"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Kembali Bercocok Tanam


__ADS_3

Malam sudah semakin larut namun Aster masih tetap terjaga. Wanita itu berdiri dibalkon kamarnya menikmati langit malam bertabur bintang.


Angin malam berhembus ke setiap penjuru bagian bumi yang telah di singgahi hitam pekatnya malam. Matahari tenggelam pada perpaduannya, Sang dewi rembulan kini telah menampakkan cahayanya dengan ribuan bintang yang bertaburan di sisiannya.


Aster tersentak saat merasakan sepasang lengan memeluk tubuhnya dari belakang. Wanita itu menengok kearah kanan saat merasakan sesuatu menimpa pundaknya.


"Paman… kau mengagetkanku!" Pria tampan bernama lengkap Nathan Xiao itu hanya tersenyum dan menyeruakkan kepalanya diperpotongan leher Aster. Menghirup aroma tubuhnya sambil sesekali menciumi leher tersebut.


"Paman… hentikan. Kau membuatku geli." Nathan tidak mendengarkan ucapan Aster. Pria tersebut semakin gencar menciumi leher jenjang Aster.


"Kenapa harus berhenti, bukankah kau sendiri yang ingin bercocok tanam tadi." Bisik Nathan dan semakin gencar menciumi leher jenjang wanitanya ini. "Aku merindukanmu, Sayang. Sangat-sangat merindukanmu, semua yang ada dalam dirimu."


Aster melepaskan pelukan Nathan kemudian berbalik badan. Posisinya dan Nathan saling berhadapan. Aster mengalungkan kedua lengannya pada leher pria bermarga Xiao tersebut.


"Kalau begitu ayo kita bercocok tanam,"


"Tentu saja, Sayang." Ucap Nathan kemudian mencium bibir Aster.


Aster ikut membalas ciuman itu, lum*tan demi lum*tan keduanya lakoni dengan kecupan yang lembut namun tetap memabukkan, sesekali keduanya mengurai tautan untuk mengambil nafas dan kembali menyatukan bibir keduanya saat dirasa pasokan udara cukup mereka dapatkan.


Dan tentu saja malam ini tidak akan berakhir dengan ciuman saja, Aster dengan santainya melepas kemeja yang dikenakan oleh Nathan dan membuangnya asal. Menyisahkan singlet putih ketatnya.


Aster kembali meraih wajah Nathan dan menciumnya, tangannya tidak diam dan langsung bergerilya menyentuh apapun yang ingin ia sentuh pada tubuh atas milik suaminya ini, otot lengannya yang pas, lanjut ke dada bidang milik Nathan, tangannya cukup lama bermain disana.


Napas Nathan menjadi semakin berat saat tangan Aster bergerak naik turun mengusap dada bidangnya yang masih tertutup kain singletnya, jari-jari lentik tangan Aster dengan lembut mengusap bermain diarea perutnya.


Dan entah sejak kapan seluruh pakaian yang dikenakan oleh Aster sudah tertanggal kan. Nathan mengangkat tubuh Aster bridal style dan membawanya masuk kedalam kamar lalu membaringkan pada sofa.


Nathan menindih tubuh Aster dan kembali mul*mat bibirnya. Mel*matnya lebih keras dari sebelumnya. Malam ini mereka harus bercinta di atas sofa karena tidak ingin sampai membangunkan Laurent yang sedang tertidur pulas.


"Aku ingin menyentuh dan menikmatinya." Mereka pun bertukar posisi, Nathan berbaring dengan Aster di atas tubuhnya.


Aster mulai mengelus sosis berurat Nathan, lalu memaju mundurkan tangannya dengan gerakan teratur pada batang yang telah mengeras sempurna itu.

__ADS_1


Nathan memberikan reaksi dengan erangan kenikmatan dari mulut sexy-nya. Setelah 6 tahun bersemedi, kini benda kebanggan milik Nathan kembali terbangkitkan.


Aster memperhatikan sosis berurat yang selama 6 tahun tidak pernah dilihatnya itu, batang panjang yang mengeras dan membesar dengan urat yang menonjol, bentuk kepalanya bulat agak memanjang dan kelihatan berdiameter lebih besar dari pada batangnya. Luar biasa


Aster pun mulai bertindak lebih jauh, ia menjilat ujung kepala sosis berurat itu yang sudah mulai basah oleh cairan pr*cum yang berwarna bening.


"Sssaaah…oouuhhch Aster, oh shit!" Nathan mulai meracau dengan permainan Aster. Jari lentik nan halus milik wanita itu terus mengelus-elus miliknya.


Mulut mungil Aster meng*lum 'kepala botak' milik Nathan yang begitu luar biasa. Aster terus melakukannya selama berulang-ulang.


"Aaarrgg!" Nathan semakin mengerang saat merasakan hangatnya mulut Aster menyelubungi kepala sosis beruratnya.


