
"KYYYAAA!!! KEBAKARAN!!!"
Suasana pagi yang semula tenang seketika menjadi ambyar karena ulah Aster yang membuat kepulan asap putih memenuhi dapur. Aster yang mencoba untuk belajar memasak malah nyaris membakar dapur.
Nathan, Zhoumi dan beberapa orang menghampiri Aster yang tampak panik ketakutan. Mereka terkejut melihat dapur dipenuhi asap yang berasal dari sebuah pengorengan yang ada di atas kompor yang menyala.
"ASTER, APA-APAAN KAU INI? APA KAU INGIN MEMBAKAR VILLA!!" Bentak Nathan penuh emosi.
Dan inilah alasan kenapa Nathan tidak pernah mengijinkan Aster masuk kedapur. Meskipun Aster adalah seorang perempuan, namun tingkat kepayahan dalam hal memasak memang tidak bisa diragukan lagi.
"Huaaa!!! Paman!!" Aster pun langsung melompat ke dalam pelukan Nathan."Huhuhu!! Paman, aku hampir saja membakar dapur."
"Berapa kali lagi Paman harus memperingatkanmu supaya kau tidak usah masuk ke dapur!! Kenapa kau sulit sekali diberi tau?!" Tampaknya Nathan benar-benar hilang kesabaran sekarang.
"Kenapa Paman malah memarahiku? Aku kan hampir saja celaka, seharusnya Paman bertanya 'Sayang, apa kau baik-baik saja?' bukannya malah memarahiku?!"
"Berhentilah bersikap melankolis dan kekanakan, Aster Xiao!! Apa kau tau bahaya apa yang kau timbulkan dari ulahmu ini? Bukan hanya nyawamu yang berada dalam bahaya, tapi kita semua!!" Nathan semakin emosi karena Aster membantah ucapannya.
Aster memanyunkan bibirnya. "Iya, iya aku salah. Tapi tidak usah membentak juga!!" Aster menundukkan kepalanya. Suaranya berubah parau.
Nathan mendesah berat. Diraihnya bahu Aster ke dalam pelukannya. Beginilah Nathan, semarah dan seemosi apapun dia, jika sudah melihat air mata Aster pasti akan luluh juga.
"Maaf, Sayang. Paman tidak bermaksud untuk membentak apalagi melukai perasaanmu. Tindakanmu sungguh sangat berbahaya. Mengertilah kenapa Paman tidak pernah mengijinkan-mu untuk menginjakkan kaki di dapur. Karena Paman tidak ingin hal semacam ini kembali terulang!!"
Aster mencengkram kemeja yang membalut tubuh Nathan. "Aku yang seharusnya minta maaf, aku hanya mencoba untuk menjadi istri yang baik. Menyiapkan sarapan dan kopi untuk Paman. Tapi aku selalu saja gagal melakukannya." Aster menyesali kebodohannya.
Nathan menggeleng. "Kau tidak perlu melakukan semua itu. Aku tidak menuntut-mu untuk bisa ini dan itu. Cukup dengarkan aku dan jangan pernah membantahku!!"
"Baiklah, aku berjanji."
Sementara itu...
Zhoumi yang melihat adegan mesra mereka berdua hanya bisa gigit jari. Dia sungguh sangat iri dengan kemesraan Nathan dan Aster. Mereka bermesraan di depan bujang abadi seperti dirinya.
"Sungguh malang nasib BU-DI sepertiku. Harus melihat pasangan suami-istri bermesraan." Zhoumi gigit jari.
Dengan hati dan perasaan yang meronta-ronta. Zhoumi meninggalkan mereka berdua. Sedangkan masalah dapur yang nyaris terbakar sudah teratasi sejak beberapa menit yang lalu.
-
Pria itu terlihat mondar mandir tidak jelas di ruangannya. Ini sudah lebih dari 10 jam, tapi anak buahnya yang dia kirimkan untuk menyerang kediaman Nathan belum juga kembali.
Pria itu mencoba menghubungi salah satu dari mereka. Namun ponselnya tidak ada yang bisa dihubungi. Pria itu tidak tau, apakah mereka masih hidup atau justru sudah dibantai oleh Nathan.
