"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Saling Menghormati


__ADS_3

Sepanjang perjalanan kembali ke Korea tak sepatah kata pun keluar dari bibi Aster maupun Nathan. Aster mencoba untuk berbicara dengan Nathan dan meminta maaf padanya, tapi dia selalu menghindar.


Nathan duduk menjauh dari Aster. Aster duduk di kursi pesawat paling depan, sedangkan Nathan duduk di belakang.


Jujur saja Aster merasa kosong sejak Nathan mendiaminya, baru beberapa jam tapi rasanya sudah seperti berbulan-bulan. Lalu bagaimana jika sampai genap satu bulan? Bisa-bisa Aster memilih untuk mati bunuh diri.


"Boss, sampai kapan kau akan mendiami Nona Muda? Lihatlah, dia terlihat muram,"


Nathan mengikuti arah tunjuk Leon dan mendesah berat. "Biarkan saja, biar dia berpikir dengan otaknya, dia benar-benar membuatku geram dengan sikapnya."


Leon merinding sendiri melihat sorot tajam Nathan yang terlihat mengerikan. "Kau sangat menyeramkan, Boss!!"


Sebenarnya Nathan tidak ingin bersikap dingin dan keras pada Aster. Hanya saja dia ingin Aster bisa berpikir dan bersikap dewasa, dia selalu saja bertindak seperti bocah dan bersikap tanpa dipikir terlebih dulu.


"Paman, boleh aku duduk di sini?" Aster menatap Nathan penuh harap.


Nathan tidak memberikan jawaban. Pria itu hanya menatapnya dingin dan datar.


Sadar jika Nathan tidak ingin ia ada didekatnya, Aster pun memutuskan untuk pergi lagi, namun cengkraman pada pergelangan tangannya menghentikan langkahnya.


"Duduklah," pintanya datar.


"Paman~" rengek Aster namun diacuhkan oleh Nathan.


"Diamlah, aku mau tidur." Nathan menutup mukanya dengan majalah dan mengabaikan Aster begitu saja.


"Paman jahat." Gerutu Aster dengan suara rendah. Namun masih bisa di dengar dengan baik oleh Nathan, dan lagi-lagi Nathan bersikap acuh dan seolah-olah tak peduli.


Nathan menurunkan majalah itu dari mukanya dan dia mendapati Aster tengah tertidur pulas dengan posisi yang tidak tepat. Beberapa kali kepalanya terpelanting ke kanan karena tidak berbantalan apapun.


Pria itu mendesah berat. Dengan perlahan dan hati-hati. Nathan menuntun kepala Aster dan meletakkan di atas bahunya. Membiarkan bahu lebarnya menjadi bantalan kepala wanita itu.


"Huaaaa~Ada apa ini?" Jerit Leon histeris.


Tiba-tiba pesawat pribadi yang mereka tumpangi mengalami Turbulensi.


Turbulensi sendiri adalah perubahan kecepatan aliran udara yang menyebabkan guncangan pada tubuh pesawat, baik kecil maupun besar.


Dan guncangan itu membuat Aster terbangun. Wanita itu terkejut dan membelalakkan matanya. Kepanikan terlihat jelas pada raut wajahnya. Bahkan wajahnya memucat karena terlalu takut.


Selanjutnya yang Aster rasakan adalah kehangatan pelukan Nathan. Nathan meletakan dagunya pada kepala coklat Aster. Meyakinkan padanya jika semua akan baik-baik saja.


"Paman, ada apa ini? Apakah kita semua akan mati?" Tanya Aster dengan paniknya.


Nathan menggeleng. "Tentu saja tidak, tenanglah~semua akan baik-baik saja." Ucapnya datar.


Aster meremas kuat Sleveless yang Nathan kenakan, tanpa peduli jika kain berharga mahal itu akan kusut karena ulahnya. Dalam hatinya Aster tak henti-hentinya berdoa, memohon pada Tuhan agar hal buruk tidak terjadi dan menimpa mereka semua.


Dan setelah beberapa menit dalam ketegangan. Akhirnya semua kembali normal. Kini semua orang bisa menghela napas lega.


Aster mengangkat wajahnya, menatap Nathan yang juga menatap padanya. Nathan kembali bersikap dingin padanya. Lalu apa yang barusan itu? Nathan memang sulit dimengerti.


