"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Pertemuan Mengharukan


__ADS_3

Sepasang Kiki jenjang tiba-tiba berhenti di depan Nathan. Sontak Nathan mengangkat kepalanya dan mata kirinya membelalak melihat siapa yang berdiri dihadapannya.


"Dia sangat bahagia karena akhirnya bertemu dengan Daddy-nya." Ucap wanita itu dengan mata berkaca-kaca.


"Aster?!"


Aster tersenyum lebar. "Oppa, kami kembali~" ucapnya masih dengan senyum yang sama.


Nathan melepaskan pelukan Laurent kemudian berdiri dan menghampiri Aster yang tengah mati-matian menahan air matanya. Senyum di bibirnya tetap dia pertahankan. Meskipun akhirnya lelehan-lelehan kristal bening bening berjatuhan dari pelupuk matanya.


Nathan memandang wanita didepannya itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tidak banyak yang berubah pada diri Aster, selain dia semakin cantik dan dewasa.


"Apakah tidak ada pelukan penyambutan untukku? Setelah enam tahun kita tidak bertemu. Oppa, aku merindukanmu," Aster membuka lebar-lebar kedua tangannya, air matanya sudah tidak bisa lagi dia bendung kali ini. Aster mulai bercucuran air mata.


"Dasar bodoh!" Nathan menarik lengan Aster dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Mendekap tubuh yang sangat-sangat dia rindukan itu begitu lama.


Laurent yang menyaksikan pertemuan mengharukan itu hanya mampu terdiam sambil menatap kedua orang tuanya bergantian.


Nathan membenamkan wajah tampannya pada perpotongan leher dan bahu sang wanita, menghirup aroma bunga sakura yang menguar dari tubuhnya. Aroma yang tak lagi bisa dia cium selama bertahun-tahun.


"Wanita bodoh, pergi kemana saja kau selama ini? Apa kau tau bagaimana aku yang hampir gila karena tidak bisa menemukanmu!! Aku merindukanmu, Aster Xiao. Sangat-sangat merindukanmu," lirihnya berbisik.


Aster menutup matanya dan membalas pelukan Nathan. "Maaf, Oppa. Keadaan saat itu tidak memungkinkan aku untuk tetap tinggal disisimu."


"Pada saat itu aku dihadapkan pada dua pilihan yang sangat sulit, antara ego atau merelakan. Meskipun berat, akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkanmu. Karena nyawamu lebih penting dari apapun, termasuk kebahagiaanku."


Nathan melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah cantik itu begitu lama. Jari-jari besarnya menghapus lelehan bening yang mengalir dari pelupuk matanya. Semua telah terbayar lunas hari ini. Aster-nya telah kembali.


Begitu besar pengorbanan Aster untuknya. Dan jika bukan karena Aster, mungkin saat ini dia hanya tinggal nama. Aster memilih terluka demi menyelamatkan nyawanya.


Dari Aster pandangan Nathan kemudian bergulir pada gadis kecil nan cantik yang sedang memandang takjub padanya. Nathan mendekati gadis kecil itu yang pastinya adalah Laurent.


"Dia putrimu, Oppa. Utun kita yang pernah pergi akhirnya kembali. Siang itu sebenarnya aku ingin memberitahumu jika aku hamil, tapi takdir justru berkehendak lain. Dia adalah putri yang selama ini kita impikan," ujar Aster menjawab kebingungan Nathan.


Dengan tangan gemetar, Nathan membelai wajah Laurent dan menatap gadis kecil itu. Mata kirinya tampak berkaca-kaca. "Daddy, apakah kau tidak ingin memelukku lagi?" sepasang tangan mungil menangkup wajah Nathan.


Nathan tersenyum haru. Dan tanpa banyak berkata-kata, Nathan mendekap tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Memeluk tubuh Lauren dengan erat. Sangat erat.


"Maaf, Nak. Jika Daddy tidak pernah bersamamu selama ini. Bukan karena Daddy tidak menyayangimu, tapi karena keadaan yang membuat kita jauh." Bisik Nathan penuh sesal.


Laurent menggeleng. "Daddy tidak bersalah. Untuk apa Daddy minta maaf. Laurent bahagia akhirnya bisa bertemu dengan Daddy Nathan." Gadis kecil itu mulai terisak dalam pelukan sang ayah.


Setelah penantian panjangnya, akhirnya Laurent bisa bertemu dengan orang yang selama ini hanya ada dalam angan-angannya saja.


Pertemuan mengharukan keluarga kecil yang telah lama terpisah itu menarik perhatian banyak pasang mata.


