
Setelah sekian purnama. Akhirnya hari ini Aster bisa kuliah lagi. Nathan menyetujuinya dan memberinya ijin untuk beraktifitas di luar rumah secara penuh setelah insiden berdarah di kampus lamanya dua bulan yang lalu.
Aster menuruni tangga dan menghampiri Nathan yang sudah menunggunya di meja makan bersama Gavin, Rio dan Nenek Xiao.
Melihat keberadaan Nenek Xiao diantara mereka membuat Aster tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Pasalnya sudah berbulan-bulan dia tidak pulang.
"NENEK BUYUT!!" teriak Aster dan langsung menubruk tubuh renta wanita tua itu. "Aku sangat merindukan Nenek Buyut."
"Nenek Buyut juga sangat merindukanmu, Sweet Heart." Jawabnya dan balik memeluk Aster.
"Lama tidak pulang dan pergi ke berbagai negara. Lalu oleh-oleh untukku mana?" Aster membuka genggaman tangannya dan meminta oleh-oleh pada sang Nenek.
"Tentu saja ada. Ini semua untukmu,"
"Lalu untuk kami mana?" Tanya Rio mewakili Gavin.
"Untuk kalian masih ada di mobil. Nanti saja, kalian bisa mengambilnya sendiri. Bukan hanya untuk kalian berdua, tapi untuk cucu kesayangan Nenek juga. Nathan, Nenek sudah membelikan sesuatu yang sangat-sangat special untukmu."
Nathan memicingkan matanya. "Aku harap bukan sesuatu yang aneh." Entah kenapa Nathan memiliki firasat yang tidak baik. Apalagi melihat Aster dan Nenek Xiao yang saling melemparkan pandangan.
"Tentu saja bukan, hanya sesuatu yang bisa membuat istri kecilmu ini bahagia." Jawabnya.
"Di mana oleh-oleh untuk Paman Nathan, Nenek Buyut? Aku ingin melihatnya." Aster begitu antusias.
"Masih ada di mobil. Nanti saja setelah kita sarapan."
"Aku rasa setelah pulang kuliah, aku sudah mulai kuliah lagi dan ini hari pertamaku dan aku tidak mau sampai telat di hari pertamaku."
"Baiklah, Sayang. Terserah kau saja. Ya sudah, ayo kita sarapan sekarang. Nenek sudah sangat lapar." Keempatnya mengangguk.
Dan selanjutnya hanya keheningan yang terasa. Tidak ada percakapan antara mereka berlima, hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang saling bersentuhan.
-
Sebuah mobil sport mewah baru saja memasuki parkiran YS University. Seorang perempuan cantik bertubuh langsing dan berkaki jenjang terlihat keluar dari pintu kemudi. Di ikuti perempuan lainnya yang duduk di jok sampingnya.
Keduanya tak langsung meninggalkan parkiran. Pandangan mereka menyapu ke segala penjuru arah. Tidak buruk juga, pikir keduanya.
Mereka adalah Tiffany dan Aster. Sejak S.N.U rata menjadi tanah, keduanya memutuskan untuk tidak berkuliah dulu sampai keadaan benar-benar aman. Dan hari ini adalah hari pertama mereka kembali ke bangku kuliah.
"Aster, Fanny!!" Seru seseorang dari arah belakang. Keduanya melambaikan tangan, menyambut Benno dan Benni.
"Huaaa~Akhirnya kita berempat satu kampus lagi." Ucap si kembar sambil memeluk kedua perempuan itu. Mereka terlihat sangat bahagia.
Mereka mengakhiri pelukannya saat sadar jika saat ini mereka tengah menjadi pusat perhatian. Beberapa dari mereka saling berbisik dan membicarakan mereka berempat.
"Sudahlah, ayo kita ke kekas sekarang." Ketiganya mengangguk.
Jika sebelumnya mereka mengambil jurusan yang berbeda. Namun kali ini mereka berempat memutuskan untuk mengambil jurusan yang sama. Yakni fakultas kedokteran.
Bruggg...
__ADS_1
Semua buku yang ada di tangan Aster jatuh berserakan setelah seseorang tanpa sengaja menabraknya. Orang itu pun segera berlutut untuk membantu Aster mengambil kembali buku-bukunya.
"Maaf, Nona. Aku tidak sengaja." Ucap pemuda itu penuh sesal.
"Lain kali kalau jalan jangan hanya pakai kakimu, tapi juga matamu!!" Gerutu Aster, dari nada bicaranya terdengar jelas jika dia sangat kesal pada pemuda itu.
"Iya, aku tadi sedikit terburu-buru. Aku belum pernah melihat kalian berempat sebelumnya. Apa kalian adalah mahasiswa baru di kampus ini? Perkenalkan aku Jordan, dan aku senior kalian."
"Aku Tiffany, dan gadis galak ini namanya Aster. Sedangkan mereka berdua Benno dan Benny." Bukannya Jessica, malah Tiffany yang menerima uluran tangan Jordan.
Jordan sedikit terkejut saat seseorang tiba-tiba saja memeluk lengannya. "Aku mencarimu kemana-mana dan ternyata kau ada di sini. Ayo, kau harus membantuku."
"Yakk!! Veronica, pelan-pelan kenapa. Kenapa harus terburu-buru sih?" geram Jordan kesal.
"Ck, berhentilah menjadi Playboy yang tak tau diri. Mereka adalah junior-mu dan berhenti tebar pesona pada anak baru." Omel perempuan bernama Veronica tersebut.
