"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Ekstra Bab (Bag 19)


__ADS_3

"Daddy!!!"


Nathan membuka lebar-lebar kedua tangannya saat melihat Rey berlari menghampirinya. Bocah berusia dua tahun itu terlihat begitu semangat menyambut kepulangan sang ayah.


Terlihat jelas jika Rey sangat merindukan Nathan. Pasalnya hampir satu Minggu mereka tidak bertemu karena Nathan harus dirawat di rumah sakit.


Bocah laki-laki itu begitu kegirangan ketika berada di dekapan sang ayah yang begitu hangat. Pandangannya berubah sendu ketika menatap perban yang membalut luka-luka di wajah sang ayah.


"Daddy, apa ini sakit?" Rey menatap Nathan dengan cemas.


Nathan menggeleng. "Setelah melihat Rey, sakitnya langsung hilang." Jawabnya dengan senyum yang sama. Rey langsung tersenyum sumringah mendengar ucapan sang ayah.


"Anak baik, sekarang Rey sama Mami dulu ya. Biarkan Daddy mu istirahat dulu. Dia masih harus banyak-banyak istirahat." Ucap Aster lalu mengambil Rey dari gendongan Nathan.


Rey menggeleng. "Rey, maunya sama Daddy. Rey, kangen Daddy,"


"Rey, anak baik kan?" Rey mengangguk. "Nah, kalau begitu Rey tidak boleh nakal. Atau begini saja, Rey main saja dengan Uncle Rio dan Uncle Gavin, bukankah mereka adalah kuda yang paling hebat?!"


Mata Rey langsung berbinar seketika. Dengan semangat kemudian dia berseru kencang."SETUJU!!" Sedangkan Gavin dan Rio hanya bisa mendesah pasrah. Padahal niatnya mereka mau pergi keluar, tapi sekarang malah disuruh mengasuh Rey.


Selepas kepergian mereka bertiga. Aster dan Nathan pergi ke kamar mereka yang ada di lantai dua. Nathan masih harus banyak istirahat, supaya luka-lukanya bisa segera membaik.


"Aku sudah tidak apa-apa. Sebaiknya kau pergi ke boutique saja. Bukankah kau bilang waktu yang kalian miliki sudah tidak banyak lagi?! Lagipula masih ada Zhoumi Ge dan Cris Ge, mereka bisa menjagaku dengan baik."


Aster menggeleng. "Aku tidak akan pergi kemana-mana. Lagipula aku dan Amy sudah memutuskan untuk tidak mengikuti kompetisi itu, kami sepakat untuk mundur."


"Kenapa? Bukankah itu adalah impianmu sejak lama? Dimana rancangan mu bisa diakui dunia, lalu kenapa sekarang kau malah ingin mundur?"

__ADS_1


Aster mendesah berat. "Memang, tapi desain yang sudah aku kerjakan dengan susah payah telah raib. Pertama, desainku di rusak. Dan yang kedua, desainku yang baru saja ku selesaikan di curi orang. Sedangkan kompetisi itu tinggal beberapa hari lagi. Sudah tidak ada waktu untuk mendesain lagi." Tuturnya panjang lebar.


Nathan menggeleng. "Kau masih memiliki desain spesial yang bisa kau gunakan untuk mengikuti kompetisi itu. Kompetisi itu adalah kesempatan emas bagimu, dan seharusnya kau tidak menyia-nyiakannya." Nathan bangkit dari duduknya kemudian dia mengeluarkan sebuah sketsa dari sebuah kotak yang kemudian dia berikan pada Aster.


Kedua mata Aster membelalak saat melihat sketsa tersebut. "Paman, sketsa ini?"


"Ya, itu adalah karya pertamamu. Kau membuatnya saat duduk di sekolah menengah dulu, aku sengaja menyimpannya, mungkin saja bisa berguna untukmu suatu saat nanti. Dan ternyata prediksiku tidak salah. Kau benar-benar membutuhkannya."


Aster menyeka air matanya. Wanita itu menatap Nathan yang juga menatap padanya. Dengan perasaan campur aduk, Aster berhambur ke dalam pelukan Nathan.


"Paman, kau adalah penyelamatku. Kau adalah dewa penolongku, jika tidak ada dirimu, entah bagaimana nasib karirku. Mungkin saja sudah hancur sebelum aku memulainya."