Semua orang yang ada di sana ikut terharu melihat pertemuan itu, terlebih pertemuan Ayah dan anak tersebut. Tak sedikit yang sampai menitihkan air matanya.


Nathan mendongak dan menatap Aster yang juga menatap padanya. "Kemarilah, Sayang." Nathan mengulurkan tangan kanannya pada Aster, meminta wanita itu mendekat.


Aster menghapus air matanya. Wanita itu menghampiri putri dan suaminya. Ketiganya saling berpelukan. Aster membenamkan wajahnya di pertopoangan leher Nathan. Sesekali Nathan memeluk kepala Aster dan Laurent bergantian.


Hari ini adalah ulang tahunnya yang ke 38, dan mereka adalah kado terindah yang Tuhan berikan padanya.

__ADS_1


Nathan sudah pernah satu kali kehilangan cintanya. Dan kali ini Nathan tidak akan membiarkan Aster pergi lagi dari sisinya, bahkan itu hanya satu detik saja.


Nathan melepaskan pelukannya lalu menatap putri dan istri tercintanya dengan senyum mengembang lebar.


"Ayo kita pulang, semua orang sudah menunggu kepulangan mu." Ucap Nathan yang kemudian mendapatkan anggukan dari Aster. Nathan mengendong Laurent, keduanya berjalan beriringan menuju parkiran.


Aster juga sudah sangat merindukan rumah. Rumah yang menyimpan 1000 kenangan bersama orang-orang yang dia sayangi. Baik itu kenangan manis ataupun kenangan pahit.


-


"Semuanya, aku pulang!!"


Suara bak lonceng yang menggema di seluruh penjuru ruangan itu langsung menyita perhatian semua mata yang berada di dalam ruangan tersebut.


Di ambang pintu. Seorang wanita tengah menatap mereka dengan senyum lebarnya yang tersungging menghiasi wajah cantiknya. Tak lama kemudian Nathan masuk bersama sosok gadis kecil dalam gendongannya.


"NOONA!!"


Gavin dan Rio refleks melemparkan ponsel yang ada ditangan masing-masing lalu berlari menghampiri Aster yang sedang membuka lebar-lebar kedua tangannya.


Beruntung Leon dan Zhoumi bisa menangkapnya dengan tepat waktu. Sehingga benda tipis berharga selangit itu tidak bisa selamat dan tidak hanya tinggal rongsokan saja.


"Noona, Huwaa.." Tubuh Aster terhuyung kebelakang karena pelukan mereka berdua. Aster tersenyum lebar. Dan dengan senang hati Aster membalas pelukan mereka berdua.


Zhoumi menghampiri Nathan. Dia kebingungan melihat sosok mungil dipelukan sepupunya tersebut. "Nathan, dia?" Zhoumi menunjuk Laurent dengan tatapan penuh tanya.


"Dia adalah janin yang ada di dalam perut Aster ketika dia pergi 6 tahun yang lalu."


"Ma..maksudmu dia adalah putrimu dan Aster?" Nathan mengangguk. "Ya Tuhan, Nak kemarilah. Aku adalah Pamanmu, dan biarkan Paman menggendo-mu." Kemudian Zhoumi mengambil Laurent dari pelukan Nathan.


"Jangan memeluknya terlalu lama, aku saja baru beberapa detik saja." Sinis Nathan lalu memeluk Aster dengan sebelah tangannya. Aster tertawa geli, ternyata Nathan masih seposesife dulu.


"Tenang saja, Oppa. Aku tetap milikmu."


"Kau memang akan selalu menjadi milikku, Sayang." Bisiknya.


Kemudian Nathan mengangkat dagu Aster lalu mengecup singkat bibir ranumnya. Dan apa yang Nathan lakukan sontak membuat kedua mata Zhoumi membelalak saking kagetnya.


"Yakk!! Apa-apaan kalian berdua?! Bagaimana bisa kalian melakukan itu di depan anak kecil?!" Teriak Zhoumi menggebu-gebu. Sebelah tangannya menutupi mata Laurent karena takut jika kesucian mata gadis kecil itu ternodai oleh kegilaan orang tuanya.


"Alah, bilang saja jika Paman iri, kan?! Karena sampai saat ini Paman masih belum menemukan pasangan dan Mem-BU-DI!!" sahut Rio menegaskan.


"Yakk!! Berhenti mengolok-olok diriku, dan berhenti memanggilku BU-DI!!" amuk Zhoumi tidak terima. Selalu saja mereka mengolok-olok dirinya dan menyebutnya sebagai BU-DI.


