
Pukul 23.00 PM...
Suara ketikan dari keyboard laptop memenuhi keheningan di sebuah ruangan yang hanya didominasi warna putih pada dinding dan plafonnya.
Tek, tek tek tek tek tek ... tek, tek, tek tek tek tek tek ...
Mata kiri pria itu fokus pada layar monitor di depannya yang menyala terang. Kata demi kata yang dia ketik dengan jari-jarinya merangkai membentuk sebuah kalimat.
Narhan berjengit mendapati kopi pahit di dalam cangkirnya telah habis, hanya menyisakan bubuk hitam yang menggumpal di sana. Pria itu melirik jam sebentar, kemudian beranjak ke dapur untuk membuat secangkir kopi lagi.
Titlle workaholic yang melekat pada dirinya, sepertinya memang pantas untuk menggambarkan diri Nathan ketika dia sedang bekerja. Bahkan dia sering menghabiskan waktunya di kantor hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk.
Tapi akhir-akhir ini sedikit banyak Nathan mulai berubah, lebih tepatnya setelah kedatangan Aster dan Laurent.
Pria itu kini lebih banyak menghabiskan waktunya bersama mereka berdua, dia sudah kehilangan banyak momen berharga bersama putri kecilnya, dan pemilik mata tajam itu tidak ingin kehilangan banyak waktu lagi bersama mereka berdua.
"Oppa," tegur seseorang dari arah belakang.
Nathan menoleh, dan mendapati Aster berjalan menghampirinya. "Sayang, kenapa bangun? Apa kau ingin makan sesuatu atau mungkin ingin minum sesuatu yang segar?" Ucap Nathan namun segera di balas gelengan oleh wanita itu.
"Aku hanya haus dan ingin mengambil air putih. Oppa, sebaiknya kau segera tidur, ini sudah malam."
"Sebentar lagi, Sayang. Hanya tinggal sedikit lagi. Kembalilah ke kamar dan tidur lagi. Temani Laurent, aku akan segera menyusul." Ucap Nathan.
Lagi-lagi Aster menggeleng. "Tapi baby Xiao ingin bersama Daddy-nya. Dari sore Daddy-nya sibuk bekerja dan tidak menyapa Baby Xiao sama sekali." Ujarnya.
Nathan menuntun Aster untuk duduk kemudian dia berlutut di depannya. Jari-jari besarnya mengusap perut wanita itu yang masih rata sambil tersenyum lebar.
"Hai, Nak. Bagaimana kabarmu hari ini? Maafkan Daddy, Sayang. Karena tidak sempat menyapamu. Baik-baik di dalam sana, Daddy menyayangimu." Kemudian Nathan mendekatkan wajahnya dan mencium perut rata Aster.
Aster tersenyum. Jari-jari lentiknya mengusap rambut coklat Nathan yang terasa halus. Pria itu kemudian mengangkat wajahnya, bibirnya bergerak menuju bibir Aster lalu mengecup singkat bibir tipis milik sang wanita.
Seolah tak cukup. Aster mengalungkan kedua tangannya dan balik mencium Nathan. Bibirnya terus memagut dan mel*mat bibir suaminya dengan keras. Menginvasi bibir itu sepenuhnya.
__ADS_1
Tak suka di dominasi, Nathan pun segera mengambil alih ciuman tersebut. Kini ciuman sepenuhnya di kuasai oleh pria itu. Dia terus mel*mat bibir Aster, atas dan bawah bergantian.
"Aaahhh..."
Des*han panjang keluar dari bibir Aster ketika Nathan memindahkan ciumannya menuju leher jenjangnya. Bibir dan lidah pria itu terus saja menginvasi leher dan sekitar dada sang wanita. Mengecupnya, meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana.
Namun ciuman mereka tidak berlangsung lebih dari satu menit. Nathan mengakhiri ciumannya karena melihat Aster yang sudah mulai tidak sanggup lagi.
"Kembalilah ke kamar. Di sini sangat dingin. Jangan bandel, atau aku akan mendiamimu lagi. Ini demi kebaikanmu dan Baby Xiao."
Diancam akan didiamkan oleh Nathan membuat Aster terkesiap, bagaimana tidak? Jika sudah kesal, pria itu bisa mendiaminya sampai beberapa hari. Dan hal itu membuat wanita yang tengah berbadan dua tersebut akhirnya memilih mengalah.
"Baiklah, aku akan ke kamar sekarang. Sebaiknya Oppa juga segera tidur. Pekerjaan bisa dilanjutkan besok lagi, kesehatanmu lebih penting." Ucapnya yang kemudian di balas anggukan oleh Nathan.