Nathan meremas rambut panjang Aster dan sedikit menekan kepalanya. Wanita itu benar-benar memanjakannya. Sesekali Nathan melihat pada Aster yang tampak sangat luar biasa itu.


"Aster, cukup!!" Nathan menghentikan permainan Aster lalu menarik wanita itu kearas tubuhnya.


Bibirnya kembali memagut bibir Aster dengan keras. Namun ciuman kali ini lebih singkat dari ciuman mereka yang sebelumnya. "Kau sudah siap?" Aster mengangguk.


Kemudian Nathan melepaskan celana dan kaos singlet putihnya. Kini tubuhnya dan Aster sama-sama polos.


Sekali lagi Nathan membawa bibir Aster dalam ciuman panjang, sedangkan di bawah sana sosis beruratnya mencoba untuk memasuki Aster dengan mendorongnya perlahan.


Malam yang panjang dan luar biasa. Terasa dingin bagi orang lain namun terasa panas bagi mereka berdua. Malam ini adalah malam yang panjang bagi mereka untuk saling melepaskan rindu yang terpendam selama bertahun-tahun.


Kesokan paginya Aster terbangun dengan tubuh terasa lemas dan tulang-tulangnya serasa lepas dari sendi-sendinya, tapi ada perasaan lega.


Mereka berdua bercocok tanam hampir semalaman, hanya dengan sedikit istirahat, entah berapa ronde yang mereka lewatkan malam ini. Beruntung Laurent tidak sampai terbangun mendengar suara-suara mengerikan yang berasal dari mulut kedua orang tuanya.


Apa yang mereka lakukan terbilang sangat nekat. Bagaimana tidak,mereka melakukan di satu ruangan dengan putri mereka yang sedang tertidur pulas. Memang tidak sampai membangunkan Laurent, tapi tetap saja berbahaya.


Aster menatap Nathan yang masih tidur damai disampingnya, betapa suaminya ini jauh lebih tampan ketika tertidur damai seperti ini.


Aster mengurai senyum tipis, lalu mencium bibir kissable suaminya itu. Lalu pandangannya bergulir pada sang putri yang tengah meringkuk dipelukan Nathan. Lagi-lagi Aster mengurai senyum lebar.

__ADS_1


Wanita itu bangun dan segera menuju kamar mandi dengan tertatih-tatih, Aster merasakan rasa nyeri dan pegal terutama pada bagian Miss-nya.


Setelah mandi dan berpakaian lengkap. Aster berjalan keluar meninggalkan kamarnya serta dua orang yang masih tertidur pulas di dalam sana.


Setibanya di luar. Aster disuguhi oleh pemandangan yang selalu dia rindukan selama berada di luar negeri.


Gavin dan Rio yang sedang berdebat memperebutkan makanan, kebiasaan buruk mereka yang satu itu memang tidak pernah hilang. Cris dan Zhoumi yang sedang membaca koran, Leon yang sedang melihat video laknat di ponselnya.


Namun ada yang kurang. Yakni kehadiran Nenek Xiao. Nenek Xiao telah tutup usia sejak 3 tahun yang lalu begitu juga dengan kakeknya 'Jung Hilman' yang meninggal karena serangan jantung.


Kakek Hendry meninggal satu tahun kemudian setelah kepergian Nenek Xiao, hanya tersisa kakek Billy, namun satu-satunya tetua keluarga Xiao itu saat ini sedang berada di luar negeri.


"Nyonya, apa yang Anda lakukan? Biar kami saja yang menyiapkan sarapannya."


Aster menggeleng. "Tidak apa-apa, Bibi. Biarkan aku membantu. Aku ingin menyiapkan sarapan untuk suamiku." Dan wanita itu tidak memiliki pilihan lain selain mengiyakannya. Mengingat bagaimana keras kepalanya wanita cantik satu ini.


Hampir satu jam berkutat di dapur. Sedikitnya 10 menu berbeda tersusun dan tersaji diatas meja. Semua orang sudah berkumpul di meja makan termasuk Nathan dan Laurent.


"Sekarang aku sudah tidak sepayah dulu, Oppa. Dan kau harus mencoba makanan lezat yang sudah aku buat."


"Daddy, kau pasti akan ketagihan sama masakan Mami. Mami sangat pandai memasak loh."


"Benarkah?" Laurent mengangguk antusias."Baiklah, Daddy akan mencobanya sekarang. Daddy sangat penasaran seberapa enak masakan Mamimu." Ucapnya.


"Bagaimana Oppa? Tidak mengecewakan bukan hasilnya?" Aster menggerlingkan sebelah matanya pada Nathan.


"Sempurna." Aster tersenyum lebar.


Dan selanjutnya hanya keheningan yang terasa. Sarapan pagi ini mereka lewatkan dengan tenang tanpa ada keributan apalagi obrolan-obrolan yang tidak jelas.


-


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2