
Mafia, adalah dunia gelap yang penuh gelap dan penuh pertumpahan darah. Dunia yang penuh taktik dan tipu daya. Dan dunia dimana yang terkuat dan paling berkuasa-lah yang mampu bertahan.
Dunia gelap yang penuh dengan kriminalitas, pencurian, pencucian uang, penjualan barang pasar gelap, pembuat dan pengedar narkoba terbesar serta penyedia jasa teror** dan bandit.
Para Mafia adalah ahli mencuci otak dan menjerat pengikutnya. Mencuci otak adalah salah satu keahlian mereka.
Namun diantara semua catatan gelap mereka ada beberapa prinsip yang mereka pegang teguh diantaranya:
Menghormati Ibu dan istri, tidak melibatkan mereka yang tidak bersalah, tidak menyentuh narkoba, dilarang mengambil hak rekan atau keluarganya, menomor satukan pekerjaan, dilarang memberikan informasi palsu dan tak jelas dan tidak menghianati kelompok sampai mati.
Mereka sangat mentaati aturan itu dengan anggapan mereka tidak mungkin mau merusak diri sendiri dengan ciptaan sendiri, senjata makan tuan.
Dan semua prinsip-prinsip itulah yang selalu Xiao Murten ajarkan pada Nathan. Meskipun dia memegang jabatan tertinggi dalam dunia hitam yang selama ini dia geluti.
Namun dia tetaplah seorang anak dan suami. Dan Murten selalu menghormati keduanya tanpa membeda-bedakan.
Selama lima tahun Nathan menggeluti dunia gelap dan berbahaya itu. Dia mulai diperkenalkan pada kehidupan kejam dunia bawah sejak usianya 15 tahun, lebih tepatnya setelah kematian orang tua kandungnya.
Satu tahun kemudian Nathan mulai terjun langsung dan menjadi pemimpin kelompoknya dengan julukan 'RED DEVIL' karena keberingasannya dalam menghabisi lawan-lawannya yang tidak pernah menggunakan hati nurani.
Dengan melihatnya sekilas. Orang tidak akan percaya jika Nathan adalah seorang ketua geng besar Mafia. Mengingat jika saat itu usianya masih sangat muda, usia Nathan baru 16 tahun. Ditambah lagi wajah tampan juga cantik yang dia miliki, akan sangat mustahil jika dia adalah seorang kriminal kelas kakap.
Namun sayangnya tak satupun dari pihak lawan pernah melihat wajah Nathan secara langsung selama empat tahun dia menjabat sebagai Boss Mafia.
Nathan selalu menyembunyikan wajahnya di balik masker. Alasannya hanya satu, dia ingin memiliki kehidupan yang wajar dan
normal.
10 tahun yang lalu Nathan memutuskan untuk berhenti dan memilih menjalani kehidupan yang normal bersama putri angkatnya. Hal itu Nathan lakukan karena dia tidak ingin menempatkan Aster dalam bahaya.
Namun siapa yang menduga, jika berbagai masalah mulai bermunculan yang mungkin mengharuskan Nathan untuk kembali kekehidupan lamanya jika memang itu perlu.
"Paman, apa kau ada didalam?" Nathan menoleh setelah mendengar seruan keras Aster di depan pintu ruang kerjanya.
"Masuk-lah." Pintanya mempersilahkan.
"Paman, apa yang sedang kau lakukan seharian di sini? Bahkan kau melewatkan sarapan dan makan siang."
Nathan mengulurkan tangannya kemudian menempatkan Aster di pangkuannya. "Sejak kapan gadis bar-bar sepertimu bisa bertindak sopan dan normal?"
Aster mendecil kesal. "Cih, apa-apaan pertanyaan Paman ini?"
Nathan terkekeh. Diciumnya bibir Aster dengan lembut. "Paman hanya merasa heran saja, karena biasanya kau langsung nyelonong masuk dan sekarang mengetuk pintu dulu baru masuk."
__ADS_1
Tiba-tiba Aster turun dari pangkuan Nathan dan kemudian berlari keluar. Nathan memicingkan matanya dan menatap gadis itu penuh keheranan.
BRAKK!!!
"PAMAN, AKU DATANG!!"
Nathan terlonjak kaget karena dobrakan keras pada pintu dan kemunculan Aster yang begitu tiba-tiba. Nathan melotot, sedangkan Aster hanya terkekeh geli.
"Aster Xiao!!"
"Jangan marah Paman, bukankah kata Paman aneh melihatku yang sopan dan normal."
"Iya, tapi tidak membuat jantung Paman hampir melompat juga!!" Lagi-lagi Aster terkekeh.
Gadis itu duduk kembali dipangkuan Nathan dan mengalungkan kedua tangannya pada leher pria bermarga Xiao tersebut. "Paman, kenapa sudah dilepas?"
