
Nathan kembali menghisap nikotinnya, asap putih yang keluar dari sela-sela bibirnya bergerak naik dan menghilang tersapu angin malam.
Udara malam ini terasa lebih dingin dari malam-malam sebelumnya, namun hal tersebut tak membuat pria itu beranjak dari posisinya, padahal pakaian yang melekat ditubuhnya sangat kontras dengan suhu udara malam ini.
Nathan hanya memakai celana panjang hitam, singlet putih dan kemeja hitam tanpa lengan yang seluruh kancingnya dibiarkan terbuka. Sepertinya udara dingin tidak berpengaruh padanya.
Perhatian Nathan teralihkan oleh dering pada ponselnya. Nathan merogoh saku celananya lalu mengeluarkan benda tipis nan canggih itu, nama Leon tertera dan menghiasi layar ponselnya yang menyala terang.
"Ada apa kau menghubungiku malam-malam begini?"
"Boss, semua berjalan seperti yang kau harapkan. Saat ini pasti Jung Hilman sedang kalang kabut karena kekacauan yang kau ciptakan."
"Bagus, lakukan sesuai rencana, dan sudah waktunya masuk ke rencana B. Aku ingin bajingan tua itu menangis darah di masa tuanya."
"Kau tenang saja, Boss. Serahkan semuanya padaku dan Theo. Kami sudah memiliki rencana tambahan untuk semakin menyempurnakan rencana B kita."
"Bagus, kalian memang selalu bisa diandalkan." Ucapnya.
Kemudian Nathan mengakhiri panggilan itu secara sepihak, dan memasukkan benda tipis itu ke dalam saku celananya. Nathan membuang puntung rokoknya kemudian masuk kembali ke dalam kamar.
Pria itu berbaring di samping Aster yang sedang tertidur pulas. Diusapnya kepala wanita itu dengan penuh sayang. Kemudian sebuah kecupan Nathan daratkan pada kening wanitanya, lama.
"Aku pasti akan melindungimu meskipun harus mempertaruhkan nyawaku. Aku tidak akan membiarkan siapapun merenggut-mu dari sisiku, bahkan bajingan tua itu."
Nathan bisa kehilangan segalanya, tapi dia tidak akan pernah bisa kehilangan Aster. Aster adalah segala-galanya bagi Nathan, dan Nathan tidak ingin kehilangan dia.
Dia akan selalu melindungi Aster bagaimana pun resikonya. Dan Nathan tidak akan membiarkan siapapun merenggut Aster dari sisinya. Dan mungkin saja Nathan akan gila jika Aster sampai terenggut dari sisinya.
-
Tidak sedikit kerugian yang Jung Hilman alami akibat beberapa insiden tak terduga yang terjadi semalam. Kerugiannya ditafsir melebihi 500 milyar won. Sungguh nilai yang fantastis.
Dan akibatnya, Jung Hilman mengalami serangan jantung dan harus dilarikan ke rumah sakit. Beruntung asistennya bertindak cepat sehingga nyawanya terselamatkan.
"Aku bawakan buah-buahan untukmu. Kau hampir saja mati karena serangan jantung, sebaiknya tidak usah bersikap arogan!!"
Hilman menatap tajam Riyana. Wanita itu baru saja mengatakan sebuah kalimat yang tidak pantas pada dirinya. Dengan emosi Hilman menyambar gelas yang ada di atas meja lalu melemparkannya pada wajah Riyana.
"Aaahhh... AYAH!!" Pekik Riyana sambil memegangi pelipisnya. Akibatnya pelipis Riyana terluka dan mengeluarkan banyak darah.
"Keluar kau anak sialan, aku tidak ingin melihat mukamu lagi, KELUAR!!"
Dengan emosi yang menggebu-gebu. Riyana melenggang pergi meninggalkan ruang inap ayahnya. Langkahnya terhenti ketika dia sampai di depan pintu.
Riyana menoleh dan menatap pria itu yang juga menatap padanya. Dalam hatinya Riyana bersumpah akan membalas semua perbuatan Hilman padanya. Bahkan Riyana tidak peduli meskipun dia adalah ayah kandungnya.
__ADS_1
-
"Kyyyaa!! Kami menang lagi!!"
Leon dan Theo hanya bisa tertunduk pasrah ketika Gavin dan Rio membuka kartunya, dan lagi-lagi mereka berdua kalah dari kedua pemuda itu.
Pagi hari di kediaman keluarga Xiao memang tidak pernah sepi. Apalagi ketika Leon dan Theo bermalam di sana. Mereka selalu saja menjadi korban dari kenakalan Rio dan Gavin. Dan pagi ini salah satunya.
Bukannya menang secara adil. Gavin dan Rio lagi-lagi menggunakan jurus andalan mereka untuk menumbangkan keduanya. Dan jurus apalagi jika bukan jurus kecurangan, parahnya lagi. Leon dan Theo tidak sadar jika sebenarnya mereka tengah dikibuli oleh keduanya.
"Sesuai kesepakatan. Yang kalah harus menjadi wanita selama satu Minggu penuh. Dan kami sudah menyiapkan semua atribut yang harus kalian pakai. Dan ... Taraaa, ini dia."
Kedua mata Theo dan Leon sama-sama membelalak melihat apa yang ada di dalam kardus tersebut. Ada dress, wig, sepatu wanita sampai payuda** dan bokon* palsu pun ada.
