"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Teror


__ADS_3

Semilir angin berhembus beriringan dengan detik demi detim yang terus berlalu, mengacuhkan seorang wanita yang masih tertidur pulas di dalam kamarnya.


Suara-suara gaduh mulai terdengar, memecah dalam heningnya suasana pagi hari ini.


Para pria dan wanita yang bekerja di mansion mewah yang memiliki tiga lantai itu, terlihat berlalu lalang dan mulai sibuk dengan tugas dan pekerjaannya masing-masing.


Sementara itu, seorang pria yang baru saja turun dari ranjang empuknya berjalan ke arah balkon kamar untuk menanti pagi datang.


Sebuah lengkungan tercipta di sudut bibirnya, kala ia merasakan angin fajar menyapu bagian lembut kulit tubuhnya yang terbuka,


Nathan memang sangat menyukai sensasi dingin yang dihasilkan dari benda tak terlihat yang disebut angin itu. Sesekali ia menengadahkan telapak tangannya ke depan, seolah ingin lebih dekat dengan keberadaan benda tak terlihat itu.


Sampai akhirnya sekali lagi ia merasakan sensasi dingin itu kembali menyapa tubuhnya. Jam di dinding baru saja menunjuk angka 5 pagi. Entah apa yang membuat Nathan terbangun di waktu sepagi ini.


"Apakah Utun akan kembali pada kita? Jujur saja aku sangat merindukan si Utun."


Nathan menutup rapat-rapat kedua matanya, saat sebuah kalimat yang Aster ucapkan semalam terngiang kembali di telinganya.


Nathan tau apa yang dirasakan oleh Aster selama ini, dia sering kali melihat kesedihan di mata wanita itu ketika Aster sedang sendiri dan termenung.


Aster selalu menutupi perasaannya yang sebenarnya dari semua orang termasuk dirinya, dan Nathan tau apa alasannya.


Memangnya wanita mana yang tidak sedih dan terpukul saat kehilangan calon buah hati yang selama ini diimpikan. Dan Nathan juga merasakan hal sama.


Perhatian Nathan teralihkan oleh keberadaan dua pria yang sedang mondar-mandir di depan pagar rumahnya. Mereka terlihat celingukan seperti sedang memastikan sesuatu.


Salah satu dari kedua pria itu terlihat memanjat pagar lalu melemparkan sebuah bingkisan kehalaman. Namun aksi mereka dipergoki oleh beberapa penjaga di sana. Kedua orang itupun segera kabur bersama motor besarnya.


Penasaran apa isi bingkisan itu. Nathan pun memutuskan untuk turun dan melihatnya secara langsung.


.


.


.


"Biar aku saja yang membukanya."


Perhatian dua pria berpakaian formal itu teralihkan oleh seruan seseorang dari arah belakang. Terlihat sosok Nathan menghampiri mereka berdua.


"Tuan, seseorang melemparkan bingkisan ini. Dan saat kami berusaha untuk menangkapnya, mereka malah kabur."


"Aku tau, aku sudah melihat semua." Jawabnya datar.


Nathan membuka bingkisan itu tanpa curiga sedikit pun. Dia sungguh sangat penasaran dengan isi di dalam bingkusan yang terbungkus rapi tersebut.


Duaaarr...


"Tuan!!!"


Di luar dugaan. Bingkisan itu meledak sebelum terbuka. Akibatnya Nathan mengalami luka pada wajah lengan dan lehernya. Untungnya hanya ledakan kecil saja, sehingga tidak berakibat fatal.


"Sial!! Sepertinya ada yang mencoba mencari masalah denganku!!"


"Tuan, Anda terluka."


"Aku tau!! Segera selidiki dan cari tau siapa dalang di balik insiden ini. Aku ingin kalian membawa orang itu kehadapanku dalam keadaan hidup-hidup!!"


"Baik, Tuan!!"


.


.


.


"Paman, apa yang terjadi padamu?" Aster memekik kaget melihat wajah, lengan dan leher Nathan berlumur darah.


Aster segera turun dari tempat tidurnya dan menghampiri Nathan yang saat ini duduk di sofa. Mimik wajahnya menunjukkan jika dia kesakitan.

__ADS_1


"Tunggu sebentar, aku akan mengambil peralatan medis dulu." Aster berlari keluar untuk mengambil kotak P3K.


Tidak sampai lima menit. Wanita itu kembali sambil membawa kotak P3K. Aster menghampiri Nathan kemudian duduk disamping kanannya.


"Aku tadi mendengar suara ledakan di luar. Apa kau terluka karena hal itu?" Tanyanya memastikan.


"Hn." Nathan mengangguk.


