
Memanjakan diri sesekali dengan cara berbelanja dan pergi ke salon bukanlah sebuah pemborosan. Bersama Tiffany, Aster pergi salon dan mall untuk memanjakan diri mereka.
Meskipun status mereka saat ini adalah istri dan ibu, tetapi melakukan perawatan rutin untuk mempertahankan kecantikannya adalah sesuatu yang penting.
Mereka tetap ingin memiliki wajah yang cantik dan kulit yang kencang meskipun bukan remaja lagi. Dan semua itu mereka lakukan semata-mata untuk suami masing-masing. Mereka tidak ingin suami mereka, sampai melirik wanita lain karena istrinya tidak cantik lagi.
"Hua, rasanya sangat nyaman. Sudah lama sekali aku tidak memanjakan tubuh seperti ini." ucap Tiffany saat merasakan pijatan pada punggungnya. Wanita itu begitu menikmati pijatan tersebut hingga nyaris tidur.
"Sepertinya kau sangat menikmatinya, Tif." ucap Aster berkomentar.
"Bagaimana aku tidak menikmatinya. Pijatan ini benar-benar membuat tubuhku rileks dan nyaman," ujar Tiffany. "Kita harus sering-sering datang ke sini. Aku ingin memanjakan tubuhku setiap saat."
"Bisa diatur," jawab Aster menimpali.
Aster pikir dia akan sangat kesepian selama berada di London. Tapi Siapa yang menduga jika Tiffany dan Cris akan menyusul mereka, sehingga Aster tidak perlu merasa kesepian lagi saat Nathan pergi bekerja.
Demi membantu proyek Nathan di London, Cris rela meninggalkan pekerjaannya yang ada di Washington dan menyusul Nathan ke London. Semua itu dia lakukan semata-mata karena Cris terlalu menyayangi adiknya.
.
Setelah memanjakan tubuh mereka di Spah. Aster dan Tiffany pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa barang yang mereka butuhkan, selain pakaian dan kebutuhan pribadi, Aster juga harus berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari.
Seperti sayuran, buah-buahan dan daging kalengan, tak ketinggalan beras, mie instan, makanan ringan dan beberapa bahan lainnya.
"Aster, menurutmu lebih bagus yang mana hitam atau putih? Bantu aku memilihnya, aku benar-benar bingung menentukan mana yang lebih bagus. Putih atau hitam," Tiffany menunjukkan 2 gaun pada Aster dengan model yang sama tapi warna berbeda.
"Hm, aku rasa lebih bagus yang putih. Sebaiknya kau ambil saja yang putih, aku akan mengambil yang hitam. Bukankah akan terlihat bagus jika kita memakainya untuk menghadiri suatu acara?"
Tiffany mengangguk antusias. "Betul betul betul, bagilah aku yang putih dengan yang hitam. Setelah ini bantu aku memilih lagi, oke. Aku masih belum puas jika hanya satu atau dua baju saja." ujar Tiffany itu tengah langkahnya.
Berbanding balik dengan Tiffany yang hanya membeli pakaian untuk diri sendiri. Tak lupa Aster membelikan kemeja untuk Nathan, setelan untuk Rey dan gaun cantik untuk Laurent.
"Kau sudah dapat semua? Setelah ini temani aku membeli kebutuhan untuk sehari-hari," ucap Aster yang kemudian dibalas anggukan oleh Tiffany.
__ADS_1
"Siap, Bos!!"
Dorr...
Dorr...
Suara rentetan senjata yang dilepaskan ke udara oleh segerombolan pria membuat suasana yang semula tenang menjadi gaduh. Suara jeritan, isak tangis orang-orang yang ketakutan membuat suasana menjadi semakin tegang.
Orang-orang panik dan berlarian untuk menyelamatkan diri masing-masing. Tak terkecuali Tiffany. Tiffany menarik lengan Aster dan membawanya untuk bersembunyi di bawah kolong meja kasir di toko yang mereka datangi.
"Aster, bagaimana ini apa kita akan mati Disini?!" tanya Tiffany yang terlihat begitu panik.
"Tentu saja tidak, jika kita sampai mati lalu bagaimana dengan suami dan anak-anak kita?!"
