
Aster mengusap perutnya yang masih rata. Di dalam rahimnya tengah bersemayam hasil buah cintanya bersama Nathan. Saat ini kandungan wanita itu baru memasuki Minggu ke tiga, sehingga belum terlihat apa jenis kelaminnya.
Setelah memiliki seorang putri yang sangat cantik. Aster berdoa semoga anaknya kali ini adalah laki-laki. Karena itu juga yang diharapkan oleh Nathan.
"Oppa," Ibu satu anak itu tersenyum menyambut kedatangan suaminya. Nathan masuk sambil membawa susu ibu hamil untuknya. "Terimakasih,"
"Habiskan, supaya janin di dalam perutmu tumbuh dan berkembang dengan baik." Aster mengangguk. Aster kemudian meminum susu itu sampai habis tak tersisa.
"Oya, di mana Laurent? Aku tidak melihatnya sama sekali."
"Dia sedang bermain bersama Rio dan Gavin di halaman belakang." Jawab Nathan kemudian duduk di samping Aster.
Ini adalah akhir pekan. Jadi tidak mengherankan jika Nathan ada di rumah di jam kerja seperti ini. Dan saat libur bekerja, Nathan memilih untuk menghabiskan waktunya bersama keluarga kecilnya daripada harus berkumpul bersama teman-temannya.
"Oppa, apa kau tidak ingin menyapa baby Xiao?" Tanya Aster sambil mengusap perutnya yang rata.
Nathan beranjak dari duduknya kemudian berlutut di depan Aster duduk. Jari-jarinya mengusap perut sang istri dengan lembut sambil mengurai senyum lebar.
"Hai, Nak. Bagaimana kabarmu hari ini? Baik-baik saja ya di dalam sana. Jangan nakal dan jaga Mami-mu dengan baik. Daddy sangat menyayangimu."
"Iya Daddy,"
Sontak saja Nathan mengangkat kepalanya dan mendapati Aster tengah terkekeh. Pria itu yang gemas karena tingkah istrinya langsung menyerbu bibir Aster yang sedikit terbuka dengan cara mel*mat dan memagutnya.
Meskipun awalnya terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Nathan. Namun akhirnya Aster menerima dengan baik ciuman suaminya. Bahkan dia bisa mengimbangi ciuman panas pria itu yang terkesan menuntut.
Aster mengalungkan kedua lengannya pada leher Nathan. Bibir mereka saling berpadu panas dan saling membelit. Tak karang mereka juga saling bertukar Saliva di mulut hangatnya.
Sadar Aster mulai kehabisan napasnya Nathan pun mengakhiri ciuman mereka. "Aku ingin makan mangga muda. Bisakah kau membelikannya untukku?" Aster menatap Nathan penuh harap. Pria itu menatap sang istri kemudian mengangguk.
"Kalau begitu aku akan pergi sekarang."
"Maksudku bukan Oppa sendiri yang pergi membelinya. Tao atau Leon saja, tapi belinya pake uang Oppa,"
Nathan menepuk kepala coklat Aster. "Baiklah kalau begitu." Kemudian Nathan beranjak dari hadapan Aster dan pergi begitu saja.
-
Menemani Laurent bermain kini sudah menjadi aktifitas rutin bagi Rio dan Gavin. Mereka sangat senang bermain dengan gadis kecil itu. Apalagi tingkah Laurent yang selalu menggemaskan.
Dan di sini mereka sekarang. Kedua pemuda itu mengajak Laurent bermain di taman. Saat ini Laurent sedang asik bermain gelembung sabun yang dibelikan oleh Rio.
"Hahaha!! Paman, ayo terus tiup lagi. Biar semakin banyak gelembung sabunnya yang bisa Laurent pecahkan.." seru Laurent yang terlihat begitu kegirangan.
Princess, istirahat dulu yuk. Paman Gavin yang tampan sudah membelikan ice cream dan banyak jajanan enak untukmu." Seru Gavin sambil menunjukkan dua kantong besar ditangannya yang berisi makanan dan minuman.
__ADS_1
"Oke Paman.." Laurent meninggalkan Rio dan menghampiri Gavin. Kemudian Rio berjalan mengekor di belakang gadis kecil itu.
Melihat banyaknya makanan ringan dan ice cream beberapa rasa yang semua adalah rasa kesukaannya, membuat Laurent sangat kegirangan.
"Wahh, Ice cream. Paman tampan memang terbaik deh. Laurent mau makan ice cream ini dulu ah." Laurent mengambil ice cream rasa coklat lalu memakannya.
"Aiggo, Princess kenapa kau lucu sekali. Lihatlah mukamu cemong semua," ucap Rio sambil menghapus ice cream yang belepotan di wajah Laurent.
"Benarkah? Bukankah aku malah semakin menggemaskan?!!" Ucap Laurent menggerlingkan mata.
"Hahaha!"
Dan mereka bertiga saling tertawa dan bersenda gurau. Sesekali Gavin dan Rio menggelitik perut Laurent membuat gadis kecil itu tertawa lepas. Mereka terlihat begitu bahagia, terlebih-lebih Laurent.
Selama bertahun-tahun hidup jauh dari keluarganya membuat gadis kecil itu kurang mendapatkan kasih sayang.
