
"KKKYYYAAA!!! BURUNG PAMAN LEON MENYERAMKAN!!"
Jeritan histeris Aster menggema dan memenuhi setiap inci ruangan. Membuat semua orang berhamburan menuju ruang keluarga, termasuk Nathan.
Mata Nathan membelalak. Pria itu menuruni tangga dengan cepat lalu menarik Aster ke dalam pelukannya. Dan menyembunyikan wajah wanita itu di dadanya.
"LEON!! APA-APAAN KAU INI?! APA KAU SUDAH TIDAK WARAS?!" Bentak Nathan penuh emosi.
"I-Ini bukan salahku, Boss. Tapi salah kedua bocah itu. Mereka mengambil pakaianku ketika aku sedang mandi. Mereka menakut-nakutiku. Katanya ada hantu Suketi makanya aku langsung kabur keluar." Tuturnya panjang lebar.
"Lalu kenapa kau masih di sini? Apa kau sengaja ingin membuat semua pelayan wanita di rumah ini mimisan dan pingsan karena pisangmu yang gelantungan itu?!"
Mata Leon membelalak. Buru-buru Leon menutup pisangnya dengan kedua tangannya. Leon tersenyum tiga jari. Pria itu menyambar kardus bekas yang di bawah oleh pelayan, dan hendak di buang ke pembuangan sampah.
Leon menutupi sebagian tubuhnya dengan kardus tersebut. Dan sebelum dia mendapatkan amukan dari Nathan. Leon berlari menuju kamarnya. Kini pandangan Nathan bergulir pada Gavin dan Rio yang langsung menundukkan mukanya.
"Malam ini kalian berdua tidur di kamar mandi. Selama satu Minggu jangan harap kalian akan mendapatkan uang jajan dari Paman. Tidak ada mobil, ponsel, selama satu Minggu kalian berdua dihukum!!"
Sontak kedua mata Gavin dan Rio membelalak."APA?! DIHUKUM!!" Pekik keduanya dengan kompak.
Nathan meninggalkan mereka berdua sambil membawa Aster yang masih tampak syok setelah melihat barang milik Leon yang dua kali lebih besar dan lebih menyeramkan dari pada milik Nathan.
Aster harus berterimakasih pada Nathan karena miliknya masih berukuran normal dan tidak menyeramkan. Dan itulah yang membuat Aster menjadi candu. Karena milik Nathan sangat pas di Miss-nya.
Aster memang berbeda dari kebanyakan wanita di luaran sana. Di saat yang lain menyukai yang panjang dan besar. Aster justru menyukai yang berukuran normal. Karena menurutnya itu luar biasa.
.
.
.
"Mereka benar-benar gila. Bagaimana bisa mereka mengerjai Paman Leon sampai seperti itu. Dan Paman Leon juga sama gilanya, bagaimana bisa dia berlari keluar tanpa memakai apa-apa!!" Aster terus saja menggerutu tidak jelas. Dia benar-benar menyesali apa yang baru saja terjadi.
Nathan memicingkan matanya. "Jadi kau sudah melihatnya?" Pria itu menatap Aster penuh selidik.
"Bagaimana aku tidak melihatnya secara langsung. Wong aku nyaris saja bertabrakan dengan Paman Leon yang tiba-tiba nyelonong keluar dari kamar mandi." Pipinya memerah.
"Sepertinya kau sangat menikmatinya, Nona Xiao?!" Aura Nathan berubah suram. Pria itu menatap Aster dengan tatapan mengintimidasi.
Aster menyeringai. Sepertinya mengerjai Nathan sedikit tidak ada salahnya. "Tentu saja aku menikmatinya. Bagaimana mungkin aku melewatkan pemandangan seindah dan sebagus itu." Jawabnya dengan seringai yang sama.
"Aster Xiao!!" Nathan mengeram marah.
Aster terkekeh. Baru saja dia hendak membuka bibirnya dan bersuara. Namun Nathan lebih dulu menerjangnya dan mel*mat kasar bibirnya. Dengan cara itu Nathan meluapkan kekesalannya.
__ADS_1
Diserang tiba-tiba oleh Nathan membuat Aster terkejut bukan main. Aster sampai membelalakkan matanya ketika Nathan menerjang tubuhnya dan mel*mat kasar bibirnya.
Tak mau kalah dari Nathan. Aster mengalungkan kedua tangannya pada leher pria itu. Aster merobohkan tubuh Nathan dan ia berpindah ke atas tubuh suami tampannya itu. Bibir mereka saling mel*mat kasar. Aster tidak membiarkan Nathan terus mendominasi dirinya.
"Eenggghhh..."
Erangan panjang lolos dari bibir Aster ketika Nathan meremas salah satu melonnya dan memilin biji anggurnya. Sedangkan bibir mereka tetap bergulat panas.
"Kau harus di hukum, Nona Xiao. Berani-beraninya kau menikmati milik pria lain!!"
Alih-alih merasa takut dan terancam. Aster malah menyambut baik ancaman Nathan. Wanita itu berbaring dalam posisi terlentang. Bahkan dia telah menyingkirkan seluruh kain yang melekat di tubuhnya.
"Kalau begitu Paman tunggu apa lagi? Ayo kita lakukan sekarang."