"Paman, Maaf." Gumam Aster sambil menundukkan wajahnya.


Nathan mendesah untuk yang kesekian kalinya. Pria itu menarik Aster kedalam pelukannya dan mendekap tubuh wanita itu dengan erat.


"Paman boleh kesal padaku, tapi jangan marah lagi apalagi mendiamiku terlalu lama." Mohon Aster setengah menggerutu.

__ADS_1


"Tidak," Nathan menjawab singkat.


Aster mengangkat wajahnya dan menatap Nathan dengan serius. "Paman berjanji?" Aster menatap Nathan penuh harap. Nathan mengangguk.


Kemudian Aster kembali memeluk Nathan dengan erat. "Aku tidak akan membiarkan Paman melepaskan pelukanku lagi. Dan aku minta maaf atas sikapku tadi, jika saja Paman mengatakan dari awal, pasti kesalah pahaman semacam ini tidak akan terjadi."


"Paman memiliki banyak pertimbangan kenapa tidak memberitahumu. Dan sebaiknya tidak usah membahas sesuatu yang telah berlalu. Perjalanan kita masih panjang. Sebaiknya kau tidur lagi." Pinta Nathan kemudian membawa Aster ke dalam pelukannya.


Perjalanan mereka masih sangat panjang, sekitar 7 jam lagi. Dan 7 jam tentu saja bukanlah waktu yang singkat. Untuk itu Aster memutuskan untuk tidur.


"Cantik, Aster cantik, cantik,"


Baru saja Aster hendak menutup matanya. Namun suara familiar itu membuat Aster mengurungkan niatnya untuk tidur. Aster menoleh dan...


"SUKETI!!" wanita itu memekik kencang membuat terkejut Nathan dan Leon. Keduanya menatap Aster penuh tanya. "Ups, maaf aku bermimpi," Aster menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Wanita itu memberikan death gleer nya pada Suketi yang saat ini sedang duduk di salah satu sayap pesawat tersebut.


Suketi melambaikan tangan padanya sambil tersenyum lebar. Memperlihatkan deretan giginya yang sedikit runcing dan menghitam, jika saja tidak ada Nathan dan Leon. Pasti Aster sudah membuat perhitungan dengan hantu narsis itu.


Suketi mengangkat tangannya dan jarinya membentuk huruf 'V' sosoknya kemudian menghilang begitu saja bak tersapu angin. Dan sekarang Aster pun bisa menghela napas lega.


-


Setelah melakukan perjalanan panjang dan melelahkan, akhirnya mereka tiba di Korea. Jet pribadi milik Nathan mendarat di halaman belakang mansion mewahnya yang memiliki luas lebih dari dua hektar.


Aster yang sudah sangat kekalahan langsung pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua.


Wanita itu menjatuhkan tubuhnya begitu saja pada kasur super nyaman miliknya. Dan tidak sampai lima menit Aster sudah pergi ke alam mimpi.


"Tuan, sepertinya Nona sangat kelelahan." Ucap Paman Kim yang entah sejak kapan sudah berada di samping Nathan.


Paman Kim mengangguk dan kemudian menceritakan beberapa insiden yang terjadi selama Nathan tidak ada.


"Selama beberapa hari terakhir, beberapa orang terlihat mondar-mandir seperti sedang mengintai mansion ini, Tuan. Tapi anehnya mereka selalu lari terbirit-birit setelah berteriak sambil menunjuk ke arah genteng. Seolah-olah mereka melihat sesuatu yang janggal." Tutur Paman Kim memaparkan.


"Sesuatu yang janggal?" Paman Kim mengangguk."Apa kau sudah memastikannya?"


"Sudah, Tuan. Tapi saya tidak menemukan apapun di sana."


"Hn, begitu ya. Nanti kita bicarakan ini lagi. Paman boleh pergi. Aku mau istirahat." Paman Kim mengangguk dan kemudian pergi begitu saja.


Nathan menanggalkan Sleveless itu dari tubuhnya, menyusahkan kemeja putih lengan terbuka yang dia biarkan tetap melekat di tubuh atasnya. Kemudian Nathan berbaring di samping Aster.


Bukan hanya Aster yang merasa lelah, namun Nathan juga. Perjalanan 10 jam 10 menit yang mereka tempuh dari Sidney ke Soul memang menguras hampir seluruh tenaga mereka.


-


Byurrr...