"Paman Mimi mengerikan," ucap Laurent kemudian turun dari gendongan Zhoumi.


"Princess, bagaimana kalau sekarang kau bermain dengan Paman tampan saja? Paman berdua akan membawamu terbang, jangan mau bermain dengan bujang lapuk itu, oke." Laurent mengangguk setuju.


"Yakk!! Kalian berdua, kalian sudah bosan hidup ya?!" Teriak Zhoumi meluapkan kekesalannya.


Lagi-lagi mereka berdua meledeknya. Dan selalu saja begitu. Hampir setiap hari malah dia menjadi korban kenakalan mereka. "Oh Tuhan, kirimkan lima wanita untukku, aku ingin menikah juga!!"


Nathan dan Aster mendengus berat. Keduanya saling berpandangan, dan sama-sama tersenyum lebar. Nathan dan Aster beranjak dari hadapan Zhoumi dan pergi begitu saja. Mereka membutuhkan lebih banyak waktu untuk melepaskan rindu.

__ADS_1


.


.


.


Keduanya kini telah berada di kamar mereka. Tidak ada yang mereka lakukan. Hanya saling berpelukan diatas kasur dan melepas rindu terhadap satu sama lain. "Paman," panggil Aster lirih.


"Hm,"


"Aku sempat merasa takut. Aku takut kau akan membenciku karena sudah meninggalkanmu selama bertahun-tahun." Ucapnya sedikit parau.


Nathan melepaskan pelukannya. Kedua tangannya menakup wajah Aster, jari-jari besarnya menghapus jejak air mata di wajah cantik istrinya. "Dasar bodoh, bagaimana mungkin aku bisa membencimu, jika setiap detik dan setiap waktu aku selalu merindukanmu."


"Banyak ketakutan yang aku rasakan. Aku takut kau membenciku dan mencampakkan-ku, aku juga takut sudah menemukan pengganti diriku. Aku sangat takut, Paman. Sangat-sangat takut."


"Pemikiran bodoh dari mana itu? Kau benar-benar bodoh jika berpikir begitu. Bagaimana mungkin aku bisa menemukan penggantimu sementara kunci hatiku sudah kau bawa pergi jauh!!"


Aster tersenyum tipis. Wanita itu menangkup wajah Nathan kemudian mengecup singkat bibir Nathan. "I Miss You," bisik Aster tersenyum.


Nathan menarik tengkuk Aster lalu mencium bibir ranumnya dengan ganas dan posesife. Ciuman mereka semakin lama semakin dalam dan menuntut.


Nathan semakin memperdalam ciuman mereka. Kedua insan itu kini kembali berpagutan mesra. Dan melalui ciuman itu, mereka ingin saling melepas rindu yang selama ini terpendam dan menyesakkan dada.


"Jangan pernah berpikir untuk pergi lagi dariku. Karena aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi apalagi menghilangkan dari pandanganku lagi,"


Aster menggeleng. "Tidak akan, Paman. Aku tidak akan pernah pergi lagi," kemudian wanita itu menenggelamkan dirinya di dalam pelukan Nathan.


Kedua matanya tertutup rapat saat merasakan pelukan Nathan yang semakin lama semakin erat.


Akhirnya dia menemukan kembali kebahagiaannya yang sempat hilang. Dan kali ini Nathan tidak akan membiarkan Aster pergi lagi meskipun hanya sesaat.


"Aku rindu bercocok tanam denganmu, bisakah malam ini kita melakukannya?" Aster menatap Nathan penuh harap.


Nathan mendengus geli. Sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala coklat Aster."Dasar kau ini. Bagaimana kau merusak moment indah kita dengan kalimat itu."


Aster terkekeh. "Aku rindu bermanja-manjaan dengan Paman. Dan malam ini kau milikku."


"Lalu bagaimana dengan Laurent?"


"Tentu saja menunggu sampai Laurent tidur. Kita bisa bercocok tanam di kamar mandi atau di lantai, di mana pun asal Laurent tidak melihatnya."


"Tetap tidak berubah, konyol, bar-bar dan aneh!!" Aster kembali terkekeh.


Wanita itu kembali berhambur ke dalam pelukan Nathan dan mendekap tubuh yang dia rindukan itu dengan erat. "Terimakasih karena sudah kembali untukku, Sayang." Ucap Nathan dan mencium pertopoangan leher Aster.


"Sama-sama Paman."


"Ayo kita keluar, aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama putri kita." Aster tersenyum dan mengangguk.


"Baiklah."


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2