Jordan mendengus. "Kenapa kau ini harus berisik dan bawel sekali sih!!" Keluh Jordan namun tidak dihiraukan oleh Veronica.
Ditengah langkahnya Jordan menyempatkan diri untuk menoleh kebelakang, pria itu tersenyum ketika menatap Aster. Dan sepertinya Jordan jatuh cinta pada wanita itu sejak pertama kali menatap matanya.
.
.
.
"Aster,"
"Terimakasih, Senior."
"Tidak perlu sungkan, Oya kamu sudah makan siang? Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" Usul Jordan memberi penawaran.
"Aku rasa tidak bisa, Senior. Dia sudah ada janji makan siang bersama kami." Ucap Tiffany yang muncul secara tiba-tiba bersama si kembar. "Kalau, Senior mau, Senior ikut bergabung saja. Karena kami tidak bisa membiarkan kalian makan siang berdua saja."
Jordan memicingkan matanya. "Memangnya kenapa?"
"Karena kami juga lapar, dan kami berempat tidak terbiasa makan siang terpisah." Jawab si kembar dengan kompak.
Tawa Aster hampir saja meledak. Alasan macam apa itu, pikirnya. Tapi dia harus berterimakasih pada mereka, karena mereka dia tidak perlu makan berdua saja dengan Jordan.
"Sudah terima saja. Bukankah kau ingin dekat dengan mereka juga." Tiba-tiba saja Veronica datang dan bergabung bersama mereka. "Apa aku boleh ikut bergabung?"
"Tentu saja." Jawab keempatnya dengan kompak.
.
.
.
Di sini mereka sekarang. Mereka berenam berkumpul di kantin kampus. Meskipun ini pertama kalinya mereka bertemu dengan Veronica, tapi mereka langsung akrab karena dia adalah perempuan yang sangat menyenangkan.
__ADS_1
Ting...
Perhatian Aster teralihkan oleh denting pada ponselnya. Sebuah pesan masuk dari Nathan."Maaf, aku duluan ya. Seseorang menjemputmu untuk makan siang bersama."
"Ya sudah, sana cepat pergi, jangan sampai dia menunggumu terlalu lama." Ucap Tiffany yang kemudian dibalas anggukan oleh Aster.
Tanpa Aster menyebutkan namanya pun. Tiffany, Benny dan Benno sudah tau siapa orang yang Aster maksud.
Sedangkan Jordan langsung penasaran, apakah orang itu begitu istimewa untuk Aster sampai-sampai dia buru-buru untuk pergi.
Jordan mengangkat wajahnya dan menatap Tiffany dengan serius. "Jika aku boleh tau. Siapa memangnya yang menjemput, Aster?" Tanya Jordan penasaran.
"Oh itu, ayah angkatnya. Namanya Paman Nathan." Jawab Tiffany dan kemudian menyantap makan siangnya.
Jordan tiba-tiba saja berdiri dan berjalan kearah jendela di samping kanannya. Dari sana dia bisa melihat orang-orang yang ada diparkiran maupun bagian depan kampusnya.
Dari tempatnya berdiri, Jordan melihat Aster yang sedang berbincang dengan seorang pria muda. Mereka terlihat sangat dekat dan akrab, jadi tidak mungkin jika itu adalah ayah angkatnya.
Apalagi peia itu terlihat sebaya dengannya, bahkan mungkin lebih muda daripada dirinya. Begitulah yang Jordan pikirkan. Padahal usia Nathan sudah 30 tahun, bahkan lebih. Wajahnya yang baby face yang membuatnya terlihat muda di usianya yang sudah matang.
"Apa yang kau lakukan di sana? Jordan, kemari lah. Makananmu sudah hampir dingin tau." Seru Veronica. Jordan pun meninggalkan tempatnya berdiri dan kemudian menghampiri mereka berempat.
"Iya, iya, kenapa kau ini cerewet sekali sih!!"
-
Nathan menghentikan mobilnya di sebuah restoran mewah yang tak jauh dari kampus baru Aster. Pria itu terlihat turun dari mobilnya, diikuti Aster yang kemudian berjalan disampingnya sambil memeluk lengan Nathan.
Aster dan Nathan berjalan beriringan memasuki restoran tersebut. Mereka memilih tempat VIP karena mereka tidak ingin ada yang mengganggu makan siangnya.
"Tuan, Nona, ini pesanan Anda berdua." Seorang pelayan menghampiri mereka, mengantarkan pesanan keduanya.
Aster melihat si pelayan sesekali mencuri pandang pada Nathan.
Aster juga melihat pelayan wanita itu membuka membusungkan dadanya yang besar ke dapan, bermaksud untuk menggoda Nathan. Tapi sayangnya Nathan tidak peduli sama sekali. Dan malah mengabaikannya.
"Garpu ini sangat tajam. Jika aku gunakan untuk menusuk mata ulat bulu pasti akan langsung buta."
Aster menusukkan garpu itu pada steak yang ada di atas meja. Namun pandangannya tertuju pada si pelayan yang langsung pucat. Sedangkan Nathan memilih diam dan tidak memberikan tanggapan apapun.
Dia membiarkan Aster bertindak sesukanya. Selama ini masih ada di batas wajar. Lagipula dia juga merasa terganggu dengan sikap dan perilaku pelayan itu. Dan Nathan sangat berterimakasih pada sang istri tercinta.
"Sudah, kita makan sekarang. Kau keluarkan."
"Baik, Tuan."
Dan sekarang mereka bisa melewatkan makan siangnya dengan tenang. Aster tidak perlu emosi lagi hanya karena ulah pelayan centil itu.
-
Bersambung.
__ADS_1