Hanya orang bodoh yang berani mencari masalah dengan orang seperti Nathan. Nathan adalah bentuk iblis dalam wujud malaikat. Dan harga mahal yang harus mereka bayar ketika berurusan dengan Nathan adalah kematian.
"Tuan," pria itu menoleh ketika mendengar seseorang memanggilnya.
"Dimana mereka? Kenapa mereka belum kembali juga sampai sekarang?!"
"Saya menghabisi mereka yang masih tersisa, Tuan. Akan sangat berbahaya jika salah satu dari mereka sampai membuka mulut."
Pria yang dilangg Tuan itu pun mengangguk paham. "Itu lebih baik. Kau sudah bekerja keras, kau boleh pergi." Pria itu menarik napas panjang dan menghelanya perlahan.
__ADS_1
Ia berjalan menuju dinding kaca di samping tempat tidurnya. Menatap salah satu mahakarya Tuhan yang begitu luar biasa. Sinar mentari pagi.
Kedua tangannya terkepal kuat. Dan matanya berkilat tajam. "Ayah, bersabarlah sebentar lagi. Tak lama lagi, ayah. Tak lama aku pasti bisa membalaskan dendam mu pada keluarga Xiao!! Memalui putranya aku akan membalaskan dendam mu pada Xiao Murten!"
-
"Sialan, siapa yang berani mengganggu kesenanganku?!"
Ben Arnold berteriak marah ketika seseorang tiba-tiba saja mendobrak pintu kamarnya saat dia sedang bercinta bersama kucing-kucing liarnya.
"Aku!!"
Ben Arnold terkejut bukan main karena kemunculan Nathan yang begitu tiba-tiba. Ben yang masih dalam keadaan bulat mencoba meraih kain apa pun untuk menutupi tubuhnya.
"Kau!! Bukankah kau sudah mati? Sedang apa kau disini?" Tanya Ben menuntut.
Nathan menyeringai tajam. "Terkejut melihatku masih hidup? Dan tentu saja untuk membalas apa yang sudah kau lakukan padaku 3 bulan yang lalu."
"Jangan bercanda kau, Nathan Xiao!! Memangnya apa yang bisa kau lakukan padaku? Kau hanya sendiri!!"
"Memangnya kenapa jika aku hanya sendiri? Lagipula apa yang bisa dilakukan oleh anak buah mu padaku jika mereka semua sudah menjadi mayat?!" Ucap Nathan dengan seringai yang sama.
"Apa yang kau lakukan pada mereka?!"
"Tidak ada, aku hanya membuat mereka tertidur pulas saja."
"Kurang ajar!!"
DORR...
DORR DORR DORR...
Tiga tembakan beruntun Nathan lepaskan pada Ben dan nyaris saja meledakkan sosis berurat serta dua telornya. Ben berteriak ketakutan, sedangkan tiga kucing liar yang menemani Ben sudah Nathan perintahkan untuk keluar.
Tiba-tiba seseorang menerobos masuk ke dalam ruangan itu dan melepaskan tembakan pada Nathan.
Dorrr!
Tringg
Suara tembakan dan peluru yang melesat berhasil dibelokkan oleh Nathan hanya dengan menggunakan pisau komando. Tampak Ben dan orang yang memegang senjata itu terpanah melihat keahlian dan kehebatan Nathan.
Nathan yang melihat ada kesempatan saat mereka terpana. Ia bergerak dengan cepat kearah laki-laki yang memegang pistol. Laki-laki itu cepat menyadari, ia bereaksi dengan mengacungkan kembali pistolnya tapi terlambat.
Karena Nathan lebih dulu meraih tangannya dan menikamkan pisaunya dibawah ketiaknya sehingga tangan yang memegang pistol jadi terkulai lemas. Nathan meraih pistol yang dipegang laki-laki tadi.
Dorr..dor..dorrr
Terdengar beberapa kali tembakan membuat semua anak buah Ben yang tersisa ambruk sebelum sempat melakukan apa-apa. Tinggallah Bem seorang diri, kejadian yang sangat cepat terjadi depannya sehingga ia tidak sempat memakai pakaiannya.