"Apanya?"
"Eyepacth-nya. Padahal kau sangat keren ketika memakainya."
"Untuk apa masih dipakai, toh mata kanan Paman sudah sembuh." Ujarnya.
"Iya, tapi aku kan belum puas melihatnya. Paman, pakai lagi ya. Hem, pakai lagi ya." Pinta Aster memohon.
Aster mendecih sebal. "Dasar menyebalkan, sudah sangat jelas jika Paman memang tidak menyayangiku." Aster beranjak dari pangkuan Nathan dan pergi begitu saja.
Nathan mendengus berat. Memang begitulah Aster jika sudah menginginkan sesuatu dan tidak dituruti, pasti dia akan merajuk. Dan Nathan hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap putrinya.
Nathan menutup laptopnya. Pria itu bangkit dari kursinya kemudian melenggang keluar meninggalkan ruang kerjanya.
Tak lupa Nathan memakai kembali benda hitam bertali yang selama hampir satu bulan ini tak pernah absen dari mata kanannya. Jika dia tidak menfalah dan menuruti permintaan Aster, gadis itu bisa merajuk selama 7 hari 7 malam.
.
.
.
Cklekk..
Aster menutup sekujur tubuhnya dengan selimut saat mendengar suara pintu di buka, dan Aster berani bersumpah jika yang datang itu adalah Nathan.
Gadis itu menutup matanya saat merasakan sebuah tangan besar menarik selimut yang membungkus tubuhnya, dan detik berikutnya bibir Aster sudah berada dalam pagutan bibir Nathan.
__ADS_1
Kedua mata Aster membelalak ketika merasakan sebelah tangan pria itu meremas salah satu bukit kembarnya, membuat de**Han dan er**gan keluar disela-sela ciuman tersebut.
Nathan mengakhiri ciumannya dan menyeringai nakal. "Masih ingin bersembunyi dariku?" Ucap Nathan dengan seringai yang sama.
Aster tersenyum lebar. Gadis itu mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan. Aster tau jika Nathan tidak mungkin bisa mengecewakannya.
Dan mereka kembali berciuman seperti tadi. Namun ciuman kali ini lebih dalam dan lebih panjang dari ciuman mereka yang sebelumnya. Posisi mereka tidak lagi duduk seperti beberapa saat lalu, Nathan menempatkan Aster di bawah kungkungan tubuhnya.
Nathan melepaskan ciumannya sesaat, iris kirinya mengunci sepasang hazel milik Aster."Aku sudah siap, sampai kapan Paman akan menahannya?"
"Apa kau yakin untuk ini?" Tanya Nathan memastikan, dan Aster mengangguk meyakinkan.
"Tentu saja aku yakin. Toh kita sudah resmi menjadi suami-istri, jadi tidak ada alasan lagi untuk kita menundanya lebih lama lagi." Tuturnya.
Nathan mengecup singkat bibir Aster."Baiklah, bukan aku yang memaksamu, tapi kau sendiri yang menginginkannya." Sekali lagi Nathan mencium bibir Aster dengan lebih panjang dan lebih bergairah.
Aster tidak akan menyesalinya. Karena memang dia sendiri yang menginginkannya. Dan sudah tidak ada alasan juga mereka terus menundanya. Karena bagaimana pun juga kini ia dan Nathan telah resmi menjadi suami-istri.
.
.
.
Jam dinding sudah menunjuk angka 18.00 sore. Di sebuah kamar yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Sepasang anak manusia sedang terlelap dengan saling berpelukan.
Tubuh keduanya sama-sama polos. Hanya tertutup selimut. Sepasang mutiara coklat si pria perlahan terbuka, lalu pandangannya bergulir pada jam yang menggantung di dinding.
Pria itu 'Nathan' bangkit dari berbaringnya dengan perlahan dan hati-hati, dia takut jika gerakannya akan membangunkan Istri kecilnya.
Nathan berjalan menuju kamar mandi setelah memakai kembali celananya. Tubuhnya lengket semua karena keringat dan itu terasa tidak nyaman.
Sepuluh menit kemudian Nathan keluar dari kamar mandi dan mendapati Aster masih tertidur pulas. Nathan menghampiri gadis, ralat, tapi wanita itu dan memintanya untuk mandi. Karena Nathan sudah menyiapkan air hangat untuknya.
"Sayang, bangun. Mandi gih, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Setelah ini kita makan malam sama-sama."
Dengan enggan, Aster membuka matanya dan mengangguk. Sebenarnya wanita itu masih sangat malas untuk bangun, tapi mau bagaimana lagi? Tubuhnya terasa lengket semua.
Sungguh!! Pergulatannya dengan Nathan benar-benar menguras hampir seluruh tenaganya. Dan dia benar-benar sangat lelah.
-
Bersambung.
__ADS_1