
Sesekali Nathan menoleh ke belakang. Dia tidak menduga jika begal-begal itu akan mengejarnya. Beberapa tembakan beberapa kali orang-orang itu lepaskan pada mobil Nathan, sayangnya semua tembakan yang mereka lepaskan meleset dan tak satupun ada yang berhasil mengores apalagi memecahkan ban mobil Nathan.
"Aster, ambil alih kemudi. Orang-orang itu perlu di beri pelajaran." Nathan menggeram marah.
"Tapi, Paman. Apa tidak sangat berbahaya jika kita tidak menepikan dulu mobilnya?"
"Sudah tidak ada waktu lagi. Cepat ambil alih kemudinya dan biar aku yang memberi pelajaran pada mereka."
Aster mengangguk. "Baiklah,"
Nathan berpindah ke jok belakang dan menyiapkan senjata apinya. Sedangkan kemudi kini diambil alih oleh Aster. Wanita itu mengemudikan mobil Nathan dengan kecepatan di atas rata-rata.
Suasana malam tampak sedikit lebih sepi hari ini. Jalan-jalan yang biasa terjadi kemacetanpun juga terlihat lengang. Ini tentu membuat wanita muda itu berani mengemudikan mobilnya dengan kecepatan melebihi 100 km/jam.
Aster tidak akan membiarkan dua mobil yang mengejar dibelakang itu berhasil menyusul mobilnya. Dan hal itu bisa dia buktikan. Kedua mobil itu tertinggal jauh dengan jarak ratusan meter di belakangnya.
Dan Nathan hampir saja tidak percaya dengan keahlian Aster dalam hal mengemudi. Nathan sengaja mengemudikan mobilnya di bawah kebiasaannya karena takut membuat Aster ketakutan, tapi siapa yang menduga jika Aster bisa mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sangat tinggi.
Nathan mengeluarkan setengah badannya. Tubuhnya menghadap dua mobil yang mengejar di belakang itu.
Tanpa ragu sedikit pun, Nathan melepaskan beberapa tembakan beruntun hingga membuat salah satu dari kedua mobil itu hilang kendali dan terperosok ke dalam jurang. Sedangkan mobil satu lagi meledak setelah menabrak pohon di tepi jalan.
Aster menepikan mobilnya di tepi jalan kemudian turun dari mobil Nathan, dan diikuti oleh pria itu. Keduanya duduk di kap mobil.
Nathan mengeluarkan bungkus rokok dari saku kemejanya. Mengambil sebatang dan menyulutnya menggunakan pemantik perak dengan ukiran rumit di bagian atasnya.
Kemudian menyelipkan gulungan tembakau di antara bibirnya, ia mengisap rokok pertamanya hari ini. Menahannya selama beberapa detik untuk menikmati aroma tembakau yang memenuhi kepalanya hingga membuatnya sedikit pusing, lalu menghembuskan asapnya perlahan.
"Paman!!"
Kemudian Nathan mengangkat kepalanya.
Sepasang mata berlensa coklatnya yang dingin bertemu dengan sepasang hazel milik Aster. Kekecewaan terlukis di wajah wanita itu, mengurangi sedikit aura bahagianya.
"Hn?"
"Paman, aku pikkr kau sudah berhenti merokok. Bukankah kau sudah berjanji tidak akan merokok lagi."
"Hn."
Aster yang duduk di sampingnya mendecih kesal, menatap suaminya itu dengan sebal. Lagi-lagi Nathan menggunakan bahasa yang tidak dia mengerti sana sekali. "Jangan cuma hn saja. Matikan rokokmu. Kau mau bunuh diri, ya?" Oceh Jessica mengomeli.
Mendengus, Nathan mengisap lagi rokoknya, panjang dan perlahan. Menikmati pahit di ujung lidahnya, ia mengabaikan Omelan Aster dan tetap menikmati rokoknya dengan tenang.
Aster mendecih sebal. Merasa diabaikan, wanita itu memutuskan untuk meninggalkan Nathan dan berjalan diantara ilalang. Wanita itu berjalan membelalak tingginya ilalang yang melebihi tinggi badannya.
Samar-samar Jessica mendengar tetesan air yang jatuh. Segera ia memanggil Nathan dan meminta pria itu untuk menghampirinya.
"Ada apa?"
"Paman, sepertinya ada sesuatu di depan sana. Bagaimana kalau kita ke sana dan melihatnya."
Nathan menggenggam tangan Aster. Keduanya berjalan beriringan membelah Padang ilalang yang membentang luas dari ujung timur sampai ujung barat itu.
