
Nathan bergegas menyusul Astra yang berlari menuju toilet. Iya tidak tahu apa yang terjadi pada istrinya itu, tiba-tiba saja aster mual-mual dan berlari ke arah toilet.
Dia itu tidak peduli meskipun yang ia masuki adalah toilet wanita. Bahkan Nathan mengabaikan berbagai tatapan wanita yang ada disana. Mungkin saja mereka berpikir jika Nathan adalah seorang pria c@bul, karena berani masuk ke dalam toilet wanita secara terang-terangan.
"Tuan, Apa yang sedang anda lakukan di sini?! Saya yakin anda tidak buta huruf dan bisa melihat tulisan di luar sana." tegur salah satu perempuan yang ada di toilet.
"Jika anda tidak keluar sekarang kami akan memanggil security," ucap perempuan lainnya.
"Bisakah kalian diam?! Istriku ada di dalam sana dan sedang muntah-muntah, jadi bagaimana mungkin aku bisa membiarkannya begitu saja!!" ujar Nathan sambil menunjuk salah satu pilih yang tertutup rapat.
Dan di dalam sana Aster sedang muntah-muntah, mengeluarkan semua makanan yang sudah masuk ke dalam perutnya."Minggir, dan jangan halangi jalanku, jika kalian tidak ingin menyesal!!" nathan menatap wanita-wanita itu satu-persatu.
Melihat tatapan mata Nathan yang begitu mengintimidasi membuat mereka bergidik ngeri, meskipun hanya melalui mata kirinya, tapi hal itu sudah lebih dari cukup untuk membuat mereka uji nyali.
Kemudian mereka minggir dan memberikan jalan untuk Nathan. Tidak ada lagi yang berani berkomentar, apalagi menegur Nathan.
"Aster, buka pintunya dan biarkan aku masuk." seru Nathan sambil menggedor pintu bilik itu."Cepat buka pintunya dan jangan membuatku cemas," pinta Nathan sekali lagi.
Cklek...
Beberapa saat kemudian pintu itu dibuka dari dalam, dan sosok Aster keluar dari dalam toilet dengan wajah sedikit pucat. Hal itu membuat Nathan menjadi sangat cemas.
Nathan mendekati Aster. "Aster, apa kau baik-baik saja?" Tanya Nathan memastikan. Aster mengangguk. Meyakinkan pada Nathan jika dia baik-baik saja. "Kita ke dokter, kau sangat pucat. Dan aku tidak ingin mendengar penolakan!!" Tegas Nathan tak ingin dibantah.
"Huft, baiklah."
.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" tanya Nathan pada wanita berjas putih itu.
"Tidak ada yang perlu Anda khawatirkan, Tuan. Istri anda baik-baik saja, dan mual itu diakibatkan oleh janin yang berada dalam perutnya. Saat ini istri anda dalam keadaan hamil dan usia kandungannya baru memasuki Minggu ke-4." jelas dokter itu.
Aster pun segera turun dari ranjang dan menghampiri dokter itu. "Maksud dokter, jadi saya hamil?" dokter wanita itu mengangguk.
__ADS_1
"Benar Nyonya. Saat ini anda sedang hamil, dan saat ini usia kandungan Anda baru memasuki Minggu ke-4." jelas dokter itu.
Aster tak bisa membendung kebahagiaannya, wanita itu menyusut air matanya lalu menghambur ke dalam pelukan suaminya. "Kau dengar itu, Oppa? Aku hamil dan kita akan memiliki anak lagi." ucap Aster yang kemudian dibalas anggukan oleh Nathan.
Bukan hanya Aster yang merasa bahagia tapi Nathan juga, saking bahagianya sampai-sampai Nathan tidak kuasa menahan air matanya.
"Oppa, saat tiba di rumah nanti kita harus segera menghubungi Laurent. Dia harus tahu tentang kabar baik ini." ucap Aster, Nathan mengangkut.
Bagaimana mungkin Aster bisa menyembunyikan kabar baik ini dari Putri sulungnya, Laurent harus tahu tentang kehamilannya. Dan Laurent Pasti akan sangat bahagia saat mengetahui jika dirinya akan memiliki adik lagi.
