
Aster memagut dirinya di depan cermin. Tubuh rampingnya dalam balutan dress hitam berbahan brukat berlengan sepanjang lutut, yang sedikit mengembang di bagian bawah.
Rambut panjangnya yang bergelombang dibiarkan tergerai dan jatuh di atas punggungnya. Tak lupa polesan make up tipis pada wajah cantiknya, serta satu set berlian yang semakin menyempurnakan penampilannya.
Cklek..
Aster menoleh mendengar suara pintu di buka. Sosok Nathan memasuki kamar sambil membawa sebuah kotak beludru merah yang kemudian dia berikan padanya.
Aster tidak langsung menerima kotak itu dan hanya memandangnya saja. "Paman, apa ini?"
"Lepaskan perhiasanmu, kau pakai yang ini saja." Nathan membuka kotak tersebut lalu mengambil kalung berlian yang ada didalamnya.
Kedua mata Aster berbinar melihat kalung mewah yang kini telah bertengger manis di leher jenjangnya. Aster melepas antingnya dan menggantinya dengan anting yang Nathan berikan padanya.
"Itu adalah perhiasan turun temurun keluarga Xiao, dan aku ingin kau menyimpannya."
"Paman, kau berikan perhiasan ini padaku?" Nathan mengangguk.
"Huaa ... Terimakasih, Paman." Aster berhambur ke dalam pelukan Nathan dan memeluk pria itu dengan erat. "Aku sangat menyukainya."
"Untuk itu kau harus merawatnya dengan baik."
Aster mengangguk. "Pasti. Aku akan menjaganya dengan baik." Dia berjanji.
Nathan menarik bahu Aster dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. "Kau memang harus merawatnya. Karena perhiasan ini adalah harta berharga keluarga Xiao."
Aster mengangkat wajahnya dari dekapan Nathan. Bibirnya mengulum senyum lebar."Aku berjanji. Aku akan menjaga perhiasan ini seperti aku menjaga hatiku untukmu."
Nathan menarik tengkuk Aster dan mencium singkat bibir ranum tipisnya. Melum** dan memagutnya dengan lembit dan penuh perasaan.
Aster menutup matanya saat merasakan ciuman Nathan semakin dalam dan menuntut. Aster menerima ciuman itu dengan sangat baik, dan dengan senang hati Aster membalas ciuman Nathan.
Namun ciuman mereka tidak berlangsung lama. Kurang dari satu menit Nathan telah mengakhiri ciumannya. "Kau sudah siap?"
Aster mengangguk. "Sudah."
"Lipstick-mu sedikit berantakan. Rapikan dulu, aku akan menunggumu di luar." Nathan menepuk kepala Aster dan pergi begitu saja, meninggalkan gadis itu sendiri di kamar mereka.
.
.
.
Dari ujung tangga Nathan melihat kedatangan seorang pria paruh baya. Nathan menghampiri pria itu dengan angkuh. Sorot matanya tajam dan ekspresinya dingin, datar.
"Ada apa, Paman datang kemari?"
"Nathan, ada hal penting yang harus Paman bicarakan denganmu, dan ini mengenai-"
"Amanda?!" Nathan menyela. "Jika Paman datang untuk membahas masalah dia, sebaiknya Paman pergi saja. Dan satu lagi, aku sudah memutuskan kerja sama perusahaan kita."
"Apa maksudmu?" Tanya Tuan Lim meminta penjelasan.
"Apa masih belum jelas, Kakek?" Sahut seseorang dari arah belakang.
__ADS_1
Keduanya menoleh pada asal suara. Terlihat Aster menuruni tangga dan menghampiri mereka berdua. Aster memeluk lengan Nathan yang tertutup lengan kemejanya.
"Gadis kecil, sebaiknya kau tidak ikut campur, karena ini urusan orang dewasa!!" Ujar Tuan Lim menahan emosi. "Dan apa-apaan kau ini, kenapa kau memeluk calon menantuku seperti itu? Dasar putri angkat tidak tau sopan santun!!"