"Tu-Tuan Xiao, saya mohon jangan bunuh saya. Ampuni saya." Ben sangat ketakutan melihat Nathan bisa menghabisi seluruh anak buahnya dengan cepat. "A..aku a..akan akan melakukan apapun jika Anda mau melepaskanku."
"Baiklah. Aku tidak akan membunuhmu" Hanya itu tanggapan Nathan, namun matanya menyiratkan sesuatu. "Tapi bisakah kau angkat tanganmu"
__ADS_1
"Ta-tapi Anda tidak akan membunuh saya, kan?" Akuma berharap.
"Tentu saja aku tidak akan mencabut nyawa busukmu." Bentak Nathan penuh emosi"Sudah jangan banyak tanya, cepat angkat saja tanganmu, cepat!"
Dengan takut-takut Bem mengangkat kedua tangannya. Nathan menyibak kain yang menutupi tubuh polosnya dan...
Ckrasshh….
Aaaaaarrrrrghhhh.
Ben melolong sambil memegang selangkangnya, rupanya Nathan telah memotong sosis beruratnya.
"Aku memenuhi janjiku tidak akan membunuhmu, untuk saat ini. Tapi aku tidak bisa menjamin bagaimana nasibmu beberapa menit ke depan." Nathan tersenyum sinis.
"A-Apa maksudmu?"
"Aku menaruh bebeberapa bom aktif di rumah ini. Dan bom itu akan meledak kurang dari 5 menit!!"
"A-APA?!" Ben memekik kencang. Ben hendak bangun dan berlari keluar namun rasa sakit pada selangkangannya membuatnya kembali terjatuh.
Nathan melambaikan tangannya sambil menyeringai tajam. Ia membiarkan Ben kembali menggelinjang, menggeliat seperti cacing kepanasan. Nathan menghitung mundur di tengah langkahnya.
DUAAARRRRR
Dan tepat di hitungan kesepuluh semua bom yang dia dipasang di bangunan berlantai dua itu meledak. Sesaat setelah mobil Nathan meninggalkan halaman luasnya. Tubuh Ben pun terpanggang hidup-hidup di dalam sana.
-
"Paman, apa yang terjadi pada wajahmu? Kenapa kau bisa terluka begini? Lengan dan lehermu juga?"
Setibanya di Villa Nathan langsung diberondong pertanyaan oleh Aster. Aster terkejut melihat Nathan pulang dalam keadaan terluka dan berdarah.
"Hanya luka gores saja. Tidak perlu cemas. Bisakah kau menyiapkan air hangat untukku? Aku ingin berendam sebentar." Aster mengangguk. Kemudian dia beranjak dari hadapan Nathan dan pergi begitu saja.
Derap langkah kaki seseorang yang datang membuat perhatian Nathan teralihkan. Terlihat Leon dan Dio berjalan menghampirinya.
"Bagaimana dengan pekerjaan kalian?"
"Kami sudah berhasil meringkus mata-mata itu. Dan sekarang dia ada di ruang bawah tanah."
"Kerja bagus. Ini bonus untuk kalian." Nathan melemparkan sebuah amplop yang penuh dengan uang pada mereka berdua. Leon dan Dio yang kegirangan langsung berteriak heboh.
"Terimakasih Boss, kau memang yang terbaik. Kami pergi dulu."
"Hn."
Tak lama setelah kepergian mereka berdua. Aster datang menghampiri Nathan. "Paman, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Sebaiknya kau segera mandi. Aku juga sudah menyiapkan pakaian ganti untukmu."
Nathan menghampiri Aster kemudian mengecup singkat bibirnya. "Terimakasih, Sayang." Nathan beranjak dari hadapan Aster dan pergi kekamar mereka yang berada di lantai dua. Sedangkan Aster pergi ke taman belakang untuk memetik beberapa tangkai bunga.
Nathan tau jika Aster sangat menyukai bunga Mawar. Itulah kenapa dia selalu menanam bunga cantik itu disemua tempat tinggalnya.
-
__ADS_1
Bersambung.