Sang penguasa malam yang bercahaya dinatas sana menjadi penerang dikala mereka berdua berjalan. Setelah mereka berjalan cukup lama, Aster menyipitkan matanya, melihat sesuatu yang berada di ujung tempat itu.
__ADS_1
"Ada cahaya disana…" ucapnya sambil menunjuk dari mana cahaya itu berasal.
Tanpa buang-buang waktu lagi, Aster berlari menuju secercah cahaya yang berada di depannya, dengan Nathan yang berjalan mengekor dibelakangnya. "Aster jangan lari," seru Nathan memperingatkan.
Aster tidak menghiraukan kalau dia akan tersandung atau jatuh, dia terus berlari dan…
Aster pun tertegun, ketika ia menyibak sebuah tanaman menjalar yang menutupi jalan ke sebuah tempat yang di dalamnya terdapat ribuan kunang-kunang yang tengah berterbangan.
Bukan, tapi berjuta-juta. Aster pun menyusuri tempat itu, berjalan sambil melihat kunang-kunang yang berada di sekitarnya. Diikuti Nathan yang kemudian berjalan mengekor di belakangnya.
"Cantik sekali tempat ini, aku tidak tau jika ada tempat secantik ini di sini…"
"Ini juga pertama kalinya aku melihat tempat seindah ini." Ucap Nathan menyahuti.
Aeter tersenyum pelan. Ya, ini bukanlah mimpi, melainkan sebuah kenyataan. Ia melihati satu persatu dari kunang-kunang itu. Anehnya, kunang-kunang itu seperti beraneka ragam warnanya, jika dilihat dari dekat.
Dan dengan tangan lentiknya, Aster memegang salah satu dari jutaan kunang-kunang itu, lalu mengitarinya. Aster tertawa kecil.
"Paman, sepertinya mereka sangat menyukaiku." Seru Aster kegirangan.
Tanpa perintah dan komando, kunang-kunang itu segera mengitari tubuh Aster seolah-olah mengajak Aster untuk berdansa. Aster mengangguk mengerti, lalu menggerakkan tubuhnya layaknya seorang putri yang tengah berdansa. Wanita itu pun tertawa renyah.
Nathan menghampiri Aster, kemudian menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Keduanya kemudian berdansa layaknya pangeran dan putri di negeri dongeng. Aster terkekeh geli, membayangkan jika dirinya adalah seorang putri.
"Omo!! Ada danaunya." Aster melepaskan pelukan Nathan kemudian berlari menuju danau yang airnya tampak berkilauan karena pantulan sinar bulan. "Paman, kemarilah. Lihatlah, airnya sangat jernih dan menyegarkan."
Nathan berjalan menghampiri Aster sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Kemudian Nathan ikut berlutut di samping wanitanya itu.
"Aster, apa yang kau lakukan?" Kaget Nathan ketika tiba-tiba Aster mencipratkan air pada wajahnya. "Aster, hentikan!! Kau membasahi pakaianku!!"
"Aster!!"
Kemudian Nathan mengambil air dengan kedua telapak tangannya lalu menyiramkan pada wajah Aster, membuat wanita itu langsung gelagapan. Nathan terkejut, buru-buru dia melepaskan kemejanya dan menyampaikan pada bahu Aster.
"Aster, maaf. Paman tidak bermaksud untuk~"
Byurrr...
Kalimat Nathan terpotong ketika Aster tiba-tiba menariknya hingga keduanya sama-sama jatuh ke dalam danau. Nathan terkejut, sedangkan Aster malah tertawa terbahak-bahak sambil terus melemparkan air pada Nathan.
Nathan yang tidak mau kalah juga melakukan hal yang sama pada putri angkat yang merangkap sebagai istrinya tersebut. Sekujur tubuh mereka basah kuyup, tapi mereka tidak peduli.
Mereka saling tertawa dengan lepasnya, seolah-olah tidak memiliki beban yang dipikul dipundaknya. Dan sepanjang dia mengenal Nathan, ini pertama kalinya Aster melihat pria itu bisa tertawa selepas ini.
Tidak hanya bermain air saja, mereka juga berciuman di bawah renang sinar bulan dan Sepoi-sepoi angin malam. Mereka begitu bahagia.
-
"Paman, Nunna, apa yang terjadi pada kalian berdua? Kenapa kalian bisa basah kuyub seperti itu? Padahal di luar tidak sedang hujan!!"
