
"Tuan Xiao. Perkenalkan, saya Anna. Saya datang untuk mengantarkan beberapa dokumen penting."
Nathan mempersilahkan wanita bernama Anna itu untuk duduk. Wanita itu adalah utusan dari salah satu rekan bisnisnya yang datang untuk mengantarkan dokumen kerjasama.
Anna terlihat mengeluarkan sebuah dokumen dari tas hitam yang dia letakkan diatas meja lalu memberikan pada Nathan.
"Tuan Xiao, ini adalah dokumen kerja sama yang telah ditandatangani oleh Tuan Edward. Beliau ingin supaya Anda memeriksanya lagi. Dan Tuan berharap semoga Anda dan Tuan bisa menjadi rekan bisnis yang saling menguntungkan dimasa depan."
"Aku akan memeriksa semua dokumen ini terlebih dulu. Dan sampaikan pada Tuan-mu, aku menghubunginya untuk pembahasan yang selanjutnya."
"Baik, Tuan Xiao. Akan saya sampaikan. Oya, sebaiknya kita bisa lebih akrab, karena kedepannya kita akan lebih sering bertemu karena perusahaan kita telah menjamin sebuah kerja sama."
Nathan tak menggubris ucapan wanita itu. Dia tau jika Anna mencoba untuk menggodanya, tapi sayangnya Nathan bukanlah tipe pria yang mudah untuk didekati apalagi ditaklukan.
Nathan tidak butuh banyak wanita untuk berada disisinya. Karena Aster sudah lebih dari cukup untuknya.
"Tuan Xiao," Anna bangkit dari duduknya lalu menghampiri Nathan yang terlihat sibuk dengan dokumen ditangannya. "Sepertinya Anda sangat lelah, bagaimana jika saya memijit Anda? Saya sangat ahli loh dalam urusan satu ini."
"Jauhkan tanganmu dariku!!" Pinta Nathan dengan nada rendah namun penuh penekanan.
"Tuan Xiao, sebaiknya jangan terlalu jual mahal pada saya. Saya sangat mahir dan hebat ketika di atas ranjang. Jika Anda mau, saya bisa memuaskan Anda. Saya akan membuka kaki saya untuk Anda secara cuma-cuma."
"Aaahhh!!" Anna memekik kesakitan saat Nathan menarik kepalanya dan menekan bagian tengkuknya. "Tu..Tu..An Xiao, a..apa yang Anda lakukan?!"
"Kau sudah melampaui batas, Nona. Sebaiknya jaga sikap dan tanganmu jika kau ingin anggota tubuhmu tetap utuh!!" Nathan mendorong Anna hingga wanita itu tersungkur ke lantai.
"Sebaiknya segera pergi dari sini sebelum kesabaranmu benar-benar habis!!"
Dengan emosi yang tertahan. Anna meninggalkan ruangan Nathan.
Anna menggepalkan tangannya kuat-kuat. Ini pertama kalinya ada pria yang berani menolaknya. Dan bukan Anna Lim namanya jika dia akan menyerah begitu saja.
Aster yang tidak sengaja berpapasan dengan Anna di depan ruang kerja Nathan tampak memicingkan matanya melihat wajah kesal wanita itu itu. Aster mengangkat bahunya, ia melanjutkan langkahnya dan masuk ke dalam ruangan Nathan.
"Paman..." Seru Aster menghampiri Nathan.
"Kau ada di sini? Kenapa tidak memberitahu dulu jika mau datang?" Nathan meraih tangan Aster lalu membawa wanita itu untuk duduk di pangkuannya.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Apa Paman tidak suka melihat kedatanganku? Padahal aku datang karena merindukan, Paman. Tapi Paman malah tidak menginginkan kehadiranku!! Hiks, Paman sangat kejam!!"
"Jangan mulai lagi, aku bertanya karena aku pikir kau kuliah, bukan karena aku tidak suka kau datang!!" Ucapnya menegaskan.
"Oh, aku pikir Paman tidak suka aku datang. Tapi Paman, siapa wanita itu tadi? Aku bertemu dengannya di depan pintu, dan dia terlihat sangat kesal."
"Namanya Anna, dia utusan dari rekan Bisnisku untuk mengantarkan dokumen."
"Tapi sepertinya dia juga seorang ****** yang mencoba untuk menggoda-mu, potong lidahku jika aku salah!!"
"Kau tidak salah, dan tebakan-mu memang selalu benar, Sayang." Kemudian Nathan mengangkat dagu Aster dan mengecup singkat bibir ranumnya.
Nathan dan Aster kembali menjalani aktifitasnya seperti semula setelah kembali dari London satu Minggu yang lalu. Urusan Nathan di sana sudah selesai, itulah kenapa dia memutuskan untuk kembali.
