
Aster membuka matanya saat merasakan silau matahari menelusup masuk ke dalam retina matanya. Matanya membelalak saat menyadari satu hal 'Nathan!!' suaminya itu tak ada disampingnya, lalu pergi kemana dia? Bukankah seharusnya Nathan masih harus berbaring saat ini?!
Sampai akhirnya telinganya mendengar suara pintu kamar mandi di buka dari dalam. Sosok yang dia cari terlihat keluar dari dalam sana hanya memakai celana piyama dan singlet hitamnya saja.
"Paman, aku pikir kau hilang?!" Pekik Aster seraya bangkit dari berbaring nya.
"Aku pergi mandi, melihatmu yang tampak pulas membuatku tidak tega untuk membangunkan mu." Jawabnya lalu memakai piyama rumah sakitnya.
"Bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik? Apa tubuhmu masih ada yang merasa tidak nyaman?" Tanya Aster memastikan.
Nathan menggeleng. Memastikan pada Aster bila dirinya sudah baik-baik saja. "Sebaiknya kau pulang dulu untuk ganti pakaian, sekalian bawakan aku pakaian dari rumah. Memakai pakaian rumah sakit terlalu lama membuatku kurang nyaman!!!"
"Tapi jika aku pulang sekarang kau akan sendirian di sini. Memangnya tidak apa-apa?" Aster memastikan sambil mengunci manik kiri milik Nathan. "Nanti saja, setelah Leon tiba. Aku tidak tega jika harus meninggalkanmu sendirian di sini."
Nathan menepuk kepala coklat Aster lalu mengangguk. "Baiklah, terserah kau saja. Aku lapar, bisakah kau pesan makanan dari luar? Makanan rumah sakit terlalu hambar."
"Bukankah makanan rumah sakit lebih sehat dibandingkan makanan di luar? Lagipula apa boleh makan, makanan dari luar oleh dokter?"
Nathan menyentil kening Aster saling gemasnya. "Aku ini bukan orang yang berpenyakitan, Aster Xiao. Aku disini karena terluka akibat sebuah insiden, jika yang berpenyakitan baru tidak boleh makan, makanan sembarangan dari luar." Tutur Nathan panjang lebar.
Aster mengangguk. "Baiklah, aku mengerti. Tunggu sebentar, oke. Aku pesan dulu sekarang." Bukan hanya Nathan yang tidak suka dengan makanan rumah sakit. Tapi dirinya juga. Makanan rumah sakit memang tidak enak dan sedikit hambar.
Tidak sampai 15 menit makanan pesanan Aster akhirnya tiba. Seorang kurir datang mengantarkan pesanannya. Bukan hanya kurir makanan, tapi juga kurir yang datang mengantarkan pakaian yang Aster pesan dari boutique langganannya. Dia terlalu malas untuk pulang. Itulah kenapa Aster memilih pesan langsung saja.
"Ini," Aster menyerahkan sebuah paper bag pada Nathan. Di dalam paper bag itu berisi dua setel kemeja dan juga pak@ian d@lam untuk pria itu. "Aku terlalu malas untuk pulang, jadi aku pesan dari boutique mammy Veronica saja."
"Aku pikir kau pulang sekalian menengok Rey,"
"Rey, baik-baik saja. Dia juga tidak rewel, jadi Paman tenang saja, oke. Ayo kita sarapan dulu, aku sangat lapar."
-
__ADS_1
Rasa bosan menghinggapi perasaan Laurent. Gadis kecil nan cantik itu merasa sangat-sangat bosan karena tak ada aktifitas yang bisa dia lakukan. Ini adalah akhir pekan dan sekolah sudah pasti libur.
Gadis itu menghentikan langkahnya melihat beberapa gadis menghalangi langkahnya. Siapa lagi jika bukan anak-anak yang selalu mencari masalah dengannya.
"Apa lagi kali ini, masih belum puas membuat masalah denganku?!"
"Laurent Xiao, jangan kau pikir hanya kau putri dari Nathan Xiao, maka kami akan takut padamu!! Ayo kita berkelahi dan membuktikan siapa yang paling kuat di antara kita!!!"
"Membuang waktu saja. Aku tidak mau!!!"
"Bilang saja kalau kau takut!!!"
Tapp...
Laurent menghentikan langkahnya. Lalu gadis kecil itu berbalik dan menatap tajam ketiga gadis yang sedang menatap remeh padanya itu. Laurent memberi kode pada ketiganya untuk maju bersamaan.