Kedatangan mereka langsung di serbu dengan pertanyaan oleh Gavin dan Rio. Kedua pemuda itu tampak begitu terheran-heran melihat sekujur tubuh Aster dan Nathan basah kuyup, sedangkan diluar tidak sedang hujan.
Dengan gemas Aster mencubit pipi mereka berdua dan pergi begitu saja. "Kalian terlalu banyak bertanya." Aster tersenyum dan pergi begitu saja.
Baru saja mereka hendak bertanya pada Nathan. Tapi Nathan malah melenggang pergi, mengisahkan mereka berdua di teras rumah. Mereka benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi pada mereka berdua.
__ADS_1
.
.
.
Nathan membawakan teh hangat untuk Aster. Aster sedang meringkuk kedinginan di atas tempat tidur. Aster menerima teh yang di berikan oleh Nathan kemudian meminumnya.
"Paman, dingin."
Nathan menganbil selimut kemudian menakupkan pada tubuh Aster. "Masih dingin," sekali lagi wanita itu merenggek. "Peluk aku." Aster mengangkat tangannya, meminta Nathan memeluknya.
Pria itu mendengus berat. Nathan menghampiri Aster kemudian memeluk wanita itu dengan erat. "Bagaimana, masih dingin?"
Aster menggeleng. "Sudah lebih hangat." Wanita itu tersenyum lebar. Memamerkan deretan gigi putihnya. Nathan mendengus geli. Sekali lagi dia menjitak kepala coklat wanita dalam pelukannya ini.
"Dasar kau ini." Aster terkekeh.
Nathan kembali merengkuh Aster ke dalam pelukannya. Dan memeluknya lebih erat dari sebelumnya. Membiarkan wanitanya ini tidur dalam pelukannya. Tidak butuh waktu lama, hanya dalam hitungan detik saja Aster sudah terlelap dalam pelukan Nathan.
-
Pagi-pagi sekali Nathan sudah berangkat ke kantor setelah mendengar jika terjadi keributan di sana. Dio dan Leon berhasil menangkap penyusup yang mencoba masuk dan mencuri data-data penting dari perusahaannya.
Nathan menggulung lengan kemejanya sampai sebatas sikut. Pria itu menghampiri seorang pria yang sudah babak belur karena dihajar oleh Leon dan Dio.
"Katakan, siapa yang menyuruhmu!!" Saki kanannya berada di leher pria itu, menekannya hingga membuat si pria kesulitan untuk bernapas.
"Aku tidak akan memberitahumu!!"
"Oh, menantang ku kau rupanya?" Darah segar menyembur dari mulutnya setelah kaki kanan Nathan menendang bagian dada dan mukanya. Nathan menjambak kepala pria itu hingga mendongak kebelakang. "Masih tidak mau mengaku?"
"Tidak!!"
Pria itu meringis kesakitan ketika bagian tajam belati milik Nathan menekan bahunya dengan kuat dan semakin dalam. Darah segar langsung melumuri pakaian yang dia kenakan.
Keringat dingin mulai membanjiri sekujur tubuhnya. Wajahnya pucat dan darah segar tak henti-hentinya mengalir dari luka menganga yang Nathan ciptakan.
"Masih tetap tidak mau bilang? Aku akan memberikanmu 10 detik untuk berpikir. Kehilangan nyawa, atau memberitahuku siapa yang sudah menyuruhmu."
"Oke, aku akan memberitahumu. Tuan Jung yang sudah menyuruhku!!"
Nathan mencabut belatinya yang menancap pada bahu pria itu. "Sudah aku duga. Leon, segera obati lukanya dan kirim dia kembali pada Boss-nya."
"Dan katakan pada Boss-mu, jika dia menginginkan berkas-berkas itu. Maka suruh dia sendiri yang datang kemari." Nathan membersihkan darah yang melumuri tangannya dan pergi begitu saja.
"Bagus sekalu Boss tidak menghabisi-mu, jika kesetannya kambuh. Sudah pasti dia membuat kepala dan tubuhmu terpisah!!"
Pria itu menatap kepergian Nathan dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Jujur saja dia tidak pernah merasakan aura mengerikan seperti saat menatap mata Nathan. Jika diibaratkan. Nathan adalah sosok Iblis dalam wujud malaikat.
Dengan melihat wajahnya yang tampan dan juga manis, pasti orang tidak akan percaya jika Nathan adalah sosok Iblis yang sangat mengerikan. Karena dia tidak akan segan-segan menghilangkan nyawa siapa pun yang berani mencari masalah dengannya.
-
Bersambung.
__ADS_1