"Heh!! Sepertinya kau sangat menantikannya, Nona. Baiklah, aku tidak akan menundanya lagi apalagi mengulur banyak waktu!!"
Nathan menurunkan celananya dan membuangnya asal. Nathan membuka kaki Aster lebar-lebar lalu menggesekkan ujung sosis beruratnya di depan Miss Aster yang telah basah.
"Aaahhh..."
Aster mengeram ketika ujung sosis Nathan mulai menerobos masuk hingga seluruh batangnya bersarang di dalam dirinya. "Siap?" Aster mengangguk.
"Lakukan sekarang Paman." Pintanya mantap.
Dan yang selanjutnya Aster rasakan adalah diri Nathan yang lain masuk dan menghujam ke dalam dirinya. Yang menghantarkan Aster menuju jurang kenikmatan yang tidak ada tandingnya. Bahkan Aster tidak merasa bosan meskipun hampir setiap hari mereka melakukannya. Di manapun dan kapanpun.
Pagi ini benar-benar menjadi pagi yang panas bagi pasangan Nathan-Aster. Berawal dari sebuah sikap kesal Nathan pada Aster, endingnya mereka malah kembali bercocok tanam.
.
.
.
"Uhhhh..."
Aster merasakan perih dan nyeri di bagian Miss-nya. Rasanya dia ingin merutuki Nathan yang bermain terlalu kasar. Nathan yang baru saja keluar dari kamar mandi memicingkan matanya melihat ekspresi Aster yang seperti menahan nyeri.
Nathan meletakkan handuknya lalu menghampiri Aster. Nathan menarik tengkuk Aster dan mencium bibirnya singkat. "Kau baik-baik saja?" Nathan menatap Aster cemas.
Wanita itu mengangguk. Meyakinkan pada Nathan jika dia memang baik-baik saja."Paman tenang saja. Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja." Ucapnya meyakinkan.
"Sungguh?" Aster mengangguk. Sekali lagi Aster meyakinkan pada Nathan jika dirinya baik-baik saja.
"Oya, Paman. Untuk apa koper itu?" Aster menunjuk koper yang ada di samping tempat tidur.
__ADS_1
"Paman harus pergi ke London selama beberapa hari. Paman harap kau baik-baik saja selama Paman tidak ada di rumah."
"London?" Nathan mengangguk. "Kenapa tiba-tiba? Lalu berapa lama Paman akan pergi?"
"Kurang dari satu Minggu. Ada sesuatu yang harus Paman selesaikan di sana. Itulah kenapa Paman pergi secara mendadak."
"Lalu bagaimana kalau aku merindukan Paman?" Aster berkaca-kaca.
Nathan membawa Aster ke dalam pelukannya. "Kita bisa melakukan video call. Dan selama Paman tidak ada, Paman harap kau tidak membuat masalah apalagi membuat sulit Paman Kim."
"Apa Paman tidak bisa mengajakku?"
Nathan menggeleng. "Ini darurat. Paman akan pergi bersama Leon dan Dio. Theo dan Tao akan menjagamu selama Paman tidak ada."
"Lalu bagaimana dengan hukuman Gavin dan Rio? Bukankah Paman harus menghukum mereka karena nakal?"
Nathan menghapus air mata Aster yang menetes di pipinya. "Hukuman mereka ditunda sampai Paman kembali. Masalah ini terlalu mendadak. Dan Paman tidak bisa mewakilkan pada orang lain."
"Selama Paman tidak ada, ada Paman Cris yang juga bisa menghiburmu. Baik-baik di rumah."
"Paman!!" Tubuh Nathan terhuyung kebelakang karena pelukan Aster. "Aku pasti akan sangat merindukan Paman."
Nathan mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Aster. "Paman juga akan sangat merindukanmu." Ucapnya.
Tokk.. Tokk.. Tokk..!!
Ketukan pada pintu mengintrusi pelukan mereka berdua. "Tuan, kita harus berangkat sekarang." Seru Dio yang kemudian mendapatkan anggukan dari Nathan.
Nathan melepaskan pelukannya pada tubuh Aster. Jari-jari besarnya menghapus air mata dipipi Aster.
"Jangan menangis. Setelah Paman kembali. Paman akan membawamu berlibur ke Paris. Paman pergi dulu." Nathan menangkup wajah Aster lalu mengecup singkat bibirnya, dan beralih pada keningnya.
"Paman hati-hati. Kabari aku setelah tiba di sana"
Nathan mengangguk. "Pasti."
Aster meremas dadanya. Tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak. Entah kenapa dia merasa hal buruk akan terjadi. Dan Aster berharap itu hanya perasaannya saja. Dia akan terus berdoa semoga tidak ada hal buruk yang menimpa Nathan.
"PAMAN!!"
Tubuh Nathan terhuyung kebelakang karena pelukan Aster. Aster berlari menuruni tangga dan langsung menerjang tubuh Nathan. Nathan mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Aster.
"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja. Paman pergi dulu." Bisiknya. Nathan melepaskan pelukan Aster dan pergi begitu saja.
Aster menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya. Dalam hati dia terus berdoa semoga Tuhan selalu melindungi Nathan di mana pun dia berada.
__ADS_1
-
Bersambung.