
Cantik, cerdik, licik dan tidak mudah ditindas. Semua sifat yang Aster miliki menurun pada putri sulungnya, yakni Laurent.
Meskipun sering di Bully di sekolah barunya, karena dikira anak orang tidak punya, tapi Laurent tetap bersikap cuek dan tidak peduli. Baginya hal tersebut bukanlah sesuatu yang patut untuk di permasalahkan.
Laurent menghentikan langkahnya saat seorang anak perempuan dan ketiga temannya menghalangi jalannya. Gadis itu hanya bisa mendengus.
"Anak miskin tidak layak ada di sini, sampai kapan kau akan bertahan, huh?! Sebaiknya menyerah saja dan minta pada orang tuamu supaya memindahkan mu ke sekolah yang lebih pantas untuk anak sepertimu!!"
Laurent menatap sinis anak itu. "Kalau aku tidak mau memangnya kau mau apa? Lagipula siapa dirimu, kau bukan siapa-siapa di sekolah ini. Bahkan tempat ini bukan milik nenek moyangmu!!"
"KAU~"
"Ricka, berhenti!!" Seru seseorang dari arah belakang. Seorang wanita menghampiri mereka berlima. "Apa-apaan kau ini?! Sejak kapan sekolah mengijinkan ada perundungan seperti ini?! Kalian harus dihukum, kau dan ketiga temanmu harus membersihkan seluruh kelas dan halaman sekolah saat pulang nanti!!"
"What?! Ibu bercanda ya, apa Ibu tidak tau siapa kami, aku adalah anak donatur terbesar di sekolah ini. Jadi sebaiknya Ibu jangan macam-macam!!"
"Sedangkan Laurent adalah putri dari pemilik yayasan ini. Lalu siapa yang lebih berkuasa, kau atau dia?!"
"What?! Ibu bercanda ya? Mana mungkin gembel seperti dia adalah putri dari pemilik tempat ini?! Pasti dia hanya mengaku-ngaku saja, supaya lebih diperhatikan!!"
"Ibu sudah malas berdebat dengan anak sombong dan tidak tau etika sepertimu. Laurent, Mami mu ada di sini. Dan beliau menunggumu di kantor kepala sekolah."
"Baik Ibu Betty, saya akan ke sana. Minggir!!" Laurent menyenggol lengan Ricka dan membuat anak perempuan itu terhuyung kebelakang.
Penasaran siapa sebenarnya Laurent. Ricka dan ketiga temannya memutuskan untuk menyusulnya. Mereka hanya ingin tau.
.
"Mami, sedang apa kau di sini?!"
Perhatian Aster dan kepala sekolah sedikit teralihkan oleh panggilan Laurent, gadis kecil itu menghampiri sang ibu yang datang sendirian. Tanpa ayah dan juga adiknya.
__ADS_1
"Mami mendengar rumor yang tidak baik tentang dirimu, ada beberapa anak yang selalu merundung dan membullymu, Mami cuma ingin tau siapa anak itu dan latar belakang keluarganya,"
"Tidak perlu sampai seperti inilah, Mi. Toh hanya masalah kecil saja, kenapa harus dibesar-besarkan segala sih? Lagipula aku juga masih bisa menjaga diri, jadi Mami tidak perlu cemas oke. Mami pulang saja, jangan mempermalukan aku seperti ini!!"
Aster mendengus berat. Bagaimana bisa Laurent mewarisi sifatnya dan Nathan sekaligus. Tapi disisi lain dia juga merasa bangga, karena putrinya begitu dewasa dan bijak dalam menghadapi masalah.
Dan sementara itu...
Anak perempuan yang sebelumnya merundung Laurent tampak sangat terkejut setelah mengetahui siapa ibu dari anak yang di anggapnya miskin itu.
Melihat keterkejutan anak itu membuat Laurent menyeringai puas. Sesekali mereka memang perlu di beri pelajaran. Agar tidak merendahkan dan memandang hina orang lain.
"### Mampus, makanya jangan suka merendahkan orang lain!!" Laurent menyenggol bahu Ricka dan melewatinya begitu saja. Dia sangat-sangat puas pokoknya.
Nathan menutup dokumen terakhirnya saat mendengar suara pintu di buka dari luar. Sudut bibirnya tertarik ke atas melihat siapa yang datang.