Aster memutuskan untuk tidak bertanya lagi. Jawaban Nathan yang hanya 'Hn' saja menandakan jika dia tidak ingin membahas apapun sekarang. Aster akan fokus pada pekerjaannya saja. Yakni membersihkan dan mengobati luka-luka Nathan.


Setelah 15 menit. Semua luka-lukanya telah diobati dan dibalut perban. Termasuk luka pada pelipis mata dan tulang pipi kanannya. Seharusnya luka robek di pelipis kiri Nathan dijahit, tapi dia akan menolak jika diajak ke rumah sakit.


"Selesai. Paman, sebaiknya kau tidur saja. Pasti kepalamu pusing akibat luka dan insiden kecil yang baru saja kau alami. Aku akan membereskan sampah-sampah ini dulu."


Nathan menahan pergelangan tangan Aster."Besok saja. Sebaiknya sekarang kita tidur." Ucapnya. Aster menatap Nathan sejenak, dan kemudian mengangguk.


"Baiklah."


-


Sebuah motor sport hitam berhenti di taman Sungai Han. Pria yang duduk di jok belakang motor itu segera turun dan menjatuhkan tubuhnya pada tanah dengan lemas. Nyaris saja dia tertangkap.


Lantas pria itu mengangkat wajahnya dan menatap pria yang masih duduk di jok motor besarnya.


"Aku tidak mau melakukan tindakan gila seperti ini lagi. Bagaimana jika kita sampai tertangkap tadi? Nyaris saja kita mati di hajar mereka."


Pria itu melepaskan helmnya dan terlihatlah seperti apa rupanya. Dan ternyata orang yang mengendarai motor besar itu adalah Jordan. Jordan menatap sebal pada temannya itu.


"Kenapa kau harus sepanik ini? Toh kita sudah selamat. Dan mereka tidak mungkin bisa mengejar apalagi menemukan kita. Jadi tenang saja."


"Benarkah?" Sahut seseotang dari arah belakang.


Sontak keduanya menoleh pada sumber suara. Beberapa pria berpakaian formal menghampiri mereka dengan persenjataan lengkap di tangannya.


"Sial!!" Jordan mengumpat pelan.


Jordan memakai kembali helmnya dan segera menyalakan mesin mobilnya. Dia pergi dari tempat itu dan meninggalkan temannya. Sedangkan pria yang tampak ketakutan itu hanya bisa pasrah dengan nasibnya selanjutnya.


"Baik."


Pria itu dimasukkan ke dalam sebuah Van hitam yang di kemudikan oleh pria bertubuh sedikit gempal. Dalam hatinya dia hanya bisa berdoa semoga nasibnya tidak berakhir mengenaskan.


"Jordan Heng, kau benar-benar bajingan!!"


.


.


.


Jordan menghentikan motor besarnya di halaman luas sebuah rumah mewah yang memiliki dua lantai. Dengan panik dia berlari ke dalam rumah mewah itu.


Kepanikan terlihat jelas di raut mukanya. Jordan menghampiri Jung Hilman yang masih terjaga di dalam ruangan pribadinya.


"Pak Tua!!" Nyaris saja Hilman terkena serangan jantung dadakan karena ulah Jordan.


"Yakk!! Bocah kurang ajar. Apa kau sengaja ingin membuatku jantungan, hah!!" Bentaknya marah.


"Kita dalam masalah besar. Janu Kim tertangkap, dan kita bisa habis jika dia sampai mengaku pada Iblis itu, jika kita adalah dalang di balik teror itu!!"


"Apa? Tertangkap?! Bagaimana bisa?" Kaget Hilman.


Jordan pun menceritakan semuanya secara terperinci. Tak ada yang diatambah-tambahkan maupun dia kurangi. Dan Hilman hanya bisa menggeram marah pada pemuda bermarga Heng tersebut.


Hilman menyambar vas bunga yang ada di atas meja dan melemparkan pada Jordan. Vas itu melukai kening Jordan hingga berdarah. Hilman benar-benar marah.


"Dasar bodoh!! Bagaimana kalian begitu tidak becus. Apa kalian tau siapa yang sedang kalian hadapi itu? Dia Iblis, itulah kenapa aku tidak menyerangnya secara langsung. Kalian benar-benar keterlaluan!!"


Hilman tidak tau bagaimana akhir dari hidupnya jika Janu sampai menyebut-nyebut namanya juga. Dan keinginannya untuk mendapatkan Aster semakin kecil. Dan Hilman harus segera mengambil tindakan.

__ADS_1


Hilman memanggil orang kepercayaannya dan memerintahkan padanya supaya membawa Janu kembali sebelum dia membocorkan semuanya, dan membuatnya berada dalam masalah.


"Sebaiknya sekarang kau pulang. Untuk sementara jangan tampakkan batang hidungmu di depanku, aku muak melihat wajah menyebalkanmu itu!!"


