
"Si-Siapa kalian, dan kenapa kalian berada di rumahku?"
Wanita itu tampak sangat ketakutan ketika beberapa pria berpakaian hitam tiba-tiba mendatangi kediamannya dan membantai seluruh orang di rumahnya. Menyisahkan dia sendiri.
"Nyonya Song, kami hanya menjalankan perintah dari Bos. Dan Bos bilang, seorang benalu harus disingkirkan!"
Wanita bermarga Song itu menggeleng. Sekujur tubuhnya gemetar ketakutan ketika ujung pistol di tangan pria itu mengarah pada kepalanya dan....
Dorr...
Tubuh itu pun roboh seketika. Leon baru saja menyelesaikan tugasnya, tugas untuk menghabisi orang yang telah berani mengusik ketentraman keluarga Nathan. Dan harga yang harus mereka bayar adalah dengan kematian.
"Bakar rumah ini. Jangan sampai ada sedikit pun jejak kita di sini!!"
"Baik, Tuan!!"
-
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan. Begitulah waktu terus berjalan. Tidak terasa usia kandungan Aster kini memasuki bulan ke sembilan.
Selama sembilan bulan Aster mengandung. Nathan selalu menjaganya dengan siaga. Tidak peduli siang ataupun malam, pria itu selalu menemani di samping sang istri, sampai di mana dia akan melahirkan putra kedua mereka.
Disebuah rumah sakit tampak beberapa orang sedang berkumpul di depan sebuah ruangan bersalin. Mereka sedang menunggu Aster yang sedang berjuang di dalam ruang bersalin itu, melahirkan putra kedua dalam keluarga Xiao.
Seorang pria muda tampak sedang mondar-mandir di depan pintu ruang bersalin itu. Dia terlihat gusar, cemas dan gugup. Dan tingkahnya membuat orang lain pusing sendiri, pasalnya dia terus saja mondar-mandir seperti setrikaan.
"Berhentilah mondar-mandir tidak jelas!! Aster, pasti akan baik-baik saja di dalam sana." Ujar seorang pria yang usianya beberapa tahun lebih tua dari Nathan, Zhoumi.
"Aku tidak bisa santai-santai saja, sementara Aster sedang berjuang sendirian di dalam sana." Sahut Nathan dengan aksen dingin andalannya. "Dan sudah lebih dari satu jam dia di dalam." Lanjutya.
"Tenanglah dulu, sebentar lagi pasti persalinanya akan selesai." Ujar Cris, kali ini pria itu turut membuka suara.
Tepat setelah pria itu menyelesaikan ucapannya, pintu ruang bersalin terbuka, menampilkan seorang dokter cantik berambut hitam panjang.
Dokter wanita itu membawa seorang bayi berjenis kelamin laki-laki di gendongannya."Putra Anda sudah lahir Tuan Xiao, dan istri anda selamat. Dia dalam keadaan sehat" Ujar dokter itu sambil mencoba tersenyum.
Nathan mengambil bayi itu dari dokter di depannya. Pria yang selalu terlihat dingin itu sampai tak kuasa menahan air mata harunya. Setelah sekian lama, akhirnya penantiannya berbuah manis. Aster melahirkan seorang bayi berjenis kelamin laki-laki.
"Dokter, apakah boleh saya melihatnya?" tanya Nathan.
Dokter itu mengangguk. "Tentu, silakan masuk." Dia pun mempersilakan Nathan untuk masuk ke dalam ruang bersalin.
.
.
.
"Sayang," Nathan menghampiri Aster sambil menggendong putra mereka. Rona bahagia terlihat jelas pada raut wajahnya.
__ADS_1
Wajah yang biasanya terlihat dingin itu memancarkan sebuah kehidupan, dan senyum bahagia di bibirnya membuktikan segalanya.
"Oppa, anak kita telah lahir dan dia anaklah laki-laki." Nathan mengangguk. Kemudian dia memberikan bayi itu pada Aster. "Apakah ini adalah anak kita? Dia sangat tampan."
