"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Ekstra Bab (Bag 20)


__ADS_3

Di sebuah bandara di kota Paris, terlihat dua wanita dan dua pria sedang berjalan menuju pintu keluar bandara dengan membawa koper besar. Mereka salah Aster, Nathan, Amy dan suaminya.


Nathan dan suami Amy memutuskan untuk ikut karena tidak tega jika harus membiarkan mereka hanya pergi berdua saja. Apalagi kondisi Amy yang sedang berbadan dua.


Aster dan Nathan terpaksa tidak membawa anak-anak karena sudah pasti mereka akan disibukkan dengan berbagai hal, Aster terutama.


"Apa kau sudah menghubungi pihak panitia dan menanyakan dimana kita akan tinggal?" Suara Amy terdengar berkaur di dalam telinga Aster.


Wanita itu menatap sahabatnya itu kemudian mengangguk. "Tak jauh dari bandara ini, hanya berjarak waktu 15 menit jika ditempuh dengan berjalan kaki, dan 10 menit jika menggunakan kendaraan, Taksi misalnya."


"Kita menggunakan taksi saja, aku sudah sangat lelah." Ucap Amy yang kemudian dibalas anggukan setuju oleh Aster.


Bukan hanya Amy saja yang lelah, tapi dirinya juga. Mereka masih memiliki waktu satu hari untuk beristirahat sebelum kompetisi itu dilangsungkan. Dan waktu yang istirahat yang ada tak akan Aster sia-siakan begitu saja. Dia tidak bisa membuang-buang tenaganya sebelum kompetisi itu selesai.


Setelah menunjukkan sebuah kartu pada pegawai hotel, mereka langsung diarahkan menuju kamar yang menang telah disiapkan oleh pihak panitia. Mereka meminta dua kamar, karena tidak mungkin keempatnya tidur di satu kamar yang sama.


"Kau mandilah dulu. Setelah ini langsung pergi istirahat." Ucap Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh Aster.


Wanita itu melepas pakaiannya dan kemudian pergi ke kamar mandi. Berendam sebentar di dalam air hangat mungkin akan membuat tubuhnya lebih relaks dan pikirannya lebih tenang.


Setelah Aster masuk ke kamar mandi. Nathan pun terlihat pergi meninggalkan kamar. Dia harus memastikan sesuatu. Dan tentu saja itu demi keamanan Aster dan Amy.


-


"Nona, ini adalah nomor kamar kedua orang yang Anda cari. Dan wanita ini menempati kamar nomor 208. Dia tidak hanya sendiri, tapi datang bersama seorang pria cacat."


Elisa memicingkan matanya. "Pria cacat? Apa kau sudah mencari tau siapa pria itu? Apakah dia adalah pria yang sama, yang sering kita lihat keluar masuk Boutique milik wanita itu?"


Si pria mengangguk. "Benar, Nona. Tapi sayangnya saya tidak tau siapa pria itu. Wajahnya juga tidak terlihat jelas, tapi terlihat tidak asing. Dia memakai penutup hitam pada mata kanannya. Selebihnya Saya tidak tau, Nona."

__ADS_1


"Pria itu begitu misterius, dan apa mungkin dia adalah suami dari perempuan itu?"


"Kemungkinan besar iya. Tapi saya tidak begitu yakin, Nona."


"Cari tau siapa pria itu dan segera laporkan padaku. Aku ingin tau apa sebenarnya hubungan Aster dengan pria itu."


Brakk...


Dobrakan keras pada pintu mengejutkan dua orang yang sedang serius berbincang itu. Panjang umur, sedang dibicarakan dan orang yang mereka bicarakan malah datang. Nathan memasuki ruangan itu sambil menyeringai sinis.


Dan sementara itu... Elisa langsung bangkit dari duduknya begitu dia tau siapa pria yang ada dihadapannya. Meskipun sudah lewat 15 tahun, tapi dia tidak melupakan wajah orang yang sudah membuatnya jatuh cinta sejak pandangan pertama.


Elisa mengenal Nathan sejak dia duduk di bangku menengah, Nathan adalah seniornya. Mereka memang tidak pernah dekat sama sekali, tapi pandangan Elisa tidak pernah teralihkan darinya.


