
Usia Cris dan Riyana terpaut 10 tahun. Wanita itu memang lebih tua darinya. Namun hal itu tidak menghalangi cinta mereka untuk bersatu.
Satu tahun berkencan, mereka pun memutuskan untuk menikah. Dalam pernikahan itu, mereka dianugerahi satu orang putri, tapi sayangnya putri mereka meninggal sebelum dilahirkan, karena Riyana mengalami keguguran.
Kisah cinta yang berawal manis berakhir dengan tragis. Dimana Riyana menghianati ikatan suci mereka.
Riyana menjalin hubungan terlarang dengan pria lain, kemudian keduanya bekerjasama untuk menyingkirkan Cris dan menghabisinya. Tapi sayangnya usaha Riyana tidak berjalan mulus karena Tuhan masih menyayangi Cris, sehingga dia diberikan kesempatan kedua untuk tetap hidup melalui Nathan.
"Makanlah,"
Cris melemparkan sebuah bingkisan makanan pada Riyana. Wanita itu mengabaikannya dan tidak berniat untuk mengambilnya.
Riyana membuang muka ke arah lain. "Untuk apa kau memberiku makan sementara kau memasungku di tempat ini?! Bukankah kau berniat untuk membunuhku secara perlahan-lahan, jadi kenapa kau masih harus peduli padaku?!" Riyana mengangkat wajahnya dan menatap Cris dengan tatapan bertanya.
"Kau terlalu banyak bicara, sebaiknya kau makan saja." Cris mendekatkan makanan itu pada Riyana sebelum ia beranja dan pergi dari hadapannya.
Sebenarnya Cris tidak pernah ingin menyekap apalagi memasung wanita itu. Tapi Riyana sudah melukainya terlalu dalam. Dan apa yang Cris lakukan padanya, tentu tidak sebanding dengan apa yang telah Riyana lakukan padanya dimasa lalu.
"Cris!! Kau memang keterlaluan, aku semakin membencimu!! Mati saja kau!!" Teriak Riyana namun tidak ada sahutan dari luar. Karena Cris telah pergi dari sana sejak beberapa saat yang lalu.
-
Bukan rahasia lagi jika Nathan adalah seorang pria yang gila kerja. Itulah kenapa dia dijuluki sebagai Workaholic oleh orang-orang terdekatnya.
Bagi Nathan, kantor sudah seperti rumah kedua. Itulah kenapa Nathan sampai membuat ruang istirahat di dalam ruang kerjanya.
Nathan mengangkat wajahnya dan menatap sekilas pada Aster yang sedari tadi, sejak 10 menit yang lalu terus menatapnya. Gadis itu bertopang dagu dengan kedua sikunya di atas meja.
"Sampai kapan kau akan menatapku seperti itu, Nona Xiao?!" Ucap Nathan tanpa menatap lawan bicaranya, fokusnya kembali tertuju pada dokumen di depannya.
"Sampai kambing beranak harimau."
"Hah?" Sontak Nathan mengangkat wajahnya dan menatap Aster penuh tanya."Maksudmu?"
__ADS_1
Aster menggeleng. "Bukan apa-apa, Paman. Aku hanya asal bicara, jadi lupakan saja." Ucapnya.
Hanya orang buta yang mengatakan jika Nathan bukanlah pria tampan dan menarik. Bahkan anak kecil saja tau jika Nathan adalah pria dengan sejuta pesona.
Predikat sebagai ayah angkat termuda dan tertampan yang pernah ada dalam sejarah, sepertinya memang tepat diberikan pada Nathan.
Bagaimana tidak, Nathan yang tahun ini telah genap 31 tahun memiliki putri angkat sebesar Aster yang usianya hanya terpaut 10 tahun darinya.
Nathan yang sangat tampan dan berkharisma, tentu saja menjadi pujaan dan dambaan para wanita.
Tak sedikit wanita yang rela melakukan apapun demi bisa mendapatkan hatinya, bahkan banyak diantara mereka yang rela membuka kakinya secara cuma-cuma untuk Nathan.
Tapi sayangnya Nathan bukanlah Cris ataupun Leon yang dengan mudahnya, mempersilahkan setiap wanita asing masuk ke dalam hidupnya. Karena Nathan adalah pria setia dengan satu wanita.
"Paman, kenapa kau semakin tampan saja dari hari ke hari, aku kan menjadi semakin cinta dan tergila-gila padamu. Ahh, itu pasti karena kita sering bercocok tanam, aku yakin itu."
Tukkk...
Endingnya sebuah pukulan mendarat pada kepala Aster. Nathan memukul kepala Aster dengan pulpen di tangannya. Wanita itu meringis dan sedikit terkekeh.
