
Byurr...
Nathan menguyur mukanya yang penuh darah dengan air segar. Luka memanjang dan dalam terlihat jelas pada pelipis kirinya setelah darah pada wajahnya ia bersihkan.
Pria itu berjalan keluar meninggalkan kamar mandi. Nathan berjalan ke tempat dia menyimpan kotak p3k-nya. Setelah mengoleskan salep luka, Nathan menutup luka di pelipisnya itu dengan perban dan plaster.
Kemudian dia menghampiri Aster yang sedang tertidur pulas ditempat tidurnya. Dan Nathan bisa menyimpulkan jika Aster akan terkejut ketika melihat perban menutup pelipisnya ketika dia bangun esok pagi.
Nathan berbaring di samping wanitanya. Sebelah tangannya ia gunakan sebagai bantalan kepalanya, dan sebelah lagi dia pakai untuk memeluk tubuh Aster.
Dagu Nathan bersandar pada pundak kanan wanita-nya. Dan tidak sampai 5 menit, Nathan sudah terlelap dalam tidurnya. Dia tertidur pulas.
-
Matahari pagi yang membumbung tinggi mulai menyinari kota Seoul. Rumput basah akibat hujan semalaman terlihat berkilau ketika matahari bersinar semakin terang.
Burung-burung gereja berterbangan dan hinggap di jendela kamar megah nan mewah itu. Cicitan burung gereja yang bermain di jendela kamar membuat wanita berhelaian coklat panjang itu itu terbangun dari tidur lelapnya.
Jendela kamar yang tidak tertutup rapat membuat cahaya matahari menembus kelopak mata Aster.
Wanita cantik bermata hazel itu perlahan membuka mata dan pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah tubuh kekar yang tak terbalut sehelai benang pun, berte**njang dada.
Aster mengerjapkan mata beberapa kali, hingga ia tersadar jika ia berada di pelukan Nathan yang masih tertidur pulas.
Tubuh Aster mendadak kaku merasakan pinggangnya diselimuti oleh lengan Nathan dan ia menahan napas saat merasa hembusan napas Nathan di kepalanya.
Meskipun mereka sudah resmi menjadi sepasang suami-istri. Terkadang Aster masih merasa gugup ketika berhadapan dengan Nathan, layaknya remaja yang sedang dimabuk cinta, namun hal tersebut di tutupi oleh sikap bar-barnya.
Mata Aster memicing ketika melihat benda putih yang melekat pada pelipis kiri Nathan. Aster melonggarkan pelukannya, dan matanya membelalak melihat perban yang telah menyatu dengan plaster melekat pada pelipis kiri pria itu.
"Paman!! Apa yang terjadi pada pelipis-mu?!" Wanita itu memekik cukup kencang.
Dan pekikan Aster yang serasa memekat-kan telinga membuat Nathan mau tidak mau membuka matanya. Pria itu mendecih kesal dan menatap Aster sebal.
"Ck, kenapa kau harus berteriak? Mengganggu tidurku saja." Kemudian Nathan berbalik, posisinya kini memunggungi Aster.
Wanita itu memanyunkan bibirnya. Memangnya perlu ya, sampai memarahinya seperti itu. Aster menyibak selimutnya dan segera turun dari tempat tidur.
"Dasar menyebalkan!! Padahal hanya di tanya saja tapi langsung marah-marah, padahal yang sedang datang bulan itu aku, tapi kenapa malah Paman Nathan yang marah-marah tidak jelas." Tuturnya.
Aster terus saja menggerutu, wanita itu benar-benar kesal setengah mati pada Nathan. Dan Nathan menyikapi Omelan Aster dengan acuh. Toh dia nanti juga akan sembuh sendiri.
BRAKK!!
Nathan terlonjak kaget dan nyaris terkena serangan jantung dadakan karena ulah Aster. Pria itu mengeram kesal dan menyerahkan nama Aster dengan keras.
"ASTER XIAO!!"
Namun tak dihiraukan oleh Aster. Apa Aster tidak tau jika kepala Nathan rasanya mau pecah, pukulan yang dia terima semalam membuat kepalanya berdenyut sakit.
Tak sampai sepuluh menit Aster keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk saja. Aster membuang muka dan tidak mau menatap Nathan, padahal saat ini mata pria itu memindai kemana pun Aster pergi.
Nathan mendengus geli. Ia merasa gemas sendiri melihat Aster yang sedang kesal dan marah.
Tak ingin ambil pusing dengan sikap wanitanya. Nathan beranjak dari berbaringnya dan pergi ke kamar mandi. Mungkin mandi akan membuat pikirannya lebih jernih.
Drett.. Drett.. Drett..
Perhatian Aster teralihkan oleh dering pada ponselnya. Aster meraih ponsel itu dan menerima panggilan yang masuk.