"Senior?!" Lirihnya bergumam.


"Nona, Anda mengenal pria ini?"


Kemudian Elisa ingat dengan apa yang asistennya katakan tadi. Pria itu memakai penutup hitam pada mata kirinya, sontak saja kedua mata Elisa membelalak tak percaya. Jika yang dimaksud itu adalah Nathan, maka kemungkinan besar dia dan Aster ada hubungan spesial.


Elisa ingat jika Nathan memiliki putri angkat yang usianya hanya berbeda 10 tahun darinya. Dan dia bernama Aster, entah sebuah kebetulan atau apa. Tapi semua begitu masuk akal jika mereka memang saling mengenal.


"Senior, ada angin apa sampai-sampai kau menemui ku di sini? Dan bagaimana kau bisa masuk ke dalam kamar ini, sementara kuncinya ada padaku."


"Memangnya apa yang tidak bisa jika uang sudah berbicara. Aku hanya ingin memperingatkan padamu. Jangan coba-coba mengusik Aster dan temannya, atau kalian akan menanggung akibatnya."


"Maksud Senior apa? Aku tidak tau,"


"Jangan pura-pura bodoh dan tidak tau. Kau pikir aku tidak tau apa yang telah kau lakukan, merusak desainnya lalu mencuri rancangan terbarunya. Kau pikir dengan cara licik seperti itu bisa menyingkirkan Aster dari kompetisi. Kenali dulu siapa lawan mu sebelum kau bertindak terlalu jauh!!"

__ADS_1


"Brengsek, berani sekali kau bicara seperti itu pada, Nona!!"


Dorrr..


Pria itu langsung mati kutu setelah Nathan melepaskan satu tembakan. Nyaris saja peluru dari senjata Nathan meledakkan kepalanya. Tapi beruntung dia masih bisa menghindarinya meskipun gerakannya lumayan lambat.


Pria itu menyentuh keningnya dengan gemetar. Darah terlihat pada ujung jarinya. Lalu pandangannya bergulir pada tembok yang tampak berlubang di belakangnya. Dengan kaku dia menatap Nathan lagi. Pistol itu sudah dipasangi peredam sehingga tidak menimbulkan kekacauan.


"Jangan main-main denganku jika kau memang masih menyayangi nyawamu. Dan itu adalah peringatan kecil untuk kalian berdua." Kemudian Nathan berbalik dan pergi begitu saja.


Dia harus kembali ke kamarnya. Atau Aster akan kebingungan mencarinya yang tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak.


-


Cklekk...


Suara decitan pada pintu mengalihkan Aster yang sedang mengeringkan rambutnya. Sosok Nathan terlihat memasuki kamar itu dan menghampiri Aster. "Paman, kau dari mana saja? Kenapa pergi tanpa memberitahuku?"


"Hanya cari angin saja. Terlalu lama di sini membuat pikiranku suntuk. Setelah ini sebaiknya langsung tidur. Kau terlihat sangat lelah, dan aku tidak ingin dirimu sampai sakit."


Aster meletakkan handuknya kemudian memeluk suaminya. "Aku tau, Paman tidak perlu mengingatkanku lagi. Ini adalah tubuhku dan aku yang lebih memahaminya. Dan bagaimana kalau kita tidur bersama saja? Paman juga pasti sangat lelah."


Nathan mengangguk. Pria itu mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Aster. "Baiklah jika itu kemauan mu." Nathan melepaskan pelukannya kemudian mengangkat tubuh Aster dan membaringkan pada tempat tidur.


Aster masih memeluk leher Nathan. Kemudian menariknya hingga pria itu jatuh di atas tubuhnya. Aster menyeringai, wanita itu menutup matanya seraya mengarahkan bibinya pada bibir Nathan. Mencium dan mel*matnya. Dengan gerakan lambat.


Tau apa yang Aster inginkan. Nathan pun mengambil alih ciuman tersebut. Bibirnya mulai menginvasi bibir Aster secara bergantian, ciuman yang berawal lembut berubah menjadi ciuman panjang yang menuntut.


Bukannya pergi tidur dan istirahat. Mereka malah bercinta, karena apa yang Aster lakukan justru memancing Nathan untuk melakukan lebih.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2