
Kepoin juga ya new Novel author di Akun ke dua "JESSICA_226"
-
Aster menatap puas sebuah long Vest hitam yang baru saja selesai dia jahit. Rencananya Aster akan memberikan long Vest itu sebagai kado ulang tahun Nathan yang ke 32.
Ulang tahunnya dan Nathan hanya berbeda satu hari saja. Kemarin Nathan sudah memberikan sebuah kejutan manis untuknya, dan sekarang giliran Aster yang akan memberikan kejutan kecil itu pada Nathan.
Mendengar deru suara mobil yang memasuki halaman membuat wanita itu kalang kabut. Buru-buru Aster menyimpan long Vest itu ke tempat aman sebelum di lihat oleh Nathan. Tidak etis kan jika Nathan melihat kado itu sebelum waktunya.
Aster pun segera keluar dan menyambut kedatangan suami tampannya itu. Dari lantai dua, Aster melihat Marta yang mencoba memberikan perhatian pada Nathan dengan membuatkan jus dingin untuknya.
Tak kehabisan akal. Aster pun segera menjalankan aksi gilanya. "Oppa, tangkap aku." Teriak Aster yang saat ini sudah berdiri di pagar pembatas lantai dua.
Sontak mata kiri Nathan membelalak melihat hal gila yang dilakukan oleh istrinya tersebut. Nathan pun segera berlari dan menangkap tubuh Aster dengan tepat waktu. Kedua lengan Aster mengalung pada leher Nathan.
"Tangkapan yang bagus, Oppa." Ucapnya sambil mengeringkan mata.
"Aster, apa kau sadar dengan apa yang baru saja kau lakukan?" Bentak Nathan dengan nada meninggi. "Bagaimana jika aku tidak bisa menangkap mu dengan tepat waktu?!"
"Paling juga mati!!" Sahut Marta menimpali.
"Diamlah, aku tidak bicara padamu!!"
Alih-alih merasa bersalah dan segera meminta maaf pada Nathan karena sudah melakukan hal gila yang membuat jantungnya hampir meloncat keluar. Aster malah terkekeh geli melihat eskpresi Nathan yang sedang marah.
"Bukankah itu tadi sangat keren? Seperti di film-film laga."
"Berhentilah melakukan tindakan gila yang bisa membahayakan nyawamu!! Sekali lagi kau melakukannya, ku pastikan kau mendapatkan hukuman yang sangat berat. Bukan hanya 7 hari, tapi aku akan membuatmu tidak bisa berjalan selama 1 bulan!!"
"WHAT?!" sontak kedua mata Aster membelalak saling kagetnya. Mendengar ancaman Nathan yang begitu mengerikan, Aster tidak akan lagi-lagi melakukan kegilaan."Ini yang pertama dan terakhir kalinya. Aku tidak mau tersiksa lagi seperti kemarin!!" Ujarnya. Ancaman Nathan lebih mengerikan dari pada harus bertemu setan.
"Bagus, pilihan yang bijak." Kemudian Nathan menurunkan Aster dari gendongannya."Dimana nenek buyutmu? Ada hal penting yang harus dibicarakan dengannya."
"Nenek buyut sudah pergi lagi. Dia bilang masih ada beberapa negara yang belum sempat dikunjungi."
"Pergi lagi?" Aster mengangguk. "Wanita tua itu, kapan dia akan berhenti menghambur-hamburkan uang untuk hal tidak penting seperti ini?!" Geram Nathan frustasi.
"Sudahlah, Oppa. Biarkan saja, biarkan dia merasakan kebahagiaan diusia senjanya. Selama itu membuatnya senang dan sehat, kenapa harus di larang?"
__ADS_1
Nathan mengacak rambut coklat Aster. "Kau benar. Aku mau mandi. Bisakah kau menyiapkan air hangat untukku?" Aster pun mengangguk dengan antusias. Aster memeluk lengan Nathan dan keduanya berjalan beriringan menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
"Minggir!" Tubuh Marta sedikit terhuyung karena senggolan Aster para pundaknya.
Wanita itu menggelapkan tangannya dan meneriaki Aster dengan berbagai sumpah serapahnya. Tapi sayangnya Aster tidak peduli dan tak mau ambil pusing. Aster menganggap jika Marta adalah orang gila yang kehabisan obatnya.
"Aster Xiao!! Kau sangat menyebalkan, wanita sialan, aku pasti akan membalas mu!!"
-
"Aaahhh."
Kelopak mata itu terbuka perlahan. Hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit sebuah ruangan bernuansa serba putih dengan aroma menyengat yang begitu khas. Mata hitamnya memperhatikan sekelilingnya, dan dia baru sadar jika saat ini tengah terbaring lemah di rumah sakit.