Hanya dari Aster dia mendapatkan kasih sayang yang utuh. Sampai akhirnya sang ibu membawanya kembali ke Korea dan bertemu sang ayah serta berkumpul bersama keluarga besarnya.
-
Lidah Nathan terasa lier melihat Aster yang sedang memakan mangga mudanya dengan begitu lahapnya. Padahal mangga itu sangat asam, Nathan sudah mencobanya sedikit tadi.
Aster yang merasa diperhatikan sontak mengangkat wajahnya. Wanita itu terkekeh melihat bagaimana ekspresi Nathan saat ini. Ia tau, pasti suaminya itu merasa ngilu melihatnya memakan buah dengan rasa asam tersebut.
"Oppa, mau?" Aster menyodorkan mangga itu pada Nathan dan bertanya apakah suaminya mau memakannya. Dan jelas saja Nathan menolaknya.
BRAKK...
Dorr..
Dorr..
Dorr...
Nathan dan Aster yang sedang berada di kamarnya terkejut mendengar suara gerbang di dobrak secara paksa serta di susul dengan suara rentetan senjata api.
Nathan berlari ke arah jendela begitu pula dengan Aster. Mereka melihat beberapa orang tak di kenal masuk dan membuat kekacauan. Sedikitnya 4 anak buah Nathan tumbang setelah terkena terjangan senjata api.
"Sebaiknya kau tetap di sini. Hubungi Gavin dan Rio supaya tidak membawa Laurent pulang dulu, aku tidak ingin dia menyaksikan insiden yang tak seharusnya dia saksikan seperti ini." Ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Aster.
"Aku mengerti, Oppa." Jawabnya.
Nathan segera turun dan bergabung dengan yang lainnya. Tak lupa dia membawa senjata kesayangannya karena tak mungkin dia keluar dengan tangan kosong, para pembuat onar itu datang dengan persenjataan lengkap di tangannya.
Beberapa orang langsung melayangkan serangannya pada Nathan saat melihat kedatangan pria itu. Dia adalah targetnya, dan tentu saja mereka tidak akan melepaskannya begitu saja.
__ADS_1
Perkelahian sengit pun tak bisa dihindarkan. Nathan di keroyok sedikitnya 5 orang yang langsung menyerangnya dengan membabi-buta.
Pria itu terus menghindari setiap serangan yang mengarah padanya. Gerakan tangan Nathan yang cepat membuat lawan kewalahan, tak jarang dia melepaskan tembakannya pada lawan lain yang berusaha mendekatinya.
Melihat keadaan di luar tak membuat Aster tinggal diam. Wanita itu terlihat mengeluarkan senjata berlaras panjang salah satu koleksi Nathan. Aster meletakkan senjata itu pada jendela lalu mengarahkan pada lawan yang menjadi targetnya.
Aster menyipitkan matanya dan mulai membidik target-targetnya. Dengan mantap Aster menarik pelarut dengan telunjuknya dan...
Dorrr...
Brukk..
Satu target berhasil tumbang setelah kepalanya tertembus peluru yang Aster lepaskan. Dan apa yang Aster lakukan tentu saja mengejutkan teman-teman pria itu. Mereka mencari dari mana asal tembakan itu, tapi tidak ketemu.
Berbeda dari Nathan dan orang-orangnya. Tentu saja mereka tau siapa orang di balik penembakan tersebut.
Satu persatu berhasil mereka lumpuhkan, dan hanya tersisa dua orang lagi yang Nathan biarkan tetap hidup. Karena dia ingin tau siapa yang mengirim mereka semua.
"Bawa mereka berdua ke ruang bawah tanah, dan interogasi mereka. Buat mereka berdua buka suara, aku ingin tau siapa orang di balik penyerangan hari ini!!"
"Baik, Bos!!"
"Satu lagi, segera bersihkan tempat ini. Aku tidak ingin putriku ketakutan ketika dia kembali nanti!!" Kemudian Nathan beranjak dari sana dan kembali ke dalam.
.
.
.
"Nah, selesai."
Sebuah perban selebar tiga jari orang dewasa menutup luka bekas sayatan di tulang pipi Nathan. Luka itu dia dapatkan ketika melawan para penyusup tadi.
Wajahnya tergores pisau salah satu dari 5 orang yang menyerangnya. Beruntung lukanya tidak terlalu dalam sehingga tidak sampai meninggalkan bekas.
"Pasti setelah ini Oppa akan mendapatkan banyak pertanyaan dari putrimu. Laurent akan bertanya panjang lebar padamu perihal luka ini." Ujarnya.
"Soal itu kau tidak perlu cemas. Aku tau bagaimana harus menghadapi gadis kecil kita yang super bawel itu." Ucap Nathan kemudian mengecup singkat bibir Aster. "Apa kau sudah memberitahu Rio dan Gavin jika keadaan sudah aman dan terkendali?"
Aster mengangguk. "Mungkin sebentar lagi mereka akan segera tiba. Oppa, aku keluar dulu, tiba-tiba aku lapar dan ingin makan sesuatu yang pedas dan panas. Membuat ramen pedas sepertinya tidak buruk."
"Perlu aku temani?" Aster menggeleng. Wanita itu menolak dan meminta Nathan untuk tetap di kamar saja. "Baiklah kalau begitu. Aku akan tetap di sini."
-
__ADS_1
Bersambung.