"Cih, dasar sombong. Ayo kita beri pelajaran pada gadis kurang ajar ini!!!"
Dan sementara itu...
Dan melalui CCTV, dia bisa mengetahui siapa yang salah dan siapa yang benar. Laurent di bebaskan karena dia adalah korban, sedangkan ketiga anak lainnya di hukum membersihkan halaman karena terbukti mereka bersalah.
"Inilah akibatnya jika kalian berani mencari gara-gara denganku!!" Laurent menyeringai sinis.
"Laurent Xiao, awas saja kau!!! Tunggu bagaimana kami akan membalas mu!!!"
"Aku tunggu mulut besar kalian itu beraksi, sampai jumpa!!!"
"Aarrrkkhhh, sial!!! Aku pasti akan membalas mu!!"
Laurent hanya melambaikan tangannya dan menyeringai di tengah langkahnya. Mereka sudah mencari masalah dengan orang yang salah. Laurent bukanlah gadis lemah yang mudah untuk di tindas.
__ADS_1
-
Nathan menutup mata kirinya saat salah seorang perawat membuka lilitan perban yang menutup luka-lukanya. Air mata Aster tak bisa terbendung lagi ketika melihat luka-luka di tubuh suaminya, terutama luka di dada dan perutnya.
Aster tak menduga jika luka yang dialami Nathan akibat insiden tersebut sampai separah itu. Bahkan keadaan mata kanannya yang sudah cacat menjadi semakin parah. Dan hati istri mana yang tidak menjerit melihat banyak luka menghiasi tubuh suaminya.
Tak sanggup melihatnya, Aster pun berlari keluar meninggalkan ruangan Nathan. Di luar ruangan inap suaminya, tangis Aster pun pecah, air yang ia tahan sedari tadi tumpah begitu saja.
"Nyonya Bos, kenapa kau menangis di sini? Apa hal buruk terjadi pada, Bos Nathan?" Tanya Leon yang baru saja tiba di rumah sakit. Dia terheran-heran melihat Aster menangis di depan ruang inap Nathan.
Wanita itu mengangkat wajahnya yang penuh air mata lalu menggeleng. "Bos mu baik-baik saja. Hanya saja aku tidak tahan melihat luka-luka yang ada di tubuhnya. Ternyata lukanya lebih parah dari yang aku bayangkan." Tutur Aster menjelaskan.
Leon mendesah berat. "Aku juga sedih dengan keadaan Bos saat ini. Bagaimana bisa mereka begitu keji. Nyonya Bos, sebaiknya hapus air matamu. Bos bisa sedih jika melihat kau menangis. Bos, paling benci melihat air matamu." Tutur Leon sambil menyerahkan sebuah sapu tangan pada Aster.
"Aku tau, hanya saja aku tidak tahan melihat dia yang begitu kesakitan saat perawat melepas perban-perban di tubuhnya. Bahkan dia meringis kesakitan saat perban di mata kanannya di buka."
"Kau jangan lemah, lagipula Bos adalah pria yang kuat. Suster sudah keluar, sebaiknya kita masuk."
Aster menggeleng. "Kau masuk saja duluan. Jika Nathan Oppa bertanya, bilang saja aku sedang keluar membeli makanan. Aku tidak mungkin masuk dengan wajah sembab seperti ini."
"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu aku masuk dulu."
Nathan sedang memakai kembali kemejanya saat Leon masuk ke dalam. Pria itu tersenyum lebar, ditangannya menenteng keranjang buah yang pastinya penuh dengan buah-buahan."Apa kau bertemu Aster saat kemari?" Tanya Nathan memastikan.
Leon mengangguk. "Aku bertemu dengannya di depan, Nyonya Bos bilang lapar dan keluar untuk membeli makanan." Jawab Leon.
"Kenapa dia tidak bilang padaku? Dan suster mengatakan jika Aster keluar dalam keadaan menangis."
"Itu tidak benar, Bos. Aku berpapasan dengannya dan dia terlihat baik-baik saja. Bos, aku sudah berhasil menangkap pria itu. Dan sekarang dia sedang berada di penjara bawah tanah, selanjutnya terserah padamu. Kau mau memberikan hukuman yang bagaimana padanya, kami tidak melakukan tindakan apa-apa."
"Hn, kerja bagus. Tidak salah aku memilihmu sebagai tangan kananku. Kau selalu menyelesaikan tugasmu dengan baik. Leon, kau yang terbaik!!!"
__ADS_1
-
Bersambung.