"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Satu-Satunya Cinta


__ADS_3

Cklekk..


Nathan yang sedang memanjakan tubuhnya dibawah guyuran air shower sedikit terkejut ketika mendengar suara pintu kamar mandi yang dibuka dari luar. Sosok Aster yang hanya berbalut kain tipis transparan terlihat menghampiri Nathan.


"Aster, sedang apa kau di sini?" Kaget Nathan dengan kemunculan sang istri.


Alih-alih menjawab, Aster malah terlihat menanggalkan kain tipis itu dari tubuhnya dan berjalan mendekati Nathan. Aster meletakkan kedua tangannya di pundak Nathan kemudian mengecup singkat bibirnya.


"Mandi bersama."


Jawaban dari Aster seolah memberikan sinyal lebih pada Nathan. Nathan menarik lengan Aster kemudian membawa wanita itu untuk menempel sempurna pada tubuh tel*nj*ngnya. Kulit dengan kulit.


Ciuman mereka semakin panas di bawah guyuran air shower yang menghujam tubuh mereka tanpa henti. Dinginnya air dan panasnya ciuman mereka berpaur menjadi satu.


Namun ciuman mereka tidak berlangsung begitu lama. Nathan tidak ingin jika Aster sampai sakit karena terlalu lama berada di bawah guyuran shower meskipun air hangat.


"Kita lanjutkan di luar. Kau keluarlah dulu, dan segera pakai pakaianmu." Perintah Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Aster.


.


.


.


Lima menit kemudian Nathan juga terlihat keluar dari dalam sana dengan pakaian lengkap. Tank top hitam press body dan celana panjang garis-garis.


"Apa kita bisa lanjutkan yang tadi?" Aster bangkit dari duduknya dan menghampiri Nathan yang mengulurkan tangan padanya.


"Tentu, Sayang."


Nathan menarik Aster dalam pelukannya dan mempertipis jarak antara mereka berdua. Pria itu mendekatkan wajahnya dan mempertemukan bibirnya dengan bibir ranum milik Aster.


Nathan mel*mat perlahan bibir itu seolah akan pecah jika terlalu kasar. Aster yg merasa sensasi luar biasa balas mel*mat bibir Nathan sambil mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan.


Aster mengalungkan tangannya pada leher Nathan dan memperdalam ciumannya. Begitupun dengan Nathan, tangan kanannya menekan tengkuk Aster sedangkan tangan kirinya memeluk pinggang rampingnya.


Mereka saling mel*mat. Nathan sesekali menekan bibir Aster untuk mendapatkan akses lebih, namun sepertinya Aster tidak mau memberikannya.

__ADS_1


Nathan pun tak kehabisan cara, ia menggigit bibir Aster sedikit keras membuat wanita itu menjerit tertahan dan segera memasukkan lidahnya dalam mulut hangat Aster. Aster merenggut sedangkan Nathan tersenyum penuh kemenangan.


Nathan mengecap semua yg ada dalam mulut Aster. Menggelitik langit-langit mulut-nya, mengabsen semua deretan gigi rapi dan putih dengan lidahnya yg sudah lihai dengan hal semacam ini


"Eungghhh", Aster mend*sah saat merasakan lidah Nathan yang terus bermain dalam mulutnya.


Nathan yg mendengar ******* Aster semakin menggila. Aster yg merasa sensasi aneh berusaha mendorong lidah Nathan yg dianggap sebagai ajakan untuk bermain lidah.


Nathan membelitkan lidahnya dengan lidah Aster, mengajak Aeter untuk menikmati sensasi yg tak akan puas meskipun berkali-kali melakukannya.


"Eughhh... hmmppp", Aster kembali mend*sah saat jari-jari Kevin meremas pant*tanya.


Setelah berciuman panas dan cukup lama keduanya melepaskan ciuman itu dengan tidak rela terutama Nathan, Aster sudah mulai kehabisan nafasnya. Ia merasa ada sesutu yg hilang saat bibir manis itu lepas dari bibirnya.


"hah~ hah~ hah~" Aster sibuk mengambil oksigen sebanyak banyaknya untuk mengisi paru-parunya yang hampir kosong. Ia akui Nathan memang gila dan juga luar biasa.


"Bagaimana? Kau terlihat menikmatinya, Sayang. Dan kau tampak lebih menggoda saat seperti ini, Sayangku", Nathan berbisik seduktif ditelinga Aster.


Aster merenggut sambil memanyunkan bibirnya."Jangan menggodaku terus, Paman. Jangan membuatku jengkel, kau tau bagaimana tersiksanya aku saat ini. Hiks, tamu sialan ini kapan sih perginya!! Huhuhu, membuat frustasi saja."