Nathan yang masih berada di kamar mandi tampak menyernyitkan dahi. Dia penasaran dengan siapa sebenarnya Aster sedang berbincang, dan samar-samar Nathan mendengar suara tawa pria.
__ADS_1
"Baiklah, aku tutup dulu telfonnya. Nanti aku akan menggububgimu." Aster memutuskan sambungan telfonnya dan kemudian meletakkan di atas nakas samping tempat tidur.
"Siapa yang menggubungimu?" Tanya Nathan tanpa basa-basi. Suaranya terdengar tegas dan penuh penekanan.
"Hanya teman, kenapa Paman ingin tau sekali. Sudahkah, aku ada janji dengan Tiffany, aku pergi dulu, bye..."
Nathan menahan kepergian Aster dengan mencengkram pergelangan tangannya. Tubuh Aster terbanting ke atas tempat tidur dengan Nathan yang menindihnya di atas. Tangan kanan Nathan mencengkram pergelangan tangan Aster yang ada di atas kepalanya.
"Kau pikir bisa kabur begitu saja dariku? Tidak semudah itu, Nona. Aku tidak akan mengijinkan mu pergi begitu saja."
"Kenapa Paman harus perduli? Toh aku sedang kesal pada Paman."
"Benarkah? Mari kita lihat, seberapa lama kau mampu mempertahankan rasa kesal mu itu!!" tantang Nathan sambil menyeringai tajam.
Nathan mengarahkan bibirnya pada bibir Aster dan menyatukan bibir mereka. Me**matnya dengan lembut, memberikan gigitan-gigitan kecil pada benda kenyal tak bertulang itu.
Natha merasakan hangat, lembut dan betapa manisnya bibir Aster yang entah sejak kapan telah menjadi candu untuknya. Bibir ranum yang memberi candu Nathan untuk menikmatinya lagi dan lagi.
Nathan menyeringai penuh kemenangan saat sang wanita membalas ciumannya dan mengalungkan kedua tangannya pada lehernya. Ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi ciuman panas penuh gairah yang menuntut. ,
Keduanya sama-sama menikmati kenikmatan bibir masing-masing. Membuat jantungnya berdetak dua kali lebih kencang seiring panasnya ciuma itu. Mata Nathan pun perlahan tertutup.
Nathan terus melum** bibir atas dan bawah Aster tanpa ampun, dia melayangkan serangan bertubi-tubinya pada bibir wanitanya ini. Tak ada penolakan, Aster justru begitu menikmatinya.
Dan setelah hampir lima menit, keduanya memutuskan untuk mengakhiri ciuman itu. Nathan dan Aster sama-sama membutuhkan banyak pasukan oksigen untuk mengisi paru-parunya yang kian menipis.
Sama-sama mengatur deru nafas yang masih belum normal, namun tersimpan kenyamanan yang menjalar. Nathan menarik Aster untuk duduk, kemudian menciuma kening wanitanya dengan lembut penuh cinta, yang kemudian di balas senyum lebar oleh Aster.
"Bagaimana? Apa kau masih kesal dan marah pada Paman?"
Aster menggeleng. "Bagaimana mungkin aku bisa kesal dan marah setelah Paman memberikan apa yang aku inginkan." Jawabnya yang kemudian di hadiahi sebuah jitakan oleh Nathan.
"Kemana?" tanya Aster begitu antusias.
"Kau akan mengetahuinya setelah kita tiba di sana."
Aster menceritakan bibirnya. "Kenapa harus main rahasia-rahasiaan segala?!" keluhnya frustasi.
"Sudah jangan banyak mengeluh, sana pergi bersiap."
Aster memanyunkan bibirnya kesal. "Iya-iya aku bersiap sekarang."
.
.
.
"KYYYAAA!! PANTAI!!!"
Nathan segera menutup telinganya, sebelum gendang telinganya pecah karena teriakan Aster. Nathan sudah memprediksikan jika Aster akan histeris saat melihat hamparan pasir pantai.
Tanpa menghiraukan Nathan yang baru saja keluar dari mobilnya. Aster sudah berlari menuju bibir laut, sepatunya pun bahkan sudah dia buang entah kemana. Dia begitu bersemangat, persis seperti dugaan Nathan.
Air laut sebening kristal di pantai pulau Naksan memanjakan mata siapa saja yang memandangnya tak terkecuali Aster. Wanita cantik satu ini tengah menghabiskan waktunya di pantai dengan bermain air dengan riangnya.
Walaupun hanya bermain sendirian, tapi Aster tidak merasa kesepian karena ada Nathan yang memperhatikannya dari kejauhan.
Ada saatnya Aster membutuhkan waktu untuk menyendiri dan tenggelam dalam pikirannya. Menikmati alam, memberikan kedamaian di hatinya.
