"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"

"Hot Daddy" (Ayah Angkat Ku, Candu Ku"
Semakin Tidak Beres


__ADS_3

Aster bangun dengan perasaan yang benar-benar malas. Apa yang dia lakukan bersama Nathan semalam membuatnya kesulitan berjalan pagi ini. Dia akui jika Nathan memang sangat kuat dan perkasa, dan Aster sangat menyukainya.


Mata Aster bergulir ketika mendengar suara decitan pintu kamar mandi di buka. Terlihat sosok Nathan yang telah berpakaian mengkap keluar dari kamar mandi.


Aroma maskulin yang begitu khas langsung berkaur di dalam hidungnya ketika Nathan keluar dari dalam sana.


"Morning, Paman." Sapa Aster dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.


"Pagi juga, Sayang." Jawab Nathan lalu mengecup singkat kening Aster. "Tubuhmu berkeringat. Kau harus mandi sekarang." Nathan mengangkat tubuh Aster bridal style dan membawanya ke kamar mandi.


Nathan menurunkan tubuh Aster di lantai kamar mandi lalu beranjak dari hadapannya. Dia akan menyiapkan air hangat untuk Aster.


Nathan menoleh, menatap wanitanya yang hanya diam mematung padahal air hangatnya sudah siap.


Tiba-tiba Aster mengangkat tangannya."Paman, Gendong." Pinta Aster.


Nathan mendengus berat. "Dasar manja." Nathan mendengus sambil berjalan menghampiri Aster.


Tanpa berkata apa-apa, pria itu menggendong tubuh Aster menuju bathtub. Di dalam bathtub sudah terisi air hangat. Nathan dengan perlahan menurunkan tubuh Aster ke dalam bathtub.


Kemudian dia menatap wanitanya dengan tatapan yang sulit dijelaskan, gadis kecil yang pendiam dan penuh kesedihan kini telah tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik dan penuh pesona.


Tidak pernah terpikirkan oleh Nathan jika dia akan jatuh cinta dan bertekuk lutut pada pesona putri angkatnya. "Mandilah." Pintanya sebelum beranjak pergi meninggalkan wanita itu sendirian di dalam kamar mandi.


.


.


.


Setelah mandi dan berpakaian lengkap. Aster membantu Nathan membuka perban yang selama satu bulan terakhir melilit kening hingga menutupi mata kanannya.


Perban itu telah terbuka sepenuhnya. Dan mata kanan Nathan sungguh memberikan reaksi yang mengejutkan ketika mata itu terkena paparan sinar matahari.


"Ahhh." Rintih kesakitan keluar dari sela-sela bibirnya. Nathan mengangkat telapak tangan kanannya yang kemudian dia gunakan untuk menutupi matanya. "Aster, sebaiknya tutup lagi saja dengan perban."


Aster menggeleng. "Tidak, Paman!! Kau harus membiarkan mata kananmu menyesuaikan dengan cahaya matahari atau pun lampu. Setidaknya selama beberapa detik, dan kita bisa kembali menutupnya jika matamu berair."


Nathan menurunkan tangan kanannya dari matanya yang cidera. Ragu-ragu dia membuka mata kanannya. Dan rasanya begitu menyakitkan. Tidak hanya berdenyut saja, tapi juga sampai berair.


Nathan meraih beberapa lembar tisu yang ada di atas meja. "Siapkan perban baru, dan sebaiknya tutup kembali." pintanya.


"Dan sampai kapan Paman akan menjadi siluman mata satu?" Dan endingnya sebuah jitakkan mendarat mulus pada kepala Aster. Membuat wanita itu memekik kencang.


"Aah, Paman sakit!!" Aster mengusap kepalanya yang baru saja di jitak oleh Nathan.


"Siapa suruh kau bicara sembarangan?! Tutup sekarang atau tidak ada jatah bercocok tanam selama satu bulan?!" Sontak saja kedua mata Aster membelalak mendengar ancaman Nathan yang sepertinya bersungguh-sungguh itu.

__ADS_1


Aster menggeleng. "No!! Aku bisa mati berdiri jika Paman sampai mengajakku puasa, satu hari saja rasanya seperti satu tahun. Ini malah satu bulan, bisa-bisa rasanya malah satu abad!!" tuturnya.


Nathan menjitak gemas kepala Aster. "Kenapa kau semakin mes*m saja?!" Dan Aster hanya terkekeh. Kemudian dia menempelkan perban pada mata kanan Nathan, yang kemudian Aster rekatkan dengan plaster.


"Begini?"


"Hn. Ini lebih baik. Toh, aku sudah mulai terbiasa dengan hidup seperti ini, hanya dengan satu mata saja yang berfungsi."


Aster menatap Nathan dengan seksama dan tersenyum lebar. "Jika diperhatikan Paman semakin tampan dengan perban itu. Apalagi jika perbannya di ganti dengan eyepacht hitam. Uhh~Pasti lebih cool."


"Ayo sarapan." Nathan beranjak dari duduknya dan hendak pergi, namun segera di tahan oleh Aster.


"Aku belum mendapatkan makanan pembuka ku. Dan Paman tidak bisa pergi sebelum aku mendapatkannya!!"


Nathan menarik pinggang Aster hingga jarak diantara mereka terbunuh sepenuhnya. Sebelah tangan Nathan menelusup ke dalam helaian panjang wanita itu. Menarik tengkuknya dan...


Chu~


Bibir mereka bersatu. Aster mengalungkan tangannya pada leher Nathan ketika pria itu memperdalam pagutannya ciuman mereka.


