
Kebahagiaan terlihat jelas diraut wajah Aster saat Nathan memberinya ijin untuk membuka sebuah Boutique. Diam-diam Aster memiliki bakat mendesain pakaian dan dia mulai mengembangkan bakatnya itu sejak satu tahun yang lalu.
Aster sangat bosan jika harus terus-terusan diam di rumah tanpa bisa melakukan apa-apa. Aster tidak hanya sendiri, dia bekerja sama dengan salah satu teman lamanya yang memiliki SQ Jewelry.
"Mami, haus, susu..."
Aster menghentikan gerakan jarinya untuk membuat sebuah sketsa setelah mendengar suara rengekan putra bungsunya. Rey berjalan menghampirinya dan mengatakan ingin Susu.
Kemudian wanita itu mengangkat bayi berusia 1 tahun lebih dua bulan itu ke pangkuannya, dan mulai menyusuinya. Aster melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda sambil menyusui Rey, dia tidak merasa kesulitan sama sekali, meskipun harus sambil menyusui bayinya.
"Mami, Rey Daddy.."
"Rey ingin diantarkan ke Daddy?"
Rey mengangguk. "Antar kan ke Daddy, antar kan ke Daddy."
"Baiklah, tapi setelah Mami menyelesaikan pekerjaan ini dulu ya, Nak. Lagipula ini belum jam makan siang, Daddy mu pasti masih bekerja." Tutur Aster memberi pengertian.
Rey memang sangat dekat dengan Nathan. Sebenarnya dia tidak pernah mau jauh dari ayahnya. Tapi mau bagaimana lagi, saat siang Nathan harus pergi bekerja. Jadi tidak terlalu banyak waktu yang mereka miliki untuk bersama, kecuali saat Nathan sedang libur.
Aster dan Rey tiba di kantor Nathan setengah jam sebelum jam makan siang. Tapi ternyata Nathan tidak ada di ruangannya, dia masih meeting dengan beberapa kliennya yang dari luar negeri.
"Daddy," rengek Rey mencari sang ayah.
"Daddy masih meeting, Nak. Tunggu sebentar ya, setelah ini Daddy pasti kembali." Rey mengangguk.
Cklekk...
Decitan pintu di buka dari luar mengalihkan perhatian Aster dan Rey. Bocah laki-laki itu terlihat begitu bahagia melihat siapa yang datang. Dia langsung berlari menghampiri Nathan dan memeluknya.
"Daddy, kau dari mana saja? Kenapa lama sekali? Aku kangen, Daddy."
__ADS_1
Nathan tidak terkejut melihat keberadaan Aster dan Rey di ruangannya. Karena sebelumnya Aster sudah mengirimkan pesan singkat padanya jika mereka akan datang sebelum jam makan siang.
"Tunggu sebentar ya, Nak. Daddy selesaikan pekerjaan dulu, setelah ini kita keluar untuk makan siang. Sekalian kita jemput kakakmu." Rey mengangguk. Nathan tersenyum. Dengan gemas dia mencubit pipi gembul putranya.
Lalu pandangan Nathan bergulir pada Aster. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Sebelah tangan Nathan mengusap kepala coklat istri tercintanya itu.
Kemudian Nathan beranjak dari hadapan istri dan putra kecilnya. Nathan melanjutkan pekerjaannya, masih ada beberapa file yang harus ditandatangani.
"Mami, pup." Aster menghampiri Rey kemudian mengangkat bocah kecil itu lalu membawanya ke kamar mandi.
Sejak kecil Aster mengajarkan Rey supaya tidak pup di celana atau Pampers nya. Itulah kenapa ketika ingin Pup. Rey selalu mengatakan pada sang ibu.
Tepat saat pintu kamar mandi terbuka, Nathan juga baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Aster dan Rey menghampiri Nathan yang sudah menunggu mereka.
"Jagoan, ayo biar Daddy yang mengendong mu sekarang." Nathan mengangkat tubuh mungil Rey, sedangkan sebelah tangannya menggenggam jari-jari lentik Aster.
Keluarga kecil itu meninggalkan kantor dan berjalan menuju parkiran. Banyak pasang mata yang menatap mereka dengan berbagai ekspresi. Banyak diantara mereka yang merasa iri pastinya.
