kebanyakan wanita seusianya.
.
__ADS_1
.
.
Aster masuk ke dalam kamar bersamaan dengan terbukanya pintu kamar mandi. Nathan yang baru saja selesai mandi terlihat melangkah keluar dari ruangan tersebut.
Aroma maskulin yang begitu khas langsung berkuar di dalam hidung Aster ketika Nathan keluar dari dalam sana. Dia hanya memakai handuk yang diikatkan pada pinggangnya.
Nathan memang tidak memiliki tubuh yang besar seperti aktor Hollywood, tapi dia memiliki dada yang bidang, perut yang rata dan terbentuk sempurna. Otot lengannya juga tidak terlalu besar namun terasa kencang ketika disentuh.
Jika boleh jujur, Nathan merupakan pria tercantik yang pernah Aster kenal dan temui dalam hidupnya. Tapi justru itulah yang menjadi daya tariknya. Di satu sisi Nathan terlihat tampan, namun disisi lain dia juga terlihat cantik.
"Paman," seru Aster dan melemparkan dirinya ke dalam dekapan Nathan.
"Ada apa?" Nathan membalas pelukan Aster.
"Kenapa semakin hari kau semakin menggoda saja? Lihatlah dirimu yang seperti ini, rasanya aku seperti mati berkali-kali."
Nathan mengangkat tubuh Aster bridal style lalu membaringkannya di atas tempat tidur. Dan selanjutnya bibir Nathan sudah berada diatas tubuh gadis itu.
Aster menarik handuk yang melilit pinggul Nathan dan membuangnya begitu saja. Hingga terlihat jelas keseluruhan tubuh pria itu. Melihat Nathan yang dalam keadaan bulat dalam jarak yang begitu dekat membuat jantung Astet berdegup kencang.
Kemudian Aster menurunkan pandangannya pada bagian bawah milik Nathan, dan dia menghela napas lega. Baguslah, ternyata milik Nathan tak semengerikan yang dia bayangkan. Masih aman karena ukurannya normal.
"Kenapa? Apa kau merasa kecewa?"
Aster menggeleng. "Tidak, aku malah bersyukur. Karena milik Paman tidak semengerikan yang aku bayangkan." Jawab Aster sambil tersenyum lebar.
"Baguslah kalau begitu." Nathan bangkit dari atas tubuh Aster, kemudian mengambil handuk miliknya yang tergeletak di lantai.
"Paman, kau mau kemana? Aku pikir kita akan coba-coba bercocok tanam!! Sayang kan, lahannya kalau terlalu lama dianggurkan, bisa-bisa rumputnya keburu panjang lagi. Paman, ayo kita bercocok tanam." rengek Aster sambil menatap Nathan penuh harap.
"Nanti, setelah kau lulus kuliah. Paman ganti baju dulu."
Aster mempoutkan bibirnya kesal. "PAMAN MENYEBALKAN!!"
"Hn, aku tau itu."
-
Bersambung.
__ADS_1