"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Kebenaran Yang Tersembunyi


__ADS_3

Aster membersihkan luka bekas sayatan yang ada di lengan dan pipi Nathan. Luka itu Nathan dapatkan ketika dia terlibat perkelahian dengan beberapa pembegal yang mencoba merampok mereka.


Tidak ada luka berarti yang Nathan dapatkan. Selain luka pada lengan atas dan pipinya. Setelah membersihkan darahnya dan memberikan obat pada lukanya, kemudian Aster membebat-nya dengan perban dan plaster.


"Paman, sangat hebat. Menghadapi orang sebanyak itu tapi hanya mendapatkan beberapa luka ringan saja."


"Jujur saja, aku sangat penasaran dengan keahlian Paman ketika mengalahkan mereka. Bukan, tapi membantai mereka. Oh, bukan-bukan, tapi memberi pelajaran pada mereka. Mungkin bukan, tapi-"


CHU....


Nathan membungkam bibir Aster sebelum gadis itu semakin banyak bicara. Aster sempat terkejut, namun beberapa saat kemudian dia menerima ciuman itu dengan baik, bahkan tak ragu Aster membalasnya.


Aster mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan. Aster kemudian berpindah dan duduk dipangkuan ayah angkatnya.


Gadis itu menyeringai nakal saat merasakan sesuatu mengeras di bawah pantatnya. Sepertinya Nathan terangsa** oleh sentuhannya.


Aster mendorong tubuh Nathan. Kini ia berada di atas tubuh pria bermarga Xiao tersebut. Ciuman kini diambil alih oleh Aster. Aster mencium bibir Nathan dengan sangat agresif.


Namun sayangnya ciuman mereka tak berlangsung lama karena ketukan keras pada pintu. Nathan mendorong Aster dari atas tubuhnya kemudian dia berjalan menuju pintu.


"Aster, keluarlah dulu. Ada hal penting yang harus kami bahas," Nathan melirik putri angkatnya tersebut.


Aster mendecih sebal. Dengan enggan ia bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Tapi gadis itu tidak benar-benar pergi, karena Aster menguping pembicaraan mereka di depan pintu.


"Bagaimana hasil penyelidikanmu?" Tanya Nathan to the poin.


Pria itu menyerahkan sebuah map pada Nathan yang didalamnya berisi semua informasi yang ia butuhkan.


"Seperti dugaan Anda, Tuan. Kematian mereka bukan karena murni karena kacelakaan, tapi pembunuhan berencana."


Nathan mengambil map tersebut lalu membukanya. Ada beberapa lembar foto dan sebuah rekaman di dalam map tersebut.


"Lalu bagaimana dengan orang itu? Apa kau sudah menemukannya?"


"Sudah, Tuan. Saat ini orang itu ada di ruang bawah tanah. Anda bisa langsung menemuinya,"


"Kau boleh keluar,"


Pria itu kemudian berdiri. Dia pergi dari ruangan itu setelah membungkuk pada Nathan.


Tak lama setelah kepergian pria itu. Aster kembali memasuki kamar Nathan dan menghampiri ayah angkatnya.

__ADS_1


"Paman, sebenarnya siapa yang sedang kau selidiki? Dan kenapa kalian membahas tentang kecelakaan dan pembunuhan? Apa itu ada hubungannya dengan kematian ayah dan ibuku?"


Nathan mematikan rokoknya yang tinggal setengah lalu menghampiri Aster. "Kau tau jika aku tidak bisa menyembunyikan apapun darimu."


"Dan ya, itu ada hubungannya dengan kematian orang tuamu. Aku menemukan beberapa hal janggal mengenai kematian mereka, dan saat ini aku sedang menyelidikinya."


"Sudah aku duga. Paman, sebenarnya..." Aster menundukkan kepala sambil mengepalkan tangannya. Bibirnya mulai bergetar dan kedua matanya mulai berkaca-kaca "...Aku mengetahui semuanya." Lanjutnya.


"Apa maksudmu?" Tanya Nathan meminta penjelasan.


"Orang tuaku, meninggal bukan karena murni kecelakaan, tapi mereka meninggal karena di bunuh."


Deggg...


Nathan tersentak. Mata kirinya membelalak. Pria itu menghampiri Aster lalu membawa gadis itu ke dalam pelukannya. "Apa yang sebenarnya kau tau? Katakan pada, Paman." Pinta Nathan sambil mengusap punggung Aster.