Nathan tersenyum. Pria itu mengangkat kedua tangannya lalu membalas pelukan Aster. "Untuk itu kau harus lebih berusaha lagi, buktikan pada mereka yang telah meremehkan mu, jika kau adalah yang terbaik."


Aster mengangguk dalam pelukan suaminya. Kata-kata Nathan memberikan kekuatan baru untuknya. Dia memang harus yakin pada dirinya sendiri, dan dia akan menunjukkan pada mereka yang telah meremehkannya, siapa Aster Xiao yang sebenarnya.


Nathan mengangguk. "Hati-hati dijalan." Aster mencium pipi Nathan juga perban yang masih membebat kening dan mata kanannya. Sebelum meninggalkan suaminya itu begitu saja. Semangat Aster semakin berkobar-kobar, dan dia yakin akan menang.


Bekerja keras tanpa mengenal waktu untuk menghasilkan sebuah karya terbaik. Itukah yang saat ini tengah dilakukan oleh Aster dan Amy, mereka tengah bekerja keras untuk menyelesaikan desain dan rancangan yang nantinya akan mereka ikutkan dalam kompetisi fashion tingkat dunia.


Tidak ada siang, tidak ada malam bagi mereka berdua. Meskipun saat ini Amy dalam keadaan hamil.


Tapi hal tersebut tidak mengurangi sedikit pun semangat juangnya. Dan kali ini bukan di Boutique mereka menyelesaikan desain dan rancangan itu, melainkan kediaman keluarga Xiao.


Baik Aster maupun Amy sama-sama tidak ada yang mau mengambil resiko dengan menyelesaikan karya mereka di sana. Karena bisa saja si biang kerok itu datang lagi untuk mengacaukan rencana dan kerja keras mereka.


Dan setelah bekerja selama 2 hari 2 malam tanpa henti. Akhirnya karya terbaik mereka telah selesai di buat. Aster dan Amy bangkit dari duduknya dan menatap hasil karya mereka dengan puas. Keduanya pun saling berpelukan dan sama-sama tertawa lepas.

__ADS_1


"Huaa... Ini yang namanya mahakarya. Noona, Bibi. Kalian sungguh yang menciptakan gaun dan perhiasan ini?" Rio dan Gavin menatap keduanya bergantian.


"I...Ini sangat luar biasa, amazing..Aku belum pernah melihat karya seindah dan sesempurna milik kalian ini."


Aster dan Amy saling bertukar pandang. Mereka sama-sama mengurai senyum tipis."Dan hasil luar biasa ini, pasti akan membawa kita berdua ke kanca dunia. Dan aku yakin, kita yang akan memenangkan kompetisi besar itu." Amy mengangguk, dia sependapat dengan Aster.


"Kalian sudah bekerja keras. Sebaiknya kalian istirahat. Tubuh kalian bukan robot." Ucap Nathan yang entah kapan datangnya. Tiba-tiba sudah ada ruangan tersebut.


"Nathan Oppa, benar. Apalagi Amy sedang mengandung. Dia butuh banyak istirahat, pergilah ke kamar tamu dan istirahat di sana. Nanti biar supirku yang mengantarmu pulang."


Amy mengangguk. "Baiklah."


.


Aster menjatuhkan tubuhnya yang terasa lelah pada kasur super empuk miliknya. Sudah dua hari dia tidak tidur di sana, melainkan tidur di ruangan tempatnya dan Amy menyelesaikan rancangannya.


"Lelahnya. Begini rasanya sangat nyaman." Ucap Aster sambil menutup kedua matanya.


Nathan menghampiri Aster yang sedang berbaring kemudian duduk di samping wanita itu berbaring. "Sebaiknya kau tidur sekarang, lihatlah lingkaran di matamu. Kau mirip dengan Tao."


Aster mendengus berat. "Jangan samakan aku dengan dia, Paman. Aku memiliki lingkaran panda karena sibuk bekerja dan kurang tidur. Sedangkan Tao, dia memilikinya secara alami. Jadi tidak bisa disamakan."


"Baiklah, terserah kau saja bagaimana menilainya. Sebaiknya sekarang tidur, dan aku tidak ingin mendengar kata penolakan atau kalimat apapun itu. Dan aku akan menemanimu di sini!!"


Aster menghela nafas panjang. "Baiklah, aku akan tidur sekarang."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2