"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Kesialan Elinda


__ADS_3

"Paman, lepaskan dulu kemeja-mu. Sepertinya lenganmu memar karena ulah wanita gila itu." Nathan tidak menjawab, sebagai gantinya pria itu menganggukkan kepala.


Nathan melepas kemeja putihnya dan menyisahkan singlet putih yang menjadi dal*man kemejanya. Dan setelah kemeja itu dilepas. Tampaklah sebuah luka memar yang sedikit membiru pada lengannya.


"Ahh," Nathan sedikit meringis saat kain ditangan Aster mulai menyentuh luka memar itu.


Lumayan sakit juga, meskipun tidak seberapa dibandingkan dengan rasa sakit pada sekujur tubuhnya ketika dirinya nyaris terbunuh beberapa bulan yang lalu.


Aster mengompres luka memar di lengan kiri Nathan yang terkana lemparan vas bunga. Awalnya Elinda ingin melemparkan vas itu pada Aster, namun dihalangi oleh Nathan. Akibatnya lengan kiri Nathan mengalami memar.


Aster mengangkat wajahnya dan menatap Nathan dengan cemas. "Paman, sakit ya? Maaf, aku akan lebih pelan lagi."


"Tidak apa-apa. Tidak seberapa sakit, tadi hanya refleks karena terkejut." Ucapnya."Aster, aku sudah mengakui hubungan kita di depan umum. Bisakah mulai sekarang kau jangan memanggilku Paman lagi?"


"Sebenarnya aku juga sedang memikirkan hal itu. Tapi aku masih bingung harus memanggil Paman dengan sebutan apa. Daddy, Papi, Papa atau Oppa? Aku benar-benar belum bisa menentukannya sekarang."


"Hn, mungkin karena kau belum terbiasa. Aku tidak keberatan kau mau memanggilku apa, termasuk nama tanpa embel-embel apapun."


Aster menggeleng. "Jelas itu tidak sopan sama sekali, aku akan memikirkan terlebih dulu, panggilan apa yang tepat untuk Paman, oke?!"


"Hn, terserah kau saja."


"Paman, sebaiknya kau istirahat dulu. Aku akan menyimpan wadah ini di dapur." Aster hendak beranjak namun segera dihentikan oleh Nathan.


Nathan menggenggam pergelangan tangan Aster membuat wanita itu mau tidak mau berhenti.


Nathan bangkit dari duduknya lalu mengambil wadah kecil berisi air es itu kemudian meletakkannya di atas meja. Sebelah tangan Nathan menarik ujung dagu Aster dan bibir mereka pun bertemu.


Kedua mata Aster pun perlahan terpejam ketika merasakan tarikan pada pinggulnya dan lum*tan lembut pada bibir atas dan bawahnya.


Sebelah tangan Nathan menuntun tangan Aster supaya mengalung pada lehernya. Ciuman yang semula lembut berubah menjadi ciuman panas yang menuntut.


Mereka bergerak mundur tanpa melepaskan tautan bibirnya. Sampai akhirnya tubuh keduanya terguling di atas tempat tidur dengan Nathan yang berada tepat di atas tubuh Aster.


Des*han dan erangan berkali-kali keluar dari sela-sela bibir ranumnya ketika Nathan memperdalam ciumannya dan menyentuh salah satu area sensitifnya, bukit kembarnya.


"Aaahh...ahhh...O..Op...paa.."


"Teruslah mend*sah seperti itu, Sayang. Dan ku pastikan kau akan kesulitan berjalan besok pagi.." Nathan menyeringai nakal.


"Uhhh...aaahhh..ouhh..Op..pa, i..ini sangat uhhh..nikmat."


Kembali Nathan menyergap bibir Aster dan meraup bibir ranum itu ke dalam sebuah ciuman panjang yang memabukkan. Des*han dan erangan berkali-kali lolos dari sela-sela ciuman mereka.


Inilah yang paling Aster suka dari Nathan. Dia selalu tau kapan waktu yang tepat untuk memanjakannya. Dan dia selalu puas dengan servis yang Nathan berikan padanya.

__ADS_1


Nathan menarik dirinya untuk melepas kaos singlet-nya yang kemudian dia lempar begitu saja. Kemudian jari-jari besarnya beralih untuk menanggalkan semua kain dari tubuh Aster.


Semua kain-kain sialan itu sudah terlepas. Hanya tersisa br* hitam berenda dan kain hitam tipis yang menutup bagian Miss-nya. Nathan menatap Aster dengan pandangan lapar, mata kirinya memancarkan gairah seperti kobaran api ditengah malam.


"Oppa, jangan menundanya lagi. Aku benar-benar sudah tidak sabar untuk segera melakukannya." Rengek Aster memohon.


"Kenapa kau semakin tidak sabaran saja, hm? Baiklah, ayo kita segera mulai." Ucap Nathan tersenyum.


Nathan melepas celananya lalu memposisikan ujung sosis beruratnya tetap di depan mulut Miss Aster yang sudah basah sejak pertama kali Nathan mencumbunya.


"Uhhh, O..pp..a," Aster mend*sah sambil memejamkan matanya ketika ujung sosis berurat milik Nathan mendorong masuk ke dalam Miss-nya. "Aaahh.." wanita itu menjerit ketika seluruh batangnya sudah berada dalam dirinya.


Dan yang bisa Aster rasakan selanjutnya adalah kenikmatan yang tak pernah membuatnya bosan. Ya, Nathan memang selalu tau bagaimana cara untuk membuatnya puas.


Mereka menikmati makanan pembukanya lebih awal, dan bercocok tanam sebelum makan malam sepertinya tidak buruk juga.


-


Tapp...


