
Sinar mentari pagi yang hangat menerangi seluruh pelosok kota Seoul yang damai. Suara kicauan burung yang merdu memecah kesunyian pagi hari.
Memaksa para manusia kelelahan untuk segera bangun agar tidak melewatkan moment indah yang tercetak pagi ini.
Di sebuah kamar yang tidak bisa di katakan biasa-biasa saja. Terlihat sepasang pria dan wanita yang masih terlelap dalam tidurnya. Mereka tidur dengan sebuah guling yang menjadi pembatasnya.
Si pria membuka matanya dan pandangannya bergulir pada sosok jelita yang tengah tertidur pulas di sampingnya. Sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk lengkungan indah di wajah tampannya.
Di usapnya surai sewarna tembaga miliknya yang panjang dan terurai. Dan gerakan tangannya terhenti, ketika Nathan teringat dengan curahan isi hati Aster yang ia curahkan di dalam diary-nya.
Kalimat-kalimat itu begitu mengganggu pikiran Nathan, dan sulit baginya untuk mengenyahkan kalimat-kalimat itu dari otak dan pikirannya.
Nathan menyibak selimutnya. Pria itu turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah menanggalkan semua kain yang melekat di tubuhnya. Nathan membiarkan dinginnya air shower mengguyur sekujur tubuhnya.
Sementara itu...
Aster yang baru saja bangun sedikit kebingungan saat mendapati tempat tidur di sampingnya telah kosong. Saat merabanya, bagian yang kosong itu terasa hangat seperti belum lama ditinggalkan.
Aster menyibak selimutnya kemudian bangkit dari posisi berbaringnya. Samar-samar telinganya mendengar suara gemercik air yang berasal dari kamar mandi. Dan Aster berani bersumpah jika Nathan ada di dalam sana.
Cklekk...
Pintu itu di kunci dari dalam sehingga Aster tidak bisa membukanya. Dia yakin pasti Nathan menang sengaja melakukannya karena dia tidak ingin hal serupa kembali terulang lagi.
Aster mendengus kecewa. "Kenapa, Paman Nathan harus menguncinya segala sih?" ujar Aster setengah menggerutu.
Aster menggedor pintu di depannya dan meminta Nathan supaya membuka pintu itu dengan alasan dia ingin pipis. Tapi Nathan tak menghiraukannya, dan hal itu membuat Aster kesal setengah mati
"Dasar menyebalkan!!"
Sambil menahan dongkol. Aster melenggang pergi meninggalkan kamar Nathan dan kembali ke kamarnya sendiri.
Dan beberapa saat kemudian pintu itu terbuka lebar. Sosok Nathan keluar dari dalam sana hanya dengan berbalut handuk yang melingkari pinggulnya.
Nathan tidak terlihat terkejut sedikit pun meskipun mendapati kamarnya telah kosong, sosok Aster sudah tidak ada lagi di sana. Tak ingin ambil pusing dengan putri angkatnya tersebut. Nathan berjalan menuju ruangan di mana semua barang-barangnya tersimpan.
.
.
__ADS_1
Tak sampai sepuluh menit Nathan keluar dari dalam sana dengan pakaian lengkap. Celana bahan hitam, kemeja putih yang di balut Long Vest yang senada dengan celana bahannya.
Nathan melenggang keluar meninggalkan kamarnya. Dan ketika dia melewati kamar Aster, ia melihat pintu kamarnya yang sedikit terbuka.
Di dalam sana terlihat sosok Maya yang sedang terlibat perdebatan sengit dengan si pemilik kamar.
"Kau hanya orang asing di rumah ini, jadi sebaiknya jangan banyak berulah. Jika bukan karena Paman Nathan yang terlalu baik padamu, pasti kau tidak akan pernah ada di tempat ini!!"
"Aku tidak tau apa masalahmu denganku, tapi aku tidak akan tinggal diam jika kau berusaha untuk menindas ku. Dan asal kau tau saja, bukan kemauanku untuk berada di rumah ini apalagi menjadi bagian dari keluarga Xiao."
"Karena Paman Nathan sendirilah yang membawaku kemari, dan dengan tangannya dia merengkuhku ketika aku sedang terpuruk. Jadi pikirkan bagaimana perbedaan posisi kita di dalam keluarga ini!!"
"Kau!!"
Nathan tiba-tiba saja masuk dan menahan tangan Maya yang hendak menampar Aster. Dan kedatangan Nathan yang begitu tiba-tiba membuat Aster dan Maya sama-sama terkejut.
Maya menjadi sangat panik. Sedangkan Aster langsung mengurai senyum penuh kemenangan. "Paman, aku bisa menjelaskannya. Bukan aku yang memulainya. Tapi di-"
PLAKK...
Kalimat Maya di interupsi oleh tamparan keras Nathan pada pipinya. Saking kerasnya tamparan itu sampai-sampai membuat wajah Maya menoleh ke samping.