"Apa tidak ada hukuman lain? Berlari mengelilingi lapangan mungkin? Jangan jadi perempuan lah, kami sungguh tidak sanggup."
"Ada," Rio menyela cepat.
"Apa?"
"Berlari keliling pasar tradisional hanya dengan memakai celan* dalam, bagaimana?"
"Kami tidak sudi!!" Dengan kompak mereka berdua menjawab. Sedangkan Rio dan Gavin tertawa terbahak-bahak.
Dan Nathan yang menyaksikan mereka dari lantai dua hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala. Ia tidak tau kenapa Theo dan Leon bisa begitu bodoh, sampai-sampai mereka mudah untuk dibodohi oleh mereka berdua.
Nathan menoleh setelah mendengar suara pintu kamar dibuka. Sosok Aster keluar dari sana dengan balutan dress selutut bermotif bunga yang tampak melekat pas di tubuh rampingnya. Dress itu sedikit mengembang di bagian bawahnya.
"Apa yang sedang Paman lihat?" Tanya Aster penasaran.
Nathan tak menjawab, dan meminta Aster untuk melihatnya sendiri. Tak ingin melewatkan moment sebagus itu. Aster pun segera turun dan menghampiri mereka berempat.
"Paman, ada moment sebagus itu kenapa tidak memberi tahuku dari tadi? Sayang kan jika harus dilewatkan." Aster meninggalkan Nathan begitu saja.
Dan Nathan tidak tau bagaimana nasib Leon dan Theo selanjutnya jika Aster sampai ikut bergabung. Dan kali ini Aster akan membalaskan dendam kesumatnya pada Leon dan Theo.
Nathan beranjak dari tempatnya berdiri dan kembali ke kamarnya. Ia melihat ponselnya berdering, Nathan mengambil benda tipis itu kemudian menerima panggilan yang masuk.
"Nathan Xiao, aku ingin bertemu denganmu. Bisakah kau menemuiku malam ini di Casino Bar?"
"Aku tidak memiliki waktu untuk bertemu wanita sepertimu!!"
"Benarkah? Apa kau tidak ingin mengetahui sebuah rahasia penting tentang ayahku? Aku akan memberitahu sebuah fakta padamu, datanglah ke Casino Bar malam ini. Aku akan memberitahumu fakta yang memang harus kau ketahui!!"
Tanpa mengatakan apapun, Nathan memutuskan sambungan telfon itu begitu saja. Dalam hatinya Nathan terus bertanya-tanya, memangnya fakta apa yang akan Riyana beritahukan padanya.
__ADS_1
.
.
.
Gavin dan Rio tercenggang, bahkan mereka sampai tak berkedip sedikit pun ketika melihat Leon dan Theo keluar dari kamar dalam wujud barunya.
Keduanya terlihat begitu cantik dan menawan, bahkan orang-orang tak akan menduga jika sebenarnya mereka bukanlah wanita melainkan seorang pria.
"Lihatlah mata kalian berdua, hampir terlepas. Bagaimana karyaku? Sangat luar biasa bukan?" Tanya Aster membanggakan diri.
"Sangat perfect Nunna." Jawab keduanya dengan kompak.
Selanjutnya Aster menyerahkan keduanya pada Gavin dan Rio. Sedangkan Aster kembali ke kamarnya untuk mendapatkan jatahnya dari Nathan. Pagi ini dia belum mendapatkan jatah darinya.
"Paman.." seru Aster dan langsung menubruk tubuh Nathan. Kedua tangannya mengalung pada leher pria bermarga Xiao tersebut. "Aku belum mendapatkan jatahku pagi ini." Ucapnya sambil memanyunkan bibirnya.
Nathan mendengus geli. Kedua tangannya membingkai wajah Aster, dan selanjutnya bibir wanita itu berada dalam pagutan bibir Nathan. Nathan mencium dan melum** bibir Aster, atas dan bawah bergantian.
Aster tersenyum di tengah ciuman itu. Dengan keras ia mendorong Nathan hingga keduanya terguling diatas tempat tidur dengan Aster menindih tubuh pria itu. Kedua mata mereka sama-sama terpejam dan ciuman mereka semakin dalam.
Nathan merubah posisi mereka dengan menempatkan Aster di bawah tubuhnya. Bibirnya terus memagut dan melum** bibir Aster tanpa ampun.
Aster menurunkan sebelah tangannya pada lengan Nathan, menyusuri tribal tatto yang menghiasi lengan kiri suaminya. Dan Nathan begitu menikmati setiap inci sentuhan Aster pada lengannya.
Ciuman mereka masih berlanjut. Bahkan mereka masih tetap enggan mengakhiri ciumannya meskipun kebutuhan oksigen mulai mengambil alih.
Dan ciuman panas itu baru berakhir ketika Nathan merasakan pukulan pada dadanya. Rupanya Aster sudah tidak sanggup lagi.
"Bagaimana? Apa kau sudah puas?" Tanya Nathan sembari menghapus sisa liur di bibir Aster. Wanita itu mengangguk antusias.
"Sangat puas." Jawabnya tersenyum.
"Hari ini kau ada kelas pagi bukan? Segeralah bersiap, Paman akan mengantarkanmu." Ucap Nathan seraya bangkit dari atas tubuh Aster.
"Beri aku 10 menit untuk bersiap." Kata Aster yang kemudian dibalas anggukan oleh Nathan.
"Baiklah."
-
Bersambung.
__ADS_1
Paman Nathan 😘😘😘