Di dalam ruangan tampak Aster yang sedang menggendong seorang bayi mungil nan lucu yang diberikan oleh Nathan beberapa saat lalu. Nathan kemudian mengecup pucuk kepala istrinya.
"Terima kasih, Sayang. Karena telah menyempurnakan hidupku." Ucap Nathan lembut.
"Sama-sama, Oppa. Dia merupakan anugerah terindah dari Tuhan." Sahut Aster sambil mengelus lembut pipi bayinya. "Dia tampan kan Oppa?"
"Ya." Sahut Nathan membenarkan.
Bayi itu memang sangat tampan dengan kulit putih mulus serta rambut hitamnya. Dan saat ia membuka mata, tampaklah bola mata coklat yang mempesona. Benar-benar tampan.
"Akan kau beri nama siapa dia, Oppa?"
"Rey Xiao. Bagaimana menurutmu?"
"Nama yang bagus." Sahut Aster sambil mengecup lembut pipi putranya itu.
Sebuah nama yang bagus untuk seorang bayi mungil yang tampan dan menggemaskan tanpa cela di paras rupawannya. Dan betapa Nathan sangat bahagia dengan anugerah terindah yang Tuhan telah berikan untuknya.
-
Kelahiran Baby Rey membuat hidup mereka semakin sempurna. Kini usia putra kedua pasangan keluarga Xiao itu sudah berusia 7 bulan, dan tingkahnya yang menggemaskan tak jarang membuat orang-orang merasa gemas sendiri.
"Sayang!" Nathan memanggilnya begitu ia masuk ke dalam kamar mereka.
"Mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Aku menyusui Rey dulu di kamarnya." Ujar Aster, Nathan mengangguk lalu mencium kening istrinya sebelum wanita itu berlalu dari hadapannya dan menuju ke kamar si bungsu.
Nathan tersenyum lebar. Ia melanjutkan langkahnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sekujur tubuhnya teras lengket semua oleh keringat.
.
.
.
Suara deru mobil yang memasuki halaman membuat perhatiannya teralihkan. Dan dengan masih menggendong Baby Rey, Aster berjalan menyebrangi halaman belakang dan menyusuri lorong untuk sampai di pintu depan.
Wanita cantik itu melihat salah satu pelayannya membuka pintu rumahnya dan mendapati Tiffany dan keluarga kecilnyalah yang ada disana. Rey terlonjak senang di dalam gendongannya melihat ada satu lagi tamu yang datang.
"Kalian sudah datang?" suara Aster menyapa indra pendengaran tamunya, wanita itu memberikan pelukan singkat kepada kedua sahabatnya. Yakni Tiffany dan suaminya.
Dan siapa yang menduga jika Tiffany akan kepincut pada Cris, parahnya lagi 1 minggu mengenal langsung menikah.
"Rey, astaga kenapa kau semakin menggemaskan saja, Sayang." Ucap Tiffany yang genas dengan tingkah si kecil.
Aster, dimana suamimu? Kenapa aku belum melihat batang hidungnya?" Ucap Cris.
__ADS_1
"Aku di sini, Cris." Sahut seseorang dari arah belakang. Nathan datang dalam balutan kemeja hitamnya. "Sini Sayang, sama Daddy dulu, oke."
"Tatata... Dadada..." Mendengar celotehan Rey membuat semua orang gemas sendiri, apalagi Tiffany.
"Ayo Fanny, Oppa, yang lain sudah menunggu." Ujar Aster lalu bersama-sama mereka kehalaman belakang.
Laurent tengah bermain dengan Gavin dan Rio. Leon dan Tao saling kejar-kejaran karena Tao mengambil makanan Leon lagi
Nathan masih menggendong Rey yang kini sudah siap untuk menghancurkan apa saja yang ada di meja makan di hadapannya. Bayi berusia tujuh bulan itu merengek dan meronta dari gendongan sang ayah karena haus.
