
Semua yang terjadi dan menimpa hidupnya rasanya seperti mimpi buruk disiang bolong. Hanya dalam sekejap, Nathan telah berhasil menghilang dari kehidupannya yang semula indah.
Aster mencoba melewati hari-harinya dengan terus mencari keberadaan suami tampannya itu, namun hasilnya selalu nihil. Aster tetap tidak menemukan jejak dan keberadaan Nathan hingga detik ini. Padahal sudah hampir dua bulan.
Karena tak kunjung menemukan petunjuk apapun. Pada akhirnya, Aster terpaksa menjadi semakin terbiasa hidup tanpa Nathan di sisinya, meskipun itu sangat berat untuk dilakukan, namun Aster tetap berusaha melaluinya.
"Aster, aku mencintaimu."
Seperti sebuah sihir, kalimat itu seakan menjadi obat kesendiriannya selama berminggu-minggu.
Setiap sebelum tidur, Aster akan menuliskan satu kalimatnya tentang Nathan sebagai ungkapan kerinduannya. Ya, satu kalimat tentang pria itu di setiap malamnya.
Tanpa sadar pula Aster sudah menuliskan kalimat ke-90, yang mana artinya sudah selama itulah Nathan pergi meninggalkannya sendiri. 90 hari, atau mungkin lebih.
Aster yang awalnya ceria perlahan berubah menjadi sosok pendiam dan dingin, tidak seceria dulu lagi. Seringkali ia menangis tanpa ekspresi hingga membuat semua orang menjadi khawatir.
Aster terus seperti itu, ia menutup diri dari dunia luar. Seperti bulan yang kehilangan cahayanya, Aster pun merasa hidupnya semakin tak berarti. Untuk apa dia terus hidup dalam bayang-bayang harapan palsu seperti ini?
Tidak ada gunanya lagi menepis kenyataan bahwa Nathan sudah tidak ada di dunia ini, Dan Aster mulai menyadari hal itu.
Mungkin inilah alasan kenapa semua orang menyembunyikan fakta darinya, karena sampai kapanpun Aster tidak akan sanggup ditinggalkan oleh Nathan.
-
Semakin hari kondisi Nathan sudah semakin membaik. Meskipun sempat mengalami koma dan kelumpuhan pada kedua kakinya karena insiden 3 bulan yang lalu. Tapi sekarang dia sudah baik-baik saja.
BRAKKK....
"BOSS!!"
Nyaris saja Nathan terkena serangan jantung dadakan karena ulah Leon. Pria itu membuka pintu ruangan Nathan dengan tidak sabaran dan berteriak sekencang-kencangnya. Beruntung Nathan tidak memiliki riwayat penyakit jantung.
"Kau sudah bosan hidup ya?" Geram Nathan setengah kesal.
"Maaf, Boss. Ada hal penting yang harus saya sampaikan pada Anda. Dan ini mengenai nona!!"
"Aster?" Leon mengangguk. "Ada apa dengannya? Dia baik-baik saja bukan? Apa sesuatu yang buruk telah terjadi padanya selama aku tidak ada?"
Leon menggeleng. "Bukan itu, Boss. Nona, Nona, dia ada di kota ini!!"
"Aster di kota ini?" Leon mengangguk. "Kau jangan bercanda!!"
__ADS_1
"Aku mengatakan yang sebenarnya, Boss. Saat aku mencoba untuk mengejarnya, aku malah kehilangan jejaknya."
"Jujur saja, satu Minggu setelah insiden itu. Aku melihat seseorang yang mirip Nona keluar dari club malam, dia terlihat sangat kacau. Saat itu aku melihat dia dibopong seorang pria yang postur tubuhnya mirip Cris Hyung, tapi aku pikir hanya salah lihat saja."
Tanpa menghiraukan Leon. Nathan pergi begitu saja. Tak lupa dia membawa mantel hitamnya yang hangat. Udara di luar lumayan dingin, mengingat jika bulan ini sudah memasuki awal musim gugur.
"Aster, benarkah kau ada di kota ini? Tunggu Paman, Sayang. Paman pasti akan segera menemukanmu!!"
-
"Na-Nathan?!"
Cris nyaris saja terkena serangan jantung dadakan saat Nathan tiba-tiba saja muncul dan berdiri dihadapannya. Antara percaya dan tidak percaya dengan sosok yang ada dihadapannya.
Nathan terlihat baik-baik saja meskipun bekas luka tampak pada beberapa bagian tubuhnya, dan tak ketinggalan sebuah benda hitam bertali melekat dan menutup mata kanannya.
"Nathan, sungguh ini dirimu? Ja-jadi kau masih hidup? Lalu jika kau memang masih hidup, kenapa kau tidak memberi kabar pada kami sama sekali?" Cris menatap Nathan dengan mata berkaca-kaca.
"Panjang ceritanya. Dan aku tidak bisa memberitahumu sekarang. Ini bukan saatnya untuk terkejut. Di mana Aster? Kau datang kemari bersamanya bukan?"
