"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Ekstra Bab (Bag 35)


__ADS_3

Hari ini Nathan, Aster dan Baby Rey akan terbang ke Inggris untuk sebuah perjalanan bisnis. Mereka terpaksa tidak membawa Laurent untuk ikut karena gadis kecilnya itu harus sekolah.


Mereka pergi dengan menggunakan sebuah jet pribadi. Tidak hanya bertiga saja, Nathan juga membawa Leon untuk ikut bersama mereka. Tenaga Leon sangat di butuhkan selama mereka di sana.


Nathan baru saja mendapatkan proyek besar yang mengharuskan dia untuk berada di sana selama beberapa bulan, itulah kenapa Nathan sampai membawa Aster dan Baby Rey untuk ikut bersamanya. Karena tidak mungkin dia meninggalkan mereka berdua, bisa-bisa setiap malam Aster merengek memintanya untuk pulang pulang.


"Hoek... Hoek... Hoek...!!!"


Aster menatap pintu toilet dengan cemas. Di dalam sana ada Leon yang sedang mengeluarkan semua isi di dalam perutnya. Sebenarnya Leon mabuk udara dan ketinggian, tapi dia tetap memaksakan diri untuk ikut bersama pasangan suami-istri tersebut.


"Paman, apakah dia akan baik-baik saja? Semakin lama keadaannya malah semakin mengawatirkan. Bagaimana kalau dia sampai berakhir di sini?!"


"Hus, jangan bicara sembarangan. Jika dia sampai mati disini bisa-bisa aku yang rugi. Kau tenang saja, dia akan baik-baik saja, jangan cemas sebaiknya kau istirahat karena perjalanan kita masih panjang. Rey, biar aku yang memangku nya."


Aster mengangguk. Kemudian dia menyerahkan Baby Rey pada Nathan. Bocah berusia 2 tahun itu terlihat menikmati perjalanannya. Bahkan dia sampai terlonjak dan tertawa kegirangan. Apalagi ini pertama kalinya bagi Rey menemukan sebuah hal baru.


"Bagaimana, Rey? Apakah kau menikmati perjalanannya?" Ucap Nathan pada putra bungsunya itu.


Rey mengangguk. "Daddy, itu awan? Lucu, saat besal nanti Ley akan telbang ke awan. Ley, mau bawa pulang awan untuk Mami." Celoteh bocah laki-laki itu sambil menunjuk awan-awan itu.


"Tentu, saat besar nanti Rey harus menjadi anak yang membanggakan untuk Mami dan Daddy. Rey harus menyayangi kami, terutama Mami. Rey, harus ingat jika Mami adalah orang yang paling berjasa untuk Rey. Sesibuk apapun, Mami. Dia tidak akan pernah lupa untuk memberikan Asi padamu, Nak."


Rey mengangguk. Seolah-olah dia mengerti apa yang Nathan sampaikan padanya. "Rey, sayang Mami dan juga Daddy. Rey ingin berbakti pada kalian saat dewasa nanti."


"Anak pintar, sebaiknya sekarang Rey tidur dulu. Daddy tidak mau jika Rey sampai kelelahan. Kemari lah Nak, biarkan Daddy memelukmu." Ucap Nathan sambil merengkuh tubuh Rey.


Rey tampak begitu tenang dalam pelukan Nathan. Dekapan hangat sang ayah membuatnya tertidur pulas. Selang beberapa saat, Nathan pun ikut tertidur juga. Hanya menyisakan Leon yang masih berjuang antara hidup dan mati di dalam kamar mandi.

__ADS_1


-


Setelah menempuh perjalanan selama lebih dari 13 jam. Nathan, Aster, Leon dan Baby Rey pun tiba di Inggris. Jet pribadi yang mereka naiki mendarat di halaman belakang sebuah mansion mewah yang memiliki tiga lantai.


Sama halnya dengan mansion di Korea, Mansion Nathan di Inggris pun memiliki sebuah landasan pesawat untuk jet pribadinya. Nathan membawa Baby Rey di dalam gendongannya.


Bayi berusia 2 tahun itu begitu menikmati perjalanan panjangnya, sangat berbanding balik dengan Leon yang seperti hampir mati karena mabuk udara.