"Sialan kau, Pak Tua!!" Ucap Jordan dan pergi begitu saja.


-


Tubuh Janu berkeringat dingin saat dia berhadapan dengan seorang pria yang memiliki tatapan sangat tajam.


Berkali-kali Janu menelan salivanya dan dia tidak berani membalas tatapan mengerikan pria itu yang pastinya adalah Nathan.


Melihat perban yang membalut di sana-sini. Membuat Janu sangat yakin jika itu adalah luka yang Nathan dapatkan dari ledakan di dalam bingkisan yang dia kirimkan padanya.


Perban tak hanya membalut luka di pelipis mata dan tulang pipi pipinya saja. Perban juga melingkari lehernya serta lengan kiri atasnya, yang terlihat karena kemeja lengan terbuka yang Nathan pakai.


"Sekarang katakan, siapa otak di balik teror itu?!!" Pintanya menuntut.


"Saya, saya-"


"Aku akan menjamin hidupmu jika kau mau mengatakan yang sebenarnya!!" Ucap Nathan menyela ucapan Janu.


"Jordan Heng dan pria bernama Jung Hilman, merekalah otak di balik teror itu. Saya hanya di bayar untuk melemparkan bingkisan itu ke halaman mansion ini."


"Oh, jadi mereka dalangnya?" Janu mengangguk. Lalu kenapa kau kau melakukannya? Apa kau sudah tidak menyayangi nyawamu lagi?"


"Bu-bukan begitu, Tuan. Saya diancam oleh mereka. Mereka mengancam akan membunuh Ibu dan adik saya jika tidak mau menuruti perintah dari mereka."


"Berapa banyak uang yang kau dapatkan dari bajingan tua itu dengan mempertaruhkan nyawamu?"


"Hanya 1 juta won."


"Kau berani mengambil resiko sebesar ini hanya demi bayaran sekecil itu?" Nathan menyeringai. "Kau sangat bodoh!!"


"Saya tidak memiliki pilihan, Tuan. Saya sudah mengatakan yang sebenarnya, apakah Anda benar-benar akan melepaskan saya?"


"Aku bukanlah tipe orang yang suka ingkar janji. Ini uang dan pasport. Segera tinggalkan negeri ini sebelum mereka menemukanmu. Salah satu anak buahku akan mengantarmu ke bandara!!"


"Lalu bagaimana dengan keluarga saya? Ibu dan adik saya bisa mati ditangan mereka jika mereka sampai tau saya telah melarikan diri."


"Mereka sedang menunggumu di bandara. Kau pergilah dan jangan coba-coba untuk kembali lagi!!"


Janu langsung berlutut di bawah kaki Nathan sambil mengucapkan terimakasih padanya secara berulang-ulang. Kemudian Janu diantar oleh Leon ke bandara. Sedangkan Nathan kembali ke kamarnya.


.


.


.


"Paman, bagaimana hasilnya? Apa kau sudah tau siapa dalang di balik insiden itu?" Tanya Aster setelah Nathan kembali ke dalam.


Nathan mengangguk. "Kakekmu dan pria bernama Jordan Heng, merekalah dalang di balik teror itu." Jawabnya datar.


Sontak kedua mata Aster membelalak saking kagetnya. "A-apa?! Jadi mereka biang keroknya?" Nathan mengangguk.


Aster langsung menundukkan wajahnya. Nathan terluka karena kakeknya. Meskipun dia dan Hilman tidak memiliki hubungan yang baik. Tapi tetap saja pria itu adalah kakeknya.


"Ada apa?" Nathan mengangkat dagu Aster. Mau tidak mau wanita itu mengangkat wajahnya.


Kedua matanya tampak berkaca-kaca. Membuat Nathan sedikit tersentak. "Kau terluka karena pria itu, Paman. Dia yang membuatmu menjadi seperti ini. Dan sebagai cucunya aku sangat malu. Bagaimana bisa aku memiliki Kakek berhati Iblis seperti dirinya." Ucapnya penuh sesal.


Jari-jari besarnya menghapus jejak air mata di pipi Aster. Nathan menggeleng. "Jangan menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi semalam. Itu bukan salahmu, kau dan dia berbeda. Dan aku tidak mau kau menyalahkan dirimu lagi." Tuturnya, Nathan mengecup singkat bibir Aster.


Kemudian Nathan membawa Aster ke dalam pelukannya, dan mendekap tubuh wanita itu dengan erat.


"Kita tidur lagi, ini masih malam." Aster mengangguk.


Tangan Nathan terkepal kuat. Dalam hatinya dia bersumpah akan membalas Hilman dan Jordan dengan sangat kejam. Nathan tidak akan melepaskan mereka berdua. Tidak akan pernah.

__ADS_1


-


Bersambung.


__ADS_2