"Tuan Zhong, Anda sudah sadar?!"
"Roy, aku ada dimana? Kenapa aku bisa berada di tempat ini?" Tanya Bastian meminta penjelasan.
"Dua hari lalu Anda mengalami sebuah insiden yang nyaris saja merenggut nyawa Anda Tuan, beruntung saya membawa Anda ke rumah sakit dengan tepat waktu. Sehingga nyawa Anda berhasil diselamatkan."
"Aku mengingatnya. Si brengsek itulah yang mencoba membunuhku!!"
Bastian kembali berbaring dan menuruti apa yang Roy katakan. Tangan kanannya terkepal kuat. Dia tidak bisa menerima hal ini, Bastian akan membalas Nathan setelah dia keluar rumah sakit.
"Keluarlah, aku ingin istirahat." Ucap Bastian yang kemudian dibalas anggukan oleh Roy.
"Baik, Tuan." Ucapnya dan berlalu."
Bastian bersumpah akan memberikan balasan pada Nathan 10 kali lipat dari apa yang telah dia lakukan pada dirinya ini. Bastian tidak bisa menerima penghinaan ini. Bagaimana pun caranya, pokoknya Nathan harus mati ditangannya.
-
Kretekk... Kretekk... Kretekk...
Baru saja Marta hendak menutup matanya. Namun suara aneh yang berasal dari balkon membuat matanya kembali terbuka.
Marta segera menyalahkan lampu kamarnya dan berjalan keluar untuk melihat apakah ada orang, tapi kosong. Tidak ada siapapun disana. Marta pun kembali ke dalam kamarnya dan kembali berbaring.
Lampu di kamarnya tiba-tiba mati, Marta terkejut dan segera menolehkan kepala, tidak ada siapapun di sana.
Dia mulai ketakutan, tubuhnya terasa membeku dan tak bisa digerakkan seiring suara pintu yang terbuka menderit menyeramkan dalam jangka panjang, hingga benar-benar terbuka penuh.
__ADS_1
Kedua mata Marta membelalak sempurna melihat sosok wanita bergaun putih kedodoran berambut hitam berantakan berdiri diambang pintu sambil meringis seram. Memperlihatkan gigi ompong dan panjang taringnya.
"Kkkyyyaaa!!! Hantu.."
Marta segera menutup sekujur tubuhnya dengan selimut dalam posisi menyamping. Matanya kembali terbuka lebar saat sosok berwajah putih dengan lingkaran hitam berbentuk hati pada kedua matanya. Dia memakai kostum berwarna merah muda.
"Aaahhhh." Marta kembali berteriak dan menendang hantu poci itu hingga terjatuh dari atas tempat tidur.
"Wowo boleh kenalan tidak?"
"Kkkyyyaa!!! Setan hitam!!" Marta melemparkan Vas bunga dan mendarat mulus pada kepala Mr.Wowo.
Marta berusaha untuk berlari meninggalkan kamarnya. Namun langkahnya di cegat oleh Suketi yang masih tersenyum mengerikan padanya. Dan endingnya Marta jatuh pingsan karena ketakutan.
Ketiga hantu asal negara I itupun langsung mendesah kecewa. Pasalnya orang yang ingin mereka ajak bersenang-senang malah jatuh pingsan.
"Dia tidak asik. Ayo kita pergi saja."
-
"Kyyyaaa...!! Hantu..."
Kelopak mata Aster yang sebelumnya tertutup rapat kembali terbuka setelah mendengar jeritan dari salah satu kamar tamu. Lebih tepatnya kamar tamu yang ditepati oleh Marta.
Aster tidak tau apa yang terjadi pada wanita itu sampai-sampai dia berteriak histeris. Tapi Aster berani bersumpah jika itu adalah perbuatan Suketi dan kedua suaminya.
"Ada apa?" Tegur Nathan yang juga ikut membuka matanya.
"Aku mendengar teriakan Marta yang ketakutan. Pasti tiga hantu gila itu menunjukkan eksistensinya lagi dengan menampakkan wujudnya di depan Marta."
"Sudahlah, biarkan saja. Sebaiknya kita tidur lagi, ini masih malam." Ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Aster.
Lagipula untuk apa juga dia peduli pada wanita menyebalkan itu.
Biarkan saja trio hantu gila mengganggunya, dengan begitu lama-lama Marta akan terkana tekanan mental, dan akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke negara Asalnya karena Aster sudah muak melihat keberadaannya di rumah apalagi kelakuannya.
Aster pun kembali menutup matanya dan menenggelamkan dirinya di dalam dekapan hangat Nathan.
-
Bersambung.
__ADS_1