
"PAMAN NATHAN!!"
Teriakan Aster menggema ke seluruh penjuru ruangan bernuansa putih tersebut. Membuat siempunya kamar mau tidak mau menoleh pada asal suara. Dia melihat kedatangan putri tirinya.
Nathan menutup laptopnya kemudian bangkit dari duduknya. "Ada apa? Kenapa kau sampai berteriak?"
"Paman, apa kenapa selama ini Paman tidak pernah mau jujur padaku? Kenapa Paman harus menyembunyikan sebuah rahasia yang begitu besar dariku? Kenapa Paman tidak pernah mengatakan jika Paman adalah seorang Boss Mafia yang begitu disegani dan ditakuti?"
Meskipun hanya sekilas saja. Keterkejutan terlihat jelas pada raut wajah Nathan. Dalam benaknya dia bertanya-tanya dari mana Aster bisa mengetahui rahasia yang selama ini mati-matian dia tutupi.
"Dari mana kau mengetahui hal itu? Siapa yang sudah memberitahumu?"
"Tidak penting siapa yang memberitahuku, Paman hanya perlu mengatakan yang sebenarnya padaku. Kenapa Paman harus menjadi seorang Mafia dan terlibat dalam dunia kriminal?"
Nathan mendesah berat. "Memangnya apa yang perlu aku katakan padamu? Aku tidak memiliki alasan apalagi hal yang harus aku jelaskan padamu!! Kau hanya perlu fokus pada pendidikanmu, jangan terlalu ikut campur dengan urusan orang dewasa. Paman tidak suka!!"
Aster menggigit bibir bawahnya. Nyalinya seketika menciut saat melihat sorot tajam Nathan yang terlihat begitu mengerikan, meskipun hanya dari mata kirinya saja, hal itu lebih dari cukup untuk membuat Aster merasakan uji nyali.
"Kelayapan dari mana saja kau? Kenapa jam segini baru pulang? Dan pakaianmu, kenapa ada bau alkohol pada pakaian yang kau kenakan itu?"
"Aku mencari orang yang sudah membuat Tiffany masuk rumah sakit, dan ternyata bajingan itu berada di club malam,"
"Dan kau mencarinya ke sana?!" Ucap Nathan menyela kalimat Aster.
Gadis itu mengangguk. "Ya, aku pergi ke sana." Jawabnya membenarkan.
Nathan menggeram sambil mengusap kasar wajahnya. "Aster Xiao, berada kali lagi aku harus memperingatkan-mu agar kau tidak pergi ke tempat seperti itu?"
"Apa kau tidak tau bahaya apa yang akan kau hadapi ketika kau menginjakkan kakimu di sana? Tempat itu bukan untuk gadis di bawah umur sepertimu!!"
"Aku sudah besar, Paman. Bahkan aku sudah 20 tahun." Jawabnya setengah bergumam.
"Dan bukan berarti aku harus mengijinkanmu datang ketempat seperti itu!! Ini sudah larut malam, sebaiknya kembali ke kamarmu!!" Pinta Nathan menuntut.
"Baik, Paman."
.
.
.
Aster terus saja menggerutu tidak jelas. Berbagai sumpah serapah keluar dari mulutnya, dan semua ia tunjukkan pada siapa lagi jika bukan Nathan.
Gadis itu benar-benar kesal setengah mati pada ayah angkatnya tersebut. Bagaimana bisa Nathan malah mengomelinya habis-habisan.
Padahal niat awalnya dialah yang akan mengomeli Nathan karena tidak mau jujur padanya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Dan parahnya lagi, Aster malah tidak berkutik sama sekali.
"KALIAN BERDUA KELUAR ATAU AKU LEMPAR KALIAN KELUAR DARI JENDELA!!" teriak Aster saat menyadari kedatangan tamu tak diundang di kamarnya.
Sosok Gavin dan Rio terlihat keluar dari tempat persembunyiannya. Gavin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sedangkan Rio mengangkat tangannya, dan jarinya membentuk huruf V.
__ADS_1
"Apa yang sedang kalian lakukan di bawah kolong meja?" Tanya Aster pada keduanya.
"Kami sedang main petak umpet dengan Nenek, Nenek yang jaga dan kami yang bersembunyi. Makanya kami sembunyi di." Jawab Gavin menjelaskan.
Aster mendengus. Sebuah jitak-kan mendarat mulus pada kepala kedua pemuda itu. "Nenek, Cucu sama Cicitnya sama saja. Sama-sama gilanya!!" Dengus Aster mencibir. "Keluar, aku mau mandi." Aster mengusir keduanya dan meminta mereka untuk keluar.
"Baiklah."
.
.
.
Setelah menanggalkan semua kain yang melekat ditubuhnya, Aster masuk ke dalam bathtub membuat air yang ada di dalamnya sedikit tumpah ruah.
Aster ingin melepas kepenatan yang menggunung didada dan kepalanya dengan berendam, barangkali dengan begitu ia bisa menenggelamkan segala kekesalan dan kesedihannya ke dalam bathtub.
Tak lupa ia pun menyiapkan beberapa lilin aromatherapy yang ia susun di tepiannya untuk lebih merelakskan otot dan pikirannya.
Kedua mata Aster yang sebelumnya terpejam, seketika terbuka saat dia mendengar derap langkah kaki seseorang yang datang. Aster menoleh kebelakang, dia melihat bayangan orang yang bersembunyi di balik tirai.
Dengan cepat Aster menyabar handuk yang ada di samping kanannya, lalu melikitkan pada tubuhnya.
Grepp...
Aster menahan sebuah belati yang mengarah padanya. Dia menarik tirai kamar mandi lalu menendang orang yang mencoba menyerangnya dengan menendang dadanya.