Dan Aster yang menyadari hal itu pun segera berlari ke dapur untuk mengambil botol susu berisi asi yang sengaja ia simpan di dalam kulkas untuk putra bungsunya itu. Kemudian ia mengambil alih Rey dari gendongan ayahnya dan memberikannya Asinya kepada putra bungsunya tersebut.
"Ahh, Sayang. Kau pasti haus ya, Nak. Minum dulu yang banyak ya."
Sudut bibir Aster tertarik ke atas melihat putri sulungnya yang kini tengah membantu ayahnya memanggang daging dan dengan tidak rela memberikannya kepada Leon dan Tao yang sudah menghabiskan piring keempat mereka.
Dilihat dari sisi manapun, kedua anaknya benar-benar miniatur Nathan. Apalagi Rey, bayi laki-lakinya benar-benar miniatur versi bayi suaminya. Aster benar-benar beruntung sekarang. Saking bahagianya dia sampai ingin menangis.
"Ya ampun, Rey kenapa kau motok sekali." Ujarnya Tiffany dengan gemas. Sementara Aster hanya tertawa.
Selama 7 bulan, ia memang hanya memberikan Asi kepada putra bungsunya itu. Dan setelah Rey menghabiskan asi-nya, Aster menepuk-nepuk pelan punggung putranya sampai ia bersendawa.
"Aster, berikan Ken padaku. Dia benar-benar membuatku tidak tahan untuk segera menggendongnya." Ujar Tiffany panjang lebar, Rey kembali beceloteh riang menanggapi Tiffany.
"Lalu kapan kau menyusul? Sudah 6 bulan tapi kenapa belum hamil juga?" goda Aster, wajah istri Cris itu memerah, ia dan suaminya belum memikirkan anak sama sekali.
"Mungkin nanti, kenapa kau tiba-tiba bertanya begitu? Aku dan Cris masih belum merencanakannya." Ujarnya.
Ia kembali menyantap potongan dagingnya dengan Baby Rey dipangkuannya, Ken sudah kembali bergabung bersamanya, ia menyodorkan segelas jus dan satu potong daging kearah Aster lalu ia kembali mengambil alih putranya dari Tiffany.
"Nah Jagoan, kita biarkan Mami dan Bibi Fanny makan dulu." Ujarnya, Aster hanya tersenyum lalu menyantap makanannya, baru separuh ia menyantap makanannya tiba-tiba suara Zhoumi memecah keheningan
"Baiklah, semuanya berkumpul. Kita akan berfoto bersama. Kesini semuanya!" ujarnya,
Ia sudah memasang threepot dan kamera, menyetel Timernya lalu setelah itu ia buru-buru berlari kearah anggota keluarga yang lain dan berfoto bersama. Tak ada hal lain yang tergambar di wajah masing-masing dari mereka. Kecuali kebahagiaan.
Dan Aster tak menyangka. Setelah kepergian kedua orang tuanya. Ia akan menemukan kembali kebahagiaan yang sempat hilang dari hidupnya.
Aster percaya, jika pertemuannya dengan Nathan hari itu bukanlah sebuah kebetulan semata, melainkan rencana indah yang telah Tuhan siapkan untuknya. Dan setelah semua air mata yang tumpah, akhirnya kebahagiaan itu menyempurnakan hidupnya.
Nathan dan Aster saling bertukar pandang. Pria itu mendekatkan wajahnya, dengan singkat dia mengecup bibir ranum sang istri sambil berbisik. "Saranghae Aster Xiao,"
"Nado saranghae, Oppa."
"Kenapa kalian melupakan kami bertiga?"
Mata semua orang yang ada di sana membelalak kecuali Aster, Nathan dan Laurent. Kemunculan trio hantu membuat semua orang kalang kabut. Ada yang nyebut ke dalam kolam, ada yang naik ke atas pohon.
Aster dan Laurent hanya tertawa melihat kejadian tak terduga tersebut. Sedangkan Nathan hanya bisa mendengus, namun sudut bibirnya tertarik ke atas. Akhirnya Tuhan memberikan kehidupan seperti yang dia inginkan. Tenang tanpa ada lagi kecemasan.
__ADS_1
-
THE END.