"Mobil ayah disabotase. Hari itu, aku sudah mencoba menghentikan mereka agar mereka tidak pergi, tapi ayah tidak mau mendengarkanku. Dia bilang, mereka harus pergi karena acara itu sangat penting."


"Aku berusaha memberitahu pada ayah dan ibu jika mobilnya telah disabotase, tapi ayah tetap tidak memberikan kesempatan padaku untuk bicara."


"Dan baru 500 meter mobil mereka berjalan, aku mendengar kabar jika mereka mengalami kecelakaan dan meninggal. Aku... Aku.." Aster tak sanggup melanjutkan ucapannya.


Nathan menggeleng. "Itu tidak benar, Sayang. Itu bukan salahmu. Semua terjadi karena takdir Tuhan, Tuhan lebih menyayangi mereka sehingga Tuhan memanggilnya untuk pulang." Nathan mengusap punggung Aster dengan gerakan naik turun.


Nathan menutup mata kirinya, wajahnya mendongak ke atas. Helaan napas panjang keluar dari sela-sela bibirnya. Nathan tidak pernah tau jika Aster menyimpan rasa sakit sendiri selama 10 tahun.


Nathan melepaskan pelukannya dan menatap Aster dengan pandangan sendu. "Kenapa kau tidak pernah bercerita padaku mengenai hal itu? Kenapa kau harus memendamnya sendiri?"


"Karena aku tidak ingin menambah beban Paman, sudah terlalu banyak beban yang Paman pikul selama ini. Jadi aku memutuskan untuk menyimpannya sendiri." Tuturnya.


Nathan menghapus jejak air mata di pipi Aster. "Maafkan aku yang tidak peka. Seharusnya aku lebih memahami, bagaimana bisa kau tersenyum begitu lebar sementara kau menyimpan duka yang begitu dalam. Aster, kau memang sangat luar biasa."


"Untuk itu Paman harus bangga dicintai oleh gadis luar biasa sepertiku." Ucapnya penuh percaya diri.


"Dasar kau ini, kenapa kau masih bisa bercanda di tengah perbincangan seserius ini?" ujar Nathan karena perubahan ekspresi Aster yang terlampau cepat.


Nathan menggenggam tangan kiri putri angkatnya. Ia tersenyum mendapati wajah Aster yang kini berseri-seri. Padahal beberapa saat yang lalu gadis itu menangis tersedu-sedu.


"Paman, mandi dulu." Nathan beranjak dari hadapan Aster dan pergi begitu saja.


.

__ADS_1


.


.


Nathan memicingkan matanya melihat Aster keluar dari kamarnya dengan terburu-buru. Gadis itu juga sudah mengganti pakaiannya, dia memakai pakaian berbeda dari pakaian yang dia pakai sebelumnya.


"Kau mau pergi ke mana?" Tanya Nathan menghentikan langkah Aster.


"Paman, Tiffany masuk rumah sakit karena kebanyakan makan sambal. Dia mengalami diare hebat dan aku harus pergi ke rumah sakit untuk menemaninya."


"Tapi ini sudah malam."


"Justru karena itu!! Keluarganya ada di luar negeri, dia hanya sendiri tanpa keluarga di Korea. Itukah kenapa aku harus pergi sekarang." Tuturnya.


"Kalau begitu Paman akan pergi denganmu. Kau tidak boleh pergi sendiri!!" Aster tersenyum dan mengangguk antusias.


"Baiklah."


.


.


.


Aster langsung turun dari mobil Nathan setibanya mereka di rumah sakit. Gadis itu sangat mencemaskan keadaan Tiffany. Bahkan Aster tidak mendengarkan Nathan yang memintanya untuk tidak berlari.


Dari jarak 10 meter. Aster melihat dua orang pemuda yang duduk di depan ruang tunggu. Aster menghampiri mereka berdua.


"Bagaimana keadaan Tiffany?" Tanya Aster.


"Dokter masih memeriksanya. Jadi kami belum tau bagaimana keadaannya." Jelas salah satu dari kedua pria itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Tiffany sampai nekat makan sambal, padahal dia kan tidak bisa memakan, makanan pedas?" Tanya Aster meminta penjelasan.


"Tiffany diputuskan kekasihnya dan dia frustasi. Kemudian dia nekat makan sambal yang sangat buanyak. Kemudian dia mengalami diare,"


"Pria itu benar-benar ya. Lihat saja nanti, aku akan memberikan pelajaran padanya!!"


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2