"Paman, kenapa kau tidak mengangkat telfon ku?" Protes Aster setibanya dia di depan Nathan.
Beginilah Aster jika hanya berdua saja bersama Nathan, dia pasti akan memanggil suaminya dengan sebutan Paman.
Aster mendesah berat. "Dasar Mr,Workaholic." Ucap Aster mencibir.
Kemudian Aster menarik Nathan menuju ruangan, di mana mereka biasa menghabiskan waktu ketika ia berkunjung ke kantor suaminya. Tubuh Nathan terhempas ke atas tempat tidur dengan Aster yang menindih di atasnya.
"Paman, bagaimana kalau hari ini kita bersenang-senang sebentar?! Sudah lama sekali kita berdua tidak bercocok tanam saat siang hari." Aster memohon.
"Tapi bukankah kau masih merah ya?"
"Memang, aku akan membantumu klim"ks."
"Tutup tirai nya. Jangan sampai ada yang melihat saat kita melakukannya." Aster tersenyum lebar dan mengangguk dengan segera.
__ADS_1
.
Des*han dan erangan berkali-kali lolos dari bibir Aster ketika lidah Nathan bergerak liar di dalam Miss nya. Kepala Aster sedikit mendongak saat merasakan sensasi yang luar biasa saat Natha menghisap klit*risnya dan lidahnya berputar-putar di sana.
Tanpa merasa jijik sedikit pun, pria itu menghisap cairan yang keluar dari Miss Aster dan kemudian menelannya. "Aaahh..! Pa..Paman, hentikan. Ahhh, a-aku sudah tidak tahan lagi." Rancau Aster terbata-bata.
Natha menyeringai tipis. "Kenapa baby? Kau menikmatinya bukan. Bagaimana jika sekarang giliran ku?" Natha menempatkan ujung kepala Sosis berurat miliknya di atas mulut Aster agar wanita itu lebih mudah saat meng*lumnya.
Beruntung Junior milik Nathan tidak terlalu mengerikan jadi muat di dalam mulut kecil Aster. "Aaahh..! Lebih cepat lagi baby, ahhh.. lebih cepat lagi." rancau Nathan sambil menekan kepala belakang Aster.
Wanita itu terus meng*lum benda kebanggaan milik suaminya sambil sesekali menghisapnya. Nathan terlihat begitu menikmati.
Beberapa saat kemudian Aster melepaskan kulu*mannya kemudian merubah posisinya , dia menggunakan gaya 69 yang paling Nathan sukai.
Setelah puas, Nathan kembali menarik Aster dan menempatkan wanita itu di atas tubuhnya, bibir mereka kembali bergulat dan saling *******. Tidak ada gerakan er*tis yang dapat mengundang kecurigaan dari orang-orang yang ada disekitarnya.
Nathan menekan tengkuk belakang Aster untuk memperdalam ciumannya. Sedangkan wanita itu bekerja untuk melepaskan satu persatu kancing pada kemeja Nathan lalu menaikkan singkat putihnya.
Dengan gerakkan se*sual, Aster menggerakkan jari-jarinya pada dada bidang suaminya.
Dan apa yang dia lakukan semakin memancing Nathan untuk melakukan lebih, tapi dia harus bisa menahannya karena posisi keadaan saat ini tidak memungkinkan untuk melakukannya.
"Aku akan membantumu klim*ks, Paman."
Aster mengakhiri ciumannya kemudian menundukkan kepalanya dan kembali mengulum sosis berurat milik Nathan. Aster tau jika suaminya ini sangat tersiksa karena tidak bisa melakukan klim*ks.
Dan setelah hampir lima menit, akhirnya Nathan berhasil klim*ks, tapi sebelum cairan itu keluar, Aster memasukkan ke dalam mulutnya nya. Dan di dalam sana Nathan memuntahkan semua cairannya.
Nafas mereka sama-sama memburu dengan keringat yang membanjiri di sekujur tubuhnya. Nathan mengecup singkat bibir Aeter tanpa mel*matnya. "Rapikan penampilanmu, kita harus keluar sekarang." ucap Nathan sambil mengusap kepala coklat Aster.
Wanita itu mengangguk. Kemudian Nathan memakai kembali pakaiannya, setelah memastikan rapi. Dia melenggang keluar meninggalkan Aster yang masih membenahi penampilannya.
__ADS_1
.
Bersambung.