"Kakek, kalau bermimpi jangan terlalu tinggi. Karena jika terjatuh rasanya sangat memalukan. Lagipula Paman Nathan tidak mungkin menikahi putrimu yang bodoh itu!!"
"Gadis kecil, kenapa mulutmu sangat berbisa. Apakah sebelumnya Nathan kurang memberikan pendidikan moral padamu? Bagaimana kalau aku saja yang mengajarkannya padamu?!"
Aster tersenyum meremehkan. "Dari pada Kakek sibuk mengajariku tentang pendidikan moral, lebih baik Kakek ajari saja putri kakek sendiri. Karena dibandingkan diriku, Bibi Amanda lebih membutuhkan pendidikan moral!!"
"Kau!!!" Bentak Tuan Lim penuh emosi.
Nathan menahan pergelangan tangan Tuan Lim ketika dia hendak menampar Aster. Tatapan kurang bersahabat Nathan berikan pada pria bermarga Lim itu.
"Sebelum kesabaran ku benar-benar habis, sebaiknya sekarang kau pergi saja dari sini!!" Pinta Nathan dengan nada bicara yang sangat tidak bersahabat.
"Tapi Nathan, kita masih perlu untuk bicara."
"Sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Dan jangan pernah menginjakkan kaki di sini lagi!! Aster, ayo kita pergi."
-
Nathan menghentikan mobil mewahnya di sebuah restoran Eropa yang terletak di pusat kota Seoul. Mereka tidak langsung turun, Nathan memberikan sedikit arahan pada Aster.
"Kau turunlah dan masuk lebih dulu. Aku akan mengawasi-mu dari kejauhan. Jangan matikan panggilan telfon dariku, aku ingin mendengar apa saja yang dia katakan."
Aster mengangguk. "Aku mengerti, Paman. Dan aku tau harus bagaimana menghadapi ular betina seperti dia. Aku akan masuk sekarang."
Nathan menarik Aster ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat. "Hati-hati, kau harus jaga dirimu dengan baik. Jangan sampai dia melukaimu." Aster tersenyum lebar dan kemudian mengangguk.
Nathan melepaskan pelukannya. "Ya sudah, masuk sana." Pinta Nathan.
Aster mengangguk. "Aku masuk dulu Paman," gadis itu turun dari mobil Nathan dan pergi begitu saja. Di dalam sana Riyana Jung sudah menunggunya.
.
.
.
"Maaf, Bibi, sudah membuatmu menunggu lama."
Riyana menoleh. Wanita itu tersenyum melihat kedatangan Aster. Dia memang sudah menunggu Aster dari tadi. "Tidak apa-apa, Bibi juga baru datang." Ucapnya.
Aster menatap Riyana dengan sebelah alis terangkat. Dia bersikap begitu manis seperti sedang merencanakan sesuatu. Meskipun sepuluh tahun telah berlalu, tapi Aster masih mengingat jelas seperti apa wanita ini sebenarnya.
"Kau ingin pesan apa, Sayang?"
"Aku kenyang dan aku tidak haus. Aku tidak ingin pesan apapun." Jawabnya datar.
"Jangan begitu. Ayolah, hargai Bibi yang mengundangmu kemari."
"Jika aku tidak menghargai Bibi, mana mungkin aku akan datang kemari!!" Jawabnya sinis.
Riyana tertawa, dan akhirnya dia pun mengalah. Berdebat dengan Aster memang tidak ada gunanya. Dia tidak akan menang melawan gadis keras kepala seperti Aster.
__ADS_1
"Baiklah, Bibi tidak akan memaksamu."
"Katakan saja dengan cepat, apa tujuan dan maksud Bibi mengajakku bertemu? Bibi terlalu bertele-tele dan membuat banyak waktu berhargaku."
Riyana menatap tak percaya gadis dihadapannya. Bagaimana mungkin gadis yang dulu sangat polos dan pendiam, sekarang menjadi gadis yang sedikit berbahaya dan bermulut tajam.
Hanya dalam waktu 10 tahun, Riyana sudah tidak mengenali Aster lagi. Dan dengan perubahan sikap Aster sekarang, akan sulit bagi Riyana untuk menjalankan semua rencananya.