Puas dengan bibirnya. Kemudian Nathan menurunkan ciumannya pada leher Aster dan meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana.


Wanita itu menggeram ketika tangan Nathan berpindah pada salah satu bukit kembarnya. Jari-jarinya memilin ujungnya dan membuat Aster semakin basah.


"Aahhh~Paman, hentikan!!" Pinta Aster di tengah des*hannya.


Nathan memposisikan dirinya di depan Aster. Dan yang Aster rasakan selanjutnya adalah sebuah sosis berurat yang memasuki dirinya.


Wanita itu terus menggeram sambil mencengkram rambut Nathan, ketika dia menambah tempo kecepatannya. Aster menggeram dan semakin menggila.


Dan Aster harus bersyukur memiliki suami yang kuat seperti Nathan. Yang bisa memanjakannya setiap saat.


"Ahh~milikku hampir keluar." Ucap Nathan kemudian menjatuhkan kepalanya di bahu kanan Aster, dia menumpahkan semua miliknya di dalam rahim wanitanya.


"Aaahh." Aster merintih ketika Nathan menarik keluar miliknya. Dan Aster harus berterimakasih karena sosis Nathan masih berukuran normal. "Paman, aku harus mandi lagi."


"Tidak perlu, bersihkan saja dan segera turun. Mungkin yang lain sudah menunggu kita untuk sarapan." Aster menatap Nathan dan kemudian mengangguk.


"Baiklah."


-


"Wow, sepertinya semalam ada yang habis diserang drakula." Seru Tiffany ketika melihat Aster datang dengan bercak merah di lehernya.


Aster menutup tanda merah itu dan terkekeh geli membayangkan apa yang pagi ini dia lakukan lagi bersama Nathan. "Ini adalah sebuah tanda kepemilikan. Yang membuktikan jika aku hanya milik ayah angkatku seorang." Tuturnya.


"Iya, tapi tidak perlu dibawah ke kampus juga." Tiffany melepaskan syal tipisnya dan kemudian melilitkan pada leher Aster. Menutupi ****** itu agar tidak di lihat banyak orang.

__ADS_1


Senyum di bibir Aster langsung pudar seketika, ketika melihat kedatangan Jordan. Jordan menghampiri keduanya dan bergabung bersama kedua perempuan itu.


"Apa yang sudah aku lewatkan?" Ia menatap keduanya bergantian. "Aster, kau sangat cantik pagi ini. Kau semakin manis."


Aster menatap pemuda itu dan mendecih sebal. Rasa hormatnya pada Jordan sudah hilang sejak dia mengatai Nathan dengan kalimat-kalimat yang membuatnya kesal setengah mati.


"Maaf, Senior. Tapi kelas kami akan dimulai sebentar lagi. Tiffany, ayo." Aster menyeret Tiffany dan membawanya pergi meninggalkan Jordan.


Jordan berbalik badan dan mendesah berat. Sepertinya wanita itu benar-benar marah padanya.


Melihat dari sikap dan cara Aster menatapnya sudah terlihat jelas. Dan apakah Jordan akan berhenti? Maka jawabannya tidak, dia akan menghalalan segala cara untuk mendapatkannya.


.


.


.


"Sepertinya drakula yang menggigitmu sangat ganas. Buktinya merahnya bukan hanya ada satu saja. Tapi ada tiga." Oceh Tiffany, saat ini keduanya sudah ada di kelas. Ada Benno dan Benny juga yang baru saja bergabung bersama mereka.


"Ya, sangat ganas. Aku dan drakula itu sama-sama ganasnya. Bahkan aku membuat drakula itu lemas ketika aku menghisap sosis beruratnya seperti saat aku menghisap permen lopipop."


Dan endingnya sebuah jitakan mendarat mulus pada kepala Aster. Bukan hanya satu jitakkan, tapi tiga jitakan sekaligus. "Dasar mes*m. Kenapa otakmu semakin tidak beres saja!!"


Aster kembali terkekeh. Jika bukan pada mereka bertiga, pasti Aster tidak akan berani bicara selepas ini. Mereka bertiga adalah sahabatnya. Hanya pada mereka bertiga dia bisa berbicara sebebas dan selepas ini.


"ASTER XIAO!!"


Perhatian keempatnya teralihkan oleh kemunculan tiga wanita yang mereka ketahui bernama Adel, Naeun dan Dinna.


Perempuan bernama Adel menghampiri Aster dan melayangkan tamparan ke wajahnya, yang kemudian di tahan oleh Aster."Apa-apaan kau ini? Apa kau gila?" Bentak Aster marah.


"Dasar wanita murahan!! Berani sekali kau menggoda Jordan, apa kau tidak tau jika dia adalah calon suamiku?"


Aster mendengus berat. "Sebelum kau mempermalukan dirimu sendiri, sebaiknya cari tau dulu dan jangan asal menuduh. Lagipula aku tidak memiliki alasan untuk dekat dengannya!!"


"Kau!!"


"Keluar dari sini sekarang juga sebelum kau menyesal nantinya!" Pinta Aster dengan sorot mata tajam dan berbahaya.


"Lihat dan tunggu saja, bagaimana aku akan menghancurkanmu!!"


"Hn, aku sangat menantikannya. Menantikan kegagalanmu!!" Dengan emosi ketiganya meninggalkan kelas Aster.


Aster menyeringai tajam. Dia bersumpah mereka tidak akan bisa tidur malam ini. Sebuah kejutan manis sedang menunggu mereka bertiga.


-

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2