-
Ponsel milik Laurent tiba-tiba berdering. Gadis berusia 10 tahun itu beranjak dari tempat tidurnya, dan mengambil ponselnya yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya.
Nama sang ibu tertera menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. "Mami, ada apa Tumben menghubungiku jam segini?" ucap Laurent tanpa basa-basi.
"Sayang, ada hal penting yang ingin Mami sampaikan padamu. Laurent akan memiliki adik lagi, saat ini mami sedang mengandung adikmu."
"Benarkah, aku bahagia sekali mendengarnya. Ngomong-ngomong kapan Mami dan Daddy di pulang? Aku sangat merindukan kalian,"
Raut wajah Laurent berubah Sendu. Sejujurnya ia sangat merindukan Aster dan Nathan, apalagi sebelumnya mereka tidak pernah berjauhan seperti ini.
"Mi, kalau begitu biar aku yang pergi ke sana. Dua minggu lagi sekolahku, sudah memasuki liburan musim semi. Sebentar lagi kita akan bertemu lagi,"
"Kalau begitu, biar kedua pamanmu yang mengantar mau kemari."
"Oke, Mi. Aku sangat lelah Aku tutup dulu ya. Miss You, Mami."
"Miss you to baby," kemudian panggilan itu diputus oleh Aster.
Lauren meletakkan kembali ponselnya dibatas nakas, dan kemudian berbaring. Dia sangat lelah dan ingin tidur lebih awal malam ini.
-
__ADS_1
Perhatian Aster teralihkan oleh suara decitan pintu dibuka. Terlihat Natan keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk yang melingkari pinggulnya, wajahnya terlihat lebih fresh dari sebelumnya.
"Kau sudah menghubunginya?" Aster mengangguk.
"Aku baru saja menghubunginya, dan Laurent sangat bahagia mendengar jika kita akan memiliki adik lagi. Dua minggu lagi dia akan menyusul kita kemari, dan aku akan meminta Gavin serta Rio mengantarkannya kemari." Tutur Aster.
"Lalu bagaimana dengan sekolahnya Jika dia kemari?" Nathan menatap Aster yang sedang menyiapkan pakaian untuknya.
Aster menyerahkan sebuah Tank top putih polos dan celana panjang pada Nathan. "Dia kemari saat liburan sekolah, dua minggu lagi sekolahnya akan mengadakan liburan musim semi." jawab Aster.
"Baiklah jika begitu, aku rasa tidak ada masalah. Ini sudah larut malam Kenapa tidak tidur."
"Aku masih belum mengantuk, lagipula ini masih terlalu awal untuk aku tidur." jawabnya.
Nathan menarik lengan Aster dan menempatkan wanita itu di pangkuannya. Jari-jari besarnya membelai pacar Aster, dan sebuah Seringai tampak pada bibir kiss ablenya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, itu terlalu mengerikan Paman."
"Apakah kau tidak ingin memberikan hadiah selamat malam pada suaminya," ucapan Nathan masih dengan seringnya yang sama.
Kemudian Nathan menarik tengkuk Aster dan membenamkan bibirnya pada bibir wanita itu. Sebelah tangan Nathan memeluk pinggang ramping Aster dengan posesif, sedangkan sebelah tangan lagi menekan tengkuknya dan memperdalam ciuman mereka.
Aster memeluk leher suaminya saat merasakan ciuman Nathan yang semakin dalam dan menuntut. Sepasang Biner Hazel nya tertutup rapat, Aster benar-benar menikmati ciuman itu.
Posisi mereka tidak lagi duduk, nathan berubah posisi mereka saat menyadari Aster membalas ciumannya. Kini wanita itu berada dibawah kelengkungannya.
Nathan terus ******* bibir Aster tanpa ampun, dan ciuman mereka baru berakhir ketika Nathan merasakan pukulan brutal pada dadanya. Aster sudah mulai kehabisan napasnya, bahkan wajahnya kini memerah padam.
"Sudah malam, sebaiknya segera tidur. Dan aku tidak mau mendengar kata tidak!!" Ucap Nathan sambil menghapus sisa liur di bibir Aster.
"Huft, baiklah."
-
__ADS_1
Bersambung.