Riyana meraih tangan Aster dan menggenggamnya dengan erat. "Sayang, kita adalah keluarga. Hanya dirimu yang Bibi miliki, dan begitu pula sebaliknya. Kenapa kita tidak tinggal bersama dan menjadi keluarga yang utuh?"
"Apa yang Bibi inginkan sebenarnya?"
"Kau tau jelas apa maksud, Bibi. Bibi adalah adik kandung dari mendiang Ibumu, dan seharusnya dengan Bibi kau tinggal, bukan dengan orang asing seperti Nathan Xiao. Bagaimana pun, Bibi adalah wali-mu yang sah!!"
"Itu tidak benar. Sekarang aku sudah menikah, aku sudah tidak membutuhkan wali lagi untuk mengurus diriku!!" Aster menegaskan. "Sudah terlalu lama aku di sini. Maaf, Bibi. Tapi aku harus pergi."
Riyana memandang Aster dengan seringai tajamnya. Diam-diam dia mengeluarkan sesuatu dari dalam pakaiannya, sebuah cairan merah dia siramkan ke pakaiannya, tak lupa dia juga melumuri pisau yang dia bawah dengan darah ayam tersebut.
TRANGG...
"To-Tolong tangkap gadis itu. Dia mencoba membunuhku!!" Teriak Riyana dan menghentikan langkah Aster.
Sontak saja Aster menoleh. Dia memicingkan mata melihat Riyana yang tampak kesakitan. Lalu pandangannya bergulir pada semua orang di dalam restoran itu. Semua saling berbisik dan menatap padanya.
Terlihat dua pria manghampirinya. "Ini perbuatan kriminal. Nona ini harus bertanggung jawab, sebaiknya kita bawa saja dia ke kantor polisi." Seru salah seorang dari kedua pria itu.
"TUNGGU!!" Teriak Aster dan menghentikan langkah kedua orang itu. "Kalian tidak bisa sembarangan menangkapku. Lagipula wanita ini juga tidak benar-benar terluka!!"
"Nona, apa kau buta? Wanita ini sangat kesakitan dan lihatlah darahnya." Seru salah seorang pelanggan.
"Kalian semua bodoh!!" Sinis Aster menimpali.
Aster menghampiri Riyana yang tampak sangat kesakitan itu. Aster mengambil pisau yang Riyana buang ke lantai. "Mau apa kau!" Tanya Riyana mulai was-was.
Aster menyeringai tajam. "Membuat luka dan darah sungguhan!! Darah Bibi palsu, kita harus membuat darah dan luka yang nyata, agar semua orang percaya jika Bibi benar-benar terluka." Ujarnya dengan seringai yang sama.
"Nona, kau sudah gila ya?! Bagaimana kau bisa berkata seperti itu?!"
"Sebaiknya kalian diam dan lihat saja." Balas Aster menimpali.
Krakkk...
Aster merobek pakaian Riyana dan semua orang membelalak melihat tubuh wanita itu normal tanpa sedikit pun luka. "ASTER XIAO, APA YANG KAU LAKUKAN?!" bentak Riyana marah. Riyana segera menutup bagian depan tubuhnya yang terbuka dengan kedua tangannya.
"Bagaimana, apakah kalian semua puas setelah melihatnya? Wanita ini adalah Ratu drama, dia bisa melakukan apa saja untuk membuatku terlihat buruk di mata orang lain."
Aster mendekatkan wajahnya pada Riyana dan kemudian berbisik di telinganya. "Kau sudah mencari masalah dengan orang yang salah, Bibi!!"
"Aku bukanlah Aster yang dulu, yang mudah kau tindak dan kau bodohi. Hentikan kebodohanmu ini sebelum terlambat, karena Paman Nathan tidak akan tinggal diam saat melihatku disakiti."
"Psycopath tampan itu bisa melakukan apapun padamu, termasuk menghabisi nyawamu!!" Aster tersenyum miring. Gadis itu beranjak dan melenggang pergi.
-
Bersambung.
__ADS_1