Plakkk...
Tapi orang itu berhasil menghalangi Aster membuka lilitan kain tersebut. Sebisa mungkin dia membalas serangan Aster yang membabi buta.
Berkali-kali Aster melayangkan serangannya pada titik vital orang tersebut. Dan tentu saja Aster bukan tandingannya.
Tak kehabisan Akal, Aster mencakar bagian leher dan lengan orang itu untuk memberikan jejak. Karena dengan begitu, dia bisa langsung mengenalinya ketika bertemu dengannya.
Aster membiarkan wanita misterius itu pergi. Namun tak lama setelahnya dia hampir saja terjatuh karena wanita itu berhasil melukai bahu kirinya. Luka bekas sayatan benda tajam terlihat jelas pada bahunya.
Sebelah matanya menyipit dan sebelah tangannya mencengkram bahunya yang terluka. "Wanita sialan itu. Lihat dan tunggu saja, aku pasti akan menemukanmu!!"
Aster mengurungkan niatnya untuk berendam dan berjalan keluar meninggalkan kamar mandi. Gadis itu keluar kamarnya dan pergi ke kamar Nathan, karena kotak obatnya ada di sana.
BRAKKK....
"ASTER!!" Nathan terkejut melihat Aster datang dengan berlumur darah. Nathan menghampiri gadis itu lalu membopongnya menuju sofa.
"Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa sampai terluka seperti ini?" Tanya Nathan menuntut penjelasan.
"Ada penyusup di kamarku. Dia bersembunyi di dalam kamar mandi. Dan ketika aku hendak mandi, orang itu langsung menyerang ku." Ujarnya menjelaskan.
"Lalu apa kau tau siapa orang itu?" Tanya Nathan memastikan.
__ADS_1
Aster menggeleng. "Aku tidak tau, Paman. Karena dia memakai penutup kepala dan pakaian yang longgar. Sehingga postur dan bentuk tubuhnya sulit di kenali. Aku meninggalkan luka pada leher dan lengannya."
"Nanti saja kita urus masalah orang itu. Yang terpenting sekarang kita obati dulu lukamu." Aster mengangguk.
Setelah mengobati bahu Aster yang terluka. Nathan pergi ke kamar gadis itu untuk mengambilkan pakaian ganti untuknya. Tak sampai 5 menit Nathan kembali dengan sebuah dress bermotif bunga setengah lengan.
"Ahhh..." Aster meringis kesakitan ketika hendak memasukkan lengan kirinya ke dalam lengan dressnya.
"Aku akan membantumu. Pelan-pelan saja." Aster mengangguk.
Aster berhasil memakai dressnya dengan bantuan Nathan. "Paman, kira-kira siapa ya, yang mencoba menyerang ku? Mungkinkah itu salah satu dari mereka bertiga?"
Aster menggeleng. "Tapi aku rasa tidak mungkin karena mereka dalam keadaan terluka. Jangankan untuk berkelahi, berdiri dengan benar saja mereka tidak mampu. Lalu siapa?"
"Paman akan menyelidikinya, dan Paman tidak akan melepaskan orang itu setelah menemukannya. Sebaiknya kau istirahat saja."
"Tapi di sini. Aku ingin tidur di kamar ini dengan, Paman." Rengek Aster memohon.
Nathan mendengus geli. Dan dia tidak memiliki pilihan lain selain mengiyakannya. Karena dilarang pun Aster akan tetap memaksa, mengingat seberapa keras kepalanya dia.
"Baiklah, kau boleh tidur di sini."
.
.
.
Malam semakin larut. Namun Nathan masih tetap terjaga. Ia tak kunjung tidur. Ada banyak hal yang menggangu pikirannya, salah satunya adalah mengenai insiden yang dialami oleh putri angkatnya.
Nathan sangat penasaran siapa orang yang berusaha mencelakai Aster. Apalagi tidak ada CCTV di sana sehingga akan sedikit sulit untuk menemukannya.
Nathan beranjak dari tempat tidurnya lalu berdiri di depan jendela, menggeser dan membuka lebar kaca jendela tersebut, mempersilahkan angin malam yang lumayan dingin berhembus masuk ke dalam ruangan.
Pria itu merogoh saku depan kemeja lengan terbukanya, ia mengeluarkan sebungkus rokok dan sebuah pematik api dengan motif naga dari dalamnya, mengambil satu lalu menyulutnya.
Jari tangan kanannya menarik turun benda hitam bertali yang hampir 2 Minggu melekat pada mata kanannya. Mata itu memang sudah terlihat baik-baik saja, hanya saja belum bisa beradaptasi dengan sinar lampu ataupun cahaya matahari.
Mata kanan Nathan sering kali berdenyut sakit setiap terkena sinar, baik itu sinar lampu ataupun matahari. Itulah kenapa dia tetap menutupnya ketika siang hari dan melepaskannya saat akan tidur.
Dan semenjak mata kanannya mengalami cidera, Nathan tidak pernah menggunakan penerangan ketika tidur. Dia hanya mengandalkan sinar bulan yang sedikit temaram.
Nathan menyalakan sebatang rokok beraroma mint kesukaan dan menyesapnya lama, menikmati rasa manis nikotin di bibirnya.
Kepulan asap rokok dihembuskan begitu nikmat dari mulut dan lubang hidungnya, benda terkutuk itu memang menjadi candu bagi Nathan sejak lama.
Dan hanya dengan menghisap sebatang rokok, dia bisa mengembalikan ketenangan pikirannya ketika sedang kacau.
"Siapa pun dirimu, dimana pun kau bersembunyi. Aku pasti akan menemukanmu!!"
-
__ADS_1
Bersambung.