Pasangan cantik dan tampan, memangnya siapa yang tidak akan iri. Apalagi Nathan yang selalu memperlakukan Aster dengan penuh kelembutan.
Mereka merasa malu karena telah membully orang yang salah. Ternyata Laurent bukanlah anak miskin seperti yang mereka pikirkan selama ini.
"Laurent, nanti kau pulang dengan siapa?" Tanya seorang anak laki-laki pada gadis kecil itu.
"Aku di jemput Daddy ku. Memangnya kenapa?"
"Aku pikir kau pulang sendiri. Kalau sendiri nanti aku beri tumpangan."
"Tidak usah. Mereka sudah hampir tiba di sini kok." Jawab gadis kecil itu tersenyum. "Nah itu mereka. Oke, aku pergi dulu ya." Laurent beranjak dari hadapan anak laki-laki itu dan masuk ke dalam mobil sang ayah.
Aster menatap Laurent sambil tersenyum penuh arti. Membuat gadis kecil itu merasa tidak nyaman dengan senyuman sang ibu."Mi, kenapa kau tersenyum seperti itu? Jangan membuatku malu deh." Laurent mencerutkan bibirnya.
__ADS_1
"Sepertinya anak Mami ada yang menyukai, hm." Aster mengerlingkan mata.
"Mana ada, kami hanya berteman saja kok. Lagipula aku masih terlalu kecil untuk tau soal cinta-cintaan." Ujarnya.
"Iya juga sih. Tapi seusia dirimu dulu, Mami sudah jatuh cinta loh. Dan kau tau tidak, jika Daddy mu adalah cinta pertama Mami."
"Hah!!" Laurent langsung cengo. "Benarkah?" Aster mengangguk.
"Panjang ceritanya. Singkatnya, Mami adalah anak yatim piatu, nenek kakek mu meninggal dalam sebuah kecelakaan. Kemudian Daddy mu datang dan mengadopsi Mami, setelah tinggal satu atap. Lama kelamaan Mami naksir padanya."
"Wow, luar biasa. Terus Mi, apa saat masih muda Daddy memang se cool ini?" Tanya Laurent penasaran. Dia menjadi begitu antusias saat membahas tentang sang ayah.
Aster menganggu. "Sangat, tapi galaknya minta ampun. Kau tau, Mami pernah di hukum Daddy mu karena manjat pohon mangga tetangga. Mami tidak boleh keluar kamar selama satu hari satu malam."
"Hahaha, ternyata saat masih anak-anak Mami petakilan juga ya." Laurent tertawa terbahak-bahak.
Dan sementara itu...
Nathan yang dijadikan topik pembicaraan oleh istri dan putrinya hanya bisa mendengus geli. Dia hanya diam dan tidak menyahut sama sekali. Nathan tetap fokus pada jalanan, sedangkan Rey sedang tertidur pulas dipangkuan Aster.
"Princess, sebaiknya kita berhenti. Lihatlah telinga Daddy mu. Merah karena kita terus membicarakannya." Ujar Aster sambil menunjuk telinga Nathan.
Laurent terkikik geli. "Mami benar. Oya, kita mau makan siang dimana?" Gadis kecil itu kemudian menatap orang tuanya bergantian.
"Bagaimana kalau di tempat biasa saja." Usul Aster yang kemudian dibalas anggukan oleh Laurent.
"Setuju. Dad, kita makan di cafe Paman Dio saja ya. Laurent ketagihan makanan di sana, masakan Paman Dio sangat enak."
Nathan mengangguk. "Baiklah Princess."
Sudah sejak satu bulan terakhir ini Dio memang tidak bekerja pada Nathan. Dia memutuskan untuk membuka sebuah cafe seperti impiannya selama ini. Nathan tidak melarangnya, dia malah mendukungnya.
__ADS_1
Nathan dan anak buahnya sering makan di cafe milik Dio. Dan cafe kekinian itu jarang sekali sepi pelanggan. Hampir setiap hari cafe Dio selalu ramai di datangi oleh pelanggan setianya yang ingin menyantap makanan enak hasil karya tangannya.
Bersambung.