"Bos, dimana kamarku? Aku ingin langsung tidur. Perutku pusing dan kepalaku mual, aku ingin mengumpulkan nyawaku yang tinggal setengah ini."


"Dasar aneh. Mana ada perut pusing dan kepala mual, jangan-jangan mabuk udara membuat otakmu sedikit bergeser." Protes Aster menanggapi ocehan aneh Leon.


"Nona Bos, otakku tidak bisa di buat berpikir sekarang. Jadi biarkan saja aku bicara seperti apapun juga. Huhuhu, aku sangat tersiksa. Perjalanan panjang ini membuatku nyaris tinggal nama." Tutur Leon.


Sebenarnya Leon sangat suka perjalanan ke luar negeri. Apalagi di sana dia bisa cuci mata dengan melihat para wanita cantik.


"Kau pergilah istirahat, kamarmu ada di sebelah kanan ruang keluarga. Aster, sebaiknya kita istirahat juga." Ucap Nathan yang kemudian di balas anggukan oleh Aster.


Baby Rey sudah bersama Baby sister nya. Nathan juga membawa orang yang selama ini merawat Rey, karena bagaimana pun juga tenaga wanita itu sangat di butuhkan.


.


Aster merebahkan tubuhnya pada kasus king size yang berada di kamar super megah nan mewah itu. Ini adalah kamar utama di mansion milik Nathan yang luasnya 2-3 kali lipat dari kamar-kamar yang lain.


Mansion ini pernah hancur karena di bom musuh, tapi Nathan membangunnya kembali dengan ukuran dua kali lebih besar dari mansion yang sebelumnya. Bahkan tingkat keamanannya pun lebih baik dan lebih mumpuni dari mansion sebelumnya.


Nathan melepas jas hitamnya dan menyisakan kemeja tanpa lengan yang memiliki warna senada dengan jasnya. Tak lupa dia juga membuka dua kancing teratasnya ketika menghampiri Aster yang sedang berbaring.

__ADS_1


"Di sini lumayan dingin. Paman, bagaimana kalau malam ini kita pergi jalan-jalan? Aku rindu kota London saat malam hari," ucap Aster dengan antusias.


Nathan menggeleng. "Jangan malam ini, aku sangat lelah dan kepalaku sedikit pusing. Di tambah mata kananku yang terus berdenyut nyeri," ujar Nathan kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur.


Aster pun segera bangkit dari berbaring nya. Dia duduk berhadapan dengan Nathan. "Why, apa mata kananmu bermasalah lagi? Paman, bisakah kau lepas eyepacht nya, biar aku lihat lukanya. Bagaimana kalau jahitannya sampai terbuka lagi."


"Tidak perlu panik, hal semacam ini sudah sering terjadi. Ambilkan saja obat pereda sakit ku, aku menyimpannya di koper paling atas."


"Baiklah, tunggu sebentar."


Nathan menarik turun benda hitam yang menutup mata kanannya. Ada bekas luka memanjang pada mata itu. Bekas luka yang membuat Nathan selalu teringat pada sebuah insiden yang nyaris merenggut nyawanya.


"Paman," seru Aster yang entah sejak kapan sudah ada di depan Nathan.


Wanita itu menatap sendu mata kanan suaminya yang tak lagi sempurna. Bahkan air mata pun tak lolos dari sepasang biner Hazel nya. Aster menangkup wajah Nathan, tanpa rasa jijik sedikit pun ia kemudian mencium mata kanan suaminya yang tampak mengerikan.


"Kenapa kau menangis?" Nathan menghapus bulir-bulir bening yang mengalir dari pelupuk mata Aster.


Wanita itu menggeleng. "Aku tidak menangis, hanya kelilipan sedikit. Ini obatnya, cepat di minum kemudian bawa istirahat. Aku mandi dulu," Aster menyeka air matanya lalu beranjak dari hadapan Nathan.


Wanita itu berjalan menuju kamar mandi sambil meremas dada kirinya yang berdenyut nyeri. Memangnya istri mana yang tidak akan sedih melihat keadaan suaminya yang tidak lagi sempurna.


Dan bagaimana pun keadaan Nathan saat ini, Aster akan selalu menerimanya dan tetap mencintainya dengan penuh ketulusan. Karena yang Aster cintai bukanlah fisik Nathan, tapi hati dan ketulusan cintanya.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2