
Menunggu...
Adalah satu hal yang paling Nathan benci dalam hidupnya. Dia paling benci dengan namanya menunggu, namun hal tersebut tak berlaku untuk hari ini.
Saat ini Nathan sedang berada di Mall untuk menemani Aster berbelanja. Jika saja orang lain yang memintanya, pasti Nathan akan langsung menolak. Tapi ini Aster, dan Nathan tidak bisa berkata tidak jika dia yang memintanya.
"Paman, menurutmu lebih bagus yang mana? Yang merah atau yang biru muda?" Aster menunjukkan dua helai dress pada Nathan. Kedua dress itu memiliki model yang sama namun warna berbeda.
"Biru muda lebih bagus. Warnanya soft, dan tidak terlalu mencolok."
Aster tersenyum kemudian mengangguk. Nathan memang memiliki selera dan pandangan yang sangat baik dalam hal fashion. "Baiklah, aku akan mengambil yang ini saja."
Aster menyerahkan dress itu pada pelayan toko yang menemaninya berkeliling. Dan itu adalah dress ke 10 yang Aster pilih.
Ponsel dalam saku celana Nathan tiba-tiba berdering. Dan ada panggilan dari nomor asing. Setelah memberitahu Aster, kemudian Nathan berjalan menjauh. Aster tidak tau siapa orang yang menghubungi Nathan sampai-sampai dia harus menjauh.
"Tolong dress-dress ini dibawa ke kasir ya." Ucap Aster yang kemudian dibalas anggukan oleh pelayan toko tersebut.
"Baik, Nona."
Aster menghampiri Nathan yang baru saja memutuskan sambungan telfonnya. Baru saja dia hendak berbalik, namun kedatangan Aster mengurungkab niatnya.
"Telfon dari siapa, Paman?"
"Leon, dia menangkap penyusup yang hendak masuk ke dalam rumah dan sekarang sedang diinterogasi di ruang bawah tanah."
"Berarti kita langsung pulang?"
Nathan menggeleng. "Sudah ada Leon dan Theo yang bisa mengurusnya. Memangnya kau ingin kemana lagi setelah ini?"
"Hongdae, sudah lama kita tidak pergi ke sana."
Nathan mengacak rambut coklat Aster dan mengangguk."Baiklah, terserah kau saja. Apa kau sudah mendapatkan semua yang kau butuhkan?" Aster mengangguk. "Baiklah, ayo kita ke kasir."
.
.
.
Sesuai permintaan Aster tadi. Mereka pergi ke Hongdae untuk menikmati pertunjukkan yang di mainkan oleh seorang musisi jalanan.
Nathan sedang pergi untuk membeli minuman. Sedangkan Aster memutuskan untuk menunggu suami tampannya itu di taman Hongdae.
__ADS_1
Aster menyandaran punggungnya pada kursi taman, wajahnya mendongak menatap langit malam yang gelap dengan ditaburi jutaan bintang. Senyum lembut tersungging, menghiasi wajah cantiknya.
Wanita itu mengangkat tangannya yang kemudian ia arahkan pada bintang-bintang itu seolah ingin menggapainya.
Terasa begitu dekat, namun ketika ia hendak menyentuh salah satu bintang itu, ternyata begitu jauh.
Aster begitu terhanyut dalam dunianya, sampai sebuah tepukan mengalihkan perhatiannya. Wanita itu tersenyum, ia berpikir jika itu adalah Nathan. Aster itu berbalik dan...
Jlebbbb.....
Tanpa mengatakan apa pun, orang itu menusuk dada kiri Aster menggunakan sebuah pisau. Darah segar seketika mengalir dari luka itu dan melumuri kedua tangan Aster. Darah juga mengalir dari sudut bibirnya.
Wanita itu menatap wanita dihadapannya, dengan sisa tenaga yang dia miliki. Aster menarik masker yang orang itu kenakan dan kedua matanya sedikit membelalak.
"Amanda?"
"Mati saja, kau Aster Xiao." Amanda semakin memperdalam tusukan itu sebelum akhirnya meninggalkan Aster begitu saja.
Perlahan-lahan Aster mulai kehilangan kesadarannya, kedua matanya mulai berkunang-kunang, sampai akhirnya tubuhnya jatuh menghantam aspal yang dingin yang keras.
Matanya masih tetap terbuka, meskipun pandangannya mulai mengabur, Aster mengangkat tangannya yang berlumur darah, bibirnya menyebut sebuah nama. "Pa-man, Nat-han!!" namun suara itu tidak keluar hanya bisakan saja.
Mata itu perlahan-lahan mulai terasa berat, kelopak mata Aster tertutup sepenuhnya seiring dengan cairan bening yang mengalir dari sudut matanya.
Orang-orang mulai berkerumun, semua terkejut dan panik. Mereka saling berteriak meminta pertolongan, sedangkan beberapa lagi berusaha mengejar pelakunya.
Si pria tampak menggelengkan kepala."Entahlah, aku jga tidak tau. Sebaiknya kita lihat saja!" kata pria itu seraya beranjak dari tempatnya berdiri.