Dia sudah terlalu lama meninggalkan Korea dan pekerjaannya. Nathan tidak bisa terus-terusan membebankan semua pekerjaannya pada Cris. Karena bagaimana pun juga Cris juga memiliki kesibukan sendiri.
"Oya, Paman. Kau tau tidak, peristiwa menggelikan apa yang sudah aku alami hari ini?"
Nathan menggeleng. "Memangnya apa?"
"Kekeke," alih-alih menjawab Aster malah terkekeh geli, dan hal itu membuat Nathan bingung setengah mati.
"Iya, iya, aku akan menjawabnya. Tiga pemuda di kampusku melamar-ku dan memintaku supaya menjadi istrinya."
"Dan kau menerimanya?!"
"Paman bercanda ya? Tentu saja tidak, bagaimana mungkin aku menerima mereka sedangkan aku sudah bersuami. Bisa-bisa Paman menggantungku hidup-hidup," tandasnya.
"Bukan hanya menggantung-mu hidup-hidup, tapi Paman akan memutilasi tubuhmu!!" Alih-alih merasa takut.
Aster malah terkekeh geli. Lagipula mana mungkin Nathan sampai hati melakukannya. Pria itu sangat mencintainya, dan itu adalah sebuah fakta.
Aster mengalungkan kedua tangannya pada leher Nathan dan mengunci langsung ke dalam manik kiri milik Nathan.
"Paman, kenapa kau semakin tampan saja sih? Paman tau, aku bisa gila jika tidak bertemu dengan Paman selama satu hari. Segala hal yang ada di dalam diri Paman benar-benar menjadi candu untukku."
"Begitupula dengan Paman," Nathan menarik tengkuk Aster dan menyatukan bibir mereka. Mel*matnya dan memagut-nya dengan lembut namun menuntut.
__ADS_1
Namun ciuman mereka tidak berlangsung lama karena Nathan tidak ingin membuat orang yang berdiri di depan pintu ruang kerjanya mendapatkan tontonan gratis begitu saja.
"Kenapa sudah?"
"Nanti kita lanjutkan lagi. Ada BU-DI yang sedang mengintip di depan pintu!!" Aster memicingkan matanya. "Zhoumi dan Cris. Mereka bisa keenakan melihat apa yang sedang kita lakukan."
Aster mengangguk. Dia paham apa yang dimaksud oleh Nathan. Wanita itu turun dari pangkuan Nathan sambil terkekeh geli. Dan seruan keras Nathan menginterupsi keduanya untuk masuk ke dalam. Sementara Aster duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
.
.
.
"Apa kami mengganggu kalian berdua?" Tanya Zhoumi yang merasa tidak enak pada Nathan dan juga Aster.
"Hn, tidak. Sebenarnya untuk apa kalian berdua datang kemari? Jika bukan untuk sesuatu yang penting, sebaiknya kalian pulang karena aku masih banyak pekerjaan!!" Ujar Nathan sambil menunjuk tumpukan dokumen di atas meja kerjanya.
Cris dan Zhoumi segera mengangkat kedua tangan mereka yang penuh dengan bingkisan makanan juga minuman. "Tentu saja kedatangan kita berdua untuk hal yang penting. Kita berdua membawa makan siang untuk kita berempat."
"Kebetulan sekali aku memang sedang lapar." Seru Aster bersemangat.
Aster memang sudah sangat lapar. Dan kebetulan sekali mereka datang membawa banyak makanan. Apalagi yang mereka bawah adalah makanan enak semua. Jadi mana mungkin Aster tidak tergiur.
"Tunggu 10 menit lagi. Aku akan menyelesaikan dokumen terakhir ini." Ucap Nathan yang kemudian dibalas anggukan oleh ketiganya.
Sambil menunggu Nathan menyelesaikan pekerjaannya. Zhoumi memutuskan untuk menghidupkan televisi, mungkin ada gosip menarik yang bisa dia lihat. Karena sudah cukup lama dia tidak mengikuti perkembangan di dunia pergosipan.
"Elinda Tan, seorang model dan bintang film ternama dunia dikabarkan akan kembali ke Korea dalam waktu dekat ini."
Gerakan tangan Nathan terhenti ketika saluran channel televisi yang Zhoumi putar membahas mengenai rencana kepulangan seorang model dan bintang dunia bernama 'Elinda Tan' dalam waktu dekat ini.
Dan sementara itu. Aster yang diam-diam memperhatikan ekspresi wajah Nathan merasa cemas sekaligus takut.
Bagaimana tidak, Elinda bukanlah orang asing dalam kehidupan Nathan. Dan Aster tau siapa wanita itu juga hubungannya dengan Nathan di masa lalu.
Aster berharap semoga hati dan perasaan Nathan tidak akan berubah apalagi goyah dengan kembalinya mantan kekasihnya, yang merangkap sebagai cinta pertamanya.
__ADS_1
-
Bersambung.