"Baiklah, Sayang. Aku mengerti." Jawab Nathan. Aster bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Wanita itu kembali kekamarnya.
.
.
.
Nathan menutup kembali pintu kamarnya lalu menghampiri Aster dan Laurent yang sama-sama tertidur pulas. Satu ciuman Nathan daratkan pada kening Aster dan Laurent secara bergantian. Dua bidadarinya sudah tertidur pulas.
Kemudian Nathan mengambil tempat di samping Laurent dan ikut berbaring bersama mereka. Sejak kembali, Aster dan Nathan belum pernah tidur berdua saja, mereka tidur dengan si kecil diantara mereka.
Bukannya tak mampu memberikan kamar kamar sendiri untuk Laurent. Tapi dia masih terlalu kecil untuk sendiri. Mungkin setelah usia Laurent 7 tahun, atau setelah baby Xiao lahir. Baru mereka akan melepaskan si kecil untuk tidur sendiri.
-
Suara cicit burung gereja yang hinggap di atas pohon turut meramaikan datangnya hari baru. Disebuah mansion mewah tampak seorang wanita tengah sibuk sibuk memarahi seorang pria tampan dengan lingkaran panda di kedua matanya. Siapa lagi mereka jika bukan Aster dan Tao.
Aster di buat kesal setengah mati karena Tao menghabiskan susu ibu hamilnya, bukan hanya menghabiskan susunya, tapi Tao juga memakan acar pedas yang dia simpan di dalam lemari pendingin.
__ADS_1
"Nyonya Boss, berhentilah mengomel. Oke, aku akui kalau aku salah, tapi jangan menyumpahiku jadi perjaka tua dong!!" Rengek Tao memohon.
"Siapa suruh kau menyebalkan. Sudah tau itu susu ibu hamil. Masih saja di minum, sudah tau acar pedas itu milikku, masih saja di makan. Dasar rakus!!"
"Habisnya susu ibu hamil rasanya lebih enak dari susu biasa, makanya mataku langsung hijau saat melihatnya."
"Dasar panda jelek, menyebalkan. Aku tidak mau tau, sekarang ganti atau aku akan menyumpahi-mu jadi bujang lapuk?!" Ancam Aster bersungguh-sungguh.
"Jangan dong Nyonya Boss. Baiklah, akan aku buatkan lagi. Tapi masalahnya aku tidak bisa. Bagaimana kalau minta pelayan saja yang membuatkannya? Kan sudah jago tuh!!"
"Dasar panda tidak berguna. Sebagai hukumannya, cepat petikan aku mangga yang setengah matang. Tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda."
"Tapi aku tidak bisa naik pohon!!"
Aster mendengus kesal. Rasanya dia ingin sekali menghajar Tao dan memukul pantatnya sampai kempes. Pemuda itu benar-benar membuatnya naik darah. "TAO!! KAU BENAR-BENAR YA!!" geram Aster marah.
Dan sementara itu...
Nathan yang menyaksikan perdebatan mereka hanya bisa mendengus berat. Pria bereyepacth hitam itu memperhatikan mereka dari lantai dua mansion-nya. Bukan hanya sekali, hampir setiap hari mereka selalu terlibat pertengkaran dan perdebatan yang membuatnya geli sendiri.
Pria dalam balutan kemeja hitam dan celana hitam itu kembali ke kamarnya, setibanya di sana dia mendapati putri kecilnya sudah bangun dan tengah duduk di atas tempat tidur.
"Daddy, suara ribut apa itu?" Tanya Laurent sambil mengucek matanya.
"Apa lagi jika bukan suara Mami-mu yang sedang ribut dengan Paman, Tao. Princess, ayo kita mandi dulu." Ucapnya.
Ken melepas kemeja hitamnya menyisahkan dalaman putih yang memperlihatkan lengannya yang berotot. Tanktop putih polos itu memeluk tubuhnya dengan sempurna. Ken tidak ingin basah dan kemudian ganti lagi. Itulah kenapa dia lebih memilih membuka kemejanya.
Memandikan Laurent bukanlah hal baru bagi Nathan. Hampir setiap hari dia melakukannya, dan Nathan tidak pernah mengeluh meskipun terkadang putri kecilnya itu ngompol di pakaiannya. Bagi Nathan itu bukanlah sebuah masalah besar.
"Daddy, hari ini kau libur kan? Bagaimana kalau Daddy membawaku jalan-jalan? Aku ingin pergi ke taman bermain." Ucap Laurent dan kemudian dibalas anggukan oleh Nathan.
"Baiklah, Princess."
__ADS_1
-
Bersambung.