"Ini menyebalkan. Aku benar-benar sangat kesal. Aku tersiksa Paman! Apalagi saat ada sesuatu dalam perutku yg menggelitik. Aku harus bagaimana sekarang? Huhuhu, ini sangat menyebalkan!!"


Jika biasanya pria-lah yang kesal karena tidak mendapatkan jatah dari istrinya karena sedang ada tamu bulanan. Kali ini malah sebaliknya. Aster-lah yang uring-uringan tidak jelas. Sedangkan Nathan tampak santai-santai saja.


"Astaga, kapan kau akan berhenti mengomel seperti ini, Aster Xiao?! Setelah tamumu pergi, kau bisa menghabiskan milikku sesuka hatimu,"


"Tanpa Paman mengatakannya pun aku pasti akan melakukannya. Lagipula mana bisa aku melewatkan hal seindah dan enak itu!!"


Nathan sungguh tidak habis pikir dengan istri cantiknya ini. Dia uring-uringan hanya karena tidak bisa bercocok tanam dengannya.


Sama seperti Aster, sebenarnya Nathan juga ingin melakukannya. Tapi dia tidak seperti Aster yang sampai begitu frustasi. Nathan mencoba untuk mengerti.


"Sebaiknya bantu obati luka-lukaku ini, ini lumayan perih,"


"Ck, siapa suruh terus melibatkan diri Paman dalam perkelahian?! Beginilah hasilnya!!" Aster mengomeli Nathan dan pria itu sekali lagi menghela napas. Aster begitu menggemaskan jika sedang kesal dan marah.


"Jangan cerewet, cepat lakukan!!"

__ADS_1


"Iya, iya, dasar tidak sabaran!!"


Sepuluh menit kemudian pekerjaan Aster pun selesai. Semua luka gores itu sudah diobati dan di tutup perban, kecuali luka di wajahnya yang hanya di tutup dengan plaster luka. Lalu pandangan Aster bergulir pada mata kanan Nathan yang masih tampak buruk.


Aster mengambil obat yang diberikan oleh Zhoumi lalu mengoleskan pada area yang masih bengkak dan terkadang mengeluarkan darah di bagian jahitannya.


"Paman, ini sudah tiga bulan, tapi kenapa kondisi mata kananmu masih belum membaik juga? Kenapa masih bengkak dan memerah?"


Nathan menggeleng. "Aku sendiri tidak tau. Semalam Zhoumi memberitahuku, hal buruk bisa saja terjadi jika aku tidak segera mengambil tindakan."


"Maksud Paman?"


"Terjadi pembekuan darah yang bisa memicu terjadinya tumor mata jika tidak segera dilakukan operasi pengangkatan pada bola matanya."


"Tu-Tunggu dulu, kenapa harus diangkat? Bukankah Paman Zhoumi bisa menciptakan obat luka yang sangat mujarab? Ta-Tapi kenapa dia malah menyarankan seperti itu? Bukankah sebelumnya tidak ada masalah?"


Nathan mendesah berat. "Harusnya sih begitu. Tapi obat penemuan Zhoumi ternyata hanya untuk luka luar saja. Pembekuan tidak mungkin bisa dihilangkan tanpa operasi. Apalagi pembekuan itu pada bola matanya."


"I-Itu artinya Paman akan cacat seumur hidup?" Suaranya terdengar parau.


Nathan mengangkat bahunya. "Ya, begitulah kemungkinannya. Kenapa? Apa kau malu jika akhirnya memiliki suami yang cacat?" Aster menggeleng."Lantas?"


"Aku hanya merasa sedih saja, Paman. Itu artinya selamanya Paman harus hidup dengan sebelah mata saja yang berfungsi? Itu terlalu menyakitkan untukku, dan pasti tak mudah juga untuk Paman,"


Nathan menggeleng. "Tidak usah menangis. Paman baik-baik saja, lagipula Paman sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini." Jari-jari besarnya menghapus jejak air mata di pipi Aster.


"Bagaimana pun keadaan Paman nanti. Aku akan tetap menerima Paman apa adanya." Ucap Aster kemudian berhambur ke dalam pelukan Nathan.


"Terimakasih, Sayang. Karena sudah mencintaiku dengan sepenuh hatimu dan mau menerimaku apa adanya."


Nathan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Aster. Betapa dia sangat beruntung memiliki wanita ini disisinya. Aster bukan hanya sekedar teman hidup saja, tapi dia adalah segala-galanya bagi Nathan.


Hidup dan cintanya hanya akan dia tuangkan untuk Aster seorang. Hanya Aster, karena dia satu-satunya cinta dalam hidup Nathan-.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2