
Seorang wanita terlihat meliukkan tubuhnya. Memasuki sebuah perusahaan yang memiliki puluhan lantai tersebut. Beberapa pegawai langsung membungkukkan badan melihat kedatangannya, mereka tau jika wanita cantik itu adalah istri dari atasan mereka.
Namun tak sedikit juga yang merasa asing dengan wajah cantik itu. Maklum saja, mereka adalah karyawan baru yang belum lama bekerja di perusahaan milik suaminya.
Berbagai tatapan dari semua karyawan yang ada di sana mengiringi dalam setiap langkahnya. Tapi Aster tidak kau peduli, bahkan ada diantaranya yang menatapnya dengan tajam dan mengintimidasi.
Tujuannya datang ke perusahaan bukan untuk meladeni mereka, tapi untuk memukul pantat putri kecilnya. Laurent sudah membuatnya panik setengah mati.
Ayunan kedua kakinya yang terus melangkah tiada henti memasuki sebuah lift yang kosong.
TING!
Bel lift pun akhirnya berbunyi. Menandakan bahwa ia sudah sampai di tujuan yang diinginkan. Wanita cantik itu menunggu pintu lift terbuka, kemudian ia terlihat keluar dari kotak bergerak tersebut.
Derap langkah kakinya teredam dengan karpet yang merah bercorak yang di kembangkan di sepanjang koridor kantor itu.
Sapaan dari beberapa pegawai yang tidak sengaja berpapasan dengannya menghampiri si wanita cantik itu, meskipun terkadang ada yang memberikan tatapan sinis-nya, tapi dia tidak mau ambil pusing dan terlalu memikirkannya.
"Apa Presdir ada di dalam?" Tanya Aster pada seorang wanita yang sedang sibuk memoles bibirnya dengan sebuah lisptick merah. Tapi tidak ada jawaban.
Wanita itu mengabaikan Aster dan terus sibuk memoles bibirnya. Sepertinya dia belum tau siapa sosok yang berdiri di hadapannya tersebut.
"Apa Presdir ada di dalam?" Tanya Aster sekali lagi, namun lagi-lagi tidak ada jawaban, dan hal itu membuat Aster semakin kesal.
Bisa saja Aster nyelonong masuk ke dalam. Tapi hal itu tidak Aster lakukan karena dia khawatir sedang ada tamu di dalam. Itu bisa membuat Nathan marah dan merasa dipermalukan.
BRAKK!!!
Aster menggebrak meja di depannya dengan sangat keras. Membuat wanita itu terlonjak kaget dan marah.
"Yakk!! Kau sengaja ingin membuatku jantungan ya?!" Bentaknya penuh emosi!! Presdir sedang sibuk dan tidak bisa di ganggu. Jika kau datang untuk meminta bantuan. Sebaiknya kau pergi dari sini!!"
__ADS_1
"Kau tuli ya, aku tanya padamu bodoh!! Apa Presdir ada di dalam?!"
"Bukanlah sudah aku bilang, Presdir sedang sibuk dan tidak bisa di ganggu. Sebaiknya kau pergi dari sini. Perusahaan ini tidak menerima pengemis!!"
Dengan emosi Aster merebut lisptick wanita itu dan membuatnya marah. "YAKK!!" dia memekik dan menatap Aster tajam. Aster menarik pakaian wanita itu lalu mencoret seluruh wajahnya dengan lipstik tersebut.
"Sebaiknya gunakan otakmu sebelum bicara!! Kau dalam masalah besar, Nona. Aku sudah bertanya baik-baik padamu dan kau malah mengabaikan ku?! Aku bertanya lagi dan kau lagi-lagi mengabaikan ku!! Dan sekarang habis sudah kesabaranmu, asal kau tau saja, aku bukanlah pengemis, tapi aku istri CEO di perusahaan ini!!" Ujar Aster dengan tegas.
"Jika kau istri Bos, maka aku anaknya. Dan wanita gila sepertimu tidak seharusnya ada di sini. Sebaiknya kau pergi!!" Perintah wanita itu.
Karyawan yang lain mencoba memberi kode. Tapi wanita angkuh itu tetap bersikap arogan dan tidak mau mendengarkan. Dia tidak tau jika dia sedang dalam masalah besar.
Sementara itu....
Nathan yang mendengar suara keributan dari dalam segera keluar untuk melihat apa yang terjadi. Dan dia hanya bisa menghela napas melihat Aster yang sedang berdebat dengan salah seorang karyawannya, lebih tepatnya sekretaris barunya.