Riyana kembali tersadar setelah satu ember air mengguyur wajahnya, membuat wanita itu sedikit gelagapan. "Aaahhh~!!" Dan memekik kencang ketika Cris menarik lakban di mulutnya dengan kasar.


"Brengsek kau, Cris!!" Bentaknya penuh emosi.


"Makanlah, kau bisa mati kelaparan jika tidak makan."


"Kau bodoh ya, bagaimana aku bisa makan jika tangan dan kakiku kau ikat begini?" Teriaknya kesal.

__ADS_1


"Bukankah kau masih memiliki mulut, makan langsung saja menggunakan mulutmu!!"


"Kau pikir aku anjing?!"


"Bukankah kau tidak ada bedanya dengan anjing?!" Cris menyerengai sinis.


"Kau benar-benar brengsek, Cris!! Lihat dan tunggu saja bagaimana aku akan menghabisi-mu nanti!!"


"Lakukan saja jika kau memang mampu!!" Dan Cris pergi meninggalkan Riyana begitu saja.


Cris adalah mantan suami Riyana. Mereka berpisah 7 tahun yang lalu. Riyana menghianati-nya, dia berselingkuh dengan teman baik Cris.


Riyana dan selingkuhannya itu bekerja sama untuk menyingkirkannya. Bagus, seseorang datang dan menyelamatkannya. Hingga Cris berhasil selamat dan kini dia kembali untuk membalas dendam.


-


Maya dan Ella benar-benar hancur sejak Nathan mengusir mereka keluar dari rumah. Saat ini ibu dan anak itu bekerja di sebuah kedai makan yang berada di pusat kota.


Mereka membutuhkan uang untuk membeli makanan, pakaian dan menyewa tempat tinggal. Dan jika bukan karena terpaksa, mereka juga tidak akan Sudi bekerja seperti ini.


"Pelayan, cepat sedikit!! Mana pesanan kami?" Beberapa pelayan melayangkan protesnya pada Maya, wanita itu begitu lambat dalam melayani para pelanggan yang datang.


"Iya, iya, sabar. Kenapa tidak sabaran sekali sih?" Keluh Maya sembari mengantarkan pesanan para pelanggan.


Brugg...


"Yakk!!"


Seorang wanita memekik kencang saat tanpa sengaja Maya menabrak seorang pelanggan yang baru saja datang, sup yang dia bawa menumpahi pakaian wanita itu.


"Kalau jalan pakai mata dong!! Kau lihat pakaian mahal ku?! Kotor dan rusak karena ulah mu!! Dasar pelayan ceroboh!! Aku tidak mau tau, pokoknya kau harus menggantinya!!"


Dan akibat dari insiden itu. Maya di marahi oleh atasannya dan dia harus mendapatkan potongan gaji untuk mengganti rugi pada wanita kurang beruntung itu.


"Aaarrrkkhhh!!! Sial!! Semua ini terjadi karena perempuan itu, jika saja si sialan Aster tidak datang dan masuk dalam keluarga Xiao. Paman Nathan pasti tidak akan memperlakukan kita dengan buruk seperti ini!!"


"Tenanglah, Maya. Ibu sudah sudah mengatur semuanya. Dan lihat bagaimana mereka berdua akan saling menghancurkan."


Maya memicingkan matanya. "Apa maksud ibu?"


"Lihat dan tunggu saja. Cepat atau lambat, kau akan segera mengetahuinya."


-


Aster bangun dari tidurnya di saat sang Surya mulai membenamkan sinarnya di ufuk barat. Sang Surya baru saja menyelesaikan tugasnya mendampingi Bumi, dan keberadaannya akan segera digantikan oleh Bulan.


Wanita itu menyibak selimut putih itu dari tubuhnya, dan kemudian berjalan lurus menuju kamar mandi.


Tappp...


Aster menghentikan langkahnya ketika melihat Nathan tengah berdiri di balkon kamar sambil bertelfonan dengan seseorang. Tapi Aster tidak tau siapa yang mengobrol dengan suaminya itu.


Wanita itu mengangkat bahunya acuh. Itu bukan urusannya. Meskipun mereka telah menikah dan sah menjadi suami-istri, namun


Aster tidak pernah mau ikut campur dengan urusan Nathan. Karena ia dan Nathan sama-sama memiliki privasi, dan tidak ada salahnya untuk saling menghormati.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2