Tidak ada yang lebih menyenangkan dari liburan musim panas, di tempat yang indah, asri, dan bersama orang yang kau cintai kan? Begitupula yang tengah dirasakan oleh Aster.
__ADS_1
Aster mengangkat wajahnya dan mendapati Nathan tengah berdiri, menatapnya dari kejauhan. Pria itu terlihat begitu tampan meskipun sebuah perban tampak menutup pelipis kirinya.
Nathan ikut melambaikan tangannya ketika melihat Aster melambai padanya. Wanita itu kembali melanjutkan aktifitasnya dan kembali bermain dengan air dan pasir.
Saat Aster hendak pindah untuk bermain pasir, seseorang tiba-tiba ikut berlutut disampingnya. Aster tersenyum lebar, begitu pun dengan Nathan.
"Kau ingin membuat apa?"
"Istana pasi. Paman, bagaimana jika kita membuatnya bersama-sama?" usul Aster memberikan penawaran.
Nathan mengangkat bahunya. "Sepertinya bukan ide yang buruk." Jawabnya. Kemudian Aster dan Nathan mulai membuat istana pasir. Sesekali Aster menatap pria yang berlutut disampingnya dan tersenyum lebar.
Ia selalu suka menyukai kehadirannya. Karena Aster selalu menyukai Nathan bagaimana pun keadaan dan situasinya.
"Kyyyaa!! Akhirnya selesai juga." Seru Aster girang.
Lelah menemani Aster bermain pasir, Nathan pun memutuskan untuk bersandar di dinding batu dan dipayungi pohon kelapa besar yang teduh. Ia duduk memperhatikan laut dan Aster yang tengah asik bermain-main dengan air laut.
Laut dan Aster. Terus saja bergantian memandang keduanya, yang bagi Nathan sama indahnya, membuat sudut bibirnya tertarik ke atas.
Semilir angin pantai yang berhembus sepoi-sepoi, membuat rasa kantuk seketika mendera mata Nathan. Suasana nyaman ini pun sangat mendukungnya untuk terlelap.
.
.
.
Hari telah beranjak petang. Matahari perlahan mulai terbenam dan langit kota Seoul pun berubah kuning kemerahan. Aster masih asik berdiri memandang laut di pantai Naksan yang indah.
Melihat warna laut yang berubah kekuningan dan merasakan angin yang menerpa wajah juga menerbangkan surai panjangnya yang terurai. Raut wajah Aster tampak begitu sumringah.
Senyum tak pudar sedikit pun dari wajah cantiknya. Dia begitu menikmati mahakarya Tuhan yang begitu luar biasa ini.
Suara deburan ombak yang beradu dengan batu karang terdengar menggebu-gebu, memecah sunyinya suasana senja ini.
Dan jika ini adalah kota, mungkin yang terdengar adalah ramainya pecahan petasan di langit, atau percikan kembang api di taman.
Tapi itu semua tak mungkin bisa di temui di pantai ini, karena hari ini bukanlah tahun baru di mana petasan selalu di luncurkan setiap detik menitnya.
Aster berbalik dan menghampiri Nathan yang saat ini sedang duduk di atas kap mobilnya. Pria itu tengah menikmati sebatang rokok beraroma mint kesukaannya.
"Paman, ayo kita pulang. Aku sudah lelah dan sedari tadi cacing-cacing dalam perutku terus menggeliat-geliat minta segera di isi." Tuturnya.
Nathan menghisap rokok terakhirnya, lalu membuang gulungan kecil itu ke pasir seraya melompat turun dari kap depan mobilnya. "Kau ingin makan malam dulu sebelum pulang?" Aster mengangguk.
Aster memang sudah sangat kelaparan dan ingin segera makan. Hari ini dia sampai melewatkan makan siangnya karena terlalu asik bermain dengan air dan pasir pantai.
Mobil milik Nathan melaju tenang memecah keheningan malam. Mobil itu sedang melaju di jalan perbukitan yang lumayan jauh dari pemukiman kota. Dan agar lebih dekat, Nathan memilih lewat jalan pintas.
"Paman, ada apa di sana?" seru Aster melihat beberapa orang berkerumun di satu titik.
Aster masih belum memiliki banyak pengalaman, jadi dia tidak tau jika hal semacam itu adalah sebuah trik dari perampok dan pembegal.
Dua orang pria tiba-tiba menghentikan laju mobil Nathan, keduanya berpura-pura meminta bantuan untuk membawa temannya itu ke rumah sakit. Dan Nathan menyetujuinya.
Mobil Nathan di pandu untuk mendekati orang yang terkapar itu. Namun siapa yang menduga, jika akhirnya Nathan menambah kecepatan pada mobilnya, dan mobil itu melesat jauh meninggalkan orang-orang bodoh tersebut
-
Bersambung.
__ADS_1