"Sebaiknya kau duduklah dulu. Ada sesuatu yang harus kau ketahui tentang Aster."
Nathan pun menurut. Dia sangat penasaran dengan apa yang akan Cris sampaikan padanya. Apalagi ini tentang Aster? Apalah dia baik-baik saja? Nathan terus bertanya-tanya.
"Langsung saja pada intinya!!" Nathan menyela cepat.
"Aster, dia kembali mengalami keguguran. Satu bulan yang lalu. Kandungannya terlalu lemah, ditanbah lagi dengan tekanan batin dan guncangan hebat yang dia alami membuat kondisi fisiknya sangat lemah."
"Dia pikir kau benar-benar sudah tiada, dan hal itu memberikan pukulan berat bagi Aster. Dia benar-benar hancur. Aster sampai tak sadarkan diri selama dua hari setelah mengetahui mansion mewah~mu yang ada di kota ini telah rata menjadi tanah."
Tubuh Nathan langsung lemas seketika setelah mengetahui hal tersebut. Aster kembali keguguran? Ya Tuhan, cobaan berat apa lagi yang harus kau berikan pada kami? Nathan menjerit dalam hati.
"Lalu di mana dia sekarang? Aku ingin bertemu dengannya."
"Dia sedang beristirahat di kamar. Pergilah dan temui dia. Dan satu hal lagi, rahasiakan mengenai keguguran itu darinya. Aku tidak ingin dia sampai tau jika telah keguguran lagi."
"Aku mengerti."
.
.
__ADS_1
.
Cklekk...
Nathan membuka pintu bercat putih itu dengan perlahan. Pintu terbuka, dan sosok cantik yang sedang berbaring menyamping lah yang pertama kali tertangkap oleh mata kirinya.
Kelopak matanya terbuka. Namun pandangannya kosong. Nathan tidak menemukan sebuah kehidupan dari sepasang mata itu.
Dengan langkah pasti Nathan menghampiri Aster yang sepertinya masih belum menyadari kedatangannya. Nathan berlutut di samping Aster berbaring. Jari-jari besarnya mengusap helaian panjang Aster yang terurai.
"Sayang, aku kembali." Ucap Nathan setengah berbisik.
Aster menutup matanya dan malah menangis."Aku mohon, jangan mempermainkanku seperti ini lagi. Aku tau Paman Nathan telah tiada Tuhan, aku berusaha untuk tegar dan merelakannya." Aster menganggap Nathan yang ada dihadapannya hanya bayangan dan halusinasinya saja.
Nathan menutup mata kirinya. Air mata meluncur turun dari pelupuknya. "Aster, tatap Paman dengan seksama, ini Paman, benar-benar Paman."
Ragu-ragu Aster mengangkat tangannya dan mengarahkan pada wajah Nathan. Bisa disentuh, Aster membekap mulutnya tidak percaya. Wanita itu bangkit dan langsung menerjang tubuh Nathan.
"Paman!!"
Keduanya jatuh berguling dilantai karena Nathan hilang keseimbangan. Dia sudah memprediksikan reaksi Aster, namun fisiknya belum sekuat itu. Apalagi kedua kakinya yang mengalami kelumpuhan semi baru saja pulih kembali.
"Hiks, aku pikir aku sudah kehilangan Paman. Aku pikir Paman sudah meninggalkanku untuk selamanya. Apa Paman tau bagaimana tersiksanya aku selama tiga bulan ini."
Nathan merasakan tubuh Aster yang gemetar hebat. Jari-jarinya mencengkram pakaiannya dengan kuat. Nathan menutup matanya.
"Maafkan Paman, Aster. Paman sungguh-sungguh minta maaf." Lirihnya penuh sesal.
Aster menggeleng. Aster menatap wajah Nathan yang terdapat beberapa bekas luka yang nyaris saja hilang dengan sendu. Dia tidak tau apa yang terjadi pada Nathan dan bagaimana dia bisa bertahan sampai detik ini.
"Aku sedang tidak ingin membahas apapun untuk saat ini. Biarkan aku memelukmu sepanjang malam. Aku merindukanmu, sangat-sangat merindukanmu!!"
"Aku juga rindu, Paman." Ucap Aster lirih.
Nathan menangkap wajah Aster kemudian mencium singkat bibirnya. "Kalau begitu ayo kita tidur." Aster mengangguk. Nathan melepas mantel hitamnya kemudian berbaring di samping Aster dengan posisi saling berhadapan.
Nathan menyembunyikan wajah Aster pada dada bidangnya yang tersembunyi di balik kemeja hitamnya. Mata kiri Nathan perlahan tertutup, dia tidak akan cukup jika hanya satu kali mengucapkan terimakasih pada Tuhan.
Nathan tidak menduga jika dirinya akan hidup hingga detik ini, setelah bergulat dengan kematian yang nyaris saja merenggut nyawanya.
-
__ADS_1
Bersambung.