Elinda menghentikan langkahnya ketika dia merasakan seseorang tengah mengikutinya. Tapi ketika dia menoleh. Elinda tidak mendapati siapapun. Koridor apartemennya kosong dan legang.


Wanita itu mengangkat bahunya. Elinda melanjutkan langkahnya sambil menjinjing dua paper bag ditangan kirinya.


Elinda baru saja pulang dari berbelanja. Dia ingin memanjakan dirinya daripada terus-terusan larut dalam kekesalannya karena pernikahan Natan dan Aster.


"Hihihi!!"


Elinda menyapukan pandangannya namun dia tidak mendapati siapapun di koridor tersebut. Tak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Elinda pun segera masuk ke dalam apartemennya. Dan kedatangannya di sana disambut oleh mahluk berkuncir yang sedang melorot padanya.


"AAAAHHH!!! SETAN!!"


Elinda mendorong tubuh Mr.Poci hingga terjatuh kelantai. Sialnya dia tidak bisa bangun jika tidak ada yang membantunya. Tak kehabisan akal Mr.Poci berkostum pink itu membalikkan tubuhnya, dia mengambil posisi nungging untuk kembali berdiri.


"Uhh, merepotkan saja. Kenapa aku mati harus jadi hantu dengan kostum teribet seperti ini sih?" Keluhnya setengah frustasi.


Brakk...


"Cepot, Cepot, Cepot..."


Mr.Poci terkejut dan terlonjak kaget. Akibatnya tubuhnya kembali tumbang setelah susah payah dia mencoba untuk berdiri. Dan sementara itu. Elinda yang haru saja tiba di kamarnya kini merasa lega. Karena dia merasa sudah aman dan terbebas dari teror hantu nyasar itu.


"Hihihi!!"


Degg...

__ADS_1


Kedua matanya membelalak saat indera pendengarannya menangkap suara tawa mengerikan seorang wanita. Dengan kaku Elinda menoleh dan... "HANTU!!" Elinda menjerit sambil melemparkan sebuah vas bunga kearah hantu itu yang pastinya adalah Suketi.


Suketi sial lagi. Vas itu mendarat tepat di keningnya dan membuat si Miss.K terjengkang kebelakang karena terlalu kerasnya lemparan vas bunga itu.


"Aduh, aku siap lagi."


Elinda meloncat turun dari ranjangnya dan berlari keluar. Suketi yang tak puas memutuskan untuk segera mengejarnya, lagi-lagi sial menghampiri dirinya. Tubuhnya gelantungan setelah gaun putihnya tersangkut pada lemari pakaian tersebut.


"Yakk!! Bagaimana aku bisa turun?! Ayang Poci, Ayang Wowo, tolong Titi. Titi nyangkut, huwaa.."


"Maaf Ayang Titi. Ayang Poci juga tertimpa sial, Ayang Poci tidak bisa bangkit lagi, Ayang Poci terguling di lantai!!"


"Ayang Wowo tersangkut di pintu, pintunya terlalu keci, huhuhu.."


Sungguh sial bagi ketiga hantu itu. Meskipun sukses membuat Elinda ketakutan sampai terkencing di celana. Tapi harga mahal yang harus mereka bayar adalah dengan kesialan.


-


Seorang wanita bermahkotakan coklat terang yang digelung keatas, terlihat sedang duduk berhadapan dengan sebuah layar kompoter yang menyala disebuah ruangan yang gelap.


Iris hazel-nya yang jernih memandang serius ke layar monitor. Tangannya dengan lincah menari diatas keyboard sambil sesekali tangan kanannya itu berpindah memegang mouse yang ada di sebelah keyboard.


Tiba-tiba jari-jarinya berhenti menekan tombol-tombol yang ada di keyboard.


"Finaly," gumamnya dengan kepuasan terlihat dari sepasang hazelnya.


Detik berikutnya, jarinya itu menekan tombol 'Enter' dengan semangat. Setelah menunggu loading yang cukup lama, monitor komputer itu memperlihatkan dua kata berwarna merah terang.


Hacking Success


Bibirnya pun menyeringai puas. Wanita itu sungguh tidak sabar menunggu pertunjukkan besar yang akan menghebohkan dunia hiburan dan jagad Maya. Dia sungguh tidak sabar menunggu hari esok datang.


Wanita itu bangkit dari duduknya kemudian berjalan kearah pintu dan menghidupkan kembali penerangan diruangan itu. "OMO!!" nyaris saja dia terkena serangan jantung dadakan karena kemunculan seorang pria yang sedang melipat tangannya diambang pintu dengan tatapan tajam penuh intimidasi.


"Aster Xiao!!"


Aster menggaruk tengkuknya yang tidak gatal."Oppa, jangan marah dulu. Aku hanya meminjam sebentar komputer-mu, aku tidak melakukan apapun kok, sungguh." Ucap Aster meyakinkan.


Nathan menghampiri Aster dengan emosi yang tertahan. Sebuah jitakan Nathan darat-kan pada kepala coklat Aster. "Apa kau tau bagaimana paniknya aku saat tidak menemukanmu di mana pun, dan ternyata kau ada disini?! Dasar perempuan ini." Nathan mencubit pipi Aster saking gemasnya.


"Aduh, Oppa sakit!!" Jerit Aster sambil memegangi pipinya yang baru saja dicubit oleh Nathan. "Salah sendiri kau tidur seperti kebo. Susah sekali di bangunkan." Wanita itu menggerutu.


Nathan mendengus berat. "Sudah malam. Sebaiknya kita kembali ke kamar dan segera tidur. Dan aku tidak kau mendengar penolakan!!"


Aster mempoutkan bibirnya. "Iya, iya, dasar bawel." Aster kembali menggerutu. Nathan membuatnya kesal Keduanya pun berjalan beriringan meninggalkan ruang kerja Nathan.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2