"Berapa kali lagi aku harus memperingatkanmu?! Dan kali ini kau benar-benar sudah kelewatan. Angkat kaki dari rumah ini sekarang juga, dan jangan harap kau bisa masuk kembali ke rumah ini!!"
"Paman, kau tidak perlu terlalu keras padanya. Gadis seusiaku itu masih sangat labil. Lagipula ini bukan sepenuhnya salah Maya, aku juga bersalah. Paman, sebaiknya biarkan dia tetap tinggal di sini." Pinta Aster memohon, Aster tidak akan melepaskan Maya begitu saja.
Mengusir wanita itu keluar dari rumah ini bukanlah pilihan yang tepat. Lagipula Aster akan merasa bosan jika dia tidak memiliki lawan berdebat.
"Apalagi yang di rencanakan oleh rubah licik ini?" ujar Maya membatin.
Melihat seringai di wajah Aster, membuat Maya berani bersumpah jika gadis itu segera merencanakan sesuatu. Untuk itu ia harus waspada dan hati-hati.
"Apa kau yakin?" Aster mengangguk. "Baiklah, jika dia sampai berani berulah lagi. Aku tidak akan segan-segan untuk memberikan pelajaran padanya dengan tanganku sendiri."
Aster mengangguk. "Baiklah, terserah Paman saja." Gadis itu tersenyum lebar dan berhambur memeluk Nathan. "Paman, kau memang yang terbaik."
Bukan Nathan namanya, jika dia tidak peka terhadap niat sebenarnya Aster memintanya agar tetap mengijinkan Maya untuk tinggal bersama mereka. Tapi Nathan tidak tau apa yang sedang Aster rencanakan kali ini.
"Ayo kita sarapan, setelah ini aku akan membawamu ke suatu tempat."
__ADS_1
"Kemana?"
"Kau akan tau setelah kita tiba di sana."
"Baiklah, ayo." Aster memeluk lengan Nathan dan keduanya berjalan melewati Maya begitu saja.
Maya menggepal kan kedua tangannya. Rasanya dia ingin menghabisi Aster saat ini juga!!! "Rubah licik itu, tunggu dan lihat saja bagaimana aku akan membalasmu!!"
-
Seorang gadis berhelaian panjang tengah duduk di sebuah pusara pemakaman bernamakan 'Daniel Jung dan Raina Jung' itu dengan tatapan kosong, tak lupa kedua matanya yang membengkak dan suara isakan yang sesekali keluar dari mulut mungilnya itu.
Aster tak menduga bila Nathan akan membawanya berkunjung ke makan kedua orang tuanya. Memang sudah lebih dari dua bulan Aster tak mengunjungi mereka.
Bukan karena Aster tak ingin, hanya saja hatinya terlalu sesak jika berhadapan dengan pusara kedua orang tuanya.
Sinar cahaya matahari di pagi hari menyinari tubuh gadis itu menambah kesan melankolis yang begitu kentara.
Melankolis? ya itulah suasana yang gadis itu rasakan saat ini. Bahkan kedua matanya tampak memerah karena terlalu lama menangis.
Nathan yang merasa tak tega mendekati Aster kemudian bersimpuh di samping gadis itu. Meraih bahu Aster dan membawa putri angkatnya tersebut ke dalam pelukannya. Membiarkan pakaian mahalnya kotor dan basah oleh air mata gadis itu.
Di rasa Aster sudah mulai tenang. Kemudian Nathan melonggarkan pelukannya. Jari-jarinya menyeka air mata yang membasahi wajah cantik putri angkatnya.
"Sudah siang, ayo kita pulang. Bukankah kau ingin mobil baru? Paman akan membawamu melihatnya." Ucap Nathan dan membuat mata Aster yang sebelumnya di penuhi kabut kesedihan menjadi berbinar seketika setelah mendengar kata mobil baru.
"Benarkah?" Nathan mengangguk.
Nathan mengulurkan tangannya yang kemudian segera di sambut oleh gadis itu. Aster terlihat begitu bahagia, dan hal itu terlihat jelas pada sorot matanya yang tak lagi menunjukkan kesedihan.
Melihat Aster dan Nathan jalan bersama, pasti orang berpikir bila mereka adalah sepasang kekasih. Bahkan mereka tidak akan percaya bila Nathan sudah berusia awal tiga puluhan.
Nathan harus berterimakasih pada wajah baby face yang dia miliki. Selain tampan, Nathan juga terlihat cantik di waktu yang berbeda.
-
Bersambung.
__ADS_1
Nathan Xiao...
Maaf ya 🙏🙏🙏 kalau pemilihan Visual Nathan di anggap kurang cocok sama karakter dia. Dia idol favorite Author, dan sumber inspirasi terbesar Author dalam membuat cerita. Author dah coba pakai visual lain tapi jatuhnya malah gak ngefeel sama sekali. Semoga para pembaca bisa mengerti 🙏🙏🙏