"Kekeke." Alih-alih merasa kesal. Aster malah terkekeh geli. "Paman lanjutkan saja. Aku akan beristirahat sebentar." Aster bangkit dari duduknya dan pergi ke ruang istirahat yang ada di balik rak buku. Bicara terus-menerus, lama-lama capek juga.
Seluruh kota terlihat jelas setelah Aster berdiri di depan dinding kaca ruang istirahat tersebut. Kini dia bisa melihat keindahan kota dengan lebih leluasa. Dan ruangan ini adalah tempat paling favorit ketika ia datang ke kantor Nathan.
"NATHAN XIAO!! KELUAR KAU BAJINGAN!!"
Aster tersentak kaget mendengar teriakan keras seseorang yang memanggil nama Nathan dengan kata bajingan di akhir kalimatnya.
Penasaran siapa yang mencoba membuat keributan, wanita itu pun segera keluar untuk melihatnya.
Setibanya di luar. Aster melihat seorang pria setengah baya tengah mengarahkan ujung pistolnya pada kening Nathan. Wanita itu sedikit terkejut melihat cairan merah segar mengalir dari pelipis kanan Nathan.
Aster tidak tau apa yang terjadi dan bagaimana Nathan bisa terluka. Dan Aster tidak tau kenapa Nathan hanya diam saja meskipun orang itu berusaha untuk membunuhnya.
__ADS_1
Dengan emosi yang telah sampai di ubun-ubunnya. Aster menghampiri pria itu lalu mengambil alih pistol di tangannya. Tubuhnya terhuyung kebelakang dan berakhir di lantai setelah mendapatkan tendangan dari Aster.
"YAKK!!" Pria itu berteriak tertahan. Segera dia mengangkat kedua tangannya saat melihat ujung pistol di tangan Aster mengarah pada kepalanya.
"Ga-gadis kecil, apa yang kau lakukan? Ja-jangan main-main dengan senjata api. Itu sangat berbahaya." Ucapnya tergagap.
Aster menyeringai. "Aku tidak tau kenapa Paman Nathan memilih diam dan tidak langsung menghabisimu. Dan aku juga ingin tau, kau sebenarnya orang gila dari mana yang dengan beraninya datang ke kandang singa?!"
"Dia adalah ayah dari Kim Sora, dan dia datang untuk membuat perhitungan denganku." Sahut Nathan memberi penjelasan. Pria itu terlihat menyeka darah dan menutup luka di pelipisnya dengan beberapa lembar tisu.
Sontak Aster menolah dan menatap Nathan dengan bingung. "Lalu kenapa Paman tidak melawan dan membiarkan dia melukaimu?!"
"Aku tidak sempat menghindar. Dia menyerang secara tiba-tiba." Jawabnya. "Dan sekarang sebaiknya kau mundur. Masalah orang ini biar aku yang menyelesaikannya!!"
Melihat perubahan sikap dan sorot mata Nathan membuat pria setengah baya itu langsung menelan ludah. Ini memang pertama kalinya dia bertatapan muka langsung dengan Nathan.
Selama ini dia hanya mendengar dari orang-orang disekitarnya saja. Jika Nathan adalah pria yang sangat kejam dan berbahaya.
"Kau ingin aku bertanggung jawab pada keadaan putrimu, bukan? Kalau begitu aku ingin kau bertanggung jawab pada semua kerugian yang aku alami karena perbuatan putrimu. Bagaimana? Adil bukan?"
Nathan benar-benar terlihat berbeda dari beberapa saat yang lalu.
Dia pikir rumor mengenai Nathan hanyalah sebuah kabar burung saja, tapi hari ini dia telah membuktikannya. Aura suram yang terpancar dari matanya membuatnya seakan di kubur hidup-hidup di dalam tanah.
Pria itu langsung berlutut di depan kaki Nathan sambil mencium ujung sepatu hitam Nathan. Nathan mengangkat sebelah kakinya dan membuat hidung pria itu berdarah. Dia mencoba bermain-main dengan Nathan rupanya.
Nathan membungkukkan tubuhnya, sebelah tangannya meraih dan mencengkram rahang pria setengah baya tersebut. "Bagus aku tidak langsung menghabisi putrimu, padahal tanganku sudah sangat gatal ingin meledakkan kepalanya."
Kemudian Nathan mendorong tubuh pria itu hingga tersungkur di lantai. "Pergilah dari hadapanku dan jangan coba-coba untuk menunjukkan batang hidungmu lagi di depanku jika kau tidak ingin berakhir dengan tragis. Pergilah!!"
Kesempatan yang diberikan oleh Nathan tidak lantas disia-siakan olehnya. Pria itu pun segera pergi meninggalkan ruangan Nathan.
-
__ADS_1
Bersambung.