Nathan yang baru saja kembali dari membeli minum, tampak kebingungan melihat banyak orang berkerumun di satu titik. Nathan mencoba mencari keberadaan wanita itu.
Nathan berfikir jika Aster berada diantara kerumunan itu, sampai kedua matanya melihat siluet seorang wanita yang sangat ia kenal tergeletak di tanah dalam keadaan bersimbah darah.
Segera Nathan berlari membela kerumunan itu dan berteriak sekencang-kencangnya memanggil nama wanita itu.
"ASTER......"
.
.
.
"Aster, aku mohon bertahanlah!" bisik Nathan dengan suara paraunya ditelinga Aster.
__ADS_1
Nathan menggenggam tangan Aster dengan erat, seolah-olah tak pernah ingin melepaskannya meskipun hanya satu detik saja.
Air matanya tak terbendung lagi, melihat tubuh sang istri terbaring lemah dalam keadaan tidak berdaya.
Seorang perawat menghentikan Nathan dan melarangnya untuk ikut masuk ke dalam ruang operasi. "Maaf Tuan, tapi Anda tidak diizinkan masuk," kata Suster sambil menghadang langkah Nathan dengan sebelah tangannya.
Tubuh Aster dibawah masuk ke dalam ruang operasi oleh para tim medis yang menanganinya.
Nathan tak sedikit pun meloloskan pandangannya dari sosok Aster yang sedang terbaring lemah di atas kereta dorong itu, hingga sosoknya tidak tertangkap lagi oleh mata coklatnya.
Pria itu kemudian menjatuhkan tubuhnya pada ubin rubah sakit yang dingin, salah satu tangannya bertumpuh pada lututnya.
"AAARRRKKKHHHH....!" Nathan menggeram sambil mengacak kasar rambut keperakannya.
Nathan bangkit dari posisinya lalu berbalik dan memukul tembok didepannya berulang-ulang, bahkan ia tidak peduli dengan bau anyir yang keluar dari kepalan tangannya yang terkelupas . Nathan membutuhkan pelampiasan.
Semua hanya mampu terdiam dan tidak ada yang berani menghentikan Nathan, termasuk nenek Xiao. Semua yang ada diruangan itu memandang Nathan dengan sendu.
Nenek Xiao mendesah berat. "Nathan, cukup," seru nenek Xiao seraya bangkit dari duduknya dan menghampiri Nathan. "Nenek mohon hentikan. Kau melukai dirimu sendiri," ujarnya sambil menarik Luhan kebelakang.
Nathan menyentak tangan Nenek Xiao sambil berteriak keras. "Lepaskan aku, Nek, lepaskan!" teriak Nathan seperti orang kerasukan.
"Aaarrrkkkhhhh...." Nathan kembali menggeram dan memukul tembok itu sekali lagi, membuat lukanya semakin banyak mengeluarkan darah.
Nenek Xiao tak kuasa membendung air matanya."Cukup Nak, berhenti menyakiti dirimu sendiri. Aster pasti sedih melihatmu seperti ini," nasehat nenek Xiao sambil mengusap punggung Nathan dengan gerakan naik turun.
Nenek Xiao dapat merasakan kepedihan hati Nathan, karena ia pun juga merasakan hal yang sama.
"Ini semua salahku, jika aku bisa lebih menjaganya, pasti hal semacam ini tidak akan terjadi, dan saat ini pasti Aster masih baik-baik saja. Aku sungguh seorang ayah angkat dan suami yang tidak berguna,"
Kemudian Nathan menjatuhkan tubuhnya pada kursi ruang tunggu, pria itu membungkuk dalam posisi duduknya. Tangannya mengusap kasar wajahnya yang tampak sembab.
Gavin dan Rio bahkan tidak tau harus bicara apa. Mereka hanya bisa menatap Nathan dengan sedih.
Sekali lagi nenek Xiao menghela nafas, wanita setengah baya itu menghampiri Nathan kemudian duduk disampingnya. "Dengarkan Nenek, Nathan." Nenek Xiao mengambil jeda dalam kalimatnya.
Mata hitamnya terkunci pada manik coklat milik Nathan. "Nenek tau, apa yang menimpa Aster sangat menyakitkan untukmu. Tapi nenek tidak ingin kau bersikap seperti ini.
"Kau boleh saja merasa sedih dan marah atas apa yang menimpa istri kecilmu, tapi jangan sampai kau menyakiti dirimu sendiri apalagi terus menyalahkan dirimu seperti ini. Aster akan sedih saat melihatmu seperti ini," ujar nenek Xiao mencoba menasehati.
Dan Nathan tidak memberikan respon apa-apa. Pria itu mendongak menatap langit-langit rumah sakit dengan pandangan hampa.
Cairan bening kembali menggenang dipelupuk matanya. Dalam hatinya dia terus berdoa, memohon pada Tuhan semoga tak ada hal buruk yang menimpa istri kecilnya.
__ADS_1
-
Bersambung.