"Ada apa ini? Kenapa ribut sekali?!" Tegur Nathan pada keduanya.
"Maaf, Presdir. Wanita gila ini memaksa ingin masuk, padahal saya sudah melarangnya dan mengatakan jika Anda sedang sibuk. Tapi dia tetap memaksa. Bahkan dia membuat wajah saya belepotan oleh lisptick!!" Adu wanita itu pada Nathan.
"Kau di pecat, dan asal kau tau. Wanita ini bukan pengemis, tapi dia istriku!!"
Sontak kedua matanya membelalak. "A-Apa?! Istri Anda?" Ucap wanita itu tak percaya. Aster menjulurkan lidahnya pada wanita itu. Menatapnya dengan tatapan mengejek.
Aster berjalan di samping Nathan menuju ruangannya. Tentu saja dengan memeluk mesra lengan suaminya. Dan apa yang dia lakukan membuat iri karyawan Nathan. Mereka pun hanya bisa gigit jari melihatnya.
.
.
.
__ADS_1
"Laurent?" Seru Nathan karena tidak mendapati putri kecilnya setibanya mereka di dalam. Padahal tadi gadis kecilnya itu sedang berada di ruangannya ketika dia meninggalkan ruangan.
Dan Aster yang sudah memahami sifat putrinya hanya bisa mendengus. Dengan lantang ia berseru meminta Laurent untuk segera keluar dari persembunyiannya.
"Keluar sekarang atau Mami akan memukul pantat-mu?!" Ancam Aster dengan suara meninggi.
Dan sontak sosok Laurent keluar dari tempat persembunyiannya. Gadis kecil itu bersembunyi di kolong meja kerja ayahnya.
"Eh, Mami di sini. Siapa yang sembunyi, Laurent hanya mengambil kancing mantel ini yang terjatuh kok!!" Ujar gadis kecil itu sambil tersenyum tiga jari.
Dan ucapan Laurent membuat Aster merasa Dejavu. Dia teringat dulu pernah sembunyi di bawah kolong meja, dan ketika Nathan memergokinya, alasannya adalah mencari sesuatu miliknya yang terjatuh.
Aster menghampiri Laurent lalu memukul pantatnya. Kebiasaan yang selalu dia lakukan ketika Laurent membuatnya cemas dan kesal. Tentu bukan sebuah pukulan yang akan membuat gadis kecil itu kesakitan.
"Dasar anak nakal!! Kenapa pergi tidak bilang-bilang sama Mami? Apa kau tau bagaimana cemas dan paniknya Mami karena tidak bisa menemukanmu?!" Aster mengomeli putri kecilnya itu.
Dan Laurent hanya bisa meringis ngilu. Pasti Omelan Aster akan sangat panjang dengan kali lebar. "Seharusnya kalau mau pergi kemana-mana bilang sama Mami, bukannya nyelonong pergi dan membuat panik seisi rumah. Semua orang kalang kabut mencari Laurent, apa kamu tau itu?"
"Maaf, Mi. Laurent tidak akan mengulanginya lagi, janji deh. Tapi Mami jangan marah lagi, berhenti mengomel oke?!"
Sementara itu, Nathan yang melihat hal itu hanya bisa mendengus geli. Ternyata Laurent mewarisi sifat ibunya, dia sama bar-barnya dengan Aster. Dan sifatnya itu baru saja Nathan ketahui hari ini.
"Sudah, jangan memarahinya lagi. Dia sudah mengaku salah. Dan kenapa kau tidak langsung masuk saja, malah membuat keributan juga dengan karyawan ku?!" Tanya Nathan.
Aster mendesah berat. "Jika saja aku tetap diriku yang dulu, pasti aku akan melakukannya. Tapi sekarang aku bukankah bocah labil, Oppa. Aku sudah dewasa, dan sangat tidak etis jika tiba-tiba aku masuk ke dalam. Bagaimana kalau kau sedang ada tamu, pasti itu membuat buruk namamu!!" Ujar Aster panjang lebar.
Nathan tersenyum tipis. Ternyata wanitanya sudah semakin dewasa dan itu membuat pria itu merasa sangat bangga. Ia menghampiri Aster, dengan hangat Nathan memeluknya. Wanita itu tersenyum lebar, dengan senang hati dia membalas pelukan suaminya.
-
Bersambung.
__ADS_1