"Lalu apa yang harus kita lakukan?! Dan bagaimana kalau mereka menemukan kita di sini?! Aster, aku sangat takut."
"Sebaiknya jangan bersuara lagi dan diam, atau mereka akan menemukan kita di sini!!"
Aster sedang memutar otaknya, mencoba mencari solusi untuk keluar dari masalah ini. Bisa saja dia keluar untuk menghadapi mereka, tapi ia kalah jumlah. Mereka terlalu banyak sedangkan dirinya hanya sendiri. Jika tetap nekat, bisa-bisa Aster sendiri yang terbunuh.
Dan sementara itu...
Keadaan semakin kacau saat para perampok itu menggunakan beberapa orang sebagai sandera, agar mereka mau menyerahkan harta bendanya. Dan jika menolak, maka mereka akan dibunuh!!
"Tu...Tuan, tolong jangan ambil harta kami."
"Diam!! Serahkan hartamu atau kau akan mati!!"
Melihat ada penindasan di depan matanya, membuat Aster tidak bisa Tinggal diam. Kedua tangannya terkepal kuat, dia harus melakukan sesuatu. Jika menunggu kedatangan Nathan dan anak buahnya, akan terlalu memakan banyak waktu, bisa-bisa ada korban yang berjatuhan lagi.
Aster telah memutuskan untuk mengambil tindakan. Wanita itu menyapukan pandangannya ke segala penjuru arah. Mencoba mencari benda yang bisa ia gunakan untuk melawan mereka.
Dan tanpa sengaja, dia melihat sebuah tongkat besi di samping meja kasir. Sedangkan Tiffany langsung membelalakan kedua matanya.
__ADS_1
"Aster, Kau mau apa?" panik Tiffany.
"Aku tidak bisa hanya diam saja, dan melihat kebrutalan mereka berlangsung terlalu lama!!"
"Jangan Gila, mereka semua bersenjata!! Sebaiknya kita tetap disini dan menunggu sampai Nathan Oppa tiba!!"
"Sebaiknya kau berdoa saja semoga aku selamat!!"
Tanpa menghiraukan Tiffany, Aster keluar dari tempat persembunyiannya. Wanita itu melemparkan sebuah botol minuman pada tangan pria yang memegang senjata. Alhasil senjata itu terlepas dari genggamannya.
Dan apa yang dilakukan Aster tentu mengundang kemarahan pria itu. "Sial, kau sudah bosan hidup ya?!" bentak pria itu dalam bahasa Inggris.
"Bajingan seperti kalianlah yang sudah bosan hidup!!" jawab Aster tak mau kalah.
"Brengsek, maju dan Habisi wanita itu!!"
Perkelahian pun tak bisa terhindarkan lagi. Aster yang hanya seorang diri dikeroyok sedikitnya 6 pria secara bersamaan, mereka bersenjata tajam sementara Aster hanya menggunakan tongkat besi. Tapi hal itu tentu tidak membuat Aster menjadi gentar sama sekali.
2 diantara 6 pria itu berhasil Aster tumbangkan dalam hitungan menit saja. Dia adalah istri seorang mafia, tentu castor pernah menghadapi yang lebih sengit daripada ini.
Melihat anak buahnya terdesak dan kalah di tangan Aster, membuat pemimpin berandalan itu menjadi sangat marah. Dia meminta 4 anak buah lainnya untuk maju dan menghabisi Aster. Kali ini mereka menggunakan senjata api.
Lagi-lagi Aster tidak merasa Gentar. Dia membelokkan peluru-peluru yang menerjang kearahnya dengan besi di tangannya, beruntung Natan mengajarinya teknik untuk mengatasi terjangan peluru.
Tapi sayangnya Aster mulai kewalahan. Tenaganya mulai terkuras habis, tapi dia tidak boleh lengah dan membiarkan mereka berhasil melukainya.
Dorr...
Dorr...
Tiba-tiba 2 orang yang menyerang Aster tumbang begitu saja setelah dua peluru menembus kepala mereka. Sontak Aster menoleh kearah peluru itu berasal, sudut bibirnya tertarik ke atas melihat Siapa yang datang.
"Nathan Oppa!!!"
__ADS_1
-
Bersambung.